MENYONGSONG 8 JUTA WISMAN DI TAHUN 2009 (Bagian-II)


Dalam tulisan terdahulu telah disampaikan bahwa rakor Depbudpar merencanakan target 8 juta wisman di tahun 2009. Namun, dengan pertimbangan kondisi ekonomi global dewasa ini target 8 juta dinilai terlampau optimis, sehingga akhirnya ditetapkan target moderat 6.500.000, yang menurut hemat kami agak “pesimis”, mengingat tahun 2008 telah mencapai angka (sementara) 6.433.509. Target tersebut, menunjukkan “seakan-akan” pemerintah “tidak akan berbuat apa-apa” alias “menyerah” pada kondisi krisis. Menurut hitungan Care Tourism angka Trend (polynomial, 2000-2012) untuk tahun 2009 menunjukkan 6.758.230, dengan assumsi semua kondisi di tahun 2009 adalah sama dengan 2008, termasuk “upaya promosi” baik yang dilakukan pemerintah maupun pihak lainnya. Kalaupun sekiranya pemerintah “merasa pesimis”,  sekurang-kurangnya angka trend itu layak ditetapkan sebagai target, yang minimal masih menunjukkan laju pertumbuhan 5,05%, melalui upaya pemasaran yang akan dilakukannya, seperti diuraikan di bawah ini.

Kecenderungan (trend) Wisman ke Indonesia

Dalam upayanya mencapai target 2009, pemerintah akan menerapkan berbagai strategi lainnya, di samping “Push Strategy” dan “Pull Strategy” yang diutarakan dalam artikel terdahulu, sebagai berikut.

Dalam hubungan antara sisi produk dengan sisi permintaan pasar, Depbudpar menetapkan tiga Strategi Penetrasi, yakni:

a. Produk Lama Untuk Segmen Baru, yang dimaksudkan untuk meraih segmen lain dengan menawarkan produk yang sudah ada dan selama ini hanya ditawarkan pada segmen tertentu. Salah satunya adalah paket wisata belanja, kuliner, spa yang sebelumnya hanya ditawarkan kepada segmen wanita dari Singapura, Malaysia dan Filipina, akan ditawarkan juga kepada segmen pria, di samping segmen-segmen geografis lainnya.

b. Produk Lama dengan Kegunaan dan Kemasan Baru, dengan memodifikasi kemasan paket lama menjadi paket wisata Charter dengan sasaran pasar buruh Eropa, Rusia. Di samping kemasan spa, yang berlatar belakang tradisi, yang dinilai tidak hanya mengurangi stres dan memelihara kesehatan bagi kaum wanita, melainkan juga bagi anggota keluarga lainnya seperti bapak dan anak. Kemasan lain yang berlatar belakang legenda berbagai daerah di tanah air.

c. Membentuk dan Mendukung Komunitas, yang tujuannya menggalang kekerabatan, kekeluargaan antar pengunjung dengan mengkomunikasikan “testimoni” mengenai pengalaman kunjungan mereka di Indinesia,yang bisa berkomunikasi secara online. Kelompok ini bisa terdiri dari komunitas blog, komunitas pembuat film amatir maupun profesional dsb. Kelompok ini lazim disebut sebagai Social Media, yang dapat juga dibentuk melalui dukungan atau kerjasama dengan asosiasi, organisasi non-profit, dan kelompok lain dalam berbagai bidang seperti arkeologi, biologi, lingkungan hidup, kesehatan dsb.

Melengkapi strategi di atas, Depbudpar menetapkan juga berbagai strategi lainnya antara lain:

1. Strategi Penyerangan Tidak Langsung, yang akan dilakukan dengan 3 pendekatan:

  • Diversifikasi produk-produk yang tidak berkaitan (unrelated product) dengan produk pesaing, seperti Bunaken, Danau Toba dan Raja Ampat.
  • Diversifikasi pasar geografis baru, seperti pasar sekitar lintas batas antara lain Batam, Bintan, Entikong, Atambua; perbatasan Papua.
  • Atraksi masa lalu, antara lain binatang purba Comodo Dragon, Orang Utan, Badak Cula Satu, Harimau Sumatera, Gajah Lampung dan atraksi Produk Pusaka seperti Borobudur, Prambanan, Kesodo Tengger, Bakar Batu, Upacara Adat Toraja, Mumi, Tabot, Penobatan Raja, Bangsawan atau Tokoh Adat.

2. Strategi Pemasaran Gerilya, yang bertujuan memperoleh tempat berpijak yang tepat bagi produk Indonesia, dengan melancarkan promosi-promosi kecil dan berselang seling terputus-putus, dengan memperhatikan musim kunjungan wisman dari pasar dan adanya event besar, baik di pasar maupun di Indonesia, antara lain berupa:

  • Promosi jangka pendek, potongan harga atas paket wisata selektif, lucky draw, di beberapa lokasi pasar pesaing, seperti Singapura, Johor, Kuala Lumpur, Beijing, Guanghzou.
  • Penyerangan pada pasar kecil dan terpencil namun berpotensi besar yang merupakan pasar pesaing di Singapura, Kuala Lumpur, Perth, Manila.
  • Mendukung travel agent, airlines lokal di pasar untuk menjual produk pariwisata Indonesia.

3. Strategi Market Nicher, dimaksudkan untuk memasuki celah atau relung pasar yang aman serta prospektif dengan ciri-ciri:

  • Wilayahnya dan daya belinya besar, berada di pasar berpendapatan per kapita tinggi seperti Singapura, Johor, Kuala Lumpur, Beijing, Guanghzou, Dubai, Arab Saudi dengan differensiasi produk yang disukai masing-masing pasar.
  • Memiliki potensi untuk berkembang seperti China dan Malaysia.
  • Diabaikan oleh para pesaing atau pemasar lain, seperti pasar Filipina.
  • Kemampuan Indonesia dalam menghadapi pesaing melalui pembinaan “goodwill” atas produk-produk seperti makanan, kerajinan ukiran, busana, batik, kesenian tradisional.

Dalam hubungan ini, pemerintah merasa perlu memfasilitasi pihak terkait untuk menjaga kualitas produk agar janji promosi dapat “dipenuhi”, sehingga tidak menimbulkan citra negatif bahwa kualitas produk tidak sesuai promosinya, yang di kemudian hari menjadi kontra produktif bagi pemasaran pariwisata.

Dalam menggarap celah pasar ini, produk pariwisata Indonesia bersandar pada ide utama tentang kekhususan, perbedaan, keunikan dibanding dengan pesaing. Pemerintah pun merasa perlu untuk menggarap bukan hanya satu celah pasar melainkan berbagai celah pasar yang memungkinkan untuk ditembus, dikenal sebagai “Multi Niching“, antara lain di pasar ASEAN, Eropa dan Timur Tengah.

4. Strategi Kompetitif, terdiri dari:

  • Differentiation Strategy, dinilai sangat penting dalam kaitannya dengan “grand strategy” tentang “diversification strategy“. Dalam hal diversifikasi, produk pariwisata Indonesia diperkaya dengan keanekaragaman di samping keunikan produk yang memperkaya peluang differensiasi yang dapat diterapkan baik pada produk maupun pelayanannya.

Dalam hal ini, kunci yang membedakan produk terletak pada “karya seni”, sementara bagi pelayanan terletak pada pemberian “warna budaya lokal” yang keduanya amat beragam. Karya seni lokal yang sangat berbeda di masing-masing daerah merupakan potensi bagi “merchandising” produk pariwisata Indonesia. Di samping itu, warna budaya lokal dalam pelayanan pariwisata di Bali dapat menjadi teladan bagi daerah lainnya.

  • Focus Strategy, yang terkait dengan pasar geografis. Penerapan strateginya dilakukan pada pasar-pasar potensial dengan pertimbangan portfolio perencanaan pemasaran pada unit pasar strategis.

5. New Wave Marketing, yang merupakan pendekatan pemasaran baru yang dipaparkan oleh pakar pemasaran Indonesia Hermawan Kertadjaya di Depbudpar, 13 Oktober 2008. Intinya berupa pendekatan “Vertical Above the Line dan Below the Line” menuju pendekatan “Horizontal Offline dan Online“.

Adapun pendekatan offline dilakukan melalui pendekatan “intimacy” yang pada dasarnya berupa pendekatan kepada komunitas untuk membuat “kesaksian” (testimony) tentang distinasi serta produk pariwisata Indonesia.

Tujuan dari pendekatan offline, antara lain:

  • Pertama, mendorong komunitas untuk memberikan cerita (word of mouth) tentang Indonesia menyangkut produk pariwisata, keamanan, keunikan, harga, iklim, alam, budaya dan lainnya kepada komunitasnya, baik secara langsung (offline) dengan emosi keakraban, kekeluargaan, persahabatan, kerabat sepekerjaan, rekan seprofesi dan sahabat se-hobby.
  • Kedua, mendorong pelaksanaan promosi oleh pihak lain sebagai co-sponsor pada acara kesenian, peluncuran produk, peluncuran pelayanan penerbangan, event olah raga, kampanye kesehatan, lingkungan dan kebersihan.

Sementara itu, pendekatan online dilakukan melalui pendekatan exitement (sukacita), dengan menggunakan teknologi informasi, yaitu media elektronik, kepada komunitas internet, untuk memberikan cerita atau kesaksian tentang Indonesia misalnya melalui blog pribadi, facebook, mail-list, intranet, televisi, serta media online lainnya seperti surat kabar, majalah, buku elektronik (e-book), novel dsb.

Harapan kita semua: Semoga Strategi Pemasaran Pariwisata Depbudpar itu dapat terlaksana dengan lancar dan berjalan sebagaimana direncanakan. Tercapainya harapan itu sangat tergantung pada peran dan dukungan semua pihak yang merupakan pemangku kepentingan (stakeholder) bidang pariwisata dalam konteks pembangunan ekonomi bangsa.

Salam,

Mari sukseskan Pariwisata Indonesia

4 Responses

  1. pak boleh gak link saya di masukkan ke dalam blogroll bapak, sebaliknya saya akan masukkan link bapak ke web saya. trims.

  2. pak boleh gak link saya di masukkan ke dalam blogroll bapak, sebaliknya saya akan masukkan link bapak ke web saya. trims

  3. Great work! This is the type of information that are supposed to be shared around the net. Shame on Google for not positioning this put up higher! Come on over and talk over with my website . Thank you =)

  4. […] Anda perhatikan dari renstra pemasarannya, banyak hal yang masih perlu dikaitkan dengan strategi pengembangan dan pembinaan destinasinya, […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: