KE MANA ARAH PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN INDONESIA? (Bagian-2)


Artikel ini merupakan kelanjutan, bagian kedua dari tiga bagian, yang ditulis oleh Cri Murthi Adi.

2.10    Pengembangan produk wisata hendaknya dilakukan tidak semata-mata dilihat dari segi sumberdaya yang dimiliki dan dari persepsi perencana, melainkan juga mempertimbangkan kebutuhan dan keinginan konsumen;

2.11    Kepentingan masyarakat. Komponen produk wisata yang dikembangkan di suatu daerah, seperti akomodasi, jasa boga, atraksi dan obyek wisata dll, hendaknya menggarisbawahi kepentingan masyarakat, dalam arti:

  • memberikan peluang peranserta bagi masyarakat;
  • memberikan manfaat bagi masyarakat, seperti infrastruktur, fasilitas dsb.;
  • tidak menimbulkan gangguan bagi masyarakat.

2.12    Daya saing. Meningkatkan kualitas dan kepuasan wisatawan untuk meningkatkan daya saing.

2.13    Tuntutan Pasar. Bagi pasar wisatawan yang berpengalaman (mature market), selain lokasi dan kualitas pelayanan, pemilihan akan dilakukan juga atas dasar penilaian kualitas pengalaman (experienced). Tuntutan segmen tidak sebatas pada hal-hal yang kasat mata, melainkan juga lebih dalam yaitu atas dasar pengtahuan yang terkandung di dalamnya (pengembangan produk bermuatan pengetahuan – Knowledge Based Product Development).

2.14    Pertumbuhan produk wisata. Dibanding dengan negara pesaing produk wisata Indonesia dinilai tertinggal dan kurang bermuatan iptek, kurang kreatif dan kurang bervariasi (stagnant);

2.15    Efektivitas promosi. Belum maksimalnya efektivitas promosi disebabkan karena keterbatasan jangkauan ke dalam pasar yang begitu luas akibat kemampuan finansial yang terbatas untuk menyediakan informasi pendukung dan sumberdaya manusia yang handal;

2.16    Posisi Pendidikan Kepariwisataan dan Pendidikan Nasional. Pendidikan Kepariwisataan belum ditempatkan secara proporsional, masih serba terbatas sehingga belum mampu menyediakan (menawarkan) sumberdaya manusia berkualitas dan berkompetensi sesuai dengan kebutuhan publik maupun swasta;

2.17    Sistem kelembagaan antara lembaga pemerintah yang efektif koordinasinya dengan Swasta dan asosiasi dan masih sangat terbatasnya asosiasi multi jenis;

2.18    Industri pariwisata dengan tingkat konsentrasi yang tinggi masih terjadi di sektor perhotelan di samping di daerah padat investasi, seperti Bali, Jakarta dan Batam;

2.19    Otonomi Daerah. Ketidak-siapan pemerintah di pusat maupun daerah untuk menangkap peluang karena beberapa kendala, antara lain:

  • SDM;
  • Kelembagaan;
  • Pendanaan;
  • Struktur Ekonomi yang belum mendukung pelaksanaan pembangunan;

2.20    Infrastruktur. Sarana dan prasarana jangankan memenuhi karakter kebutuhan masa datang, untuk masa kini pun masih jauh dari memadai;

2.21    Citra. Inovasi pembangunan produk yang masih terbatas sehingga citra sebagai negara tujuan wisata dengan produk beragam (ultimate diversity), belum tercipta;

2.22    Kualitas Pelayanan Wisata. Terutama dalam hal kesehatan dan keselamatan wisatawan kualitas pelayanan masih lemah.

2.23    Kehandalan (reliability) sektor transportasi. Sektor transportasi dinilai masih kurang dapat diandalkan dalam mendukung pergerakan wisatawan.

(Bersambung Bagian-3/Terakhir)

One Response

  1. […] KE MANA ARAH PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN INDONESIA? (Bagian-2) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: