Bahwa kepariwisataan memiliki berbagai dampak ekonomi, sudah banyak diketahui orang. Di Indonesia, hingga saat ini dampak ekonomi pariwisata masih “belum cukup mendapat perhatian” dari berbagai kalangan yang terlibat, baik langsung maupun tidak angsung.
Secara formal, para ahli membedakan dampak ekonomi yang terjadi karena kegiatan pariwisata, terdiri dari Efek Langsung (Direct Effects), Efek Tidak Langsung (Indirect Effects) dan Efek Induksi (Induced Effects). Sementara itu, Efek Tidak Langsung dan Efek Induksi kadang-kadang disebutnya sebagai Efek Sekunder (Secondary Effects) yang menyertai Efek Langsung selaku Efek Primer (Primary Effect).
Dampak total ekonomi pariwisata merupakan jumlah keseluruhan dampak yang terjadi baik langsung, tidak langsung maupun induksi, yang masing-masing dapat diukur sebagai keluaran bruto (gross output) atau penjualan (sales), penghasilan (income), penempatan tenaga kerja (employment) dan nilai tambah (value added).
Secara nyata, kegiatan pariwisata memberikan manfaat pada penjualan, keuntungan, lapangan kerja, pendapatan pajak dan penghasilan dalam suatu daerah.
Dampak yang paling dirasakan langsung, terjadi di dalam sub-sektor pariwisata primer, -penginapan, restoran, angkutan, hiburan dan perdagangan eceran (retail). Pada tingkat kedua, di sub-sektor sekundernya, berpengaruh pada sebagian besar sektor ekonomi.
Analisis dampak ekonomi kegiatan pariwisata lazimnya berfokus pada perubahan penjualan, penghasilan dan penempatan tenaga kerja di daerah Read more »
Filed under: Tourism Economics | Tagged: dampak ekonomi pada pariwisata, efek primer, efek sekunder, faktor pengganda pariwisata, primary effect, secondary effect, sub-sektor primer, sub-sektor sekunder, tourism multiplier factor | 2 Comments »