Pengertian Istilah Industri Pariwisata


Dalam pembahasan tentang kepariwisataan, acapkali disebut-sebut istilah industri pariwisata. Banyak pihak yang hampir tidak bisa menerima pariwisata sebagai industri, padahal banyak literatur pariwisata di awal dasawarsa 1960-an sudah menyebutkan pariwisata sebagai industri.
Pemahaman tentang istilah “industri” itu sendiri dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang.

Pengertian Industri

  1. Bila kita mendengar istilah “industri” selalu dihubungkan dengan pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu “proses produksi” yang menghasilkan suatu produk, baik dalam kaitan perubahan bentuk, peningkatan nilai maupun kegunaannya.
  2. Namun dalam beberapa hal, istilah “industri” diartikan juga dalam Unsur Industri Pariwisatapengertian lebih modern: Sekumpulan usaha bidang produksi yang menghasilkan produk (barang atau jasa) yang sejenis. Misalnya industri ban, industri kimia, industri pharmasi, industri kertas, industri textil, industri perhotelan, industri catering (hidangan makan/minum), dsb.
  3. Di samping itu, istilah “industri” juga dapat diterapkan sebagai sebutan terhadap kelompok usaha produksi dengan proses yang sama, seperti industri batik, industri tenun, industri rekaman, industri tata busana (fashion), dsb. yang dewasa ini mendapat tempat dalam “industri kreatif”.

Industri Pariwisata

Dihubungkan dengan pengertian di atas, maka:
Industri Pariwisata, dapat diartikan sebagai: Sehimpunan bidang usaha yang menghasilkan berbagai jasa dan barang yang dibutuhkan oleh mereka yang melakukan,- atau berada dalam -, perjalanan.
Secara nyata, seseorang yang berada dalam perjalanan membutuhkan barang dan jasa dari berbagai bidang usaha, bukan hanya satu, sekurang-kurangnya ia membutuhkan jasa angkutan, jasa akomodasi, jasa hidangan ditambah dengan jasa-jasa lain yang erat hubungannya dengan kebutuhan kunjungan
/perjalanannya.
Terkadang istilah industri diasosiasikan dengan “asap”, sehingga “industri kepariwisataan” yang tidak menimbulkan asap itu, disebut sebagai “industri tanpa asap” (smokeless industry).
Bila barang dan jasa tersebut dihimpun/dipersatukan dalam bentuk satu program perjalanan, dengan dibatasi oleh dimensi ruang (jarak, tempat) dan dimensi waktu, maka akan terbentuk suatu produk daripada “Industri Pariwisata”. Kesatuan produk pariwisata ini lazimnya ditawarkan dalam bentuk “paket” (package), meskipun tidak menutup kemungkinan untuk wistawan menghimpun sendiri masing-masing “komponen / unsur” tersebut, dengan cara merakitnya sendiri, ibarat seseorang yang merakit komputer dengan membeli komponen-komponennya masing-masing secara terpisah.

Pengakuan atas Pariwisata sebagai “Industri”

Pada akhir dekade 1960-an, Pemerintah DKI Jakarta sudah menggunakan definisi Industri Pariwisata yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah No. 3, tahun 1969 (yang mungkin sekali saat ini sudah diubah), yaitu sebagai berikut:
Industri Pariwisata, adalah usaha penyelenggaraan pelayanan untuk lalulintas kepariwisataan dengan maksud mencari keuntungan di bidang akomodasi / perhotelan, kebudayaan, perestoranan, rekreasi dan hiburan, atraksi kebudayaan, biro perjalanan, usaha kepramuwisataan (guide business), usaha-usaha cenderamata (souvenir), usaha-usaha penerbitan kepariwisataan, penyelenggaraan tour dan perdagangan valuta (money changer).

Sementara itu, Undang-undang Kepariwisataan No.10/Th. 2009, menetapkan definisi Industri Pariwisata, sebagai berikut:
Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.
Ini merupakan bukti nyata yang mengisyaratkan “pengakuan” resmi atas Pariwisata sebagai Industri.

Sedangkan, pengertian yang pada umumnya difahami masyarakat global, tidak ditemukan definisi resmi, baik yang ditetapkan oleh UNWTO (United Nations World Tourism Organiation – UNWTO -, yaitu Badan Kepariwistaan Dunia dibawah naungan PBB), maupun lembaga internasional pariwisata lainnya.
Namun demikian, terdapat penjelasan atas pertanyaan di bawah ini, pada halaman FAQ (Frequent Asked Questions) dalam situs UNTWO, seperti berikut:

Tanya: Apakah perbedaan antara “Sektor Pariwisata” dan “Industri Pariwisata”? (What are the differences between the “tourism sector” and “tourism industries”?)

Jawab:
Sektor Pariwisata adalah: Sekumpulan unit produksi dalam industri berbeda yang menyediakan barang dan jasa yang khususnya dibutuhkan para pengunjung. Industri dimaksud disebut Industri Pariwisata, karena penggunaannya oleh pengunjung menunjukkan bagian yang begitu besar atas penawaran barang dan jasa mereka (dalam keterkaitan ekonomi) yang, dalam hal ketidak-hadiran pengunjung, produksi barang dan jasa tersebut akan terhenti kehadiran dalam jumlah yang berarti.
(The tourism sector is the cluster of production units in different industries that provide goods and services typically demanded by visitors. Such industries are called tourism industries because visitor acquisition represents such a significant share of their supply of goods and services (in the economy of reference) that, in the absence of visitors, their production of these goods and services would cease to exist in meaningful quantity).

Industri Pariwisata meliputi: Akomodasi untuk pengunjung, Kegiatan layanan makanan dan minuman, Angkutan penumpang, Agen Perjalanan Wisata dan Kegiatan reservasi lainnya, Kegiatan Budaya, Kegiatan olahraga dan hiburan, dsb.
(Tourism industries include: Accommodation for visitors, Food and beverage serving activities, Passenger transportation, Travel agencies and other reservation activities, Cultural activities, Sports and recreational activities, etc.), sebagaimana yang dikemukakan dalam “Rekomendasi Internasional untuk Statistik Pariwisata, 2008” (the International Recommendations for Tourism Statistics 2008).

Penjelasan UNWTO tersebut agaknya lebih mendekati definisi yang digunakan Pemerintah DKI Jakarta sebagaimana tercantum dalam PERDA No.3/Th.1969 tersebut di atas.
Penjelasan lebih lanjut tentang industri, dikemukakan oleh S. Medlik – dalam Salah Wahab “Tourism Management” – Tourism International Press – London, 1975:
Setiap produk, baik yang nyata maupun maya yang disajikan untuk memenuhi kebutuhan tertentu manusia, hendaknya dinilai sebagai produk industri. Jika sejemput kesatuan produk hadir di antara berbagai perusahaan dan organisasi sedemikian sehingga memberi ciri pada keseluruhan fungsi mereka serta menentukan tempatnya dalam kehidupan ekonomi, hendaknya dinilai sebuah industri.
(Any product, whether tangible or intangible, that serves to gratify certain human needs, should be considered an industrial product. If a bond of product unity exists between various firms and organizations in a way that characterised their overall function and determines their place in the economic life, they should be considered an industry).

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa produk “industri pariwisata” tidak akan tercipta tanpa kehadiran wisatawan, baik wisnus maupun wisman.

3 Responses

  1. Kebetulan sekali saya sedang mencari-cari mengapa istilah industri pariwisata tidak diakui oleh sebagian orang.

    Terimakasih informasinya

  2. kalo definisi dari wisatawan industri pariwisata apaan kak,? mohon bantuan ya buat tugas makasih

    • Wisatawan adalah pemakai jasa yang dihasilkan oleh industri pariwisata.
      Separti halnya pemilik motor atau mobil adalah pemakai BAN motor atau BAN mobil yang dihasilkan oleh industri ban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: