Pertumbuhan Kepariwisataan Indonesia 2012


Pada tahun 2009 kedatangan wisman ke Indonesia baru mencapai 6.323.730 kunjungan (+1,43% dari tahun sebelumnya yaitu 6.234.497 dan hanya merupakan 79% dari target 8 juta).
Tahun 2012, setelah 3 tahun berselang, pencapaian kedatangan wisman tercatat 8.044.462 kunjungan yang menunjukkan kenaikan sebesar 5,16% dari tahun 2011 yang mencapai 7.649.731. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2003-2012), kunjungan wisman menunjukkan pertumbuhan sebesar 80,09%.

Masa Tinggal Rata-rata

Peta Indonesia_3Sejak tahun 2009 hingga 2012 masa tinggal rata-rata wisman menunjukkan kecenderungan yang menurun, sementara pengeluaran (expenditure) mereka per hari/orang menunjukkan trend meningkat walau relatif kecil, hal ini menunjukkan kepada kita bahwasanya biaya tinggal di Indonesia relatif semakin mahal sejak tahun 2009 s/d 2012, di samping biaya perjalanan secara keseluruhan pada tingkat internasional semakin mahal.
Tahun 2009 rata-rata masa tinggal 7,69 hari (-10,37% dari tahun 2008, yaitu 8,58 hari), tahun2010 meningkat menjadi 8,04 hari dan menurun lagi pada tahun 2011 menjadi 7,84 hari dan tahun 2012 turun lagi menjadi 7,70 hari. Dengan demikian, masa tinggal rata-rata selama 10 tahun terakhir mengalami penurunan sebesar -20,54%.

Perolehan Devisa

Perolehan devisa dari pengeluaran wisman mengalami penurunan pada tahun 2009 dibanding tahun 2008 sebesar -15,49%, dari USD.1178,54 juta di tahun 2008 menjadi USD.995,93 juta di tahun 2009.
Di tahun berikutnya 2010, meningkat kembali menjadi USD.1085,75 juta, tahun 2011 USD.1118,26 juta dan USD.1133,81 juta pada 2012, dengan persentase pertumbuhan yang cenderung menurun. Hal ini agaknya seiring dengan menurunnya masa tinggal.
Walaupun persentase pertumbuhan pengeluaran mereka cenderung semakin kecil (deminishing increament), yaitu pada 2010 sebesar 9,02%, 2011 tumbuh hanya dengan 2,99% dan 2012 pertumbuhannya semakin kecil, yakni dengan 1,39%, namun ada satu hal yang menggembirakan yaitu bahwa secara absolut perolehan devisa pariwisata dari tahun 2010 s/d 2012 meningkat dengan meyakinkan, yaitu dari USD.6297,99 juta tahun 2009 (yang turun dari 2008 -14,63%), meningkat +20,73% pada 2010 menjadi USD.7603,45 juta, tahun 2011 tumbuh dengan +12,51% menjadi USD.8554,39 juta dan tahun 2012 naik dengan +5,81% mencapai USD.9051,40 juta.
Sehingga dengan demikian, selama 10-tahun terakhir ini (sejak 2003), jumlah perolehan devisa wisman menunjukkan pertumbuhan sebesar 124,21%; dan pengeluaran per hari/orang tumbuh sebesar 57,84%; serta pengeluaran per kunjungan/orang tumbuh sebesar 25,46%.

Strategi Pemasaran versus Pengembangan Destinasi

Jika Anda perhatikan dari renstra pemasarannya, banyak hal yang masih perlu dikaitkan dengan strategi pengembangan dan pembinaan destinasinya, mengingat dewasa ini masih banyak destinasi yang “belum siap” menampung wisman dalam skala lebih besar dari yang dewasa ini berlangsung, walaupun jika dilihat dari sisi daya tampung akomodasi, secara fisik banyak yang mampu melayaninya, kecuali segi qualitas pelayanannya yang masih perlu banyak diperbaiki dan ditingkatkan di sana-sini. Di samping itu dukungan daya angkut perhubungan udara masih banyak yang belum memadai untuk mecapai destinasi-destinasi yang disebutkan dalam renstra tersebut, seperti Raja Ampat, Entikong, Komodo, perbatasan Papua, dan seterusnya.
Jika masalah daya angkut (terutama perhubungan udara) antar destinasi yang dimaksud dalam renstra itu tidak berjalan seiring bersama pemasarannya, bahkan seharusnya sudah lebuh dahulu, pertumbuhan kunjungan wisman ke Indonesia, tidak akan berlangsung lebih pesat daripada dewasa ini yang cenderung mengikuti pertumbuhan trend “natural” belaka, untuk mencapai target-target spektakuler seperti 10 juta wisman tahun 2015?
Sebagai gambaran (data BPS Feb. 2013), dewasa ini kedatangan wisman (langsung) dari luar negeri lebih terkonsentrasi (76,77%) di tiga bandara internasional (Soekarno Hatta, Polonia dan Ngurah Rai); 17 Daerah lain 17,30% dan Daerah lain sisanya 5,93%.
Meskipun demikian, kiranya perlu dicatat, bahwa wisman yang datang melalui tiga besar tersebut bukan berarti tidak “singgah atau berkunjung” ke Daerah lain, namun jika kemudahan perhubungan udara “antar destinasi” itu lebih baik dan lebih kerap, maka jangkauan “penyebaran” wisman  ke/dari sesama destinasi dapat berlangsung lebih luas dan lebih hemat waktu, sehingga diparkirakan dapat mempercepat pertumbuhan kunjungan wisman, serta membuat biaya perjalanan liburan di Indonesia semakin lebih bersaing.

2 Responses

  1. Menarik sekali diakhir tulisan disebutkan, kalau hanya mengikuti trend yang biasa-biasa aja alias natural, akan mengalami kesulitan untuk mencapai target 15 juta wisatawan ditahun 2015, sebetulnya selain jaringan penerbangan keberbagai daerah tujuan diperluas dan dipermudah, kesiapan yang lebih penting adalah bagaimana menyiapkan SDM yang benar handal dan punya visi plus nurani dalam mengembangkan Pariwisata ditanah air, tentunya perlu diadakan kerja sama dengan institusi pendidikan, agar strategi pemasaran bisa dijalankan sesuai dengan RENSTRA PARIWISATA.

    • Betul pak, kita perlu terobosan di bidang perhubungan (khusunya udara) antar destinasi yang terhubung dengan growth center di sekitar kita, sehingga paket antar destinasi bisa saleable.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: