PARIWISATA PENUH TANGGUNG JAWAB – Responsible Tourism


Mungkin di antara Anda menjumpai hal-hal yang kurang menyenangkan pada waktu liburan, di mana seyogyanya liburan Anda merupakan saat yang paling menyenangkan dan menyegarkan. Toilet umum yang “jorok”, sampah berserakan di pantai, sampai pada terumbu karang yang rusak akibat ulah penyelam, berbagai tanaman yang rusak akibat ulah para pendaki gunung dsb.

Banyak hal yang dapat kita lakukan baik sebelum, di saat maupun setelah liburan dilakukan agar hal-hal itu tidak terjadi baik dalam perjalanan Anda maupun di rumah yang Anda tinggalkan selama liburan.

Banyak di antara kita yang tidak menyadari, bahwa liburan kita dapat menjadi penyebab atau sedikitnya penymbang terhadap pencemaran lingkungan. Bukan hanya sekedar bekas kemasan makanan atau minuman kita yang “tercecer”. Jangankan yang tidak disengaja, bahkan yang dibuang sembarangan dengan sengaja pun banyak kita jumpai di tempat-tempat kita berlibur. Secara tidak kita sadari pula, bahwa kendaraan bermotor yang kita gunakan untuk berlibur pun berperan mencemarkan udara sekitarnya.

Dalam banyak hal, sebaiknya kita jangan terlampau mengharapkan, apalagi menghimbau, pihak lain untuk memperhatikan dan memelihara lingkungan, kiranya akan lebih berguna dan efektif bila kita mulai dari diri kita sendiri. Ideal? Memang ideal, namun idealisme ini adalah untuk kepentingan kita sendiri.

Sebaiknya kita selalu ingat lingkungan yang bersih, tidak tercemar akan sangat bermanfaat dalam memelihara kesehatan kita bersama (termasuk kita sendiri, kan?). Jadi, pada prinsipnya, kebersihan dan kesehatan serta kelestarian lingkungan itu “demi kepentingan kita sendiri”. Yang menikmati liburan yang bersih pun kita juga, kan? Kita, itu berarti Anda semua, saya dan kami semua.

Contoh yang sangat mengesankan, di ibukota Ranah Minang, Padang, sudah lama berlaku saling mengingatkan sikap laku anggota masyarakat untuk

Kota Padang yang bersih

Kota Padang yang bersih

memperhatikan dan memelihara kebersihan bersama-sama. Artinya, seorang anggota masyarakat tidak merasa “tersinggung”, – jangankan “marah”, tersinggung pun tidak -, jika anggota masyarakat yang lain menegurnya karena “mengotori” lingkungan, semisal membuang puntung rokok atau bekas kemasan makanan secara sembarangan. Hasilnya? Menakjubkan, … sangat menakjubkan! Kota Padang berkali-kali, bukan hanya sekali, dinobatkan sebagai kota terbersih.

Besar sekali kemungkinnya Anda sudah pernah mendengar istilah “ecotourism“, atau “ecological tourism“, atau “responsible tourism“, atau disebut juga “sustainable tourism“. Apapun namanya, pada dasarnya pengertian itu mengandung maksud agar para wisatawan (baik nusantara maupun mancanegara) senantiasa bertanggung jawab untuk bersikap “memelihara lingkungan” tempat yang dikunjunginya. Tanggung jawab memelihara lingkungan bukan hanya terbatas pada pemerintah, para penyelenggara atau pengelola tempat liburan itu saja.

Responsible tourism, demikian juga sustainable tourism, tidak hanya mengacu pada kepentingan lingkungan alam semata, melainkan juga pada “kepentingan kelangsungan kehidupan masyarakat setempat”, baik ditinjau dari kacamata dan kepentingan manfaat ekonomi, maupun sosial budaya, keamanan, ketertiban, ketentraman dsb. dalam kehidupan masyarakat sekitarnya.

Dengan demikian, melalui responsible tourism, kepariwisataan diharapkan dapat bertahan seterusnya (sustainable) bagi kemaslahatan masyarakat setempat (for the benefit of local people).

Jadi, apa yang dapat Anda lakukan baik pada waktu perencanaan, saat sebelum berangkat maupun saat berada di tempat liburan? … Baiklah, di bawah ini disampaikan beberapa petunjuk bagi para pelaku liburan, yang juga pernah disampaikan pada editor ttispot, http://traveltourismindonesia.com agar diketahui masyarakat seluas-luasnya.

PERENCANAAN
1. Liburan yang bagaimana yang akan Anda lakukan? Mengatur sendiri atau ikut paket wisata biro perjalanan?
2. Pilihlah kegiatan liburan yang ramah lingkungan, baik Anda mengatur sendiri maupun bersama biro perjalanan.
3. Pilihlah hotel milik usahawan lokal/dalam negeri, lebih memberikan manfaat bagi ekonomi warga setempat.

SEBELUM BERANGKAT
1. Jika menggunakan kendaraan sendiri, siapkan kendaraan sebaik mungkin, selain menghindari kesukaran di jalan, juga agar tidak terlampau banyak mencemari lingkungan, sebaiknya uji emisi dilakukan secara teratur. Lebih baik lagi jika menggunakan kendaraan umum.
2. Pastikan rumah ditinggalkan dalam keadaan aman dari bahaya kebakaran (periksa kompor gas, alat elektronik, lampu agar dalam keadaan mati)  serta pencegahan tindak kriminal (pencurian/pembobolam).
3. Titipkan kepada seorang yang dikenal baik untuk menyalakan dan mematikan lampu penerangan halaman.

DI TEMPAT BERLIBUR, ada beberapa larangan (don’t) yang perlu dilakukan, yaitu:
1. Jangan melemparkan apapun kecuali pandanganmu (Don’t throw away anything but your looks). – Jangan membuang sampah sembarangan -. Jika tidak ada tempat sampah, bawalah serta (terutama sampah anorganik) dan buang di tempat yang tersedia;
2. Jangan membunuh apapun, selain waktu (Don’t kill anything but time);

Tanjung Kelayang, Belitung

Tanjung Kelayang, Belitung

3. Jangan mengambil apapun kecuali foto (Don’t take anything but pictures);
4. Jangan meninggalkan apapun, selain jejak kaki (Don’t leave anything but footprints);
5. Jangan membeli souvenir yang terbuat dari hasil pengawetan binatang yang dilindungi, seperti kulit ular, kulit penyu, kulit buaya dan sejenisnya. Demikian juga makanan, antara lain sop penyu;
6. Jangan menghamburkan air saat mandi dan listrik (lampu, AC) saat di luar kamar;
7. Jangan minta ganti handuk tiap hari. Dengan demikian dapat menghemat air yang diperlukan untuk mencucinya (di Jerman sejak 25th. yl. tamu sudah diingatkan bahwa handuk di kamar diganti tiap dua hari kecuali ada pergantian tamu).
8. Jangan melakukan hal-hal terlarang menurut adat istiadat, agama dan kepercayaan masyarakat setempat.
Dengan mengikuti petunjuk di atas Anda telah ikut melaksanakan responsible tourism secara langsung.

Salam,

Soelaiman Wiria-Atmadja

8 Responses

  1. Saya setuju sekali dengan apa yang disampaikan diatas, tetapi perlu juga kiranya disampaikan kepada masyarakat ada elemen2 diluar pariwisata yang sangat mendukung bagi promosi pariwisata, seperti bersih, hijau(singapura begitu care terhadap pohon yg nota benenya sama2 mahluk TUHAN ini salah satu contoh saja), aman, tenteram, seperti yang ada dalam SAPTA PESONA, p.Eman, kayanya kampanye ‘tuk ini perlu digalakkan lagi dan dilakukan secara paralel dengan kampanye/sosialisasi pariwisata itu sendiri agar tumbuh dalam setiap diri baik pelaku pariwisata atau bukan “responsible tourism” . CARE TOURISM harus kerja keras agar ” DON’T” diatas dan “don,t” tertanam dalam diri masyarakat , yang sudah barang tentu akan menaikan promosi pariwisata KITA.
    Terima kasih p.SWA dan mohon maaf atas tulisan2 saya yg sekira kurang berkenan ini tulus dari seorang yang jiwanya dibentuk di Dinas Pariwisata kadang2 kependuliannya berlebihan, karena ingin PARIWISATA memberikan makna, warna dalam dinamika ekonomi KITA .
    Salam pariwisata(salam ini juga baru tahu dari blog ini)

  2. […] Comments basuki antariksa on ANTARA PELUANG DAN PERSAINGAN …zulfan abidan m.kh on PARIWISATA PENUH TANGGUNG JAWA…zulfan abidan m.kh on Mengenal CARE TOURISM Lebih…Care Tourism-Tourism… on ANTARA […]

  3. JAKARTA GLOBE
    August 12, 2009

    Candra Malik
    Ecotourism Takes Toll on Environment

    Solo. There’s an environmental drawback, after all, to the rising trend toward ecological tourism, where nature lovers flock to pristine natural sites.

    Soehartini Sekartjakrarini, executive director of Innovative Development for Eco Awareness, said people’s interest in these types of areas were no longer a passing fancy but were now a part of a new lifestyle.

    This promises much for the development of tourism, but at the same time poses a threat to the environment, largely because of careless management by tourism operators.

    “Once an area develops as a tourist site, then negative side effects can also take place,” Soehartini told the Jakarta Globe.

    She said forests, coastal areas, small islands, villages, customary hamlets and old cities that were developed for tourism would often be flooded by related development projects — not all of them friendly to the environment.

    Soehartini called on the government to tightly monitor the development of tourism areas and to take firm action to prevent operators and developers from causing damage to the natural environment.

    “The concept of ecotourism in protected areas, half-protected areas and cultural conservation areas should be well integrated,” Soehartini said.

    She outlined five components of sustainable tourism development: conservation efforts to protect the environment being developed for tourism, the participation of surrounding communities, the use of the local culture for education and entertainment, a positive contribution to the local administration, and strong controls to prevent any negative impacts from the development in the area .

    A precautionary approach was also the key to developing and managing a new tourist site, she said. “Hastiness and negligence in managing the environment will only lead to the death of tourism there itself.”

    Ecotourism has already damaged natural resources, Thamrin B. Bachri, from the Ministry of Culture and Tourism, said in a national seminar on the development of environmentally oriented tourism here.

    “One example is Bunaken National Marine Park, which now draws fewer tourists than before, because the reefs have suffered damage as a result of tourism,” Thamrin said.

    Other tourist sites to have suffered a similar fate are the Borobudur Temple in Central Java and the Jatijajar natural cave in Central Java, he said.

    “Ecotourism is promising, but at the same time worrying,” he said.

    A member of the World Tourism Code of Ethics committee, I Gede Ardika, said that the development of tourist sites should avoid or reduce the use of nonrenewable natural resources such as water and energy, and avoid causing pollution through waste or garbage.

    “Tourism infrastructure and activities should aim to protect the ecosystem and the natural diversity; it should assure the protection of endangered animals, rare species and their environments,” he said.

    Ardika added that the “how much money did you spend” approach to tourists should no longer be the main concern.

    The government should now work on encouraging the international community to help save, safeguard and protect the environment, he said.

    (The Statements were delivered in the National Seminar of Environment Friendly Tourism held by the Ministry of Environment, Ministry of Culture and Tourism, and UNS-Solo. -SS-)

    • Thanks to submit my article.

  4. Pak Sulaiman,

    Hasil penelitian saya tahun 1994 untuk suatu kerjasama yang baik antara pemerintah dan swasta dalam pengembangan eco-tourism saya sampaikan berikut ini.

    … three primary factors related to partnership formation that emerging from the findings were: (1) the ability of each partner to accomplish its goal, (2) through the sharing of resources, (3) despite governmental bureaucracy. … the implications relevant to the Indonesian situation are, primarily, the land management agencies of Indonesia may need to consider: (1) embracing the private sector for the provision of visitor needs, (2) including the private sector in resource conservation operations, and (3) de centralizing the locus of governmental decision making to reduce the bureaucratic burden incurred by private sector partners …

    (Source : The Coordination between Public and Private Sectors : The Role of Partnerships in Eco-tourism Development. Master Thesis of Soehartini Sekartjakrarini. 1994. Texas A&M University, USA).

    A Thesis

    by

    SOEHARTINI SEKARTJAKRARINI

    Submitted to the Office of Graduate Studies of
    Texas A&M University
    in partial fulfillment of the requirements for the degree of

    MASTER OF SCIENCE

    May 1993

    Major Subject: Recreation and Resources Development

  5. […] DAN SUSTAINABLE TOURISMDAMPAK BENCANA ALAM PADA KEPARIWISATAANMengenal CARE TOURISM Lebih DekatPARIWISATA PENUH TANGGUNG JAWAB – Responsible TourismPERENCANAAN PENGEMBANGAN KEPARIWISATAANKE MANA ARAH PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN INDONESIA? […]

  6. […] ini disampaikan berdasarkan komentar pada artikel terdahulu yang masuk dari Soehartini Sekartjakrarini, Phd yang menyampaikan tulisan Chandra Malik dalam The […]

  7. […] orang berbicara dan bertanya tentang Ecotourism, disebabkan karena banyak istilah yang mengandung pengertian sama atau serupa dan sejiwa sehingga […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: