Antara Pola Perjalanan Wisata dan Penerbangan | Lanjutan


Berbicara soal pola perjalanan wisata, di mana pun, akan sangat erat kaitannya dengan ketersediaan jaringan perhubungan, baik darat, laut maupun udara. Bagi para operator Biro Perjalanan Wisata (BPW) di Indonesia, harus cerdik-cerdik mengemas paket-paket wisata, terutama dalam hal penggabungan dua atau lebih destinasi yang tidak berada pada jalur perhubungan yang tersedia, seperti misalnya Kuala Lumpur-Padang-Pangkalpinang-Palangkaraya-Makasar-Singapur. Bagaimana Anda mengemasnya dengan pertimbangan efisiensi waktu, biaya dan tenaga sang wisatawan?
Dari segi atraktivitas, kombinasi tersebut menawarken karakteristik destinasi yang berbeda satu dari lainnya dan merupakan paket wisata yang baru, dan belum tersedia sebagai produk siap jual (ready for sale), melainkan hanya atas permintaan (taylor-made) kalau pun ada. Jika ada BPW yang menawarkan paket seperti itu, tentu akan ada pihak maskapai penerbangan yang akan bersedia menyediakan penghubung rantai yang putus (missing link) dalam melaksanakan paket tersebut. Bagaimana menurut Anda?

Pengemasan Paket Wisata (Tour Packaging)

Pada hakekatnya, destinasi pariwisata dapat dibedakan antara ”destinasi antara” (stop-over destination) dengan “destinasi akhir” (end destination) di mana yang pertama merupakan tempat persinggahan dalam kaitan dengan rangkaian perjalananan ke beberapa tempat tujuan dan yang kedua merupakan tempat berakhirnya rangkaian perjalanan untuk kemudian berangkat lebih lanjut ke negara tujuan berikutnya.
Dalam hubungan dengan pengembangan daerah tujuan wisata, tentu kriteria dan persyaratan minimalnya akan berbeda antara keduanya dan banyak dipengaruhi juga oleh pola rangkaian perjalanan itu dalam satu paket wisata.
Beberapa pola rangkaian perjalanan dalam bentuk paket yang lazim dijumpai dan dapat ditawarkan tergantung pula pada prasarana jaringan perhubungan yang tersedia,
Dalam kaitannya dengan pengemasan paket wisata, ada pola perjalanan wisata lain, sebagai tambahan selain 8 pola terdahulu sebagai bahan pertimbangan. Pola dimaksud adalah pola ke-9 yang dinilai atas dasar:

9. Rute yang ditempuh.

  • PolaTertutup

    Gambar-1 Pola Tertutup

    Pola Tertutup. Dalam pola ini, tempat tiba sama dengan tempat berangkat dan rute perjalanan pulang tidak menempuh jalan yang sama dengan rute perjalanan berangkat (gambar-1);

  • PolaTerpusat

    Gambar-2 Pola Terpusat

    Pola Terpusat. Pola ini banyak dijumpai pada End Destination dengan berbagai kemungkinan pilihan tour (optional tour) ke beberapa destinasi dan rute yang ditempuh selalu bolak-balik (back-tracking) (gambar-2);

  • PolaTerbuka

    Gambar-3 Pola Terbuka

    Pola Terbuka. Rute perjalanan yang ditempuh satu arah dan tempat tiba tidak sama dengan tempat berangkat (gambar-3).

Dalam pola tertutup, paket wisata diawali dari tempat tiba (Point of Arrival) berkeliling dengan singgah (stopover) di

PolaKeterangan

Gambar-4 Keterangan

beberapa tempat lain dan berakhir di tempat semula serta meninggalkan negara yang dikunjunginya dari tempat tiba. (Contoh: Sumut-Sumbar-Sumsel-Sumut).
Dalam pola terpusat, distinasi yang lain, selain tempat tiba dan berangkat, dikunjungi dengan rute Read more »

Antara Pola Perjalanan Wisata dan Penerbangan


Sebagaimana kita fahami bahwa pariwisata merupakan produk gabungan (compound product) yang terdiri dari berbagai unsur jasa lintas sektoral dan multi displin. Namun jika ditelaah lebih terpusat, kita menemukan bahwa produk pariwisata memiliki tiga unsur inti, yaitu 1. atraksi, – atau lebih populer dikenal sebagai daya tarik -, 2. akomodasi, yang terdiri dari hotel atau penginapan berikut fasilitas untuk makan dan minum, serta 3. aksesibilitas, yang terdiri dari sarana dan prasarana angkutan atau perhubungan serta kemudahan lain untuk mencapai suatu tempat yang dikunjungi, antara lain perhubungan udara, laut maupun darat, komunikasi, – termasuk dalam kelompok ini adalah akses (formalitas) untuk memasuki suatu negara dan tempat-tempat di dalam negara tersebut, dalam bentuk perizinan seperti visa, dan izin memasuki kawasan tertentu yang dilindungi.
Dari data statistik selama ini, 2006-2010, kunjungan wisman ke Indonesia 120px_Wide-body Aircraftmelalui udara menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun, dari tahun 2006 meliputi 57,94% hingga 2010 menjadi 71.36%, secara rata-rata berada sekitar 65%, sisanya melalui darat dan laut .
Demikian juga kunjungan mereka ke daerah (destinasi) sebagian besar datang melalui udara. Hal ini agaknya sangat masuk akal, mengingat persebaran destinasi di tanah air terpisah secara antar pulau. Sementara yang terletak dalam satu pulau pun (intra pulau) menghadapi kendala prasarana transportasi darat, baik ditinjau Read more »

Kecenderungan Belanja Wisman dan Masa Tinggalnya


Menurut data statistik wisman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) maupun Badan Pusat Statistik (BPS) kunjungan wisman di tahun 2011 mencapai 7.649.731 dibanding tahun sebelumnya sejumlah 7.002.944 yang berarti mengalami kenaikan 9,24%. Demikian juga halnya dengan belanja wisman (tourist expenditure) selama kunjungannya rata-rata sebanyak US$ 1.118,26 yang juga menunjukkan kenaikan, meskipun tidak terlampau tinggi, yaitu sebesar 2,99%. Dalam hal pengeluaran per hari juga menunjukkan kenaikkan dari US$ 135,01 menjadi US$ 142,69, naik dengan US$ 7,68 atau 5,69%.

Tourism Balance

Keseimbangan Neraca Pariwisata

Dengan demikian, walau disertai penurunan masa tinggal rata-rata dari 8,04 hari pada tahun 2010 menjadi 7,84 hari tahun 2011 (turun 2,49%), penerimaan devisa dari pariwisata secara total, juga menunjukkan kenaikan bahkan dua digit yaitu 12,51%, yaitu dari US$ 7.603,45 juta menjadi US$ 8.554,39 juta. Hal itu logikanya disebabkan kenaikan dua unsur pendapatannya, yaitu Read more »

Kombinasi Destinasi Wisata dan Masa Tinggal Wisman


Seperti kita ketahui, Indonesia memiliki 33 provinsi. Jika seluruh provinsi itu dikembangkan menjadi Destinasi Wisata (DTW, Daerah Tujuan Wisata), maka kita akan memiliki pilihan sebanyak 33 destinasi untuk dimasukkan dalam paket-paket wisata sebagai penawaran produk wisata tanah air.
Dalam situs BPS (Badan Pusat Statistik, bps.go.id) kita jumpai ada daftar yang menampilkan 20 destinasi pilihan dengan disertai data tentang jumlah kamar dan tempat tidur hotel berbintang dan akomodasi lainnya, tingkat hunian rata-rata, jumlah tamu hotel dan rata-rata masa tinggal baik tamu nusantara maupun mancanegara.

Masa Tinggal Wisman

Berbekal data tersebut, khususnya data perihal masa tinggal rata-rata di 20 destinasi pilihan (Lihat Tabel), Care Tourism melakukan simulasi tentang masa tinggal wisman di Length of Stay and Number of BedsIndonesia dihubungkan dengan masa tinggal wisman di destinasi yang menunjukkan rata-rata sekitar kurang dari 3 malam. Di samping itu, dari data statistik (KemenParEKraf dan BPS) menunjukkan bahwa rata-rata masa tinggal wisman di Indonesia selama ini (2001 -2011) adalah sekitar 9 hari. Maka jika kita hubungkan dengan masa tinggal rata-rata di destinasi, diperoleh kombinasi destinasi yang dikunjungi wisman di Indonesia adalah antara 3-4 destinasi.
Pernahkah terfikirkan oleh Anda, berapa kemungkinan kombinasi 3 destinasi, jika kita memilih hanya dari 20 Read more »

Kiat Menjadikan Museum Sebuah Pesona Wisata


Kita mengenal banyak sekali museum yang ada di tanah air ini. Di antara sekian banyaknya, hanya beberapa saja yang dimiliki pihak swasta dan/atau masyarakat. Sebagian besar adalah milik pemerintah, – baik Pusat maupun Daerah -, yang pada umumnya mengemban  fungsi minimal sebagai :

  • sarana penyimpanan, pemeliharaan dan pelestarian berbagai benda purbakala;
  • sarana informasi sejarah, baik lokal, daerah maupun nasional;
  • sarana pendidikan bagi generasi masyarakat dan bangsa dari masa ke masa;

Dalam melaksanakan ketiga fungsi tersebut museum milik pemerintah membiayai dirinya dari anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah. Di Museum sebagai Pesona Wisatasamping itu, mereka tidak dibenarkan atau tidak diperbolehkan memungut biaya lebih dari yang ditetapkan oleh pemerintah dengan pertimbangan bahwa museum bersifat sosial. Oleh karena itu tarif tanda masuk ke museum rata-rata di Indonesia berada pada tingkat sangat rendah, sedemikian rendah sehingga jauh dari memadai, sekalipun untuk menutup biaya Read more »

Mengukur Kapasitas Produksi Pariwisata


Tahun 2011 sudah berlalu, kini kita berada di tahun 2012, namun data kunjungan wisman ke Indonesia belum juga mencapai angka 8 juta. Di awal Februari 2012 tercatat jumlah kunjungan wisman 2011 menunjukkan angka 7,649,731 (www.bps.go.id, 2 Feb. 2012), yang berarti mengalami kenaikan 9.24% dibanding periode yang sama tahun 2010. Dalam suatu kesempatan, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (ketika itu, Jero Wacik) mengemukakan optimismenya bahwa kunjungan wisman akan dapat mencapai angka 7,7 juta (Journal Pariwisata Indonesia, edisi Oktober 2011). Angka itu merupakan kenaikan 10% dari angka wisman 2010 yaitu 7.0 juta. Bulan Desember 2011 yang lalu Care Tourism memperkirakan kunjungan dalam 2011 paling tinggi akan mencapai sekitar 7,634,000, mengingat kunjungan dalam bulan November 2011 hanya mencapai angka 654,948, padahal di bulan November 2011 Indonesia adalah penyelenggara SEA-Games XXVI yang nampaknya sama sekali tidak berpengaruh pada pariwisata kita.  Kunjungan wisman 2011 VisitorTrend_2011sejumlah 7,649,731 tersebut menunjukkan pertumbuhan yang tidak jauh daripada kecenderungan yang tergambar pada garis trend tahun 2011, yaitu Read more »

Liberalisasi Jasa Pariwisata | Tantangan Serius


MRA (Mutual Recogniton Arrangement = Kesepakatan Saling Mengakui) yang disepakati antar anggota ASEAN merupakan ikatan bagi para anggota ASEAN untuk memenuhi standar profesi tenaga kerja pariwisata sesuai ketentuan yang disepakati bersama melalui sertifikasi profesi tenaga kerja yang diakui sesama negara anggota ASEAN. Ditengah-tengah ASEAN Tourism Forum di Manado baru-baru ini, terucap pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (MenParEKraf) bahwa liberalisasi jasa pariwisata ASEAN yang disepakati untuk dicapai pada tahun 2015 merupakan “tantangan serius” bagi Indonesia. Care Tourism - Liberalisasi Jasa PariwisataBetapa tidak? Di satu sisi, unsur utama produk pariwisata adalah jasa, – yang nota bene disajikan oleh tenaga kerja -, sehingga membawa konsekwensi logis memerlukan profesionalsme  di bidang pelayanan atau jasa pariwisata agar mampu bersaing. Di sisi lain, sebagian besar tenaga kerja pariwisata belum memiliki sertifikat profesi jasa pariwisata sebagaimana ditargetkan, sehingga untuk mencapai target 2015 masih memerlukan kerja keras dalam sisa waktu yang semakin mendesak. Berbeda dengan beberapa negara ASEAN lain, terutama Singapura dan Malaysia, demikian pula halnya dengan para mitra ASEAN, seperti India dan China, mereka lebih siap untuk bersaing di kancah pariwisata global, bukan sekedar Read more »

Pengertian Dasar Kepariwisataan | Obyek & Atraksi


Di kala seseorang merencanakan suatu perjalanan ke suatu tempat, disebabkan karena adanya suatu maksud tertentu, tujuan atau motivasi, entah itu untuk maksud kepentingan bisnis (business purposes),  seperti perdagangan, investasi dll., ataupun motivasi pesiar, atau maksud kunjungan lainnya seperti kunjungan resmi, konferensi, pendidikan dsb.
Motivasi perjalanan itu dirangsang atau ditimbulkan oleh adanya “sesuatu yang menarik”, yang lazim disebut daya tarik wisata (tourism attraction, tourist attraction), yang dimiliki tempat kunjungan tersebut, baik untuk kepentingan bisnisnya maupun sebagai tempat pesiar, misalnya iklim tropis yang hangat, iklim ekonomi yang kondusif buat investasi, dll.
Dalam kaitannya dengan manajemen kepariwisataan, daya tarik atau atraksi Read more »

PERISTIWA OLAHRAGA DAN KEPARIWISATAAN


Pesta olahraga ASEAN – SEA GAMES XXVI/2011, baru saja usai. Para atlet masing-masing kontingen negara peserta bergegas pulang kembali ke negaranya. Hiruk pikuk para penonton di gelanggang pertandingan yang meramaikan suasana di Indonesia selaku penyelenggara, tiada lagi terdengar. Kesibukan masyarakat yang ikut serta “melayani” baik selaku penyaji makanan, minuman, buah tangan, maupun sekedar “jasa keramahan (hospitality), kembali ke kehidupan semula, kehidupan rutin penuh perjuangan.
Care TourismPesta olahraga semacam SEA GAMES atau ASIAN GAMES yang bersifat regional, bahkan yang bertaraf nasional sekalipun, seperti PON, kompetisi Liga Sepakbola, Bola Basket, Bulutangkis, Bola Volley dsb., membuka peluang “tambahan”  sumber KEHIDUPAN, KEGIATAN USAHA dan PENGHASILAN atau NAFKAH EXTRA bagi masyarakat setempat dan sekitar tempat peristiwa olahraga itu diselenggarakan. Apalagi jika peristiwa Read more »

Perkembangan Organisasi Pariwisata Nasional Indonesia


Baru-baru ini, tepatnya tanggal 19 Oktober 2011 telah terjadi perubahan kabinet (reshuffle) yang ditandai dengan pergantian beberapa menteri serta pergeseran beberapa menteri lainnya. Pergeseran Menteri Kebudayaan dan Pariwisata termasuk yang menjadi pusat perhatian bukan saja karena pergantian menterinya, melainkan juga karena terjadi pula perubahan nama kementeriannya yang semula disebut Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Perubahan nama ini sedikit banyaknya mengisyaratkan kepada kita bahwa akan ada perubahan struktur organisasi internal yang akan mencerminkan fungsi baru daripada lembaga tersebut, di samping berkurangnya fungsi lainnya yang di-”kembalikan” ke lembaga induknya semula, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Care TourismPada tahun 2009, saat terbentuknya Kabinet Indonesia Bersatu Ke-II, terjadi perubahan nama semua departemen menjadi kementerian, meskipun tidak disertai perubahan struktur organisasinya selain adanya tambahan jabatan eselon satu setingkat sekjen dan dirjen, yaitu Wakil Menteri di beberapa kementerian. Dalam kaitan itu, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pun berganti nama menjadi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.