Global Tourism Trends 2019 – Bagian-1


UNWTO (United Nation World Tourism Organization) – dalam prognose-nya pada tahun 2007 berjudul TOURISM 2020 VISION, memperkirakan bahwa perjalanan wisata long-haul seluruh dunia akan mengalami pertumbuhan yang lebih pesat, sekitar 5,4% per tahun sepanjang tahun 1995-2020, sementara perjalanan wisata intraregional pada tingkat 3,8%. Dengan demikian akan membawa konsekwensi pada perbandingan antara perjalanan wisata interragional dengan long-haul akan mengalami pergeseran dari semula 82:18 menjadi 76:24 pada tahun 2020 dan akan mencapai jumlah sebanyak 1,6 milyar wisataawan.
Namun demikian, agaknya bukan hanya dalam hal interregional dan long-haul saja yang terjadi pergeseran, melainkan dalam hal perilaku dan jenis kelamin serta intensitas perjalanan pun mengalami perubahan, sehingga mau tidak mau – suka tidak suka, para pelaku pengelola dan pemangku kebijakan pariwisata pun harus melakukan penyesuaian-penyesuaian seperrlunya.
Di bawah ini kami sajikan artikel yang ditulis oleh Wuryastuti Sunario, salah satu anggota dan mantan Ketua Care Tourism, yang menggambarkan Global Tourism Trends 2019 secara umum, yang kami bagi menjadi 2 bagian.

Continue reading

Advertisements

Generational Marketing – Bagian 2


Kita mengerti bahwa dalam Era Industri 4.0 segala sesuatu menjurus pada digitalisasi. Dan, selama ini kita dihadapkan pada 5 generasi yang berbeda, sebagaimana diutarakan terdahulu, yaitu: 1. Silent generation; 2. Baby Boomers; 3. Generation X; 4. Generation Y; dan 5. Generation Z.
Dalam hal pemasaran pariwisata, mau tidak mau harus mempertimbangkan generasi-generasi tersebut agar mencapai hasil sebagaimana diharapkan.
Mengingat pola pikir tiap generasi berbeda jauh satu dengan lainnya, antara generasi itu terdapat kesenjangan (gap), – terutama antara generasi Baby Boomers dengan generasi-X dan generasi -Y.
Di satu sisi generasi Baby Boomers masih dipengaruhi oleh pola pikir lama (konvensional), di sisi lain generasi-X dan generasi-Y sangat dipengaruhi oleh pola pikir digital yg serba mudah, serba cepat, bahkan seringkali tidak menghiraukan adanya rintangan.
Nah, dalam hal pengelolaan pemasaran, – termasuk pariwisata -, para pemegang kewenangan sebagian besar terdiri dari Baby Boomers di mana masih ada yg berpola pikir konvensional tadi. Sementara pasar sudah menghendaki penanganan yg serba mudah dan cepat dengan pola pikir digital.
Namun, bagaimana pun di pasar masih terdapat potensi yg cukup besar dari generasi lama (Baby Boomers) yg perlu dilayani, walau dengan proses digital sekali pun. Dan, generasi ini memiliki kemampuan financial yg jauh lebih kuat dan mempunyai cukup waktu untuk berlibur di banding dengan generasi yg lebih muda (generasi X dan Y).
Melanjutkan artikel terdahulu mengenai “Generational Marketing”, di bawah ini disampaikan bagian ke-2 dari artikel tersebut.

Generational Marketing: Mengenal Profil Wisatawan dari berbagai Generasi
Oleh
Wuryastuti Sunario

Bagian 2.
Profil Generation X, the Silent Generation, dan Generation Z

Generation X

Generation X

Peran computer dan digitalisasi di dunia, – tak terkecuali di Indonesia -, sudah tidak terelakkan. Mau tidak mau, suka tidak suka, dunia sudah memasuki Industrial Revolution 4.0 yang dipicu sejak teknologi analog beralih ke teknologi digital, yang telah merobah cara dunia berkomunikasi satu sama lain. Sekarang orang tidak perlu bertatap muka untuk berkomunikasi. Siapa saja bisa mencari informasi tanpa bersusah payah ke perpustakaan, dan dengan mudah dan cepat bisa mendapatkannya di Google; untuk membuat laporan lengkap dengan photo dan video bahkan dengan suara, petugas hanya perlu kirim via laptop ke siapapun; bagi penumpang yang memesan dan membayar tiket pesawat, atau membayar apapun, cukup dari tilpun di genggam.
Segala bisa berlangsung dengan capat dan mudah, dengan satu syarat: asal tau tombol mana yang harus ditekan.
Hal ini dengan sendirinya sangat membingungkan generasi yang lebih tua yang merasa seakan harus mulai belajar teknologi ini dari awal dengan menanggalkan semua kebiasaan yang sudah pernah dipelajarinya. Ini sangat jauh banding waktu mereka nilpun dari rumah dengan tilpun analog, mengetik dengan mesin tik manual, dan ngantre ke bank untuk mengirim uang. Continue reading

Generational Marketing – Bagian 1


Banyak ahli, cendekiawan dan kalangan industri menilai bahwa dewasa ini kita sedang berada dalam transisi menuju Era Industri 4.0. Bahkan di kalangan pemerintah pun mau tidak mau harus mempelajari dan memahaminya serta mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi masa kini yang serba digital dan serba cepat. Jika tidak menyesuaikan diri, maka bersiaplah untuk “tertinggal” dari negara lainnya.
IMG-GenMktg Industri 4.0Baru-baru ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyelenggarakan Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) yang pertama dalam tahun 2019 ini, di mana dibahas juga perihal berbagai strategi menyatukan faham dan langkah semua pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat pariwisata dalam menghadapi perubahan yang terjadi menuju Industri 4.0 tersebut.
Di bawah ini kami sajikan sebuah tulisan tentang Industri 4.0 karya Wuryastuti Sunario, salah seorang anggota dan mantan ketua Care Tourism, berjudul “Generational Marketing”. Selamat membaca, semoga bermanfaat menambah informasi tentang Era Industri 4.0.

Generational Marketing: Mengenal Profil Wisatawan berbagai Generasi
Oleh
Wuryastuti Sunario

Bagian 1.
Melayani Millennials dan Baby Boomer

Di era Revolusi Industri 4.0 saat ini, Konsumen tidak saja menjadi ratu atau raja, tetapi telah menjadi penguasa pasar. Banyak perusahaan, – raksasa sekalipun -, yang mengabaikan perobahan besar ini telah merugi bahkan terpaksa bangkrut. Sebaliknya perusahaan yang memenuhi harapan zaman, justru dicari khalayak ramai dan popularitasnya melambung. Contohnya Go-Jek, Grab, Traveloka, Tokopedia. Mengapa? Sebab mereka telah memenuhi keinginan konsumen yaitu: kecepatan, proses sederhana, nyaman, dan biaya terjangkau, maka startups berkembang menjadi unicorns yang melejit popularitasnya dan menyisihkan dalam sekejap mata saja perusahaan taxi, mall dan travel agents konvensional . Continue reading

Wonderful Indonesia Digital Tourism


Pada tanggal 28 Februari – 1 Maret 2019, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata I Tahun 2019 dengan tema besar “Wonderful Indonesia Digital Tourism (WIDT) 4.0” – ‘Transforming Tourism Human Resources to Win The Global Competition in The Industry 4.0 Era’.

https://caretourism.files.wordpress.com/2019/03/w-i-d-t-4.0.pdfRakornas diselenggarakan dalam upaya mempersatukan tekad mencapai target 20 juta wisatawan mancanagera (wisman) 2019, bertempat di Hotel Sultan, Jakarta, yang dikemas sangat digital dengan tujuan memperkuat sumber daya manusia (SDM) pariwisata agar mampu memenangkan kompetisi global di Era Industri 4.0. Demikian kentalnya unsur digital yang mengemasnya, pembukaannya pun dilakukan dengan teknologi suara yang sangat digital.

Menghadirkan sejumlah narasumber antara lain Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Senior Manager Deloitte Samrat Bosye, Rektor Universitas Bina Nusantara Harjanto Prabowo, Head of ICT Center of Education Kemendikbud Gogot Suharwoto, serta sejumlah CEO perusahaan digital antara lain Bukalapak.com dan Traveloka.com, Rakornas I/2019 diikuti 500 peserta dari berbagai kalangan, seperti akademisi, industri pariwisata, pemerintah, komunitas, dan media yang disebut sebagai kekuatan Pentahelix pariwisata.

Suasana rakornas ditata dengan setting sangat digital dengan menghadirkan stand-stand digital di era industri 4.0, seperti Game Virtual, Adventure Virtual dan sejenisnya. Sebagai pembuka Rakornas, tampil di atas panggung artis penyanyi Lala Karmela membawakan lagu Khatulistiwa milik Chrisye. Continue reading

Mengenal Profil Wisatawan Millenial Asia – Bagian 2


Sebelum melanjutkan artikel terdahulu mengenai millenial, perlu agaknya disampaikan bahwa seringkali kita dihadapkan pada pertanyaan apa yang istimewa dari kelompok millenial ini. Banyak di luar sana beredar kisah, foto, ulasan, ataupun opini tentang kelompok ini yang acapkali berbenturan satu dengan lainnya, sehingga tidak memberikan kejelasan bagaimana sebetulnya “karakteristik” atau “ciri-ciri” serta “perilaku” mereka itu.  Salah satu artikel yang saya sajikan di blog saya yang lain menulis tentang Generasi Teknologi Informasi. Namun demikian, walau artikel itu belum menyajikan secara implisit tentang adanya “Generasi Millenial”, agaknya sudah memperlihatkan kecenderungan ciri-cirinya.

Dalam artikel yang ditulis Wuryastuti Sunario di bawah ini sedikit diuraikan tentang wisatawan millenial Asia. Sementara Ilustrasi yang tertera di sini sedikit memberikan gambaran tentang mereka.

The Millennials

The Millennials – Foto source: looniepolitics.com

Mengenal Profil Wisatawan Millenial Asia
Oleh : Wuryastuti Sunario

Bagian II.
Di dalam survey PATA (Pacific Asia Travel Association) yang dilaksanakan tahun 2015 berjudul : “Capturing the Asian Millennial Travellers”, PATA meneliti sifat dan perilaku para wisatawan millenial asal Indonesia, China Singapura dan India, meliputi apa saja yang milenials dari masing-masing negara inginkan dan harapkan dari perjalanan wisata mereka dan bagaimana perilaku mereka di destinasi bersangkutan.
Ternyata di dalam era digital sekarang ini, perilaku konsumen millenials Asia menjadi cukup berbeda dengan yang biasanya ditangani oleh industri pariwisata Indonesia sampai saat ini. Juga mengingat bahwa selama ini tour operators Indonesia lebih terbiasa menangani wisatawan asal Eropa dan Amerika dan Jepang di samping Australia. Maka baru akhir-akhir ini sajalah wisatawan ke Indonesia didominasi oleh wisatawan Asia yang bersifat dan berkelakuan sangat beda dengan wisatawan Eropa dan Amerika.
Oleh karenanya survey ini sangat berguna bagi pelaku pariwisata kita untuk bisa memahami apa yang sebenarnya yang dicari dan diinginkan wisatawan Asia dalam mengadakan perjalanan liburan dan wisata mereka.
Adapun hasil penelitian dan survey PATA menjelaskan sebagai berikut.

Continue reading

Mengenal Profil Wisatawan Millenial Asia – Bagian 1


Beberapa tahun terakhir ini perhatian kalangan pemasaran disibukkan dengan mempelajari fenomena yang dialami generasi “jaman now” yang mempunyai banyak perbedaan dari generasi sebelumnya. Tidak luput kalangan pariwisata pun, – termasuk pemerintah Indonesia -, mencoba memahami gejala yang dialami generasi tersebut. Beberapa waktu yang lalu saya menulis artikel tentang “Generasi Teknologi Informasi” yang diterbitkan di laman Lehmann.

img-20181218_2millenialsFakta menunjukkan bahwa kaum millenial ini akan semakin penting bagi kepariwisataan dunia pada umumnya, khususnya bagi Indonesia. Diperkirakan tahun 2019 ini jumlahnya akan meliputi tidak kurang dari 50% dari pergerakan wisatawan dunia yang meliputi kelompok usia 18-34 tahun. Sementara di Asia potensinya tidak kurang dari 57% dalam kelompok usia 15-34 tahun. Adapun pertumbuhan kaum millenial ini sangat pesat. Dewasa ini di Tiongkok saja wisatawan millenial diperkirakan mencapai 333 juta. Di zona ASEAN, wisatawan millenials terbesar berada di Indonesia dengan potensi 82 juta. Potensi Philippina 42 juta, Vietnam 26 juta, Thailand diperkirakan berpotensi sekitar 19 juta. Inilah agaknya yang membuat pemerintah Indonesia juga berupaya untuk membidik pasar wisatawan millenial.

Continue reading

Mengenal Digital Nomad (2)


Dengan mengembangkan Nomadic Tourism di Indonesia, minimal dapat diharapkan memperoleh beberapa dampak positif walaupun ada juga segi negatifnya. Dari sisi positif, melalui Nomadic Tourism pertumbuhan kepariwisataan tidak lagi terikat pada “musim libur” sehingga laju pertumbuhannya bisa merata sepanjang tahun, di samping merata ke berbagai daerah di tanah air yang pada gilirannya berdampak pada terbukanya peluang baru kegiatan perekonomian masyarakat setempat. Sementara sisi negatifnya, antara lain adalah kekhawatiran akan terjadinya “alih profesi” dan/atau “alih fungsi” serta perubahan sikap sosial di kalangan masyarakat yang dapat merugikan atau mengganggu laju kehidupan perekonomian setempat. Oleh karena itu, pengembangannya perlu dibarengi dengan upaya pencegahan terjadinya dampak negatif yang mungkin timbul, – paling sedikit dengan senantiasa mengawalnya dari dekat dan secara berkala.

Photo scmp.com

Keputusan pemerintah untuk mengembangkan Nomadic Tourism tidaklah diambil secara sesaat, melainkan merupakan perwujudan kebijakan yang ditetapkan jauh sebelumnya tentang  upaya pembangunan ekonomi dengan kepariwisataan sebagai andalan, maka Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun berupaya untuk membangun Sharing Economy melalui kepariwisataan yang berintikan “Tiga Ujung Tombak” yang terdiri dari:
1. Digital Tourism atau E-Tourism;
2. Homestay atau rumah wisata; dan
3. Konektivitas Udara

Melanjutkan artikel terdahulu, di bawah ini disajikan bagian ke-2 dari dua bagian.

Nomadic Tourism – Apakah Itu? (2), oleh Tuti Sunario

Jadi apa bedanya antara Wisatawan biasa/tradisional dengan Nomadic tourism ini?

Pertama, Wisatawan pada umumnya (sampai sekarang ini) berwisata biasanya dalam waktu luang dan waktu liburan, dalam kurun waktu terbatas, antara beberapa hari, weekends, atau paling lama cuti 3 bulan. Digital Nomads, dalam pada itu, meninggalkan rumah untuk Continue reading