PERISTIWA OLAHRAGA DAN KEPARIWISATAAN


Pesta olahraga ASEAN – SEA GAMES XXVI/2011, baru saja usai. Para atlet masing-masing kontingen negara peserta bergegas pulang kembali ke negaranya. Hiruk pikuk para penonton di gelanggang pertandingan yang meramaikan suasana di Indonesia selaku penyelenggara, tiada lagi terdengar. Kesibukan masyarakat yang ikut serta “melayani” baik selaku penyaji makanan, minuman, buah tangan, maupun sekedar “jasa keramahan (hospitality), kembali ke kehidupan semula, kehidupan rutin penuh perjuangan.
Care TourismPesta olahraga semacam SEA GAMES atau ASIAN GAMES yang bersifat regional, bahkan yang bertaraf nasional sekalipun, seperti PON, kompetisi Liga Sepakbola, Bola Basket, Bulutangkis, Bola Volley dsb., membuka peluang “tambahan”  sumber KEHIDUPAN, KEGIATAN USAHA dan PENGHASILAN atau NAFKAH EXTRA bagi masyarakat setempat dan sekitar tempat peristiwa olahraga itu diselenggarakan. Apalagi jika peristiwa tersebut setingkat internasional seperti Olympic Games, World Cup atau F-1 dan sejenisnya.
Penyelenggaraan SEA GAMES baru-baru ini yang diselenggarakan di Palembang, tidak saja berimbas ke daerah sekitarnya seperti Lampung, Bengkulu, Sumatera Barat, Jambi, Riau dan Bangka-Belitung, melainkan juga ke seluruh anah air. Paling sedikit, para supporter dan/atau para keluarga atlet yang berasal dari Daerah tertentu akan ter-“motivasi” untuk menyaksikan “wakil daerah”-nya berlaga di arena pertandingan. Maka para supporter dan/atau para keluarga atlit yang bersangkutan itu pun ber-“pariwisata” dengan motivasi olahraga (pasif selaku penonton/supporter).
Jika gejala tersebut direfleksikan ke negara ASEAN selaku peserta SEA GAMES maka dapat diharapkan akan banyak menciptakan sejumlah penonton/ supporter dari negara-negara peserta tersebut.
Dari berita yang pernah dilaporkan berbagai surat kabar, tidak kurang dari 14,500 atlet dan official (termasuk sekitar 1050 tuan rumah), yang datang untuk bertanding dan tinggal di Indonesia sedikitnya 10 malam, yang berarti menghuni tidak kurang dari sejumlah 134.500 malam-tempat tidur (bed-nights), tidak termasuk tuan rumah.
Secara nyata, tinggal selama 10 malam itu hanya mencukupi untuk menghadiri atau mengikuti jalannya pertandingan. Jika usai penutupan resmi pesta olahraga tersebut mereka “ditawari” paket-paket wisata ke daerah-daerah sekitarnya, bahkan sampai ke timur Indonesia seperti Bali, Lombok, Sulawesi, tidak mustahil mereka akan tinggal lebih dari 15 hari. Berapa yang akan tinggal lebih dari 15 hari tersebut adalah masalah lain, yang sangat erat dengan upaya promosi jauh sebelum pesta olahraga itu dilaksanakan, mengingat akan banyak memerlukan pertimbangan waktu maupun keuangan. Namun hal itu bukanlah hal yang mustahil. Hanya saja memerlukan kejelian serta kolaborasi antara panitia penyelenggara, penerbangan dan Biro Perjalanan Wisata (Tour Operator). Hingga saat ini belum ada berita yang melaporkan adanya atlet maupun supporter yang melakukan perjalanan “extra” setelah usai pesta olah raga tersebut. Bagi atlet sangat mungkin akan sulit melakukan perjalanan “di luar jadual kontingen”-nya, namun bagi para keluarga/supporter bukanlah hal yang mustahil.

Care Tourism

Diagram-1

Masalah lain yang mungkin menjadi pertimbangan mengapa tour operator merasa “kurang tertarik”untuk menawarkan paket-paket tersebut adalah kekeliruan penilaian tentang “lemahnya pasar” yang terdiri dari warga ASEAN tersebut, ditinjau dari kekuatan daya belinya.
Namun demikian, dalam kesempatan ini ada baiknya kiranya untuk mengungkap “potensi” pasar pariwisata ASEAN.
Walaupun PDB (Produk Domestik Bruto) per kapita penduduk ASEAN rata-rata tidak lebih dari 3,100 USD, pertumbuhan lalulintas wisatawan warga ASEAN di kawasan ASEAN sendiri termasuk yang terpesat dibanding yang terjadi di kawasan lain di dunia.

Care Tourism

Diagram-2

Selain itu, data sejarah (historical data) pengunjung ASEAN ke Indonesia, selama 10 tahun terakhir, menempati urutan teratas dengan persentase 40.48% di tahun 2000 (lihat Diagram-1) dan 43.59% pada tahun 2010. Secara akumulatif jumlahnya selama kurun waktu 2000-2010 menunjukkan persentase 43.98% dari seluruh kunjungan wisman ke Indonesia selama kurun waktu yang sama (lihat Diagram-2).
Hal ini menunjukkan betapa potensialnya pasar pariwisata ASEAN bagi Indonesia, sehingga tidak selayaknya diabaikan begitu saja. Potensi pasar ini patut dipertimbangkan di kemudian hari pada saat-saat peristiwa olahraga regional seperti ASIAN Games atau SEA Games berikutnya, baik yang diselenggarakan di negara tetangga maupun di Indonesia.

One Response

  1. […] PERISTIWA OLAHRAGA DAN KEPARIWISATAAN […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: