PENGERTIAN KEPARIWISATAAN | Ecotourism


Sementara di tanah air, kita masih berjuang untuk arus pengunjung mancanegara yang belum kunjung mencapai 10 juta, dengan terjadiya berbagai gejala alam maupun gejolak ekonomi internasional, kalangan kepariwisataan di luar sana gencar memperbincangkan “Nasib Kepariwisataan Global di Kemudian Hari”. Salah satu yang sedang hangat diperbincangkan adalah “Perubahan Cuaca Global (Global Climate Change) yang langsung akan berpengaruh pada perkembangan kepariwisataan terutama dalam hal pandangan dan perilaku para wisatawan dan calon wisatawan internasional serta paradigma pariwisata secara umum, yang akan mengubah perilaku pasar kepariwisataan secara global. Pada gilirannya penyelenggaraan kepariwisataan pun harus mengalami perubahan pula.
Para ahli, anggota TIES (The International Ecotourism Society), yang tahun 2010 berulang tahun ke-20, menunjukkan kekhawatirannya akan berbagai dampak negatif yang timbul disebabkan oleh perilaku para pemangku kepentingan (stakeholders) di bidang pariwisata dan perjalanan yang kurang bertanggung jawab, dalam arti kurang memberikan perhatian pada dampak negatif terhadap lingkungan alam, sosial, budaya dan ekonomi masyarakat setempat.
Mereka berupaya sangat gencar dengan melakukan berbagai kegiatan untuk menyebarluaskan pemahaman tentang pentingnya penerapan prinsip Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism Development).
Semula, – pada awal perkembangan kepariwisataan -, paradigma kepariwisataan dunia mengusung keyakinan bahwa kepariwisataan tidak menghabiskan sumber daya alam. Namun dewasa ini, pandangan tentang sumber daya alam tersebut dilihat juga dari sudut nilai-nilainya, tidak semata-mata dari kuantitasnya belaka.
Dengan adanya “drive” ke arah pemanfaatan sumber daya alam untuk kepentingan kepariwisataan, misalnya bahan bangunan kayu, yang digunakan untuk membangun hotel, restoran, gedung pertemuan/konferensi, furniture dsb., serta sumber alam mineral seperti Bahan Bakar Minyak yang digunakan untuk keperluan angkutan wisatawan, serta kerusakan lingkungan alam yang disebabkan oleh pembangunan fasilitas dan sarana kepariwisataan, menyebabkan paradigma itu bergeser ke arah pemahaman bahwa sumber alam, – cepat atau lambat -, semakin berkurang nilainya disebabkan karena perkembangan kepariwisataan. Pada gilirannya, kuantitasnya pun semakin berkurang, dalam bentuk berkurangnya luas hutan, luas lahan hijau, jumlah keragaman hayati (bio-diversity), debit air tanah, dsb.
Atas dasar pemikiran tersebutlah timbul berbagai gerakan, berupa pembahasan, pengamatan, penelitian dsb. -, yang menunjang penyelenggaraan kepariwisataan berkelanjutan.
Meskipun demikian, gerakan itu bukanlah tidak berhadapan dengan kendala. Adapun salah satu kendalanya adalah perbedaan pemahaman tentang pembangunan berkelanjutan itu sendiri, terutama dalam hubungannya dengan pemahaman tentang Wisata Eco (Ecotourism).
Perkembangan pemahaman tentang ecotourism berawal di tahun 1970-an dengan berkembangnya kepariwisataan berbasis alam, yang pada intinya merupakan “acara perjalanan” yang meliputi kunjungan ke tempat-tempat yang berada di lingkungan alam. Pada awal tahun 1990-an, perkembangan dan pertumbuhan ecotourism, – bersama dengan pariwisata alam, budaya, peninggalan sejarah dan petualangan -, secara global telah menjadi sektor industri pariwisata yang mengalami laju pertumbuhan terpesat.
Akhir-akhir ini, ecotourism telah menyebabkan berkembangnya berbagai istilah lain seperti Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism), Pariwisata Bertanggungjawab (Responsible Tourism), Pariwisata pro-masyarakat miskin (Pro-poor Tourism), – di Indonesia diperkenalkan sebagai DESA WISATA -, Pariwisata Hijau (Green Tourism), Pariwisata Alternatif (Alternative Tourism), … dsb.
Bagaimana pemahaman tentang Ecotourism menurut TIES?

  • Ecotourism didefinisikan sebagai “perjalanan yang bertanggung jawab ke wilayah alam yang disertai upaya melestarikan lingkungan dan memperbaiki kesejahteraan penduduk setempat”.
  • Sementara “kepariwisataan berbasis alam (Nature Tourism), sekedar menjelaskan perjalanan ke tempat-tempat di lingkungan alam”.
  • Ecotourism adalah jenis kepariwisataan berbasis alam yang memberi manfaat bagi masyarakat dan destinasi setempat baik dalam hal lingkungan alam, budaya maupun ekonomi.
  • Ecotourism menghadirkan seperangkat prinsip yang telah berhasil dilaksanakan di berbagai masyarakat global dan telah didukung luas oleh industri (pariwisata) maupun penelitian akademik.
  • Ecotourism, jika dilaksanakan berdasar prinsip-prinsip ini, menciptakan pengembangan kepariwisataan yang memberi manfaat sosial dan lingkungan yang sehat.
  • Sebagaimana ecotourism, istilah-istilah seperti sustainable tourism dan responsible tourism berakar dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yaitu “pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri (Bruntland Commission, 1987).

Dengan pemikiran konsep ini, maka Kepariwisataan Berkelanjutan (Sustainable tourism) didefinisikan dalam Agenda 21, 1992 untuk Industri Perjalanan dan Pariwisata, sebagai “kepariwisataan yang memenuhi kebutuhan wisatawan dan destinasi tuan rumah saat ini, dengan melindungi dan mengembangkan peluang untuk masa depan.”
Melalui artikel ini, semoga para pembaca mendapat pengertian lebih mendalam tentang kepariwisataan pada umumnya, serta tentang ecotourism dan sustainable tourism development khususnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 265 other followers

%d bloggers like this: