ANDAIKATA WISMAN DILARANG DATANG


Hampir semua Negara di dunia berupaya mengembangkan kepariwisataannya, mengingat kepariwisataan sangat dipercaya sebagai sumber devisa dan mendatangkan berbagai manfaat, baik manfaat ekonomi maupun manfaat lainnya seperti hubungan perdagangan, politik, social budaya yang membawa persahabatan antar bangsa dari kepariwisataan mancangara. Dalam hal manfaat ekonomi yang acapkali diperbincangkan antara lain pendapatan nasional sebagai dampak dari akumulasi berbagai transaksi yang terjadi karena uang yang dibelanjakaan wisman selama di Negara yang dikunjunginya.

Berbagai transaksi ekonomi itu membawa manfaat langsung kepada masyarakat. Namun bukan berarti mayarakat menerima mata uang asing secara langsung, – walaupun mungkin ada yang menerima langsung seperti pramuwisata, hotel, maskapai penerbangan, yang seringkali dibayar dalam mata uang Negara asal wisman tersebut.

Masyarakat petani, peternak, nelayan, karyawan hotel, restoran, biro perjalanan, taksi dan angkutan lainnya, pengrajin souvenir, pramuwisata, bahkan polisi, tentara, karyawan pemerintah (pusat dan daerah), PLN, PAM, TELKOM dsb. juga terkena imbas uang wisman yang dibelanjakan.

Menurut catatan KEMBUDPAR, di tahun 2008 kepariwisataan Indonesia berhasil menghimpun devisa sejumlah US$ 7,377,000,000 (tujuh milyar tigaratus tujuhpuluh tujuh juta dollar AS) dan tahun 2010 ini diharapkan dapat memperoleh US$ 8,100,000,000 (delapan milyar seratus juta dollar AS) dari sejumlah 7 juta wisman, yang berarti tahun 2010 tiap wisman diperkirakan membelanjakan rata-rata US$ 1,157.14 per kunjungan. Jika masa tinggal rata-rata 9 hari, maka belanja wisman per hari rata-rata US$ 128.57.

Akibat selanjutnya dari serangkaian transaksi ekonomi selama 12 bulan berikutnya, mata uang asing (lazimnya dinyatakan dlmUS$) yang beredar itu menjadi berlipat ganda, antara 2.0 – 3.5 kali lipat (faktor pengganda = multiplier factor), tergantung besar kecilnya pembelanjaan kembali, – dollar yang kita peroleh dari kepariwisataan -, ke luar negeri serta kecepatan bergulirnya transaksi dari satu tangan ke tangan berikutnya selama 12 bulan. Salah satu contoh, misalnya menyangkut pasokan sayuran dan/atau buah-buahan ke Batam dan Bintan, – asal Indonesia -, didatangkan lewat Singapura akan menyusutkan factor pengganda tersebut.

Dollar yang sudah bernilai ganda inilah yang merupakan kontribusi kepariwisataan pada pendapatan nasional.

Apa yang kemudiaan akan terjadi, ANDAIKATA semua Negara asal wisman “melarang” warganya untuk berkunjung ke Indonesia? Atau warga Negara sumber wisman tersebut “enggan datang”. Hal itu tidak mustahil terjadi, bahkan sudah sering kita alami, – seperti travel advice, travel warning atau travel ban -, berkenaan dengan kejadian-kejadian yang “mengkhawatirkan” seperti penyakit, peristiwa bom, bencana alam dsb.

Maka sejumlah devisa yang seyogyanya dapat kita peroleh dari kepariwisataan, – seperti tersebut di atas -, tidak akan diperoleh dan akibatnya mengurangi pendapatan devisa kita serta pada gilirannya memperkecil pendapatan nasional.

Bagaimana bisa tejadi? Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pelayanan kepariwisataan, – hotel, restoran, penerbangan, taxi dan angkutan lainnya – dsb, akan mengalami penurunan omset, yang selanjutnya  dapat mengancam kebangkrutan serta PHK para karyawannya. Demikian juga petani, peternak, nelayan akan mengalami penurunan omset penjualan karena berkurangnya pesanan dari hotel, restoran dll sebagai akibat menurunnya omset perusahaan-perusahaan tersebut. Semoga tidak akan pernah terjadi.

Sebagai ilustrasi ringan, andaikata 50% dari 7 juta wisman, – yang diharapkan datang tahun 2010 ini -, mempunyai kebiasaan makan pagi dengan 2 butir telur tiap pagi, maka tahun 2010 peternak ayam petelor harus menyediakan 7 juta butir telur untuk wisman. Itu jika wisman tersebut tinggal selama 1(satu) hari saja di Indonesia. Jika perkiraan KEMBUDPAR mengenai masa tinggal rata-rata wisman di Indonesia tahun 2010 mencapai 9 hari, maka 63 juta butir telur perlu disediakan bagi mereka di tahun 2010 ini. Namun, jika 7 juta wisman itu tidak datang, para peternak tersebut akan mengalami masa kesulitan untuk mencari pasar yang baru bagi 63 juta butir telurnya. Belum lagi di bidang perdagangan sayur, buah2-an, daging, ikan, pajak pemerintah, dsb., sebagaimana diungkapkan dalam artikel terdahulu.

Logika perhitungannya adalah sebagai berikut:

W x T x $ = E(p) >>>>    E(p) x F(m) = Y(p)

Sekedar untuk contoh, dengan assumsi di mana:
W =  Wisman dalam setahun  = 7,000,000
T   =  Masa Tinggal rata-rata   = 9 hari
$   =  Belanja Wisman / hari    = $ 128.57
E(p) = Pendapatan Pariwisata  = 7,000,000 x 9 x $ 128.57 = $ 8,099,910,000
= $ 8,100,000,000
F(m) = Faktor Pengganda          = 3, maka
Y(p) = Kontribusi Kepariwisataan pada Pendapatan Nasional
= 3 x $ 8,100,000,000 = $ 24,300,000,000
Atau = $ 24,300,000,000 x Rp. 10,000 = Rp. 243,000,000,000,000
(Rp. 243 trilyun).

Itulah potensi kerugian ekonomi nasional jika 7 juta wisman tidak datang.

Dengan Rp. 243 trilyun itu, berapakah bangunan Sekolah atau Rumah Sakit, – atau berapa kilometer Jalan Raya -, yang dapat dibangun?

One Response

  1. Tabea… Nice blog. Thanks,-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: