Kecenderungan Belanja Wisman dan Masa Tinggalnya


Menurut data statistik wisman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) maupun Badan Pusat Statistik (BPS) kunjungan wisman di tahun 2011 mencapai 7.649.731 dibanding tahun sebelumnya sejumlah 7.002.944 yang berarti mengalami kenaikan 9,24%. Demikian juga halnya dengan belanja wisman (tourist expenditure) selama kunjungannya rata-rata sebanyak US$ 1.118,26 yang juga menunjukkan kenaikan, meskipun tidak terlampau tinggi, yaitu sebesar 2,99%. Dalam hal pengeluaran per hari juga menunjukkan kenaikkan dari US$ 135,01 menjadi US$ 142,69, naik dengan US$ 7,68 atau 5,69%.

Tourism Balance

Keseimbangan Neraca Pariwisata

Dengan demikian, walau disertai penurunan masa tinggal rata-rata dari 8,04 hari pada tahun 2010 menjadi 7,84 hari tahun 2011 (turun 2,49%), penerimaan devisa dari pariwisata secara total, juga menunjukkan kenaikan bahkan dua digit yaitu 12,51%, yaitu dari US$ 7.603,45 juta menjadi US$ 8.554,39 juta. Hal itu logikanya disebabkan kenaikan dua unsur pendapatannya, yaitu jumlah wisman dan besarnya belanja rata-rata mereka, yang “mampu” mangatasi akibat turunnya masa tinggalnya yang berkurang 0,2 hari.

Masa Tinggal Wisman cenderung menurun

Adapun yang sangat menarik untuk diamati dalam hal ini adalah, bahwa penurunan masa tinggal wisman itu tidak hanya terjadi pada tahun 2011. Mari kita tengok agak jauh ke belakang, ke tahun 2001. Sementara perolehan devisa dari pariwisata selama dekade terakhir, menunjukkan kenaikan dengan 58,52%, dari US$ 5,396.26 juta di tahun 2001, menjadi US$ 8,554.39 juta pada tahun 2011, nampaknya masa tinggal rata-rata wisman justru memerlihatkan gejala menurun dari 10,49 hari di tahun 2001 menjadi 9,79 hari pada tahun 2002, dan menurun lebih lanjut, kecuali tahun 2006 naik dengan 0,04 hari dan tahun 2010 naik dengan 0,35 hari.
Jika dirunut dari tahun 2001, maka selama dekade terakhir ini masa tinggal wisman itu telah menunjukkan penurunan sebesar 25,26%. Penurunan masa tinggal wisman itu, agaknya dipengaruhi oleh berbagai peristiwa global, baik yang terkait masalah politik, ekonomi, maupun peristiwa lainnya seperti berjangkitnya penyakit tertentu beberapa tahun lalu.
Pengaruh tekanan ekonomi beberapa negara besar, Amerika Serikat dan Eropa khususnya, yang melanda dunia terutama dalam tiga tahun terakhir (2008-2011) banyak berpengaruh pada perilaku pasar yang cenderung berubah sebagai berikut.

  • Wisman jarak jauh cenderung memilih perjalanan jarak menengah bahkan jarak dekat;
  • Wisman jarak menengah maupun jarak dekat pun cenderung membatasi belanja pernak pernik yang kurang perlu;
  • Kecenderungan umum menunjukkan perjalanan wisman banyak memilih penerbangan dan akomodasi yang relatif lebih murah;
  • Untuk mengatasi biaya perjalanan yang semakin mahal, mereka memilih memperpendek masa tinggal.
  • Di samping itu perkembangan harga setempat (misalnya  inflasi di tanah air kita, stabilitas kurs valuta asing terhadap Rupiah dll.) akan turut juga berpengruh.

Kenaikan belanja wisman tahun 2011 sebesar 5,69% dari tahun 2010, boleh jadi akibat tingkat inflasi yang terjadi di tanah air selama tahun 2010, yang agaknya perlu kajian lebih lanjut.
Hal lainnya yang perlu mendapat kajian sungguh-sungguh agar pendapatan pariwisata itu benar-benar membawa manfaat yang positif terhadap ekonomi nasional adalah:

  • Berapa jauh perkembangan arus warga/penduduk Indonesia sendiri yang melakukan perjalanan ke luar negeri (outbound);
  • Berapa besar mereka membelanjakan uangnya di luar negeri;
  • Berapa besar devisa yang digunakan untuk membiayai “kebutuhan” wisman dan kepariwisataan secara umum yang harus diimport;
  • Berapa besar arus devisa yang keluar lagi untuk pembayaran-pembayaran lainnya, seperti untuk kegiatan promosi, dll., baik yang dilakukan pemerintah maupun kalangan industri pariwisata untuk royalti, bunga bank dan membayar kewajiban-kewajiban lainnya di luar negeri, dsb., dsb.
  • Akhir-akhir ini ada kecenderungan beberapa negara (exportir ke negara-negara Eropa) yang berupaya meningkatkan konsumsi dalam negerinya untuk memertahankan laju pertumbuhan ekonominya berkenaan dengan gejolak keuangan di Eropa, khususnya zona Eropa, yang berpotensi mengganggu volume export negara yang bersangkutan ke Eropa. Hal ini berpotensi  mengurangi kemampuan warga negara yang bersangkutan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri.

Kesemuanya itu tidak mustahil mengakibatkan neraca pariwisata kita malah mengalami defisit. SEMOGA SAJA TIDAK TERJADI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: