Kawasan Batur masuk Global Geopark Network


Dalam Konferensi Taman Bumi Eropa (European Geopark Conference) 19-21 September 2012, di Arouca – Portugal, Global Geopark Network, suatu organisasi bentukan UNESCO (United Nations Education, Social and Culture Organization) telah menyetujui Kawasan Gunung & Danau Batur di Bali sebagai salah satu Kawasan dalam Jaringan Taman Bumi Dunia (Global Geopark Network) yang kemudian secara resmi diumumkan kepada khalayak umum 15 November 2012.
Mount Batur, BaliBersama dengan 3 Geopark dari negara lainnya, di tahun 2012, kawasan Gunung Batur ditetapkan sebagai salah satu Geopark dalam Jaringan Taman Bumi (Global Geopark Network). Dengan demikian, saat ini Geopark dalam Jaringan tersebut mencapai jumlah 91.
Bagi Indonesia, Batur Geopark merupakan Geopark yang pertama diakui dunia, padahal Indonesia memiliki sekian banyak geopark. Namun demikian, unsur kebudayaan yang melekat pada kawasan Batur ini yang membuatnya terpilih, di samping perannya dalam upaya pembangunan berkesinambungan (sustainable development) bagi masyarakat setempat.
Situs yang diberi label Geopark setidaknya memiliki struktur pengelolaan yang efektif dan batas wilayah yang tegas dan jelas, meliputi wilayah cukup luas yang memberi peluang pembangunan ekonomi berkesinambungan, terutama melalui kepariwisataan.
Danau Batur dikenal sebagai sumber pengairan (water irrigation) masyarakat Bali bagi ribuan hektar persawahan berbentuk teras dalam sistem Subak yang telah berlangsung berabad-abad dan memberikan keindahan pemandangan khas sebagai satu kesatuan dengan kebudayaan dan keagamaan bagi Bali. Kekhasan Pemandangan Subak Bali sendiri, belum lama ini diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage).

Alam sebagai Unsur Daya Saing Pariwisata

Ditinjau secara keseluruhan, di tahun 2011 Indonesia menempati posisi lebih baik dibanding tahun 2009, yaitu ke-74 dunia (2011) di antara 139 negara, semula ke-81 dunia (2009) di antara 133 negara; ke-13 di antara 26 negara Asia-Pasifik (2011), semula (2009) ke-15 di antara 25 negara; sementara di ASEAN menduduki tampat yang sama (2011 & 2009), ke-5 di antara 8 negara. Perlu diketahui bahwa di antara 10 negara ASEAN, hanya 8 negara yang ikut dinilai.
Dengan ditetapkannya Kawasan Gunung Batur dalam Global Geopark Network, maka unsur kriteria penilaian kekayaan alam dalam daya saing pariwisata Indonesia diharapkan menjadi lebih baik di masa depan.
Kedudukan daya saing Indonesia dalam hal Sumber Daya Alam (Natural Resources) sebagai salah satu unsur daya saing pariwisata menempati urutan ke-17 dunia (urutan-I di ASEAN) di tahun 2011. Hal ini dinilai dari banyaknya Warisan Alam Dunia (World Natural Heritage) di posisi ke-10 (pertama di ASEAN) , dengan 5 Kawasan Taman Nasional milik Indonesia yang diakui dunia, dan sejumlah Suaka Alam (Protected Area), – dalam hal ini Indonesia menempati urutan ke-85  sementara Brunei, Cambodia, Thailand dan Malaysia menduduki urutan lebih baik – masing-masing di tempat ke-9, 19, 30 dan 41 -,  dan dalam hal Kualitas Lingkungan Alam, Indonesia menduduki tempat ke-100 (di ASEAN, ke-2 dari bawah setelah Vietnam ke-132), Brunei ke-20, Singapura ke-21, Malaysia ke-41, Thailand ke-76, Cambodia ke-85 dan Philippine ke-93). Sementara itu dalam hal Jumlah Spesies Yang Terkenal (Total known species), Indonesia menempati posisi ke-4 Dunia atau urutan-I di ASEAN.

Unsur Daya Saing Kebudayaan

Penilaian atas Kawasan Batur dalam Global Geopark Network tidak semata-mata dilihat dari sisi fisiknya saja, melainkan juga dari sisi perannya dalam kehidupan budaya masyarakat Bali pada umumnya dan khususnya masyarakat setempat di sekitar Danau dan Gunung Batur.
Dengan demikian, kawasan Geopark Batur dinilai dalam suatu kesatuan (entity) dengan kehidupan masyarakat sekitarnya secara keseluruhan.
Penilaian daya saing kepariwisataan 2011 (WEF), menempatkan faktor sumber daya kebudayaan (cultural resources) Indonesia pada posisi ke-39 di dunia, atau ke-5 di ASEAN, terkalahkan oleh Singapura (ke-30 dunia, ke-1 ASEAN), Thailand (ke-32 dunia, ke-2 ASEAN), Malaysia (ke-33 dunia, ke-3 ASEAN) dan Vietnam (ke-36 dunia, ke-4 ASEAN). Dalam hubungan ini Indonesia akan terkalahkan dalam berbagai hal oleh negara-negaan ASEAN, mengingat unsur daya saing tersebut dinilai secara relatif, baik terhadap jumlah penduduk maupun terhadap luasnya area suatu negara yang disandingkan bersama-sama. Namun demikian banyak di antara kekayaan alam dan budaya Indonesia yang sebetulnya layak mendapatkan “pengakuan” dunia secara resmi seperti halnya dengan pengakuan terhadap wayang (2008), keris (2008), batik (2009) dan angklung (2010) sebagai warisan dunia “tak terjamah” (The World Intangible Heritage). Maka timbullah pertanyaan: “Apa lagi yang akan menyusul dan kapan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: