Wisata Nusantara dan Wisata Nasional – Lanjutan


Dalam artikel terdahulu diuraikan tentang pemahaman kepariwisataan yang direkomendasikan oleh WTO untuk digunakan oleh anggotanya, khususnya dalam kaitan dengan penyusunan dan penyajian statistik kepariwisataan negaranya dengan menggunakan kriteria yang seragam tentang berbagai jenis dan bentuk kepariwisataan. Demikian juga bagi Indonesia berlaku hal yang sama.

Forms OfTourism_6.08Sebagai konsekuensi dari adanya pemahaman tersebut, maka agaknya perlu ditegaskan pemakaian istilah yang sesuai dengan pemahaman tersebut, agar tidak berlaru-larut dan menjadi salah kaprah.
Penegasan tersebut dipandang perlu tentang yang dimaksud dengan istilah (berikut pengertiannya), bahwa kegiatan yang terkait dengan Wisatawan Nusantara, – yang melakukan wisata di Tanah Air (wisnus) -, sebagaimana yang kita fahami selama ini merupakan padan kata dari Home Tourism, bukan lagi sebagai padan kata dari Domestic Tourism yang padan katanya adalah Pariwisata Domestik (Wisata domestik, Kepariwisataan domestik) mengingat Pariwisata Domestik bukan melulu Pariwisata Nusantara (Home Tourism), melainkan juga meliputi Inbound Tourism yang melibatkan wisman yang sedang berada dalam perjalanan di Tanah Air ini.
Sementara itu dengan pemahaman tersebut di atas, membawa konsekuensi juga pada perhitungan tentang Wisatawan Nusantara (wisnus), mengingat wisnus, menurut definisi tersebut tidak hanya meliputi warga Indonesia, melainkan meiputi semua penduduk yang melakukan perjalanan di dalam negeri, – termasuk warga asing yang tinggal di Indonesia (foreign residents), kalau melakukan perjalanan di dalam negeri, maka dinilai sebagai wisnus. Dasar kriterianya adalah “penduduk” bukan kewarganegaraan.
Maka, dalam hal perhitungn dan penyusunan statistik wisatawan pun status kependudukan wisatawan menjadi penting dibanding dengan status kewarganegaraannya. Di dalam statistik pariwisata, yang dimaksud dengan Negara Asal Wisatawan (Country of Tourist Origin), lebih condong pada Negara Tempat Tinggalnya (Country of Residence) bukan kewarganegaraannya (nationality). Hal ini ada kaitannya dengan potensi negara yang bersangkutan sebagai pasar pariwisata.
Demikian juga halnya dengan Wisatawan Nasional (wisnas), bukan saja meliputi penduduk WNI melainkan juga warga asing yang tinggal di Indonesia, yang melakukan perjalanan baik di dalam maupun ke luar negeri diperhitungkan sebagai Wisatawan Nasional (wisnas).

Adapun definisi yang dikemukakan oleh WTO tersebut dilihat dari sisi permintaan (demand) dan untuk maksud-maksud statistik pariwisata semata, serta ditinjau dari segi 1. wisata yang dilakukannya, 2. pelaku wisata dan 3.  konsumsi yang terjadi. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas, lihat Tabel di atas.
Selain itu ditetapkan pula, bahwa semua kategori pelaku perjalanan (travellers) yang termasuk dalam judul pariwisata (tourism) disebut sebagai pengunjung (visitors), mengingat bahwa istilah PENGUNJUNG (VISITORS) merupakan konsep dasar untuk keseluruhan sistem statistik pariwisata. (Di Indonesia lebih sering disebut WISATAWAN ketimbang PENGUNJUNG).
Oleh karena itu, dibedakan pula di antara dua kategori besar travellers yaitu antara pengunjung (Visitors) dan pelaku perjalanan lainnya (other travellers).
Di Indonesia pun hendaknya perlu dibedakan antara WISATAWAN (TRAVELLER), PARIWISATAWAN (TOURIST)  dan PENGUNJUNG/TAMU (VISITOR).

Selain istilah dan pengertian PENGUNJUNG (VISITOR) dibagi dua terdiri dari TOURIST dan EXCURSIONIST, PENGUNJUNG (VISITOR) juga dibedakan dari WISATAWAN pada umumnya (other TRAVELLER). Ada tiga kriteria dasar yang membatasinya.

  1. Perjalanan yang dilakukannya haruslah ke tempat di luar lingkungannya yang biasa (usual environments), yang berarti tidak termasuk tempat tinggalnya dan tempat yang sering dikunjunginya secara teratur di mana dia melakukan pekerjan atau studi;
  2. Tinggalnya di tempat yang dikunjunginya kurang dari waktu tertentu di mana dia tidak akan termasuk yang disebut sebagai ‘penduduk’ tempat tersebut, baik dilihat secara statistik maupun secara hukum;
  3. Maksud utama dari perjalanannya tidak untuk melakukan kegiatan yang mendapat bayaran dari tempat yang dikunjunginya, tidak termasuk pergerakan migrasi untuk maksud pekerjaan.

Penekanan pada ‘usual environments‘ dimaksudkan untuk memilah pengunjung ulang-alik (commuter) yang berkunjung tiap hari atau tiap minggu dari rumahnya ke tempat kerja atau studi atau tempat lain yang acapkali dikunjungi.
Sementara itu, untuk maksud-maksud statistik, yang membedakan antara TOURIST dan EXCURIONIST adalah masa tinggalnya minimum di negara atau tempat yang dikunjunginya.
Pengunjung_6.08Dalam Ketentuan Umum UU no.10/Th.2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan Wisata adalah ‘Kegiatan yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara’. Sedangkan Wisatawan adalah ‘Orang yang melakukan wisata’ (Tourist). Untuk Excursionist tidak terdapat definisinya dalam UU Kepariwisataan tersebut. Oleh karena itu di sini digunakan istilah ‘pelancong’*). Lihat juga Artikel beberapa waktu yang lalu.

*) R.S.Damarjati, Istilah-istilah Dunia Pariwisata, Pradnya Paramita – Jakarta, 1973.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: