Angin Segar Pariwisata Indonesia


  • Di Awal 2014 telah bertiup angin segar pertama. Data World Economic Forum (WEF) menunjukkan daya saing pariwisata Indonesia pada 2013 naik dari semula (2011) di urutan ke-74 di antara 139 negara ke ranking 70 di antara 140 negara di dunia. Seperti tahun lalu, 10-negara terbaik daya saing pariwisatanya masih didominasi negara-negara Eropa. Di tempat teratas masih diduduki Swiss, sementara Jerman, Austria, Spanyol, Inggris berturut-turut masing-masing menempati urutan lima terbaik dalam daya saing kepariwisataannya. Di antara 10-terbaik daya saingnya tersebut, tiga negara berada di luar Eropa yaitu Amerika Serikat (ke-6), Kanada (ke-8) dan Singapura (ke-10). Semantara di urutan ke-7 dan ke-9 diraih oleh negara Eropa juga, yaitu Perancis dan Swedia. Dengan posisi ke-10 dunia, Singapura menempati urutan pertama di antara negaran-negara Asia-Pasifik dan dengan sendirinya menempati urutan pertama juga di antara negara-negara ASEAN. Sementara Indonesia di urutan ke-12 antara negara-negara Asia-Pasifik dan ke-4 di ASEAN.
  • Sedangkan angin segar kedua adalah berita tentang prioritas pemerintah yang akan mengembangkan konektivitas penerbangan langsung dari negara sumber wisman ke destinasi unggulan di Indonesia yang dinilai masih perlu digenjot. Continue reading

Kesiapan Indonesia Menghadapi Libelarisasi Jasa Pariwisata


Telah lama kita mendengar bahwa antara negara-negara anggota WTO (World Trade Organisation) akan di-berlakukan liberalisasi perdagangan termasuk juga jasa pariwisata. Mengingat Indonesia juga anggota WTO, sudah tentu Indonesia pun mau tidak mau, suka tidak suka, harus memersiapkan diri untuk menghadapinya.
Untuk itu, dibutuhkan informasi tentang latar belakang dan berbagai persoalan yang harus dipersiapkan. Maka terbersit pertanyaan di antara kita: Seperti apa persoalan yang kita hadapi, terutama dalam hal memersiapkan diri menghadapi liberalisasi jasa pariwisata itu sendiri?

Dengan partisipasi aktif dalam perdaganagan jasa (pariwisata) diharapkan ekonomi Indonesia dapat “mendulang” manfaatnya Continue reading

Perkembangan Wisman Jan-Nov 2013


Menyongsong Tahun 2014, kita disambut dengan berita dari KemenParekraf, bahwa kunjungan wisman tahun 2013 melampaui target moderat (8.6) juta.
KemenParekraf menetapkan tiga versi target yaitu target pesimis 8.3 juta, target moderat 8.6 juta dan target optimis 8.9 juta.
Berita tersebut didasarkan pada laporan BPS (Badan Pusat Statistik) perihal jumlah kedatangan wisman November 2013 mencapai 807.422 pengunjung, naik 12.16% dibanding Oktober’13.
Wisman_Nov 2013Perkembangan terakhir kunjungan wisman November 2013 tersebut menunjukkan kenaikan 16.37% dibanding November 2012. Total Kunjungan Wisman Jan-Nov’13 mencapai 7,941,474, naik sebesar 9.12% dibandingkan perode yang sama tahun 2012. Dibandingkan dengan target optimis 8.9 juta berarti hingga November mencapai 81,98% dari target. Dalam tempo satu bulan mendatang, Desember 2013, sisanya masih 18.02% untuk mencapai target maximal (optimis) 8.9 juta, atau 92.34% dari target moderat (8.6 juta), masih kekurangan 7.66% . Tahun 2013 KemenParekraf memperkirakan jumlah wisman mencapai 8.637.275. Menilik angka-angka tersebut, KemenParekraf merasa Continue reading

Pembangunan Kepariwisataan | Lanjutan


Pada artikel terdahulu dikemukakan tentang pembangunan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) yang mencakup 7-bidang kegiatan, satu di antaranya adalah perihal Perwilayahan Pembangunan DPN itu sendiri yang meliputi:

  1. DPN (Destinasi Pariwisata Nasional), yang dinyatakan dalam RIPPARNAS, yaitu terdiri dari 50 (limapuluh) Destinasi; dan
  2. KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) yang berjumlah 88 (delapanpuluh delapan) Kawasan; serta
  3. KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional) sejumlah 222 Kawasan.
Nias

NIAS (Teluk Dalam dsk), salah satu KSPN

Untuk sekian banyak DPN, KSPN dan KPPN tersebut, dalam pelaksanaannya sudah tentu tidak akan dapat dilakukan sekaligus, namun diperlukan prioritasisasi DPN atau KSPN atau KPPN yang mana, yang dapat dikembangkan terlebih dahulu mengingat bila dilakukan sekaligus maka akan menyangkut berbagai persoalan yang antara lain dalam hal ketersediaan dana, baik dari sumber nasional, daerah (kabupaten/kota) maupun masyarakat serta kalangan usaha, persoalan koordinasi antar sektor dan antar disiplin di antara segenap pemangku kepentingan (stakeholder), dsb.

Ketentuan tentang Destinasi Pariwisata Nasional

Penetapan wilayah DPN ditentukan berdasarkan kriteria sebagai berikut:
Continue reading

Prakiraan Kunjungan Wisman ke Indonesia 2013


Pada awal bulan November 2013 yang lalu, BPS (Badan Pusat Statistik) mengumumkan bahwa jumlah kunjungan wisman ke Indonesia bulan September 2013 menunjukkan peningkatan sebanyak 12.77% dari September 2012, namun mengalami penurunan (-0.02%) dibandingkan dengan bulan sebelumnya (Agustus 2013). Secara kumulatif dalam periode Jan-Sep 2013 naik dengan 8.80% dibanding periode yang sama tahun 2012.

Kujungan Wisman 2013/2012Beberapa pihak mengeluarkan pernyataan, bahwa penyelenggaraan Miss World 2013 di Bali bulan September 2013 telah meningkatkan arus kedatangan wisman ke Indonesia. Dari data yang dikemukakan di atas, agaknya lebih condong dikatakan bahwa kunjungan wisman dalam bulan September 2013 menunjukkan fenomena ‘biasa-biasa’ saja, bahkan dibandingkan dengan bulan sebelumnya (Agustus 2013) justru mengalami penurunan. Kalau dikatakan bahwa penyelenggaraan Miss World di Bali / Indonesia ‘diharapkan akan’ bisa meningkatkan arus wisman ke Indonesia, khususnya Bali, boleh jadi ‘bisa’ terwujud … jika … diikuti dengan berbagai langkah yang tepat sasaran dan tepat waktu, sehingga paling sedikit 2014 dapat terwujud.

Continue reading

Pembangunan Kepariwisataan


Dengan berlakunya UU no. 10/2009 Tentang Kepariwisataan, maka dewasa ini Pembangunan Kepariwisataan Indonesia dilakukan dengan mengacu pada ketentuan-ketentuan UU tersebut.
Penyelenggaraan kepariwisataan dilaksanakan berdasarkan berbagai prinsip sebagaimana diamanatkan dalam pasal 5 UU tersebut yang menetapkan bahwa Kepariwisataan diselenggarakan dengan prinsip:
a. menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dan sesama manusia, dan hubungan antara manusia dan lingkungan;
b. menjunjung tinggi hak asasi manusia, keragaman budaya, dan kearifan lokal;
c. memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat, keadilan, kesetaraan, dan proporsionalitas;
d. memelihara kelestarian alam dan lingkungan hidup;
e. memberdayakan masyarakat setempat;
f. menjamin keterpaduan antarsektor, antardaerah, antara pusat dan daerah yang merupakan satu kesatuan sistemik dalam kerangka otonomi daerah,
serta keterpaduan antarpemangku kepentingan;
g. mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakatan internasional dalam bidang pariwisata; dan
h. memperkukuh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selanjutnya ditetapkan pula bahwa upaya Pembangunan Kepariwisataan itu meliputi:
a. industri pariwisata;
b. destinasi pariwisata;
c. pemasaran (pariwisata); dan
d. kelembagaan kepariwisataan.

Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan

Sebaran DPNAdapun dalam pelaksanannya, UU no. 10/2009 tersebut juga mengamanatkan bahwa pembangunan kepariwisataan harus diselenggarakan berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan (RIPPAR) yang terdiri dari (1) RIPPAR NASIONAL; (2) RIPPAR PROVINSI; (3) RIPPAR KABUPATEN/KOTA, yang merupakan Continue reading

Pariwisata Massal Dan Implikasinya


Dalam memahami kepariwisataan terdapat berbagai bentuk perjalanan wisata yang dilakukan para wisatawan, diantaranya adalah perjalanan wisata massal (mass tourism, mass travel).
Perjalanan wisata telah dikenal orang sejak abad ke-19 dan semakin dikenal setelah berakhirnya Perang Dunia II (akhir 1950-an – awal 1960-an).

Apa dan Bagaimana Pariwisata Massal

Ditinjau dari pengertian hakiki, yang dimaksud dengan Pariwisata Massal tidak lain adalah:
Mass TourismPenyelenggaraan Pariwisata (Perjalanan Wisata) yang melibatkan wisatawan dalam jumlah banyak, berombongan dan dalam pengaturan yang boleh dikatakan hampir standar dalam hal pengaturan waktu, tempat yang dikunjungi, fasilitas (penerbangan, hotel dll) yang digunakan dan ditetapkan dalam paket yang standar.
Pariwisata massal terkadang diselenggarakan dengan angkutan udara charter, Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 201 other followers