KE MANA ARAH PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN INDONESIA? (Bagian-3/Terakhir)


Bagian terakhir dari tiga bagian tulisan Cri Murthi Adi:

II.   PEMBANGUNAN PARIWISATA BERKESINAMBUNGAN (Sustainable Tourism Development)
1.    Secara konseptual dan operasional, pembangunan pariwisata berkesinambungan (sustainable tourism) telah berkembang pembahasannya sejak tahun 1940-an hingga 1992 yang diperjelas dalam RIO Earth Summit yang mendapat Respons Industri melalui Agenda-21 For Tourism;
2.    Kelanjutan dari proses historis Sustainable Tourism masih belum nyata dilakukan dengan perumusan arah kebijakan sebagai pembenaran perwujudannya.
III.    DAMPAK PERUBAHAN IKLIM
1.    Perubahan iklim sudah terjadi dan sangat nyata berdampak secara langsung dan tidak langsung terhadap pembangunan kepariwisataan berkesinambungan dan lebih dari itu pariwisata abad 21.
Dalam menghadapi perubahan iklim, pariwisata mampu berperan penting melalui kepemimpinan (leadership) sebagai Agent of Change dalam upaya kegiatan adaptasi dan mitigasi;
2.    Bagaimana hal ini disikapi? Apakah sudah dirumuskan arah kebijakan yang mengena dan relevan dalam rangka menghadapi perubahan iklim yang sangat mempengaruhi perencanaan, pengembangan dan pemasaran destinasi wisata?
IV.    DESTINASI PARIWISATA
1.    Destinasi Pariwisata diartikan sebagai area atau kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administrasi yang saling terkait dan saling melengkapi untuk terwujudnya kegiatan kepariwisataan;
2.    Kenyataan yang dihadapi antara lain adalah:
2.1    Masih belum sesuainya pembentukan daerah otonom baru (pemekaran wilayah) dengan tujuannya;
2.2    Kompetisi/persaingan sejumlah besar daerah pada tingkat kabupaten/ kota menjadi semakin ketat; yang kesemuanya terjadi dalam lingkup desentralisasi dan otonomi daerah, hal mana membawa akibat pada kenyataan bahwasanya pengembangan destinasi wisata belum optimal, padahal pengembangan sebagaimana dimaksud merupakan unsur vital pembangunan pariwisata nasional;
3.    Bagaimana solusi yang terbaik mengatasi hal ini?
3.1    Dalam lingkup peningkatan investasi dan expor non-migas, pariwisata ditergetkan (catatan editor: dan harus diwujudkan) sebagai peraih devisa negara yang berarti serta berperan menunjang sektor lainnya;
3.2    Kenyataan yang dihadapi di lapangan:
3.2.1    Belum terbentuknya kelembagaan pariwisata yang efektif dan efisien;
3.2.2    Belum jelasnya pembagian kewenangan bidang kepariwisataan antara pemerintah pusat dan daerah;
3.2.3    Belum sesuainya pembentukan daerah otonom baru (pemekaran wilayah) dengan tujuannya;
3.2.4    Masih rendah dan terbatasnya kapasitas aparatur pemerintah daerah;
4.    Mungkinkan permasalahan sebagaimana diutarakan di atas mampu menunjang arah kebijakan yang telah ditentukan pemerintah dalam bidang investasi dan expor non-migas?
5.    Mungkinkan dapat diselenggarakan (dimotivasi) sinergi dan koordinasi serta integrasi optimal antara para pemangku kepentingan (stakeholders) yang notabene menjadi persyaratan utama dalam pengembangan dan perencanaan destinasi untuk mewujudkan kebijakan terpadu dan terpandu (integrated and guided policy)?

One Response

  1. Heya just wanted to give you a quick heads up and let you know a few of the images aren’t loading properly.
    I’m not sure why but I think its a linking issue. I’ve tried it in two different browsers and both
    show the same results.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: