Kiat Menjadikan Museum Sebuah Pesona Wisata


Kita mengenal banyak sekali museum yang ada di tanah air ini. Di antara sekian banyaknya, hanya beberapa saja yang dimiliki pihak swasta dan/atau masyarakat. Sebagian besar adalah milik pemerintah, – baik Pusat maupun Daerah -, yang pada umumnya mengemban  fungsi minimal sebagai :

  • sarana penyimpanan, pemeliharaan dan pelestarian berbagai benda purbakala;
  • sarana informasi sejarah, baik lokal, daerah maupun nasional;
  • sarana pendidikan bagi generasi masyarakat dan bangsa dari masa ke masa;

Dalam melaksanakan ketiga fungsi tersebut museum milik pemerintah membiayai dirinya dari anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah. Di Museum sebagai Pesona Wisatasamping itu, mereka tidak dibenarkan atau tidak diperbolehkan memungut biaya lebih dari yang ditetapkan oleh pemerintah dengan pertimbangan bahwa museum bersifat sosial. Oleh karena itu tarif tanda masuk ke museum rata-rata di Indonesia berada pada tingkat sangat rendah, sedemikian rendah sehingga jauh dari memadai, sekalipun untuk menutup biaya operasionalnya. Hal itu dilakukan atas dasar pertimbangan tersebut di atas, yaitu fungsinya yang bersifat sosial serta biaya operasionalnya sudah disediakan pemerintah.

Peran museum sebagai obyek kunjungan wisata

Di mana pun, museum merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan, terutama wisatawan mancanegara (wisman). Apa yang membuat seorang wisman tertarik pada museum? Pada umumnya mereka mengharapkan memeroleh informasi tentang masa lalu serta latar belakang sejarah, budaya, perkembangan pengetahuan masyarakat suatu negara di mana ia berkunjung. Bahkan tidak jarang mereka “mencari” keterkaitan dengan bangsa atau negaranya sendiri. Dengan demikian, yang ditawarkan museum setidaknya diharapkan dapat memberikan jawaban atas kebutuhan informasi yang dicarinya. Bagaimana dengan museum di Indonesia?
Di samping kondisi seperti diutarakan di atas, pada umumnya museum di Indonesia memiliki berbagai keterbatasan untuk dapat menempatkan diri sebagai obyek kunjungan wisman yang memesona dan mampu bersaing. Mengapa? Beberapa alasan dapat dikemukakan antara lain:

  • Karena museum kita adalah milik pemerintah, jam bukanya mengikuti jam kerja pemerintah. Pada umumnya tidak dapat dikunjungi pada petang hari;
  • Sebagian besar museum tutup pada hari Senin, – khususnys di Jakarta, kecuali museum yang berada dalam lingkungan Taman Mini -, untuk memberikan kesempatan melakukan pembersihan setelah dibuka pada hari Minggu atau Libur sehari sebelumnya, yang tidak mustahil bagi karyawannya yang masuk di hari Minggu atau hari Libur tersebut diperhitungkan sebagai “lembur”;
  • Dengan demikian, bagi wisman yang hanya punya waktu luang pada hari Senin di kota tersebut (atau Jakarta) tidak berkesempatan untuk “menikmati” kunjungan ke museum;
  • Dengan dukungan dana yang dianggarkan dari pemerintah yang serba terbatas, pengembangannya dalam segi estetika sangatlah lamban sehingga hampir mustahil dapat mengikuti derap perubahan selera maupun kecenderungan permintaan pasar dengan jalan menampilkan museum sebagai sebuah pameran benda sejarah dan purbakala yang memikat dan memesona;

Antara misi sosial dan visi komersial

Agar museum sebagai suatu obyek wisata mampu menjamin kedatangan para pengunjung, tidak dapat hanya mengandalkan pada keberadaan artefaknya belaka, melainkan juga pada “bagaimana” artefak itu ditampilkan, baik secara fisik maupun secara informatif.

Museum sebagai Pesona Wisata

Interior dan display museum yang memikat hati membuat pengunjung terpukau

  • Andaikata ketiga fungsi di atas, – yang mengindikasikan ciri fungsi sosial tersebut -, diberi sedikit “sentuhan komersial” dalam arti penampilannya dengan menambahkan fungsi sebagai SARANA PAMERAN BENDA SEJARAH DAN PURBAKALA, tidak mustahil museum akan semakin semarak berperan sebagai pesona wisata suatu tempat atau kota;
  • Andaikata Pameran Benda Bersejarah dan Purbakala itu diberi “sentuhan informatif” menyangkut KETERKAITAN DENGAN BERBAGAI PERISTIWA, SEJARAH atau TOKOH INTERNASIONAL, sudah tentu akan lebih memikat perhatian bagi para wisman. Pesona kota Roma terletak pada berbagai situs sejarah, yang kita kenal riwayatnya, kita kenal tokoh-tokohnya, meskipun yang kita lihat hanya berupa puing-puing yang sangat memesona karena dikemas bersama informasi tentang riwayat dan tokoh-tokoh tersebut.
  • Andaikata museum memungkinkan untuk diberi “sentuhan waktu” agar dapat dikunjungi “setiap saat” dalam kurun waktu 10 jam tiap hari, 7-hari tiap minggu, dapat dipastikan akan meningkatkan jumlah kunjungan wisman ke museum;
  • Andaikata tiap museum masing-masing memberikan “sentuhan thema” yang berbeda antara satu museum dengan lainnya, sudah dapat dibayangkan persaingan antar museum akan sirna, paling sedikit mendekati minimal.

Ringkasnya, agar setiap Obyek Wisata (termasuk museum) memesona calon pengunjung, perlu dikemas MENARIK SECARA FISIK, MEMIKAT PENUH RIWAYAT, BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT, PENATAAN RAMAH LINGKUNGAN, BERSAING DALAM MARKETING dan MENGUNTUNGKAN PEMANGKU KEPENTINGAN – Physically attractive, Historically fascinating, Socially beneficial, Naturally sustainable, Competitively marketable and Economically feasible.

One Response

  1. Saya coba untuk sedikit berbagi, karena memang topik yang disampaikan cukup mengelitik bagi saya, dan juga membuat saya menjadi sedih, sebagaimana KITA ketahui saat ini MUSEUM memang benar belum bisa menjadi seperti yang KITA harapkan, malah kadang2 gedung museum seperti ” rumah hantu ” , disamping alasan yg dikemukakan, saya akan menambahkan sediki dari hasil penelusuran saya dijagat jembar, dalam Blog ” Know Your own bone ” disampaikan ada 10 alasan ‘tuk mengunjungi museum (10 reason to visit museum), yang berarti museum harus menjadi atau dijadikan/dibuat seperti ini :
    1. Museum make you feel good ;
    2. Museum make you smarter ;
    3. Museum provide an effective way of learning ;
    4. Museum are comunnity center ;
    5. Museum inspire ;
    6. Museum help bring change & development to comunnities ;
    7. Museum are a great way spent time with friend & Family ;
    8. A museum may to be your next comunnity partner or business
    endeavour ;
    9. Museum are free…….sometimes ;
    10 There is museum close to you ;

    Mungkin kalau fungsi museum sebagai mana diuraikan diatas bisa dilengkapi dengan hal2 tersebut, saya rasa apa yang KITA ingin kan bisa terwujud, berdasarkan pengalaman saya mengunjungi museum di LN, dapat kiranya ditambah beberapa fasilitas seperti toko cinderamata, perpustakaan, juga cafe dan apabila memungkin ditambah dengan fasiltas IT/ruang putar video tak kalah penting adalah sosialisasi MUSEUM kepada anak2 sekolah (dulu ada wajib kunjung), remaja n juga dikalangan generasi muda, mudah2an walaupun anggaran museum menggunakan Anggaran Negara/Daerah, tetapi yang penting bagaimana dikelola secara profesional dengan SDM yang handal, mari kampanyekan ‘tuk mengunjungi museum !!! .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: