PENYELENGGARAAN VISIT INDONESIA YEAR


Pada pertengahan tahun 2007 pemerintah menyelenggarakan berbagai persiapan dalam rangka penyelenggaraan VISIT INDONESIA YEAR 2008 (VIY-2008) yang dikaitkan dengan peringatan SATU ABAD Kebangkitan Nasional yang kita kenal sebagai suatu moment bagi bangsa Indonesia, – ketika itu -, untuk menjadi Bangsa Yang Merdeka dan Mandiri.
Kemandirian Indonesia bergantung pada perkembangan banyak hal, termasuk pada perkembangan kepariwisataannya.
Sedikitnya VIY-2008 diharapkan oleh banyak pihak di tanah air akan merupakan pal batu (milestone) bagi “Kebangkitan Kembali Kepariwisataan” setelah mengalami “keterpurukan” selama SATU DASAWARSA, 1998 – 2007.
Dengan penuh harapan, tahun 2009 pun dicanangkan sebagai kelanjutan dari program Visit Indonesia Year. Hingga 2010, bahkan 2011 berbagai daerah/destinasi masih semarak mempersiapkan diri untuk menyelenggarakan “Visit Year” dengan diisi berbagai program peristiwa wisata (tourism events) yang bermuatan khas lokal.
Jika kita meninjau dua dasawarsa ke belakang (1990), pemerintah cq DepParPostel kala itu, mencanangkan suatu program Dasawarsa Kunjungan Indonesia 1991-2000 dengan berbagai thema yang telah dipersiapkannya. Namun sangat disayangkan bahwa program tersebut terganggu, – bahkan terputus, dengan terjadinya Krisis Moneter 1997-98 yang berlanjut dengan krisis multi dimensi (sosekpolkam) di dalam negeri sendiri, sehingga baik penyelenggaraan maupun hasilnya tidak dapat berlanjut dan pada akhirnya tidak mencapai hasil sebagaimana direncanakan semula.
Visitor Arrivals 2001-2009

Lazimnya, hasil dari program VIY yang diharapkan adalah:

  • Meningkatnya Arus Kunjungan Wisman(W);
  • Meningkatnya Masa Tinggal Wisman (T); dan syukur-syukur
  • Belanja Wisman ($) per harinya juga meningkat, sehingga hasil akhir yang diharapkan itu adalah “Meningkatnya Total Penerimaan Pariwisata (WxTx$)” dari keadaan pada tahun-tahun sebelumnya.

Menilik hakekat dari motivasi para wisatawan untuk berkunjung adalah adanya sesuatu yang menarik untuk dilihat dan/atau dinikmati dan dialami sendiri, yaitu yang kita kenal sebagai Daya tarik (atraksi, attraction). Daya tarik ini bisa berupa Obyek Wisata (site attraction) dan Peristiwa Wisata (event attraction) atau disebut juga sebagai acara wisata yang tersusun dalam suatu Kalender Acara (Calendar of Events). Di samping itu, tidak kalah menariknya adalah berbagai daya tarik lain seperti daya tarik budaya (cultural attraction) yang berupa adat istiadat, gaya hidup, tatacara bertani, tatacara berbicara / komunikasi, serta daya tarik lingkungan yang terdiri dari “suasana” keakraban, ketertiban, keamanan, kebersihan, kenyamanan, keindahan, dsb.

Agar  destinasi wisata menjadi lebih memikat, seringkali di suatu  obyek wisata tertentu diselenggarakan peristiwa-peristiwa seni, budaya, pameran, perlombaan (seperti olahraga, merangkai bunga, menari, menyanyi, MTQ, dsb).
Dalam kaitan dengan penyelenggaraan Visit Year, diupayakan adanya peristiwa wisata yang cukup banyak agar kedatangan wisatawan sedapat mungkin berlangsung sepanjang tahun.
Upaya meningkatkan arus kunjungan wisatawan tanpa penyelenggaraan Calendar of Events yang mempesona dan memikat, tidak mustahil akan membuahkan hasil yang mengecewakan, minimal tidak memenuhi harapan, untuk tidak disebut gagal.
Pada hakekatnya, Calendar of Events merupakan upaya “memperkaya daya tarik” bagi para wisatawan sebagai motivasi untuk berkunjung ke suatu negara atau destinasi di negara tersebut.
Sebaiknya penyelenggaraan events dikelompokkan berdasarkan besarnya, luasnya keterlibatan masyarakat, serta tingkatan kepentingannya (nasional, propinsi, kabupaten /kota).
Kelompok event dimaksud lazimnya disebut sebagai Acara Inti (Core Event), Acara Besar (Major Events) dan Acara Pendukung (Supporting Events).
Oleh karena itu, penyelenggarannya memerlukan suatu perencanaan dengan mempertimbangkan berbagai hal, antara lain:

  • Waktu (tanggal, bulan, tahun) dan tempat penyelenggaraan “yang pasti”, serta uraian tentang acaranya, yang kesemuanya sangat berkaitan dengan penetapan waktu dan tempat yang tepat untuk promosi;
  • Waktu kedatangan wisatawan yang diharapkan akan terjadi, yang terkait juga dengan perencanaan waktu dan tempat yang tepat bagi kegiatan promosi;
  • Jumlah wisatawan yang diharapkan datang, masa tinggal rata-rata sangat perlu untuk diperhitungkan mengingat kaitannya dengan “kapasitas (daya tampung) hotel” dan akomodasi lainnya yang tersedia dan/atau penambahannya di kala perlu;
  • Kapasitas angkutan wisata yang tersedia dan tambahan yang dibutuhkan bagi keperluan mendatangkan wisatawan dari berbagai tempat asal, memberangkatkan kembali ke berbagai tujuan, serta mendistribusikannya ke berbagai obyek wisata atau lokasi peristiwa wisata dsb. di dalam destinasi yang bersangkutan;
  • Koordinasi, keterpaduan penyelenggaraannya bersama berbagai instansi dan/atau lembaga pemangku kepentingan serta industri pariwisata, para pelaku kegiatan ekonomi, serta masyarakat pada umumnya sehingga penyelenggaraan Visit Year merupakan karya bersama dari berbagai pihak yang saling menunjang dan saling menguntungkan;
  • Pra-kiraan cuaca bukanlah hal yang kurang penting untuk dipertimbangkan;
  • Kesemuanya itu sangat menentukan dalam hal persiapan, penyusunan, pencetakan dan penyebaran bahan-bahan promosi yang perlu dilakukan jauh sebelum Tahun Kunjungan (Visit Year) tersebut diselenggarakan.

Sebagaimana banyak pihak mengutarakan, penyelenggaraan promosi selalu tidak dapat diharapkan memberikan hasil seketika (instant), namun selalu terdapat kesenjangan waktu antara terselenggaranya promosi dengan pelaksanaan kunjungan wisatawan itu.
Oleh karenanya, promosi mengenai acara semacam Visit Year, sangat dianjurkan untuk dilakukan jauh sebelumnya, lebih jauh – lebih baik, asalkan dilakukan intensif, ekstensif dan konsisten, sedikitnya satu tahun dimuka.
Dengan beberapa pertimbangan tersebut di atas, diharapkan penyelenggaraan Visit Year tidak menimbulkan berbagai dampak negatif pada destinasi yang bersangkutan, antara lain:

  • Pengeluaran biaya yang tidak kecil itu, bisa menjadi sia-sia (mubazir);
  • Terjadinya kekecewaan atau ketidak puasan di antara para wisatawan yang pada gilirannya berdampak “counter promotion” atau “promosi yang berdampak negatif” di antara mereka terhadap destinasi yang bersangkutan;

Kekecewaan itu bisa terjadi antara lain akibat:

  1. Waktu, dan tempat penyelenggaraan tidak pasti;
  2. Kurangnya kamar hotel akibat kurang perhitungan;
  3. Destinasi tidak mudah dicapai karena kurangnya kapasitas daya angkut (airlines, kapal, bus dsb.);
  4. Kondisi angkutan kurang nyaman, obyek wisata kurang terpelihara, acara tidak tepat waktu, pelayanan informasi kurang (-lengkap, -jelas, -akurat), keamanan terganggu, pelayanan tidak ramah dsb., tidak seperti yang dipromosikan.

3 Responses

  1. numpang liat-liat tulisannya, thanks

  2. numpang nanya, mumpung banyak provinsi atau kota yang mempromosikan daerahnya melalui kegiatan Visit Year, tidak adakah standard-isasi program Visit Year ? fungsinya untuk melihat kesiapan suatu daerah terhadap program yang bertujuan mendatangkan banyak wisatawan melalui event-event ini. kesiapan itu mungkin bisa diukur melalui poin-poin di paragraf terakhir dari artikel ini..

  3. […] destinasi, yaitu kesiapan obyek dan atraksi wisata yang “layak dan siap […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: