Mengukur Kapasitas Produksi Pariwisata


Tahun 2011 sudah berlalu, kini kita berada di tahun 2012, namun data kunjungan wisman ke Indonesia belum juga mencapai angka 8 juta. Di awal Februari 2012 tercatat jumlah kunjungan wisman 2011 menunjukkan angka 7,649,731 (www.bps.go.id, 2 Feb. 2012), yang berarti mengalami kenaikan 9.24% dibanding periode yang sama tahun 2010. Dalam suatu kesempatan, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (ketika itu, Jero Wacik) mengemukakan optimismenya bahwa kunjungan wisman akan dapat mencapai angka 7,7 juta (Journal Pariwisata Indonesia, edisi Oktober 2011). Angka itu merupakan kenaikan 10% dari angka wisman 2010 yaitu 7.0 juta. Bulan Desember 2011 yang lalu Care Tourism memperkirakan kunjungan dalam 2011 paling tinggi akan mencapai sekitar 7,634,000, mengingat kunjungan dalam bulan November 2011 hanya mencapai angka 654,948, padahal di bulan November 2011 Indonesia adalah penyelenggara SEA-Games XXVI yang nampaknya sama sekali tidak berpengaruh pada pariwisata kita.  Kunjungan wisman 2011 VisitorTrend_2011sejumlah 7,649,731 tersebut menunjukkan pertumbuhan yang tidak jauh daripada kecenderungan yang tergambar pada garis trend tahun 2011, yaitu pada angka 7,643,689. Dengan demikian kita boleh berharap tahun 2012 ini dapat mencapai sekitar 8,382,000 kunjungan, dengan catatan semua kondisi (termasuk upaya pemasaran yang dilakukan) sama seperti tahun-tahun silam.

Kapasitas Akomodasi

Terlepas daripada semua itu, di atas kertas, atas dasar data BPS, menunjukkan bahwa pada tahun 2010 di seluruh tanah air tersedia tidak kurang dari 0.5 juta tempat tidur hotel, tepatnya 542,640 tempat tidur dengan rincian Hotel Berbintang 191,948 tempat tidur dan Akomodasi lainnya sejumlah 350,692 tempat tidur.
Hotel Bedroom - Kamar HotelTahukah Anda seberapa besar potensi tempat tidur tersebut ditilik sebagai “kapasitas produksi pariwisata”? Mari kita hitung.
Jumlah tempat tidur itu tersedia setiap hari dalam setahun. Katakanlah dalam setahun kita hitung 360 hari (malam), maka daya tampung Hotel Bintang dalam setahun adalah 69,101,280 malam-tempat tidur (bed-nights), Akomodasi lainnya berkapasitas 126,249,120 bed-nights. Data lain BPS menunjukkan bahwa rata-rata menginap para tamu hotel berada sekitar 3 malam dan rata-rata tingkat hunian kamar sekitar 50%. Maka dalam setahun Hotel Bintang akan mampu menampung 11,516,880 tamu hotel, dan Akomodasi lainnya sejumlah 21,041,520 tamu hotel. Itu jika tiap kamar hanya dihuni oleh satu orang, kenyataannya tidak demikian. Selalu ada kamar yang dihuni berdua, bahkan mungkin bertiga. Taruhlah, bahwa tiap 10 kamar bukan dihuni oleh 10 orang melainkan 15 orang, yang berarti tamu hotel yang dapat ditampung di Hotel Bintang adalah sejumah 17,275,320 orang dan akomodasi lainnya mampu menampung sejumlah 32,562,280 orang, sehingga kapasitas daya tampung hotel itu adalah 50,287,600 orang (perhitungan tersebut di atas dengan dasar : setahun=360 malam; tingkat hunian=50%;lama menginap=3 malam; ratio tamu/kamar=1.5). Dengan demikian, perkiraan 7,600,000 wisman yang berkunjung tahun 2011, jika semua menggunakan fasilitas akomodasi, hanya berkisar sekitar 14% saja dari kapasitas daya tampung hotel di tanah air.

Kapasitas Unsur Lainnya

Perhitungan daya tampung hotel saja belumlah cukup untuk mengukur kapasitas produksi pariwisata. Sebagaimana kita fahami, bahwa “produk” pariwisata terdiri dari berbagai unsur yang dihimpun menjadi satu unit produk yang berupa “segala pengalaman selama perjalanan sejak berangkat sampai kembali ke rumah”.
Yang perlu menjadi perhatian kita selanjutnya adalah:

  • Berapa persen dari sekian banyak tamu hotel itu merupakan wisman dan berapa wisnus?
  • Apa yang menjadi alasan atau motivasi mereka untuk datang berkunjung, –  yaitu, TENTUNYA, atraksi atau daya tarik serta obyek wisata; meskipun demikian
  • Cukup beragamkahkah atraksi dan obyek wisata itu untuk menahan mereka tinggal, selama sebutlah 3 hari, 5 hari atau 9 hari.
  • Bagaimana mereka datang? Adakah cukup fasilitas angkutan (udara – laut – darat) untuk mengangkut tamu hotel yang potensial itu dari negaranya atau negara tetangga kita?
  • Perlu pula diketahui, bahwa tidak semua kamar dihuni oleh satu orang. Oleh karenanya perhitungan atas dasar jumlah tempat tidur akan memberikan hasil yang lebih akurat. Jika perhitungan dilakukan atas dasar kamar, maka perlu diteliti berapa perbandingan antara tamu yang menghuni dengan  kamar yang dihuninya. Misalkan, 15 tamu menghuni 10 kamar, maka perbandingannya adalah 15 tamu/10 kamar, yang disebut ratio tamu/kamar: 1.5;
  • Dan sangat penting untuk dicatat, berapa banyak tenaga pariwisata yang tersedia dengan kualifikasi standar pelayanan internasional dan profesional untuk melayani mereka? Bukan berarti lebih memprioritaskan wisman. Namun perlu diingat, meski wisnus sekalipun, – sebagaimana halnya dengan Anda jika melakukan perjalanan -, tentu mengharapkan pelayanan profesional berstandar internasional, bukan? Jangankan wisatawan (mancanegara maupun nusantara), yang -nota bene- sedang berada dalam perjalanan, masyarakat umum setempat pun mengharapkan pelayanan profesional.

Jaringan aksesibilitas antar destinasi

Merujuk pada kapasitas daya tampung hotel seperti di atas, yang berada tersebar di berbagai destinasi (DTW=Daerah Tujuan Wisata), tidaklah mustahil bagi Indonesia untuk menerima 50 juta tamu hotel (mancanegara dan nusantara). Masalahnya yang dihadapi adalah menyangkut penyebarannya (distribusi) ke destinasi-destinasi tersebut. Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan, maka penyebarannya banyak bergantung pada perhubungan udara, mengingat perhubungan laut antar pulau dan perhubungan darat intra pulau terlampau banyak menyita waktu yang sangat bernilai bagi wisman. Mungkin Anda pun pernah mengalami ketika Anda yang dari Medan mau “pulang kampung” ke Makasar, diharuskan terbang ke Jakarta atau Surabaya terlebih dahulu. Begitu pun sebaliknya. Lebih tragis lagi jika Anda dari Pontianak ingin ke Balikpapan, – yang nyatanya berada di satu pulau -, harus ke Jakarta atau Surabaya terlebih dulu. Bukankah itu merupakan inefisiensi waktu, tenaga dan biaya bagi wisatawan? Pada gilirannya hal itu berdampak pada berkurangnya “kekuatan” daya saing pariwisata kita, karena dinilai boros waktu, boros tenaga, boros biaya.

Berita gembira

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (ParEKraf), Mari Elka Pangestu, juga menyadari bahwa “Kunci Kemajuan Pariwisata adalah MEMBUKA SEBANYAK MUNGKIN JARINGAN PENERBANGAN NASIONAL DAN INTERNASIONAL KE SEJUMLAH DAERAH TUJUAN WISATA yang telah ditetapkan Pemerintah” (Kompas, 14 Januari 2012). Bahkan ia pun menyatakan kesiapan pemerintah untuk mensubsidi penerbangan, di mana diperlukan, demi kemajuan pariwisata. Lebih lanjut dikemukakan rencana pembukaan penerbangan langsung Yogyakarta – Kamboja dan Manado – Filipina, dalam waktu dekat. Tentu, ini merupakan jawaban terhadap “tuntutan” dari pertumbuhan pariwisata dunia, khususnya di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Asia Tenggara, di mana Indonesia berada. Bagi kalangan pariwisata tanah air, ini merupakan indikasi bahwa Pemerintah tidak menghendaki Indonesia “ditinggal” dalam kancah persaingan pariwisata di kawasan ini.

5 Responses

  1. Kalau Myanmar coba ” jemput bola ” dalam urusan atawa menangani Pariwisata, mbok ya KITA coba untuk tak ” berebut bola “, tetapi mari memainkannya secara Profesional, berintegrasi disemua lini, Pemerintah dan juga para pemangku Pariwisata, sehingga untuk tercipta sebuah GOAL, betul2 dilakukan secara terencana agar KEPUASAN dan KENANGAN sang penonton/WISATAWAN bisa terpenuhi, semua ini bisa terwujud kalau tekad disertai kemauan yang jelas dan keras guna memajukan Pariwisata Indonesia, dan cobalah kali ini untuk tidak ditempeli oleh2 hal2 lain yang nantinya hanya bisa menimbulkan egoisme satu sektor saja, biarkan PARIWISATA meliak liuk sendiri dalam menembus dinamika n trend pasar pariwisata global.

    • @ Zulfan: Terima kasih atas komentarnya. Saya sependapat: perlu sinergi bersama di semua lini, semua sektor dan semua pemangku kepentingan.

  2. Apakah ada data secara spesifik tentang “wedding tourism”, seperti jumlah rata-rata dalam 3 tahun terakhir, asal negara wisman, dll?

    Mohon masukannya.

    Nuwun.

  3. […] Mengukur Kapasitas Produksi Pariwisata […]

  4. […] Kapasitas daya tampung akomodasi; […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: