DAMPAK EKONOMI APA YANG DIPEROLEH DARI PARIWISATA? (BAGIAN II)


Mungkin, 30% dari satu juta dollar itu akan “mengalir” (bocor) ke luar daerah itu yang diperlukan untuk membayar barang dan jasa yang dibeli wisatawan namun tidak diproduksi di daerah yang bersangkutan (barang dan jasa seperti itu lazimnya diperhitungkan sebagai dampak penjualan langsung).
Karena “kebocoran” tadi, maka sisanya yang $700.000 dalam bentuk penjualan langsung akan menghasilkan $350.000 penghasilan dalam industri pariwisata dan menunjang 20 lapangan kerja pariwisata. Kita tahu bahwa industri pariwisata bersifat padat karya dan padat penghasilan, menciptakan proporsi penjualan yang besar menjadi penghasilan dan lapangan kerja terkait.
Sebaliknya, industri pariwisata membeli barang dan jasa dari industri lainnya di daerah itu dan membayarkan sebagian besar dari $350.000 penghasilannya untuk upah dan gaji karyawannya. Inilah yang menciptakan dampak sekunder ekonomi di daerah tersebut.
Sebuah penelitian misalkan menggunakan faktor pengganda (multiplier factor) 2,0 untuk menunjukkan bahwa tiap dollar dari penjualan langsung menghasilkan satu dollar tambahan dalam penjualan sekunder di daerah Continue reading

DAMPAK EKONOMI APA YANG DIPEROLEH DARI PARIWISATA? (BAGIAN I)


Bahwa kepariwisataan memiliki berbagai dampak ekonomi, sudah banyak diketahui orang. Di Indonesia, hingga saat ini dampak ekonomi pariwisata masih “belum cukup mendapat perhatian” dari berbagai kalangan yang terlibat, baik langsung maupun tidak angsung.

Secara formal, para ahli  membedakan dampak ekonomi yang terjadi karena kegiatan pariwisata, terdiri dari Efek Langsung (Direct Effects), Efek Tidak Langsung (Indirect Effects) dan Efek Induksi (Induced Effects). Sementara itu, Efek Tidak Langsung dan Efek Induksi kadang-kadang disebutnya sebagai Efek Sekunder (Secondary Effects) yang menyertai Efek Langsung selaku Efek Primer (Primary Effect).

Dampak total ekonomi pariwisata merupakan jumlah keseluruhan dampak yang terjadi baik langsung, tidak langsung maupun induksi, yang masing-masing dapat diukur sebagai keluaran bruto (gross output) atau penjualan (sales), penghasilan (income), penempatan tenaga kerja (employment) dan nilai tambah (value added).

Secara nyata, kegiatan pariwisata memberikan manfaat pada penjualan, keuntungan, lapangan kerja, pendapatan pajak dan penghasilan dalam suatu daerah.

Dampak yang paling dirasakan langsung, terjadi di dalam sub-sektor pariwisata primer, -penginapan, restoran, angkutan, hiburan dan perdagangan eceran (retail). Pada tingkat kedua, di sub-sektor sekundernya, berpengaruh pada sebagian besar sektor ekonomi.

Analisis dampak ekonomi kegiatan pariwisata lazimnya berfokus pada perubahan penjualan, penghasilan dan penempatan tenaga kerja di daerah Continue reading

HUBUNGAN ECOTOURISM, ECOLOGICAL TOURISM, RESPONSIBLE TOURISM DAN SUSTAINABLE TOURISM


Orang Utan, Kalimantan Tengah

Orang Utan, Kalimantan Tengah

Banyak orang berbicara dan bertanya tentang Ecotourism, disebabkan karena banyak istilah yang mengandung pengertian sama atau serupa dan sejiwa sehingga kurang memberikan kejelasan tentang “Apa yang dimaksud dengan ECOTOURISM (Pariwisata Eko)? Apakah Wisata Alam sudah dapat digolongkan ke dalam pariwisata eko? Belum tentu, mengingat tujuannya belum tentu “memihak” kepada kepentingan pelestarian lingkungan, baik lingkungan alam maupun sosial budaya.

Berdasarkan Deklarasi Quebec tentang Ecotourism (Quebec Declaration on Ecotourism) yang dimaksud dengan ecotourism adalah sebagai berikut: “Ecotourism menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkesinambungan (sustainable tourism) dan berikut adalah beberapa prinsip yang membedakannya dari konsep sustainable tourism yang lebih luas”, yaitu:

  • Berperan aktif untuk pelestarian (conservation) lingkungan, baik alam maupun peninggalan budaya;
  • Melibatkan masyarakat lokal dan asli dalam kegiatan perencanaan, pengembangan dan operasionalnya serta bermanfaat meningkatkan kesejahteraan mereka.
  • Hotel Ambacang, Padang

    Hotel Ambacang, Padang

    Menjelaskan tentang lingkungan alam dan peninggalan budaya kepada para pengunjung;

  • Mengizinkan para wisatawan, baik yang bebas (independent travellers) maupun kelompok kecil wisatawan dalam tour yang diorganisir (organized tours) untuk menikmatinya dengan cara yang lebih baik.

Dalam bulan Mei 2000, sebagai bagian dari acara tambahan pada Sidang ke-8 Komisi Pembangunan Berkesinambungan PBB (United Nations Commission on Sustainable Development, UN-CSD.8), sebuah kelompok dari Organisasi Penduduk Asli / Pribumi (Indigenous Peoples Organizations), LSM – Lembaga Swadaya Masyarakat, (NGO, Continue reading