FENOMENA MUDIK | MASA PANEN WISNUS PARIWISATA INDONESIA


Kita semua maklum bahwa setiap tahun masyarakat Indonesia melakukan perjalanan “mudik” pada kesempatan libur besar seperti Iedul Fitri, Natal / Tahun Baru, Imlek, Ceng Beng dsb. Ditinjau dari kacamata kepariwisataan Indonesia, – sebagaimana diutarakan dalam artikel terdahulu , para pemudik itu tergolong wisatawan nusantara (wisnus).
Apa saja kriteria yang melekat pada para pemudik sehingga mereka dikategorikan sebagai wisnus?
Selain itu, apa kata WTO (World Tourism Organization) tentang definisi “Kepariwisataan Nusantara”, yang mereka sebut sebagai “Home Tourism” atau “Internal Tourism”?
Pada tanggal 24-28 Juni 1991, WTO menyelenggarakan “Konferensi Internasional Tentang Perjalanan dan Kepariwisataan” di Ottawa – Kanada, yang menghasilkan rekomendasi dalam resolusinya tentang Definisi Dasar dan Klasifikasi (Basic Definition and Classifications) untuk kepentingan Statistik Kepariwisataan.
Dalam resolusi tersebut WTO merekomendasikan Konsep Dasar Kepariwisataan (Basic Tourism Concepts), sebagai berikut:
Kepariwisataan didefinisikan sebagai kegiatan seseorang yang melakukan perjalanan ke suatu tempat di luar “lingkungan di mana biasanya dia tinggal” untuk selama “kurang dari kurun waktu tertentu” dan yang maksud utama perjalanannya bukan untuk melakukan “kegiatan yang menghasilkan upah” dari tempat yang dikunjunginya.
Di samping itu sehubungan dengan konsepnya, WTO merekomendasikan terminologi umum mengenai Tiga Kategori Dasar Kepariwisataan, yang disesuaikan dengan peristilahan akunting ekonomi (economic accounting terms), yaitu:

  • Kepariwisataan Nusantara (Domestic Tourism) – terdiri dari Kepariwisataan Internal (Internal Tourism) dan Kepariwisataan Masuk (Inbound Tourism), di mana Kepariwisataan Internal mengacu pada penduduk yang melakukan perjalanan di dalam negerinya sendiri, sementara Kepariwisataan Masuk menyangkut kunjungan ke suatu negara oleh non-penduduk;
  • Kepariwisataan Nasional (National Tourism) – meliputi Kepariwisataan Internal (Internal Tourism) dan Kepariwisataan Keluar (Outbound Tourism), di mana Kepariwisataan Keluar mengacu pada penduduk suatu negara yang berkunjung ke negara lain;
  • Kepariwisataan Internasional (International Tourism)- meliputi Kepariwisataan Masuk (Inbound Tourism) dan Kepariwisataan Keluar (Outbound Tourism).

WTO juga memberikan catatan bahwa ketiga kategori tersebut hanya dilihat dari sisi permintaan (demand side), dan merekomendasikan bahwa pencatatan statistik kepariwisataan hendaknya dilakukan dari kedua sisi, baik sisi permintaan maupun sisi penawaran (supply side).
Dalam hubungannya dengan wisnus di Indonesia, dapat dikelompokkan dalam Kepariwisataan Internal, yang pada hakekatnya merupakan kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh penduduk di dalam negerinya sendiri.
Siapa yang dimaksud dengan “penduduk”? WTO melihat pengertian penduduk dari dua sudut pandang, – yaitu dari sudut pandang Kepariwisataan Internasional dan Kepariwisataan Internal -.
Internasional:
Seseorang diperhitungkan sebagai penduduk di suatu negara, jika yang bersangkutan telah tinggal di tempat tersebut paling sedikit 1 (satu) tahun, atau duabelas bulan berturut-turut, sebelum tiba di negara lain untuk selama tidak lebih dari 1 (satu) tahun (di tempat yang dikunjunginya).
Internal:
Seseorang diperhitungkan sebagai penduduk di suatu tempat, jika yang bersangkutan telah tinggal di tempat tersebut paling sedikit 6 (enam) bulan berturut-turut sebelum tiba di tempat lain di dalam negeri yang sama, untuk selama tidak lebih dari 6 (enam) bulan (di tempat yang dikunjunginya).
Termasuk di dalam pengertian penduduk  suatu negara atau suatu tempat di suatu negara, adalah “warga asing” yang berdomisili di negara/tempat tersebut.
Perlu pula dicatat, dalam hal ini tidak termasuk perjalanan yang dilakukan di dalam lingkungan tempat tinggalnya atau yang dilakukan secara rutin, – misalnya: para pekerja sementara (musiman) di Jakarta yang pulang mudik rutin tiap bulan dalam rangka pulang ke keluarganya, tidak dihitung sebagai wisnus. Keberadaannya di Jakarta pun tidak diperhitungkan sebagai wisnus atau pengunjung, mengingat kunjungannya ke Jakarta adalah untuk “mencari nafkah”.
Demikian pula halnya dengan pengertian pengunjung (visitor), WTO melihatnya dalam kaitannya dengan Kepariwisataan Internasional dan Kepariwisataan Internal.
Internasional:
Pengunjung, yaitu seseorang yang melakukan perjalanan ke negara lain yang bukan negara tempat dia biasanya tinggal dan yang berada di luar lingkungan dia biasanya tinggal, untuk kurun waktu tidak lebih dari satu tahun dan maksud kunjungannya tidak melakukan kegiatan yang mendapat upah dari dalam negara yang dikunjunginya.
Internal:
Pengunjung, yaitu seseorang yang tinggal di suatu negara yang melakukan perjalanan ke suatu tempat di dalam negara itu, tapi di luar lingkungan di mana dia biasanya tinggal, untuk selama tidak lebih dari enam bulan dan maksud kunjungannya bukan untuk melakukan kegiatan yang mendapat upah dari tempat yang dikunjunginya.
Selanjutnya WTO merekomendasikan juga pengertian wisatawan (tourist) baik dari sudut pandang Kepariwisataan Internasional maupun Kepariwisataan Internal.
Internasional:
Wisatawan, adalah seseorang yang melakukan ke suatu negara yang bukan tempat biasanya dia tinggal, paling sedikit untuk selama satu malam tapi tidak melebihi satu tahun, dan maksud kunjungannya bukan untuk melakukan kegiatan yang mendapat upah dari dalam negara yang dikunjunginya.
Internal:
Wisatawan, adalah seseorang yang tinggal di suatu negara, yang melakukan perjalanan ke tempat lain di negara tersebut, namun di luar lingkungan biasanya dia tinggal, untuk selama paling sedikit satu malam tapi tidak melebihi enam bulan, dan maksud kunjungannya bukan untuk melakukan kegiatan yang mendapat upah dari tempat yang dikunjunginya.
Jadi, seseorang dapat dikategorikan sebagai wisatawan nusantara (wisnus) jika :

  • Penduduk suatu tempat yang  melakukan perjalanan dari lingkungan tempat di mana dia biasanya tinggal ke tempat lain di dalam negara yang sama;
  • Lamanya kunjungan sekurang-kurangnya satu malam (menginap) paling lama enam bulan;
  • Maksud kunjungannya bukan untuk melakukan kegiatan yang mendapat upah (mencari nafkah) dari tempat yang dikunjunginya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: