PARIWISATA – Sumber Devisa, Stimulan Kegiatan Ekonomi, Sumber Dana Pembangunan?


Agaknya semua negara di dunia ini memiliki persepsi yang sama, minimal senada, perihal dampak pembangunan pariwisata pada ekonomi negaranya.

Satu hal yang paling sering dinyatakan tentang pariwisata, di tanah air ini, 8259adalah sebagai sumber devisa, stimulan kegiatan ekonomi dan sebagai sumber dana pembangunan. Sedikitnya hal itu dipahami oleh para cendekiawan ekonomi, insan pariwisata serta tokoh pemerintahan, baik di kalangan eksekutif maupun legislatif, yang mungkin jumlahnya tidak terlampau banyak.

Tidak jarang terdengar di antara masyarakat umum pun berbincang atau menulis tentang manfaat pariwisata bagi kesejahteraan ekonomi. Namun sampai sejauh mana pemahaman dan pernyataan mereka itu mempengaruhi sikap, perilaku dan perbuatan mereka, dalam kegiatan sehari-hari, yang mendukung berkembangnya kepariwisataan di Indonesia, belum banyak menunjukkan kenyataan.

Hal itu agaknya terbukti dari lambatnya pertumbuhan kepariwisataan, khususnya laju pertumbuhan wisatawan mancanegara (wisman) di tanah air dibanding dengan negara-negara tetangga sesama anggota ASEAN.

Pemahaman tentang manfaat kepariwisataan (mancanegara maupun nusantara), dalam banyak hal, diwujudkan dalam bentuk “investasi”, khususnya bidang usaha perhotelan, restoran dan sejenisnya (bar, cafe dsb.), mengingat beberapa hal, pertama-tama bahwa bidang usaha itu memberikan prospek penghasilan yang “instan” (dinilai sebagai revenue center) dibanding dengan investasi dalam bidang lainnya seperti obyek dan atraksi wisata yang cenderung lebih banyak dinilai sebagai “pos biaya” (cost center), begitu pun bidang biro perjalanan yang tidak mendapat akses kredit dari bank.

Hal kedua yang memberikan petunjuk bahwa bidang perhotelan dinilai lebih menarik daripada bidang lainnya, adalah kecenderungan calon mahasiswa pada akademi, atau lembaga pendidikan tinggi kepariwisataan, lebih banyak yang memilih bidang studi perhotelan ketimbang biro perjalanan dan bina wisata. Agaknya ada pandangan yang salah kaprah tentang “ilmu manajemen biro perjalanan” yang “dianggap” tidak perlu dipelajari di tingkat pendidikan tinggi, atau kurang menarik untuk segera memperoleh pekerjaan seusai pendidikannya.

Berbicara soal kepariwisataan, secara alami, produk (output) yang ditawarkan dari upaya pengembangan kepariwisataan terdiri dari tiga unsur pokok, 3-A yakni Atraksi (daya tarik), Aksesibilitas (kemudahan jangkauan, termasuk visa dan perizinan lainnya) dan Akomodasi (hotel, restoran dsb.) yang berada di dalam kondisi lingkungan (kam-tib-ek-sos-bud-pol) yang kondusif serta perlu dikembangkan dan dipelihara secara bersamaan.

Secara jelas bisa dipahami bahwa pembangunan atraksi saja, atau aksesibilitas saja, atau akomodasi saja, atau kombinasi dua dari tiga unsur itu saja, atau bahkan ketiga-tiganya tanpa dukungan kondisi yang kondusif adalah mustahil akan mewujudkan kepariwisataan yang memikat pengunjung untuk datang.

Kenyataan membuktikan, banyak hotel sudah dibangun di Daerah Tujuan Wisata (DTW), namun tanpa dukungan pembenahan atraksinya, apalagi dengan kurangnya dukungan aksesibilitas, telah mengakibatkan investasi yang dilakukan tidak mencapai hasil yang diharapkan, bahkan gagal.

Kenyataan lain membuktikan, bahwa wabah penyakit, huru-hara, bencana alam maupun bencana ulah manusia (terorisme), inflasi dsb., berpengaruh negatif atas minat pengunjung untuk datang. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kam-tib-ek-sos-bud-pol pun berperan penting. Itulah sebabnya bapak Susilo Sudarman (alm) saat menjabat Menteri Parpostel merasa perlu dan berhasil mencanangkan program Sapta Pesona, yang terdiri dari keamanan, ketertiban, kenyamanan, keindahan, kebersihan, keramahan dan kenangan yang, menurut hemat kami, sudah selayaknya jika program itu dilanjutkan secara konsisten.

Adapun kepariwisataan sebagai stimulan kegiatan ekonomi dapat dibuktikan dengan adanya penerimaan devisa yang dibayarkan wisman kepada hotel, biro perjalanan, angkutan umum, restoran dan sebagainya memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, sebutlah pembayaran gaji pegawai hotel, pembayaran listrik, pembayaran telepon, pembayaran supplier sayur mayur, buah-buahan, telor, daging, rempah-rempah dsb., yang secara nyata dinikmati atau diterima bukan saja oleh kalangan pariwisata, melainkan juga kalangan petani dan peternak (kaum marginal) yang menghasilkan jumlah penghasilan pariwisata yang berlipatganda dalam kontribusi terhadap pendapatan nasional, yang disebut sebagai multiplier effect.

Sebagai contoh ringan, jika Indonesia kedatangan 7 juta wisman tahun 2008 ini, 50% di antaranya perlu 2 butir telor untuk sarapan tiap pagi, maka diperlukan 7 juta butir telor.
Pertanyaannya: Siapa yang memasok telor itu? Kita tahu, jawabannya adalah masyarakat peternak.

Meskipun demikian, dalam penentuan anggaran pemerintah (pusat maupun daerah) kepariwisataan masih ditempatkan sebagai “pilihan”, yang berarti belum berada dalam kelompok “prioritas”. Agaknya sudah saatnya dilakukan perubahan atas tempat kepariwisataan sebagai pilihan ke dalam kelompok prioritas, mengingat kepariwisataan sebagai sumber devisa atau sumber dana pembangunan sudah selayaknya dikelompokkan ke dalam “sumber penghasilan” (revenue center), bukan lagi sebagai “pos biaya” (cost center) semata.

Bahkan pembinaan kebudayaan, pendidikan, kesehatan dsb. pun, yang dewasa ini cenderung sebagai pos biaya, di kemudian hari dapat menjadi sumber penghasilan sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara lain, misalnya negara tetangga terdekat, Singapura yang berhasil menempatkan bidang kesehatan dan pendidikan sebagai sumber penghasilan, selain jasa perdagangan dan pariwisatanya.

Lalulintas pasien jasa kesehatan dan pelajar/mahasiswa pun termasuk dalam kelompok wisatawan sesuai dengan definisi UNWTO (United Nations World Tourism Organization), di mana motivasi kesehatan dan pendidikan termasuk dalam kategori pariwisatawan, selain motivasi pesiar dan bisnis (leisure and business), dsb.

Jika Layanan Kesehatan dan Pendidikan Indonesia berkualitas serta ”bersertifikat profesi global”, tidak mustahil jasa rumah sakit dan universitas ataupun sekolah kejuruan Indonesia pun bisa menjadi sumber penghasilan devisa, bukan hanya jasa kesehatannya atau pendidikannya semata, melainkan juga tenaga kerja Indonesia hasil pendidikan berkualitas itu akan dapat diterima bekerja di mana pun di dunia.
Semoga.

About these ads

3 Responses

  1. Well, well…

    Sudah saat nya Indonesia sadar akan kenyataan ini.

    Pariwisata yang seharusnya bisa menjadi salah satu leverage (pengungkit) ekonomi di segala lini, malah dipandang sebelah mata…

    Apa ini akibat dari kesalahan management yang pucuk2 pimpinannya hanya paham cara mengatur kebijakan2 ekonomi makro tanpa menyadari kegiatan2 mikro yang terkandung di dalamnya??

    Strategic vision without any tactical planning is simply and plainly is a jumbo-sized BS.

    Kalau kita hendak berhenti sejenak dan berkaca…apa sih kekurangan dari SDA dan SDM kita???apa sih yang tidak Tanah Air ini miliki???

    Pariwisata sebagai salah satu model industri jasa yang sangat fleksibel – berkemampuan untuk menciptakan multiplier effect yang sangat besar – dan – jangan lupa:: Minimum investasi!!

    Sekarang coba bayangkan kalau kita andaikan suatu negara sebagai sebuah komputer, kemampuan ekonomi nya adalah performa yang komputer itu bisa suguhkan ke pada penggunanya (aka. rakyat – masyarakat umum), nah sementara SDA dan SDM kita itu hardwarenya, Pariwisata itu sendiri bisa dianggap software…

    Tidak percaya?? coba sebut berapa aspek dari pariwisata yang “tangible”?yang berujud fisik, bisa dipegang, bisa dirasakan melalu kontak fisik??

    Kalau anda menemukan satu saja contohnya, jangan salah..kemiungkinan besar itu adalah multiplier effect atau malah infrastruktur fisik dari pariwisata itu sendiri…

    Saya yakin, masalah ini sudah sedemikian kompleks. dan diperlukan suatu synergi yang betul2 paten dari pihak PEMERINTAH (karena selama ini yang belum bergerak secara nyata adalah beliau2 ini – mana sumbangsih nyatanya, Bapak2??) dan juga swasta – yang hanya bisa tetap bersabar sembari terus berkarya (ini jelas, swasta kalau berhenti bekerja sehari saja..ya jelas tutup…)

    Mungkin mentalitas nya yang perlu diperbaiki??

    Mungkin sistem yang berbelit yang perlu diperbaiki??

    Saya rasa, berlaku..when there’s a will, there’s a way…

    The question now is: “Where’s Will?”

    saya tunggu tanggapannya..

  2. [...] KESEHATAN SALAH SATU SUMBER DEVISAPENGERTIAN DASAR KEPARIWISATAANAbout UsTourism OfficesPARIWISATA – Sumber Devisa, Stimulan Kegiatan Ekonomi, Sumber Dana Pembangunan?PENGERTIAN KEPARIWISATAAN | [...]

  3. [...] Sumber Devisa June 11, 2012 dewamas Leave a comment Go to comments PARIWISATA – Sumber Devisa, Stimulan Kegiatan Ekonomi, Sumber Dana Pembangunan?         [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 253 other followers

%d bloggers like this: