Beautiful Indonesia For Peaceful World


Tanggal 27 September merupakan Hari Pariwisata Dunia yang ditetapkan oleh UNWTO (United Nations World Tourism Organisation). Secara kebetulan Hari Pariwisata Nasional Indonesia juga jatuh pada tanggal yang sama. Apa fasal?
Saat Hari Pariwisata Nasional ditetapkan, pariwisata berada di bawah satu atap dengan Postel yang Hari Jadi-nya tanggal 27 September, dengan nama Departeman Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (DepParPostel), maka jadilah tanggal tersebut sebagai Hari Jadi Pariwisata juga. Itu terjadi sebelum dipisahkan dari PosTel dan di-satu atap-kan dengan Kebudayaan menjadi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (DepBudPar) yang dewasa ini bernama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (KemenBudPar). Dengan demikian, jika Indonesia merayakan 27 September sebagai Hari Pariwisata, bukan hanya berarti dalam kaitan dengan kepentingan nasional belaka, melainkan juga kepentingan dunia. Dewasa ini banyak negara di dunia yang menetapkan tanggal 27 September sebagai Hari Pariwisata mereka.
Dalam kaitan peringatan Hari Pariwisata Dunia tersebut, yang dipusatkan di Aswan, Mesir, para ahli kepariwisataan dan kebudayaan dunia mengadakan suatu perbincangan dan menggaris-bawahi adanya kebutuhan akan keterlibatan (involvement) dan menyertakan (engagement) masyarakat setempat (local community) dalam pengembangan kepariwisataan.
Perbincangan tersebut merupakan salah satu acara yang dihadiri oleh berbagai pemikir (think tank) tingkat tinggi yang membahas thema peringatan Hari Pariwisata 2011, yaitu Tourism – Linking Cultures, Kepariwisataan – Perekat Kebudayaan, di mana I Gde Ardika, mantan Menteri BudPar, termasuk yang terdapat dalam daftar hadir.
Pada kesempatan itu para pemimpin industri, Menteri Pariwisata dan akademisi, memperdebatkan peran kepariwisataan dalam menggalang saling pengertian, memperkaya rasa kemanusiaan, toleransi dan kedamaian.
Berbagai tulisan dan pernyataan sering kita baca dan dengar bahwasanya “Kepariwisataan Memberikan Dampak Mempererat Persahabatan dan Meningkatkan Perdamaian Antar Bangsa”. Bahkan bagi Indonesia bukan hanya sekedar slogan atau hanya sebagai “lips-service” belaka, melainkan sudah menjadi landasan berpijak bagi kepariwisataan Indonesia dalam bentuk UU Kepariwisataan, – No. 10/TH 2009.
Jadi kepariwisataan tidak hanya ditujukan pada kesejahteraan ekonomi semata, melainkan juga dalam bentuk kesejahteraan batin berupa wujud Persahabatan dan Perdamaian Antar-Daerah serta Antar-Bangsa di Dunia.
Jika kita ingat, beberapa langkah yang diambil Indonesia di masa lalu dan sudah dilakukan seperti yang terwujud pada bentuk gerakan/ikatan antar bangsa seperti Asia-Afrika, Non-Blok (Non-alligned), ASEAN dan banyak lagi, meskipun berlatar-belakang politik tidak diragukan lagi dampaknya bagi kepariwisataan, seperti dalam ikatan ASEAN terdapat komite khusus kepariwisataan di samping komite-komite bidang lainnya.
Manakala terjadi kerusuhan atau gangguan apapun yang mengancam kedamaian, perdamaian, kesatuan dan persatuan, saya sering terkenang pada masa kecil ketika masih di SR (Sekolah Rakyat, sekarang SD – Sekolah Dasar), di akhir tahun 1940-an di mana diajarkan lagu-lagu yang bernuansa kepariwisataan antara lain Pulau Bali, Bengawan Solo, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Di Tepinya Sungai Serayu, Solo Di Waktu Malam Hari, serta lagu-lagu yang menimbulkan dan menumbuhkan Rasa Cinta Tanah Air, seperti Rayuan Pulau Kelapa, Tanah Air dsb.
Khususnya dalam Lagu Pulau Bali (versi aslinya), dua kalimat pertama bait terakhir berbunyi … Pulau Bali pulau Maha Jaya, Aman Damai dan Sentausa …, demikian pula dalam Rayuan Pulau Kelapa, di sana terdapat syair yang berbunyi: … Tanah Airku Aman dan Makmur, Negeri Elok Nan Amat Subur … Sejatinya kalimat-kalimat semacam itu ikut mengisi jiwa, semangat dan kekuatan magis untuk menggugah hati insan Indonesia demi menjaga dan memelihara kedamaian, perdamaian, kesatuan dan persatuan antar daerah yang nota bene telah “bersumpah” bersatu dalam “satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air”.
Mulai tahun 2011 ini, kepariwisataan Indonesia mengusung “branding” baru, yaitu “Beautiful Indonesia” yang dilandasi oleh “kekuatan” yang kita miliki, dalam wujud Beautiful Nature, Beautiful Culture, Beautiful People, Beautiful Food dan Beautiful Value For Money.
Nah, atas dasar ini, mari kita buktikan bahwa yang tersirat dan tersurat dalam UU no.10/TH 2009 dan branding itu bukan hanya sekedar lips-service.
Ini merupakan tantangan bagi kita semua, jika kita menghendaki kepariwisataan menjadi sumber kesejahteraan dalam segala hal (ekonomi, sosial, budaya, keamanan, kedamaian dll.) baik lahir maupun batin. Itu membutuhkan kesungguhan kerja bersama segenap pihak yang berkepentingan untuk mencapai hasil bagi kepentingan bersama pula.
Pada awal tahun 1961 saya diperkenalkan pada satu lagu yang berjudul “Keroncong Tanah Airku” yang syairnya memberikan gambaran tentang indahnya Tanah Air Indonesia. Inilah syairnya:

Mendalam Lembah Curam,
Di Sela Gunung Meninggi,
Suatu Pemandangan,
Tanah Airku Indonesia Elok Adi,

Sungai-sungai Mengalir Berliku,
Melalui Hutan Yang Menghijau,
Menuju Ke Laut Biru,
Serta Padi Berayun Mendesau,
Dihembus Angin Yang Menderu,

Indah Tanah Airku,
Indonesia Raya Pujaan Bangsaku,
Tanah Airku Yang Kaya Raya,
Dengan Pemandangan Alamnya.

Semoga Kepariwisataan Indonesia juga mampu menjembatani serta merekat keanekaragaman kebudayaan dan SARA bukan saja di tanah air, melainkan juga menembus batas kenegaraan selaras dengan fenomena globalisasi sesuai dengan semangat “Tourism – Linking Cultures“.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: