NILAI PLUS-MINUS WONDERFUL INDONESIA


Dalam artikel terdahulu diutarakan 5 (lima) hal yang menjadi andalan untuk kampanye Wonderful Indonesia sebagai branding baru bagi kepariwisataan Indonesia, yaitu:

  1. Wonderful Nature.
  2. Wonderful Culture.
  3. Wonderful People.
  4. Wonderful Food.
  5. Wonderful Value for Money.

Di samping perlunya dukungan kenyataan dalam lima hal tersebut di atas, penetapan branding tersebut membawa konsekwensi bagi kita semua, selaku pemangku kepentingan (stakeholder), untuk benar-benar mampu mewujudkan lima hal tersebut dalam bentuk unggulan bersaing (competitive advantage).
Dalam tatacara penilaian yang dilakukan WEF (World Economic Forum), tahun 2009 ditetapkan bahwa masing-masing kriteria yang mencapai tempat sampai dengan ke-50 teratas di antara 133, dinilai sebagai “competitive advantage” bagi destinasi yang bersangkutan. Sebaliknya, kriteria yang berada pada tempat di bawah 50 (51 s/d 133) sebagai unggulan (daya saing) yang tidak menguntungkan (competitive disadvantage) atau yang lebih condong dinilai sebagai unggulan komparatif (comparative advantage) yang masih memerlukan berbagai upaya pemolesan, penggarapan serta pengemasan agar menjadi competitive advantage.
Yang kemudian menjadi tantangan bagi kita adalah: Bagaimana seyogyanya “kiat” kita untuk mendukung upaya mewujudkan agar masing-masing Wonderful Item tersebut menjadi competitive advantage yang tangguh, sehingga mampu menyukseskan Wonderful Indonesia? Empat di antara lima wonderful items yang diunggulkan sebagai landasan bagi kampanya Wonderful Indonesia berada pada posisi sebagai competitive advantage tahun 2009, yaitu Price competitiveness: 3, Natural Resources: 28, Cultural Resources: 37, dan Human Resources: 42. Sementara dalam kaitannya secara tidak langsung dengan Wonderful Food, Health & Hygiene menempati posisi sebagai Competitive Disadvantage, yaitu pada urutan 110. Dalam hal ini yang dinilai adalah a. Akses pada Perbaikan Sanitasi (Access to Improved Sanitation: urutan ke-96); b. Akses pada Air Minum (Access to Drinking Water: ke-100); c. Kepadatan populasi dokter (Physician density: urutan ke-116); dan Jumlah Ranjang Rumah Sakit (Hospital Beds: ke-119).

  • Wonderful Nature. Di antara 133 negara yang dinilai daya saing pariwisatanya di tahun 2009, dalam hal Sumberdaya Alam (Natural Resources) keragamana alam Indonesia menempati urutan ke-28 termasuk dalam posisi sebagai competitive advantage. Meskipun demikian, dalam hal penanganan pelestarian lingkungan (Environmental Sustainability) berada di urutan ke-4 dari belakang (urutan 130 dari 133). Penilaiannya dilakukan atas dasar 4 kriteria, yaitu: a. Jumlah Spesies yang terkenal (Total Known Species: urutan ke-4); b. Jumlah Situs Alam Peninggalan Dunia (World Haritage Natural Sites: urutan ke-10); c. Cagar Alam (Protected Areas: urutan ke-79); di mana d. Kualitas Lingkungan Alam (Quality of Natural Environment) berada di urutan ke-2 dari belakang (132 dari 133). Hal ini menunjukkan, bahwa sekalipun Indonesia kaya akan ragam alamnya namun kualitasnya nomor 2 terendah. (Catatan: Tentu hal ini tidak layak untuk disebut “wonderful“). Oleh karenanya, upaya yang sungguh-sungguh harus dilakukan untuk memperbaikinya.
  • Wonderful Culture. Berada pada posisi sebagai competitive advantage di urutan 37, Cultural Resources dinilai berdasarkan 4 kriteria: a. Export Industri Kreatif (Creative Industry Export: urutan ke-25); b. Jumlah Pekanraya dan Pameran Internasional (International Fairs and Exhibition: urutan ke-40); c. Jumlah Situs Budaya Peninggalan Dunia (World Heritage Cultural Sites: urutan ke-45) dan d. Stadion Olahraga (Sports Stadiums), yang nilainya berada pada posisi sebagai competitive disadvantage (urutan 116).
  • Wonderful People. Dinilai berdasarkan 10 kriteria, di mana 3 di antaranya merupakan competitive disadvantage (Business Impact of HIV/AIDS posisi 78; Life Expectancy posisi 89; dan Secondary Education Enrollment posisi 102). Secara keseluruhan dalam Human Resources di urutan ke-42. Posisi yang tertinggi dalam kelompok ini adalah Praktek Penerimaan Pegawai dan PHK pada posisi 19.
  • Wonderful Food. Berkaitan khusus dengan penyajian makanan (Wonderful Food), yang perlu mendapat perhatian untuk perbaikan dalam hal Health & Hygiene (urutan ke-110) adalah Sanitasi dan Air Minum.
  • Wonderful Value for Money. Dalam hal daya saing harga (Price Competitiveness), Indonesia, di urutan ke-3 hanya dikalahkan oleh Mesir dan Brunei Darussalam.

Bagaimana dengan kriteria lainnya? Dilihat dari Daftar Terlampir “Travel & Tourism Competitive Advantages & Disadvantages“, dalam beberapa hal  Pariwisata Indonesia masih banyak yang perlu perbaikan dan mendapat perhatian khusus, antara lain dalam hal berikut ini.

  • Environmental Sustainability (urutan 130) – kesungguhan upaya pelestarian lingkungan.
  • Safety & Security (urutan 119) – intensitas upaya menghapus kerusuhan, huru-hara, perampasan/perampokan utamanya keselamatan dan keamanan pada umumnya dan khususnya perjalanan  wisatawan, dll.
  • ICT Infrastructure (urutan 102) – intensitas dan populasi penggunaan dan ketersediaan sarana internet dan telekomunikasi.
  • Ground Transport Infrastucture (urutan 89) – kuantitas dan kualitas prasarana perhubungan darat.
  • Tourism Infrastructure (urutan 88) – ratio ketersediaan hotel, sarana ATM dgn jaringan internasional, dll. terhadap jumlah penduduk.
  • Air Transport Infrastructure (urutan 60) – ratio kapasitas kursi dan keberangkatan dibanding jumlah penduduk.
  • dsb.

Dapat dimengerti jika Singapura menduduki posisi yang lebih baik di banding Indonesia, mengingat jumlah penduduknya, – yang menjadi variabel pembanding -, lebih kecil karena luas area negaranya pun lebih kecil dibanding Indonesia. Misalnya jumlah kamar hotel dibanding jumlah penduduk, jumlah ranjang rumah sakit dibanding penduduk, jumlah anggota polisi dibanding jumlah penduduk, jumlah dokter dibanding jumlah penduduk, dsb.
Dalam hal inilah kita perlu lebih cermat, karena sifat nilai persaingan tersebut jadi sangat relatif dan kurang obyektif. Jangan sampai kita terjebak dalam angka-angka semata, kita perlu melihatnya dari berbagai sisi, antara lain tentang kekayaan sumberdaya alam dibanding jumlah penduduk, kekayaan budaya dibanding jumlah penduduk, dsb.
Demikian pula halnya dengan beberapa negara yang lebih kecil (area dan penduduknya) daripada Indonesia, seperti Hong Kong, Swiss, Belanda, Denmark, Swedia, Finlandia dll. akan lebih obyektif jika sekiranya penilaian atas kekayaan alam (natural resources) dan kekayaan budaya (cultural resources) juga berdasarkan ratio keragamannya terhadap jumlah penduduk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: