Aspek Permintaan Pariwisata | Lanjutan


Sebagaimana diutarakan dalam artikel terdahulu bahwa besarnya Permintaan Potensial Pariwisata tergantung pada berbagai unsur, antara lain:

  • Jumlah penduduk (population size) suatu negara atau wilayah pasar;
  • Kemampuan rata-rata ekonomi (economic mean), berupa pendapatan rata-rata penduduknya (income per capita);
  • Faktor waktu, utamanya waktu luang (leisure time) yang mereka miliki;
  • Intensitas bepergian (travel intensity) masyarakat negara yang bersangkutan;

Berikut ini informasi potensi permintaan pariwisata yang berhasil dikumpulkan menunjukkan bahwa pasar pariwisata Eropa masih menunjukkan potensi yang sangat besar.

Potensi Permintaan Pariwisata Eropa

Travel Intensity Europe

Table-I

Seperti tertera dalam Tabel-I menunjukkan bahwa:

  1. Jerman merupakan Negara berpenduduk terbesar di Eropa berjumlah 82,1 juta dengan tingkat pendapatan per kapita (GDP/capita) sebesar US$ 40.631 per tahun, dan tiap 1000 penduduk (usia 15 tahun ke atas) melakukan 712 perjalanan ke luar negeri (yang lamanya 4 hari atau lebih) dalam setahun (2010);
  2. Dari informasi lainnya diketahui bahwa penduduk Jerman yang melakukan liburan panjang (4 hari dan lebih) ke luar negeri hanya 26,4% dari total 221.407 perjalanan yang dilakukan penduduk, 6,1% lainnya melakukan liburan pendek (1-3 hari), sisanya sejumlah 67,6% melakukan perjalanan liburannya di dalam negeri;
  3. Sementara Luxembourg dengan jumlah penduduk terkecil, sekitar 500 ribu, berpendapatan US$ 108.832 setahun. tiap 1000 penduduknya melakukan 1530 perjalanan ke luar negeri (sedikitnya 4 hari). Itu artinya tiap penduduk usia 15 tahun ke atas melakukan sedikitnya 1,5 perjalanan ke luar negeri atau lebih dari satu kali dalam setahun;
  4. Berbeda dengan penduduk Jerman, penduduk Luxembourg melakukan perjalanan dalam negeri, baik pendek maupun perjalanan panjang masing-masing tidak lebih dari 1.0%. Sedangkan perjalanan ke luar negeri dalam liburan pendek meliputi 38.0% dan liburan panjang 61.7%;

Perihal rincian negara-negara lainnya dapat dicermati dari Tabel-I di atas. Namun demikian, masih perlu dikaji lebih lanjut perihal berapa persen dari liburan panjang yang mereka lakukan tersebut bersifat jarak jauh (long haul), mengingat data tersebut di atas merupakan gambaran umum yang meliputi baik jarak pendek (short haul), jarak menengah (medium haul) maupun jarak jauh (long haul).
Tabel-I , yang menampilkan pasar Eropa, merupakan contoh salah satu alat dalam mempelajari dan menganalisa potensi pasar (market potential) atau permintaan potensial (potential demand) bagi produk pariwisata. Untuk melengkapi informasi potensi permintaan pariwisata perlu dilakukan survey / observasi melalui berbagai sumber, baik secara sekunder maupun primer, baik offline maupun oline. Melalui jaringan internet, dewasa ini dapat kita peroleh berbagai data sesuai kebutuhan kita. Namun demikian untuk melengkapi Tabel-I, belum berhasil diperoleh data tentang “waktu luang” (leisure time) yang mereka miliki, yang berupa informasi mengenai hak cuti dari penduduk negara-negara pasar pariwisata.
Tourism Potential MarketData lainnya yang diperoleh, – dihimpun dalam satu e-book terlampir, memberikan informasi kepada kita tentang perjalanan ke luar (outbound) dari berbagai negara, yang sengaja dipilih atas dasar penilaian sebagai pasar potensial bagi pariwisata Indonesia.
Semoga informasi ini bermanfaat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan pariwisata

Selain faktor-faktor yang telah disebut di atas tadi, masih banyak faktor lainnya yang mempengaruhi permintaan terhadap pariwisata secara langsung maupun tidak langsung, antara lain:

  • Kondisi ekonomi global. Secara umum kondisi ekonomi global sedikit banyaknya akan mempengaruhi minat untuk melakukan perjalanan, terutama jarak jauh, yang pada umumnya menuntut biaya yang relatif tinggi. Seperti yang terjadi jika terjadi gangguan terhadap harga bahan bakar minyak secara global. Bahkan kondisi seperti yang terjadi ketika krisis moneter melanda dunia, serta krisis financial Amerika dan Eropa akhiur-akhir ini;
  • Kondisi ekonomi negara asal wisatawan (country of Origin). Seperti yang terjadi akhir-akhir ini di mana beberapa negara Eropa mengalami krisis keuangannya, tidak dapat kita mengharapkan banyak dari penduduknya untuk bepergian jauh, berhubung dengan kemampuan import negara bersangkutan yang terpaksa dikurangibaahkan tidak mustahil dihentikan, mengingat bepergian ke luar negeri berarti meng-“import jasa pariwisata”.
  • Kondisi ekonomi negara tujuan wisata (destination country). Indonesia mengalami hal ini beberapa kali, seperti dalam dekade 1960-an dimana ekonomi kita mengalami inflasi sampai melebihi 600%, kepariwisataan kita hampir tidak ada yang melirik. Padahal ketika itu pemerintah bertekad mengembangkan kepariwisataan sejak 1958 dan termasuk dalam Rencana Pembangunan Semesta Berencana;
  • Kondisi politik global. Adanya peperangan, bahkan sekedar ketegangan yang terjadi antar negara di dunia tidak mustahil akan mengurangi minat perjalanan jarak jauh, terutama jika perjalanannya itu harus melalui wilayah negara yang bersitegang tersebut;
  • Kondisi politik di negara asal wisatawan. Hal ini juga memberikan pengalaman kepada kita bahwa negara yang politiknya sedang terganggu, sangat dapat dimengerti jika penduduknya hampir tidak ada yang bepergian ke luar negeri.
  • Kondisi politik di negara tujuan wisata. Kerusuhan dan huru-hara yang terjadi di tahun 1998, terrorisme yang terjadi di Indonesia menghasilkan beberapa Travel Advice bahkan Travel Warning dari beberapa negara untuk tidak berkunjung ke Indonesia.
  • Berjangkitnya penyakit menular, baik di negara asal wisatawan maupun negara tujuan, menunjukkan kepada kita pengaruhnya terhadap berkurangnya wisatawan;
  • Adanya produk wisata negara lain (produk pengganti/pesaing = susbtitute) yang lebih menarik dalam hal kualitas maupun harga serta upaya pemasarannya yang berhasil “mengungguli” produk kita. Perlu dicatat, bahwa persaingan tidak hanya datang dari produk pariwisata atau jasa lainnya, melainkan juga dari produk barang tahan lama (durables, terutama yang bernilai aset seperti mobil, sebagaimana yang pernah terjadi di Eropa pada tahun 1982 di saat BBM mengalami lonjakan harga yang menekan ekonomi rumah tangga yang pada gilirannya penduduk Eropa banyak yang menunda liburan agar dapat “menukar” kendaraannya dengan  yang hemat BBM).
  • Upaya pemasaran kita sendiri. Faktor ini merupakan satu-satunya faktor yang sebetulnya dapat kita kendalikan (berada dalam kekuasaan kendali kita), sehingga keberhasilan kepariwisataan juga banyak tergantung pada upaya dan jerih payah kita sendiri, yang dilakukan secara bersama bahu-membahu, saling menunjang satu dengan lainnya antara Pemerintah (Pusat dan Daerah) dan antar sektoral, masyarakat industri pariwisata dan industri lainnya serta masyarakat pada umumnya.

Namun demikian, keberhasilan kepariwisatan tidak melulu dipengaruhi faktor-faktor tersebut, melainkan juga oleh berbagai faktor lainnya baik yang menunjang maupun menghambat dalam perencanaan, pembinaan, pengambangan di sisi produknya. Mengingat bahwa kepariwisataan terdiri dari berbagai jasa yang berada di bawah kewenangan lintas sektoral dan multi disiplin, maka penanganannya pun memerlukan pemikiran dan pertimbangan secara menyeluruh (holistic).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: