Kepariwisataan Muslim


Baru-baru ini bertempat di Universitas Pancasila, Jakarta diselenggarakan seminar oleh Fakultas Pariwisata, yang membahas perkembangan Kepariwisataan Muslim atau Moslem Friendly Tourism (MFT) di dunia. Beberapa negara seperti Malaysia dan Turki sejak lama telah memperkenalkan halal food dalam pengembangan kepariwisataannya, dan kedua negara itu dewasa ini menempati urutan pertama dan kedua dalam Index Top Halal Friendly Holiday Destination 2014. Dewasa ini Thailand, Jepang dan Korea pun telah menyediakan halal food yang disajikan hotel dan restoran di negaranya.
Demikian juga di Indonesia, gelombang tumbuhnya MFT ditandai dengan timbulnya gejala usaha masakan halal di banyak kota yang berhasil menarik perhatian masyarakat wisatawan muslim terutama wisatawan nusantara ataupun wisatawan mancanegara asal negara muslim. Hal itu ditengarai, terutama sekali karena pemerintah dewasa ini tengah mengincar pasar pariwisata negara-negara muslim yang dewasa ini sedang berkembang pesat, salah satunya dari kawasan Timur Tengah.
Dalam seminar di atas, Dr. Sapta Nirwandar – mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, selaku salah satu pembicara mengungkapkan bahwa Thailand yang penduduk muslimnya hanya meliputi 5%, telah mampu memproduksi makanan halal bukan saja untuk kebutuhan pariwisata di dalam negerinya, melainkan juga mampu menyediakan 25% dari seluruh ekspor makanan halal di dunia.
Pembicara kedua, Prof. Ikuro Yamamoto mengungkapkan berkembangnya MFT di Jepang juga sedang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, walaupun hasilnya belum dapat disebut sebagai memuaskan. Namun demikian, profesor yang juga merupakan anggota Dewan Mesjid di salah satu kota di Jepang itu mengatakan bahwa perkembangan MFT dirasakan semakin deras.

Layanan MuslimTravel

Petunjuk Fasilitas Sholat di Bandara

Salah satu upaya yang dilakukan di Jepang adalah memberikan pelayanan informasi tentang kehadiran restoran halal. Pernyataan itu didukung oleh adanya upaya yang dilakukan oleh seorang asal Indonesia, Agung Pambudi yang menetap di Fukuoka, awal tahun 2014 yang lalu menciptakan aplikasi smartphone yang disebutnya “Halalminds” untuk menemukan restoran dan produk halal lainnya dengan mudah. Aplikasi tersebut sampai November 2014 sudah berhasil diunduh sebanyak 5,000 kali. Bukan hanya itu, di Jepang juga sudah terdapat petunjuk fasilitas Sholat yang tersedia di tempat-tempat umum seperti bandara, stasiun dll.
Continue reading

41-TH Pasang Surut Kunjungan Wisman


Tidak terasa masa begitu cepat berlalu. Sejak Akhir Repelita-I (1974) kepariwisataan Indonesia telah menempuh jalan panjang selama 41-tahun. Kinerja yang dicapainya pun mengalami pasang surut yang dipengaruhi berbagai faktor baik yang datang dari luar (external) maupun dari dalam negeri sendiri (internal).
Pada dasarnya faktor external secara umum berada di luar kendali kita sehingga tidak mudah untuk kita upayakan mengubahnya, walaupun dengan cara tersendiri secara logika sebenarnya dapat disiasati agar menjadi “peluang” ketimbang dibiarkan sebagai “kendala” atau “hambatan”.

Siklus Kehidupan Pariwisata Indonesia

Perjalanan panjang 41-tahun kepariwisataan Indonesia yang mengalami pasang surut itu dapat memberikan gambaran bagaimana gerangan Siklus Kehidupan Pariwisata (Tourism Life-Cycle) Indonesia itu berlangsung dengan menggunakan model Siklus Kehidupan Produk (Product Life-Cycle) pada umumnya, sebagai pembanding. Kita lihat gambarannya sebagai berikut:

  • TourismLifeCycleIntroduction Stage. Pada akhir Pelita-I (1974) Arus Kunjungan Wisman ke Indonesia baru mencapai angka 313.452 pengunjung. Sebelas tahun kemudian (1985) mencapai angka 825.035 pengunjung, dengan mencatat tingkat pertumbuhan rata-rata 8.33% per tahun. Dengan pertumbuhan yang moderat seperti itu memberikan gambaran seperti Masa Perkenalan (Introduction Stage) dalam grafik suatu Siklus Kehidupan Produk (Product Life-Cycle) pada umumnya, dengan garis kenaikannya yang “landai”.

Continue reading

Membaca Kebijakan Pariwisata 2015-2019


Bulan Februari yang lalu, Kementerian Pariwisata memberitakan pencapaian kinerja pariwisata di tahun 2014. Di samping perolehan Wisman sejumlah 9.435.411 juga dilaporkan perolehan Devisa Pariwisata sebanyak US$ 10.69 milyar, Kontribusi Pariwisata pada Perekonomian Nasional (Produk Domestik Bruto = PDB) sebesar 4,01%, dan sejumlah 10,3 juta orang Tenaga Kerja Pariwisata serta Peringkat Daya Saing Pariwisata (versi World Economic Forum = WEF) di posisi ke-70 di antara 140 Negara Tujuan Wisata Dunia yang dinilai tahun 2013.
Dalam kaitan dengan pelaksanaan Rencana Kerja Kementerian (RKK), maka Kemenpar menetapkan pencapaian sasaran pengembangan kepariwisataan di tahun 2015, bukan hanya jumlah wisman 10 juta, melainkan juga wisnus 254 juta dan perolehan devisa pariwisata US$ 12.05 milyar, pengeluaran wisnus Rp. 201.5 trilyun, serta sebanyak 11.3 juta orang tenaga kerja pariwisata.
Berpijak pada perolehan tahun 2014, secara makro target 2019 kontribusi pariwisata

Sasaran 2015-2019

Sasaran 2015-2019

terhadap PDB nasional akan menjadi 8%, devisa pariwisata Rp 240 triliun, 13 juta peluang kerja pariwisata, kunjungan wisman 20 juta dan wisnus 275 juta, serta daya saing pariwisata Indonesia pada peringkat 30 besar dunia, seperti Tabel-I berikut. 1*)

Kunjungan Wisman

Target Wisman 2015

Grafik-I

Sebagaimana diutarakan dalam artikel terdahulu, sasaran 20 juta wisman di tahun 2019 Continue reading

Bersiap Menghadapi Lompatan Besar Pariwisata Indonesia


Rasa kegembiraan di kalangan pariwisata agaknya tidak dapat disembunyikan dengan tercapainya jumlah kunjungan wisman tahun 2014 yang mencapai 9.435.411 kunjuungan, yang berarti melebihi target yang ditetapkan, yaitu antara 9.30-9.50 juta.

Target 2015 BigLeap

2019 BigLeap

Pemerintahan Jokowi-JK bertekad melakukan suatu Lompatan Besar Pariwisata (Tourism Big Leap) dalam lima tahun ke depan dengan meraih sebanyak duapuluh juta wisman di tahun 2019, sebagai sasaran dalam Rencana Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, dengan target awal (2015) 10 juta yang boleh disebut sebagai target yang moderat bila dibanding dengan 9,435,411 kunjungan pada 2014 dan untuk tahun 2016 ditargetkan satu juta per bulan, yang berarti 12 juta setahun.
Menurut pandangan Caretourism, untuk mewujudkan sasaran itu bukanlah hal yang mustahil, sebab Indonesia memiliki apa yang dibutuhkannya untuk itu, seperti pasar pariwisata dunia yang “menjanjikan” – bahkan sangat menjanjikan -, keberagaman daya tarik wisata – baik alam, budaya maupun fasilitas dan atraksi ciptaan manusia (man-made) -, guna
Continue reading

Implikasi Penetapan Sasaran 20 Juta Wisman – 2019 (lanjutan)


Dalam kesempatan yang lalu, diungkapkan tentang target yang dicanangkan dalam visi-misi pemerintahan Jokowi-JK terkait dengan sasaran 20 juta wisman pada tahun 2019. Sasaran tersebut mengandung konsekwensi dibutuhkannya upaya extra peningkatan kapasitas daya dukung tambahan yang harus tersedia guna melayani pertumbuhan wisman yang dinilai cukup “berani”.
Daya dukung tambahan tersebut menyangkut kapasitas kursi penerbangan langsung dari luar negeri serta kapasitas daya tampung akomodasi (hotel dan akomodasi lainnya).

1. Implikasi Atas Daya Dukung Pariwisata

Kebutuhan Kursi 2015-2019

Tabel I

Dari data selama lima tahun terakhir menunjukkan bahwa wisman yang datang ke Indonesia sebanyak rata-rata 71.45% melalui udara. Di samping itu penerbangan ke Indonesia secara rata-rata mengalami load faktor sekitar 68% (67,95%).
Dengan data tersebut di atas serta asumsi tiap Continue reading

2014 in review


The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 49,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 18 sold-out performances for that many people to see it.

Thanks to all our readers who had been visiting our blog regularly in the last five years. This special occasion of welcoming the New Year 2015 is just too much valuable to be missed off. Here, I’m presenting the  stats of our blog during the past 2014 for you just to have a brief view of the progress. May we wish you all a Merry Christmas 2014 and a Prosperous 2015.

Click here to see the complete report.

Implikasi Penetapan Sasaran 20 Juta Wisman – 2019


Dalam Visi-Misinya, Jokowi-JK mencanangkan Sasaran Wisman mencapai 20 juta di tahun 2019. Dilihat dari berbagai sudut, mungkinkan sasaran itu kita capai, perlu kiranya kita bersama mengkajinya.
Menurut pandangan berbagai kalangan pariwisata di Indonesia, sasaran itu dinilai “cukup berani” mengingat untuk mencapai sasaran 20 juta wisman dalam tempo 5-tahun mendatang (terhitung mulai 2015), menurut hitungan Care Tourism, dengan demikian kita harus mampu mencapai tingkat pertumbuhan kedatangan wisman sebanyak 16.06% per tahun, dengan dasar target tahun 2014 (9,5 juta), maka dalam 5 tahun mendatang jumlah wisman yang harus diraih adalah seperti tertera dalam Grafik berikut:

Target Wisman

Target dan Kecenderungan Alami Wisman, 2015-2019

Sementara itu, melihat kecenderungan dari Januari s/d Juli 2014, diperkirakan tahun 2014 ini maximal akan mencapai 9,7 juta, dan apabila kita mentargetkan 2015 sejumlah 11.025.700 wisman, maka berarti sebanyak 1.325.700 tambahan wisman yang harus diraih pada 2015, dan untuk itu kita hanya dapat mengandalkan “dampak” daripada promosi yang sudah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, khususnya 2013 s/d Agustus 2014, mengingat dewasa ini kita berada dalam bulan September, dan untuk sisa waktu 2014 program promosi dan anggarannya sudah ditetapkan, kecuali jika ada “tambahan anggaran”, maka sedikitnya akan dapat diupayakan promosi tambahan untuk “mendongkrak” arus wisman tersebut yang diharapkan datang di tahun 2015.

Dukungan Sisi Penawaran

Dengan mentargetkan kunjungan wisman seperti di atas, kita dihadapkan pada persoalan kebutuhan daya dukung tambahan berupa kapasitas kursi penerbangan internasional langsung ke berbagai destinasi lain di luar Bali, Jakarta dan Batam, yang Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 356 other followers