SERTIFIKASI SDM-PARIWISATA: KEBUTUHAN MENDESAK


Competency-based Training

Pelatihan Sertifikasi Profesi

Penanganan pengembangan kepariwisataan menyangkut berbagai kepentingan yang sifatnya lintas sektoral, banyak hal yang minimal harus dicermati untuk mendapat perhatian seksama antara lain SDM (sumberdaya manusia), Prasarana, Lingkungan (Alam), Koordinasi Lintas Sektoral (Horisontal) dan antara Pusat dengan Daerah (Vertikal) dan Investasi Pariwisata.

Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
Mengingat bahwa komponen utama produk pariwisata adalah jasa, unsur sumber daya manusia sangat dominan, maka dalam pengembangan kepariwisataan masalah penyediaan, pembinaan serta peningkatan kualitas SDM yang kompeten dalam bidang kepariwisataan perlu mendapat perhatian utama. SDM yang kompeten dalam bidang kepariwisataan akan banyak diperlukan jika banyak daerah berkeinginan untuk mengembangkan daerahnya menjadi destinasi pariwisata yang handal.
Masalahnya, banyak daerah yang dewasa ini belum mempunyai tenaga kerja yang berkualifikasi bidang kepariwisataan, apalagi dengan kompetensi dan sertifikasi internasional.
Benar bahwa beberapa propinsi memiliki Akademi Pariwisata dan/atau Sekolah Menengah Kejuruan dalam bidang kepariwisataan seperti SMIP, SMKP dsb., namun jumlah lulusannya masih juga belum mencukupi dibanding dengan jumlah kamar yang tersedia, arus kunjungan wisatawan dan/atau jumlah biro perjalanan serta obyek/atraksi pariwisata yang ada.

Inventarisasi dan perencanaan tenaga kerja pariwisata hendaknya dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan pembangunan pariwisata, bahkan sebaiknya sebelumnya, sehingga pada waktu pembangunan selesai, tenaga kerja yang dibutuhkan sudah tersedia.
Dalam hubungan ini dapat diberikan contoh nyata, yaitu pada masa Continue reading

PROMOSI CITRA PARIWISATA DARI MASA KE MASA


Dalam kenyataan, hingga saat ini Bali masih memegang peran sangat penting dalam kehidupan pariwisata Indonesia. Bahkan di kalangan pariwisata dunia meng-unggul-kan Bali sebagai Pulau Pesiar Terbaik sedunia. Dalam riwayatnya, sejalan dengan perjalanan waktu, sejak “Jaman Belanda”, Bali memang sudah menjadi buah bibir di kalangan warga Belanda yang berada di Indonesia (ketika itu Hindia Belanda).
Teringat akan masa kecil di “sekolah rakyat” dulu (sekarang SD), kami sering menyanyikan lagu yang berjudul Pulau Bali. Dua kalimat pertama dalam liriknya: Pulau Bali Pulau Kesenian, Tempat Penghiburan Hati … Mungkin sekali yang dimaksud dengan Tempat Penghiburan Hati oleh penciptanya adalah tempat berlibur, “pesiar” (plezier, pleasure).
Bukan hanya itu. Di antara warga Belanda yang bermukim di Indonesia kala itu, sering terdengar “gurauan” yang menganjurkan berkunjung ke Bali sebelum meninggalkan Indonesia, dengan mengatakan : “Jangan pulang ke “negeri” sebelum lihat Bali”. Bagi warga Belanda yang terlanjur pulang ke negerinya mereka saling mengatakan : “Jangan meninggal sebelum lihat Bali”, yang dimaksudkannya adalah “Lihatlah Bali sebelum meninggal”.
Demikian kuatnya daya tarik Bali untuk warga Belanda, sampai-sampai perusahaan penerbangan Belanda KLM (Koninklijke Luchtsvaart Maatschapij) ketika mempromosikan penerbangannya ke Indonesia di awal tahun 1970-an menggunakan slogan : “Fly to Bali with KLM“, padahal ketika itu KLM tidak terbang ke Bali, karena di Bali belum ada bandara internasional, mereka harus melalui Jakarta terlebih dahulu. Bali semakin populer setelah perusahaan-perusahaan penerbangan negara lain pun, seperti Japan Airlines, Cathay Pacific, Pan Am, Qantas dll. “menawarkan” terbang ke Bali, padahal, ya … itulah, mereka harus terbang ke Jakarta dulu, karena Indonesia ketika itu baru memiliki satu bandara internasional, yaitu Jakarta – Kemayoran.
Dengan demikian, secara “tragis” Bali lebih dikenal daripada Indonesia.
Nah, dengan brand image yang sudah melekat pada Bali, promosi Continue reading

ANTARA PELUANG DAN PERSAINGAN PEKERJA PARIWISATA ANTAR ASEAN


Membaca artikel “Bebas Bekerja Antar ASEAN” dan “Hati-hati, Peluang Pekerja Antar ASEAN“, dalam blogspot travel-tourism-indonesia, kami tergugah untuk menulis artikel ini.

Mulai tahun ini agaknya kepariwisataan Indonesia menghadapi beberapa masalah serious, al.:

  1. Berkurangnya minat wisatawan jarak jauh (longhaul tourist) akibat krisis finansial global;
  2. Masalah ketenagakerjaan yang dipersyaratkan utk memiliki sertifikat kompetensi tenaga kerja sesuai dgn criteria ACCSTP (ASEAN Common Competency Standard for Tourism Professionals) dan …
  3. Liberalisasi bidang pariwisata ASEAN yang akan mulai diberlakukan Januari 2010 yad.

Dengan ditandatanganinya MRA (Mutual Recognition Arrangement) oleh negara-negara anggota ASEAN, berarti Indonesia pun harus “siap” melaksanakan kesepakatan itu.

Dari sisi kepentingan “pengaturan”, pemerintah merasa sudah siap dengan terbitnya SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) bidang Biro Perjalanan Wisata, Hotel dan Restoran.

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah: “SIAPKAH pengusaha dan tenaga Continue reading

MENYONGSONG 8 JUTA WISMAN DI TAHUN 2009 (Bagian-II)


Dalam tulisan terdahulu telah disampaikan bahwa rakor Depbudpar merencanakan target 8 juta wisman di tahun 2009. Namun, dengan pertimbangan kondisi ekonomi global dewasa ini target 8 juta dinilai terlampau optimis, sehingga akhirnya ditetapkan target moderat 6.500.000, yang menurut hemat kami agak “pesimis”, mengingat tahun 2008 telah mencapai angka (sementara) 6.433.509. Target tersebut, menunjukkan “seakan-akan” pemerintah “tidak akan berbuat apa-apa” alias “menyerah” pada kondisi krisis. Menurut hitungan Care Tourism angka Trend (polynomial, 2000-2012) untuk tahun 2009 menunjukkan 6.758.230, dengan assumsi semua kondisi di tahun 2009 adalah sama dengan 2008, termasuk “upaya promosi” baik yang dilakukan pemerintah maupun pihak lainnya. Kalaupun sekiranya pemerintah “merasa pesimis”,  sekurang-kurangnya angka trend itu layak ditetapkan sebagai target, yang minimal masih menunjukkan laju pertumbuhan 5,05%, melalui upaya pemasaran yang akan dilakukannya, seperti diuraikan di bawah ini.

Kecenderungan (trend) Wisman ke Indonesia

Dalam upayanya mencapai target 2009, pemerintah akan menerapkan berbagai strategi lainnya, di samping “Push Strategy” dan “Pull Strategy” yang diutarakan dalam artikel terdahulu, sebagai berikut.

Dalam hubungan antara sisi produk dengan sisi permintaan pasar, Continue reading