MENEROPONG POTENSI PARIWISATA INDONESIA


Dalam Rakor (Rapat Koordinasi) Depbudpar (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata) awal Desember 2008, dinyatakan bahwa kegiatan kampanye Tahun Kunjungan Wisata (Visit Indonesia Year, VIY) akan dilanjutkan pada tahun 2009. Dengan demikian kita memahami bahwa kampanye pariwisata akan merupakan suatu kegiatan “serial” multi-year, mungkin tidak hanya terbatas pada tahun 2008 dan 2009 belaka, melainkan dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya juga, dengan harapan persiapan dan pendanaannya akan semakin baik. Terutama bila kita sadari bahwa kegiatan pariwisata tidak hanya terbatas pada kampanyenya semata, melainkan juga penyediaan fasilitas (daya angkut, daya tampung hotel dan daya dukung lingkungan); pelayanan (kualitas maupun kuantitas SDM, profesionalsme, kecepatan, kecermatan, ketrampilan dan keramahan); serta atraksi wisata yang “sungguh-sungguh disiapkan” untuk menerima wisatawan, baik wisman (wisatawan mancanegara) maupun wisnus (wisatawan nusantara).

Dalam hubungan itu, berikut ini saya kutip pernyataan Direktur Jenderal Pemasaran, Sapta Nirwandar, yang dimuat dalam Kata Pengantar kertas kerjanya berjudul “STRATEGI PEMASARAN PARIWISATA 2009” sbb:

Tanpa penyiapan produk yang berkualitas bisa menyebabkan pemasar mengingkari janji tentang kualitas produk yang ditawarkan yang pada gilirannya akan menuai ketidak percayaan dari wisman yang berkunjung ke Indonesia.

Agaknya sudah dapat kita pastikan, kita tidak menghendaki hal itu terjadi, bukan? Oleh karenanya, agar kita dapat mencapai target-target tertentu, perlu kiranya kita semua bertekad, apa yang akan dan perlu dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan, baik langsung maupun tidak langsung? Pihak Pemerintah, eksekutif dan legislatif baik pusat maupun daerah, pihak industri pariwisata, industri / usaha-usaha penunjang, serta masyarakat pada umumnya.

Untuk itu, kita perlu saling mendukung, bahu membahu dan bergandeng tangan, demi suksesnya pariwisata tanah air. Antar instansi Pemerintah Pusat, antar instansi pemerintah daerah, baik di daerahnya maupun lintas daerah, antara instansi pemerintah pusat dengan instansi daerah, antara pemerintah (pusat dan daerah) dengan kalangan industri pariwisata dan lintas sektoral, antar anggota kalangan industri pariwisata, dst, dst.

Sebelum itu, sebagai titik tolak, perlu kita lihat di mana posisi pariwisata kita setelah VIY-2008 berakhir? Untuk itu beberapa pertanyaan di bawah ini perlu dijawab agar dapat memperoleh “Peta kekuatan” pariwisata Indonesia.

Seni Budaya Belitung

Seni Budaya Belitung

1. Di antara 33 provinsi, manakah yang benar-benar “siap” dengan produknya yang akan ditawarkan?
2. Di antara provinsi yang siap dengan produknya, apa yang banyak diminta pasar (pesiar/bisnis, budaya/alam)?
3. Di antara produk yang banyak diminta pasar, apa yang menonjol untuk dijadikan “unggulan” sebagai icon?
4. Di antara produk-produk yang ditawarkan, produk apa yang banyak diminta dan dari pasar yang mana?
5. Di antara profinsi yang “belum siap”, apa yang merupakan kekurangannya sehingga dapat dirujuk untuk perbaikan / penyempurnaan.
6. Di antara provinsi yang siap dipasarkan, manakah yang benar-benar siap menerima wisatawan dalam skala besar?
7. Di antara provinsi yang siap dipasarkan, bagaimana mengemasnya dalam paket-paket wisata nasional agar saling melengkapi (complement-to-each-other), bukan bersaing satu dengan lainnya, melainkan untuk bersama-sama dipasarkan.
Daftar pertanyaan di atas bisa ditambah lebih panjang.

Pada umumnya Pemerintah Provinsi menginginkan daerahnya masing-masing menjadi Daerah Tujuan Wisata/DTW (Tourist Destination Area). Pada kenyataannya tidak semua provinsi berada dalam keadaan siap untuk menjadi DTW, mengingat belum terpenuhinya beberapa persyaratan / kriteria sebagai DTW, terutama jika diharapkan sebagai DTW internasional.

Perlu agaknya kita akui bahwasanya di antara 33 provinsi yang kita miliki hanya 3 DTW yang siap dipasarkan dalam skala besar, yaitu Bali, Jakarta dan Batam, yang mampu menampung wisman lebih dari 3.000.000 tourist-nights setahun. Benar kiranya, bahwa provinsi lain pun dalam kondisi siap dipasarkan, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara, namun perlu diingat bahwa provinsi-provinsi ini kapasitas daya tampung wismannya masih berada di sekitar 500.000 tourist-nights setahun, baik ditinjau dari segi aksesibilitas maupun daya tampung akomodasinya.

Secara umum potensi pariwisata Indonesia berada pada “keanekaragaman”, baik dalam hal lingkungan alamnya – dari puncak gunung hingga alam bawah laut -; maupun kebudayaannya – dari bahasa sampai adat istiadat -.

Mengingat banyaknya keragaman yang dapat ditawarkan, mengapa pariwisata Indonesia tidak terfokus pada “great selling point” yang dimiliki, yaitu “keanekaragaman budaya dengan latar belakang keragaman dan keindahan alam”, dengan jalan memberikan kemudahan yang memadai sebagai DTW yang “dicari dan didambakan” oleh wisatawan, baik wisman maupun wisnus, dengan memenuhi ketentuan-ketentuan keselamatan (safety), keamanan (security), kenyamanan (comfort) yang berlaku global dan diperlukan sebagai persyaratan melekat dalam suatu perjalanan wisata pada umumnya.

Contoh pertama, kemudahan Visa On Arrival (VOA), – yang berlaku 30 hari -, dirasakan kurang mamadai bagi seorang wisatawan yang ingin “menjelajahi dan menikmati” Indonesia yang luas dan dilengkapi “ke-bhineka-annya”, terutama bagi mereka yang ingin melakukan perjalanannya “berbaur” dengan masyarakat lokal, dengan bus, kerata api, angkot bahkan ojek. Dengan cara itu mereka merasakan “kebhinekaan” secara seketika (instant) dan nyata.

Contoh kedua, sistim transportasi di tanah air masih dirasakan belum menjamin kenyamanan, keselamatan, dan keamanan para wisatawan. Jangankan bagi wisman, wisnus pun masih merasakan kekurangan ini.

Nah, dalam rakornya, – pemerintah (Depbudpar) -, menyatakan akan meningkatkan Pariwisata nusantara yang diakuinya bahwa hingga saat ini tumbuh “secara alami”, dalam arti belum ada upaya terencana dan terarah untuk kepentingan itu. Bagaimana rencana kerja Depbudpar selanjutnya ke depan akan kami uraikan dalam kesempatan lain.

Salam,
Mari Sukseskan Pariwisata Indonesia.

2 Responses

  1. […] Posts MENEROPONG POTENSI PARIWISATA INDONESIADAMPAK BENCANA ALAM PADA KEPARIWISATAANPARIWISATA BERKELANJUTAN DAN MASALAHNYA – DI INDONESIADAMPAK […]

  2. Jatigede Dam is Tourism Icon in Sumedang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: