MENYIASATI KECENDERUNGAN PASAR PARIWISATA AKIBAT DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL 2008


Akibat daripada krisis keuangan global yang terjadi sejak akhir 2007 s/d 2008 dampaknya masih dirasakan oleh sektor pariwisata di tahun 2009 di mana pencapaian jumlah wisatawan asing (wisman) ke Indonesia hanya menyamai tahun sebelumnya dengan jumlah sekitar 6.400.000, sementara negara ASEAN lainnya, seperti Thailand, Malaysia dan Singapura berhasil mencapai jumlah wisman yang sangat signifikan, yaitu masing-masing lebih dari 10 juta, 22 juta dan 15 juta.

Krisis keuangan tersebut telah menyebabkan berubahnya gejala umum wisman yang mengarah pada upaya penghematan biaya perjalanan liburan sebagai akibat daripada Spending Power yang menurun sehingga perilaku pasar cenderung berubah seperti di bawah ini:

  • Pilihan Destinasi lebih dekat (short haul), karena hasrat berlibur ke destinasi jarak jauh (long haul) menurun, berhubung kemampuan finansialnya menjadi terbatas;
  • Di samping itu masa tinggal pun lebih singkat;
  • Demikian juga halnya dengan pilihan fasilitas hotel dan transportasi yang lebih sederhana dan lebih murah;
  • Pengeluaran untuk atraksi maupun kunjungan ke obyek wisata sangat dibatasi pada atraksi dan obyek wisata utama yang terbaik dan sangat … sangat memikat;

Dengan gejala pasar seperti itu, KemBudPar mencanangkan strategi pengembangan destinasinya, antara lain melalui pendekatan pada perilaku pasar (market driven) di samping pendekatan produk (product driven), – terutama produk baru yang potensial bisa diterima pasar. Pengembangan destinasi dengan pendekatan produk pun lazimnya mengacu juga pada perkembangan atau perubahan perilaku pasar tersebut.

Baru-baru ini Pemerintah (cq. DitJen Immigrasi – KemHukHam) menghapus fasilitas Visa on Arrival (VoA) untuk 7 (tujuh) hari yang biayanya US$ 10.oo, berlaku mulai 26 Januari 2010 yl. Sebagai gantinya pemerintah memberlakukan VoA untuk 30 (tigapuluh) hari dengan biaya US$ 25.oo, dengan ketentuan, – di mana diperlukan -, dapat diperpanjang dengan 30 (tigapuluh) hari lagi, dengan harapan bahwa kebijakan tersebut dapat memenuhi kebutuhan waktu berkunjung ke lebih banyak destinasi di Indonesia, – mengingat luasnya Indonesia, untuk berkunjung ke beberapa destinasi memerlukan waktu lebih panjang.

Jika seandainya kebijakan VoA-7 (tujuh) hari dengan biaya US$ 10.oo dipertahankan, akan sangat selaras serta sejalan menunjang kebijakaan pengembangan destinasi berlandaskan pendekatan atas perubahan perilaku pasar tersebut, mengingat bahwa tidak semua wisman membutuhkan VoA untuk selama 30 (tigapuluh) hari atau lebih, banyak di antara wisman yang berkunjung ke Indonesia hanya memerlukan VoA-7 (tujuh) hari, terutama mereka yang berkunjung selama akhir pekan hanya sekedar untuk bermain golf (di Bintan dan Batam) serta mereka yang bermaksud berurusan dengan bisnis mereka, baik di Batam dan Jakarta maupun di daerah lain.

VoA 7-hari itu pun akan sangat membantu menjangkau kecenderungan pasar dewasa ini, yakni kunjungan pendek dan jarak dekat, khususnys bagi expatriate dari Singapura, Thailand, Philipina, Hong Kong, dan Malaysia, di samping wisman asal negara tetangga lainnya seperti Australia, Selandia Baru, China, Korea, Jepang. Khususnya untuk warga Jepang, pemerintah bersama Garuda Airways sudah memberikan kemudahan tersendiri berupa On-board Visa Service. Dengan demikian, jika VoA-7 hari dipertahankan, wisman memiliki opsi/pilihan yang lebih beragam, sehingga peluang menjaring wisman, – kunjungan pendek dan jarak dekat -, jauh lebih besar, mengingat bahwa kunjungan 7-hari dengan biaya VoA-30 hari akan dirasakan “terlampau mahal” yang membuka peluang bagi Indonesia untuk kehilangan segmen pasar ini, karena bagi mereka akan lebih menarik untuk berkunjung ke negara tetangga yang menawarkan visa yang “lebih murah” bahkan cuma-cuma (bebas biaya). Logikanya, jika semula untuk bermain golf 3x dalam 30 hari, dengan VoA-7 hari @ US$ 10.oo mereka hanya perlu membayar US$ 30.oo, – yang selama ini mereka tidak merasa keberatan -, sedangkan dengan VoA-30 hari @ US$ 25.oo mereka harus merogoh koceknya sejumlah US$ 75.oo.

Cara lain untuk membuat kunjungan pendek ke Indonesia lebih menarik adalah fasilitas multiple entry untuk jangka waktu yang ditentukan dengan biaya yang relatif lebih “menarik”.

Sejalan dengan kebijakan visa tersebut, pengembangan destinasi dan pengemasan produk serta paket wisata pun memerlukan kejelian yang penuh kreativitas (creative packaging), baik dari Pemerintah ( Pusat dan Daerah) maupun dari kalangan Industri Pariwisata (nasional dan daerah) untuk menyesuaikan pada perilaku pasar tersebut.

Creative packaging memerlukan sinkronisasi kebijakan pemerintah, – antar instansi pusat, antar instansi daerah di wilayah destinasi, antara pemerintah pusat dan daerah, pengelola bandara, pelabuhan inter-insular, inter-ocean dan cruise (kapal pesiar) -, lintas industri pariwisata (hotel, biro perjalanan, penerbangan, penyelenggara konferensi, pameran, atraksi dan obyek wisata, dsb).

Pengoperasian mobil/bus wisata lintas propinsi dan penjemputan wisman oleh bus wisata di depan terminal F kedatangan Bandara Soekarno-Hatta, masih merupakan hal yang mengganggu kenyamanan wisman, mencerminkan kurangnya dukungan kebijakan lintas instansi dalam kebersamaan menuju Destinasi Indonesia Yang Nyaman, – Penuh Kenangan Indah -, Untuk Dikunjungi.

Hal-hal semacam itu berdampak counter-productive bagi jerih payah berbagai kalangan yang bermaksud baik dengan berupaya memberikan pelayanan dan pengabdian sebaik-baiknya bagi kemajuan kepariwisataan demi kesejahteraan tanah air, yang menjadi sia-sia karena hasilnya yang menunjukkan perkembangan kepariwisataan yang kurang memadai seperti halnya penghapusan VoA-7 hari yang sudah menunjukkan dampak negatif terhadap upaya Visit Batam 2010.

Semula, industri pariwisata di Batam maupun di Bintan bulan Februari 2010 memiliki harapan untuk memperoleh kenaikan kunjungan wisman  pada Valentine’s day dan Imlek yang jatuh pada akhir pekan (Sabtu – Minggu, 14 – 15 Februari). Peluang tersebut agaknya terpaksa dibiarkan berlalu tanpa “jejak” karena hapusnya fasilitas VoA-7 hari. Kalaupun ada jejaknya, mungkin sangat jauh dari harapan semula.

One Response

  1. Tabea… Artikel yang sangat bermanfaat untuk disimak. Thanks,-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: