KE MANA ARAH PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN INDONESIA? (Bagian-2)

Artikel ini merupakan kelanjutan, bagian kedua dari tiga bagian, yang ditulis oleh Cri Murthi Adi.

2.10    Pengembangan produk wisata hendaknya dilakukan tidak semata-mata dilihat dari segi sumberdaya yang dimiliki dan dari persepsi perencana, melainkan juga mempertimbangkan kebutuhan dan keinginan konsumen;

2.11    Kepentingan masyarakat. Komponen produk wisata yang dikembangkan di suatu daerah, seperti akomodasi, jasa boga, atraksi dan obyek wisata dll, hendaknya menggarisbawahi kepentingan masyarakat, dalam arti:

  • memberikan peluang peranserta bagi masyarakat;
  • memberikan manfaat bagi masyarakat, seperti infrastruktur, fasilitas dsb.;
  • tidak menimbulkan gangguan bagi masyarakat.

Read more »

DAMPAK BENCANA ALAM PADA KEPARIWISATAAN

Di awal Oktober 2009 kita semua dikejutkan oleh peristiwa gempa Sumatera yang terjadi tidak lama berselang setelah gempa pantai selatan Jawa Barat. Sumatera Barat dan Jambi merupakan daerah yang secara bersamaan menderita musibah itu. Dalam peta pariwisata Indonesia, Sumatera Barat merupakan salah satu destinasi pariwisata yang populer di kalangan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara.

Tidak kurang dari ribuan bangunan, baik rumah tinggal, toko, pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah ibadah, sekolah, kampus banyak yang luluh lantak sebagai akibatnya, termasuk di antaranya hotel dan fasilitas pariwisata lainnya seperti terminal bandara, restoran, museum dan obyek wisata lainnya.

Melalui artikel ini Care Tourism menyampaikan rasa simpati serta prihatin kepada para korban dan keluarganya, dan belasungkawa kami sampaikan pula kepada para keluarga yang terkena musibah ditinggalkan oleh anggota keluarga dan kerabatnya.

Padang - Hotel AmbacangDi kota Padang, yang termasuk menderita terparah akibat gempa itu salah satu di antaranya adalah Hotel Ambacang, yang selama beberapa hari setelah gempa mendominasi pokok berita di berbagai media massa. Satu dan lain hal karena Hotel Ambacang selama ini bukan saja merupakan akomodasi sebagai tempat di mana para wisatawan bernaung dan menikmati liburannya, Read more »

KIAT MENINGKATKAN DAYA SAING PARIWISATA

Dalam menghadapi persaingan pariwisata yang semakin seru disebabkan berbagai hambatan, seperti kondisi sosio-politik, stabilitas ekonomi, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, upaya meningkatkan daya saing pariwisata memerlukan kiat tertentu, yaitu dengan menyikapi dan menanggapi atas analisis Index Dayasaing Pariwisata 2009 dari World Economic Forum (WEF).

Untuk menyikapi Index Dayasaing Pariwisata tersebut, terlebih dahulu perlu Read more »

KE MANA ARAH PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN INDONESIA? (Bagian-1)

Kemana Arah Pembangunan Kepariwisataan Indonesia?Pada kesempatan yang lalu, ditampilkan artikel mengenai Perencanaan Pengembangan Kepariwisataan.
Dalam kesempatan ini, salah seorang anggota Care Tourism, Cri Murthi Adi menulis tentang Arah Pembangunan Kepariwisataan, yang menurutnya merupakan hal paling dasar dalam perencanaan. Karena artikel ini agak terlampau panjang untuk ditampilkan sekaligus, maka kami bagi menjadi tiga bagian. Inilah bagian-1 tulisannya.
I. PARADIGMA BARU PEMBANGUNAN PARIWISATA INDONESIA
(1).Pembangunan Pariwisata Indonesia dihadapkan pada pelbagai Read more »

PERENCANAAN PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN

PERENCANAAN PENGEMBANGAN KEPARIWISATAANSebagaimana pengembangan bidang-bidang lainnya, pengembangan kepariwisataan pun memerlukan perencanaan yang seksama. Satu dan lain hal, karena kepariwisataan menyangkut berbagai bidang kehidupan, baik bagi wisatawan maupun bagi masyarakat setempat yang menjadi “tuan rumah”.

Perencanaan kepariwisataan, tidak hanya berkepentingan dengan wisatawan, melainkan juga melibatkan kepentingan masyarakat setempat (local), daerah (regional) maupun nasional pada umumnya di negara yang bersangkutan. Oleh karena itu pengembangan kepariwisataan harus digarap bukan hanya dalam hal penyediaan hotel dan kegiatan promosi semata, melainkan juga segi-segi lainnya yang menjadi “kebutuhan hidup” wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara – layaknya seorang manusia – sebagaimana kebutuhan hidup masyarakat setempat selaku tuan rumah, mulai dari kebutuhan tempat tinggal, makan-minum, mobilitas, udara segar, Read more »

KRITERIA PENILAIAN INDEX DAYASAING PARIWISATA 2009

Kriteria Penilaian Index Dayasaing Pariwisata 2009Dalam Buku di samping ini dapat dilihat 14 (empatbelas), – masing-masing berikut rinciannya-, kriteria penilaian Index Dayasaing Pariwisata 2009 yang digunakan oleh World Economic Forum (WEF).
Kriteria tersebut seyogyanyanya dapat “kita manfaatkan”, baik oleh Pemerintah (Lintas Sektoral Pusat dan Daerah), Kalangan Usaha Pariwisata maupun masyarakat pada umumnya sebagai acuan dalam pembenahan, perbaikan, pengembangan dan penyempurnaan bidang-bidang terkait dengan kepariwisataan yang dinilai masih banyak kelemahannya, sebagaimana dapat kita lihat dalam artikel terdahulu. (Lihat Chart I dan Chart II).

DAYASAING PARIWISATA ANTAR NEGARA ASEAN

Dalam penilaian index persaingan pariwisata, World Economic Forum hanya mengikut sertakan 8 di antara 10 negara ASEAN.

Seperti diutarakan dalam artikel terdahulu, urutan dayasaing pariwisata negara-negara ASEAN adalah sebagai berikut:

1. Singapura; 2. Malaysia; 3. Thailand; 4. Brunei Darussalam; 5. Indonesia; 6. Philippina; 7. Vietnam; 8. Cambodia.

chart-i

Secara rinci, – lihat Chart I yang membandingkan Indonesia dengan Malaysia, Singapura dan Thailand -, Singapura unggul hampir dalam segala bidang. Dalam hal Pengaturan Kebijakan & Peraturan (1), dengan nilai 6.24; Kelestarian Lingkungan (2), nilai 4.85; Keselamatan & Keamanan (3), nilai Read more »

DAYASAING PARIWISATA INDONESIA 2009

Berita hangat telah diluncurkan dari World Economic Forum (WEF) tentang Index Dayasaing Perjalanan & Pariwisata (The Travel & Tourism Competitiveness Index, TTCI). Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pada awal Maret 2009 telah diterbitkan TTCI edisi 2009, di mana Indonesia menempati posisi ke-81 dari 133 negara yang diikut-sertakan dalam penilaian. Dengan demikian Indonesia mengalami “penurunan” dari posisi ke-80 di antara 130 negara di tahun 2008.

Bagaimana posisi Indonesia di antara negara-negara ASEAN dan ASIA PASIFIK?

Indonesia berada di urutan 5 di antara 8 negara dari 10 negara ASEAN yang dinilai dan di antara 25 negara Asia Pasifik berada di urutan 15. Posisi teratas di ASEAN ditempati oleh Singapura yang menduduki tempat ke-2 di antara 25 negara Asia Pasifik dan secara global berada pada posisi 10 di antara 133 negara. Malaysia di posisi ke-2 ASEAN, urutan ke-32 dunia dan posisi ke-7 di Asia Pasifik. Pada urutan berikutnya adalah Thailand pada posisi ke-3 ASEAN, ke-8 Asia Pasifik dan ke-39 dunia. Sementara itu, Read more »

DAMPAK EKONOMI APA YANG DIPEROLEH DARI PARIWISATA? (BAGIAN II)

Mungkin, 30% dari satu juta dollar itu akan “mengalir” (bocor) ke luar daerah itu yang diperlukan untuk membayar barang dan jasa yang dibeli wisatawan namun tidak diproduksi di daerah yang bersangkutan (barang dan jasa seperti itu lazimnya diperhitungkan sebagai dampak penjualan langsung).
Karena “kebocoran” tadi, maka sisanya yang $700.000 dalam bentuk penjualan langsung akan menghasilkan $350.000 penghasilan dalam industri pariwisata dan menunjang 20 lapangan kerja pariwisata. Kita tahu bahwa industri pariwisata bersifat padat karya dan padat penghasilan, menciptakan proporsi penjualan yang besar menjadi penghasilan dan lapangan kerja terkait.
Sebaliknya, industri pariwisata membeli barang dan jasa dari industri lainnya di daerah itu dan membayarkan sebagian besar dari $350.000 penghasilannya untuk upah dan gaji karyawannya. Inilah yang menciptakan dampak sekunder ekonomi di daerah tersebut.
Sebuah penelitian misalkan menggunakan faktor pengganda (multiplier factor) 2,0 untuk menunjukkan bahwa tiap dollar dari penjualan langsung menghasilkan satu dollar tambahan dalam penjualan sekunder di daerah Read more »

DAMPAK EKONOMI APA YANG DIPEROLEH DARI PARIWISATA? (BAGIAN I)

Bahwa kepariwisataan memiliki berbagai dampak ekonomi, sudah banyak diketahui orang. Di Indonesia, hingga saat ini dampak ekonomi pariwisata masih “belum cukup mendapat perhatian” dari berbagai kalangan yang terlibat, baik langsung maupun tidak angsung.

Secara formal, para ahli  membedakan dampak ekonomi yang terjadi karena kegiatan pariwisata, terdiri dari Efek Langsung (Direct Effects), Efek Tidak Langsung (Indirect Effects) dan Efek Induksi (Induced Effects). Sementara itu, Efek Tidak Langsung dan Efek Induksi kadang-kadang disebutnya sebagai Efek Sekunder (Secondary Effects) yang menyertai Efek Langsung selaku Efek Primer (Primary Effect).

Dampak total ekonomi pariwisata merupakan jumlah keseluruhan dampak yang terjadi baik langsung, tidak langsung maupun induksi, yang masing-masing dapat diukur sebagai keluaran bruto (gross output) atau penjualan (sales), penghasilan (income), penempatan tenaga kerja (employment) dan nilai tambah (value added).

Secara nyata, kegiatan pariwisata memberikan manfaat pada penjualan, keuntungan, lapangan kerja, pendapatan pajak dan penghasilan dalam suatu daerah.

Dampak yang paling dirasakan langsung, terjadi di dalam sub-sektor pariwisata primer, -penginapan, restoran, angkutan, hiburan dan perdagangan eceran (retail). Pada tingkat kedua, di sub-sektor sekundernya, berpengaruh pada sebagian besar sektor ekonomi.

Analisis dampak ekonomi kegiatan pariwisata lazimnya berfokus pada perubahan penjualan, penghasilan dan penempatan tenaga kerja di daerah Read more »