Pergeseran Pandangan Masyarakat Atas Kepariwisataan


Upaya pengembangan kepariwisataan suatu negara pada hakekatnya bermaksud dan bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tolok ukurnya bisa terdiri dari berbagai macam kriteria.

Fluktuasi Wisman Jan-Jun 2014

Fluktuasi Wisman Jan-Jun 2014

Tidak melulu dalam bidang kesejahteraan ekonomi semata, melainkan juga dalam segi-segi kehidupan lainnya, seperti kesejahteraan sosial, budaya, jasmani, rohani, dsb. yang akhirnya bermuara pada peningkatan martabat masyarakat dan bangsa yang bersangkutan. Jika kita mengadakan kilas balik ke beberapa puluh tahun yang lalu menelusuri jejak perkembangan kepariwisataan di tanah air, maka akan kita jumpai beberapa pergeseran penilaian dan pandangan yang, pada saat itu, menghadapkan kita pada pilihan yang acapkali bertentangan antara satu pilihan dengan pilihan lainnya.

Penilaian Negatif Masyarakat

Pada awal masa pengembangan kepariwisataan di era 1950-an, banyak kalangan berpandangan yang bernada kurang setuju (negatif) dengan perkembangan yang terjadi di berbagai bidang akibat pengembangan kepariwisataan. Di Bali misalnya, kehidupan masyarakatnya yang terbiasa dengan telanjang dada, baik pria maupun wanita, dinilai – terutama wanitanya – bertentangan dengan norma agama dan ketimuran untuk di-“pamerkan” sebagai atraksi pariwisata. Padahal sejak zaman pendudukan Belanda, kehidupan masyarakat seperti itu dipandang sebagai nilai budaya asli yang menarik untuk dikenalkan kepada dunia melalui kepariwisataan. Demikian pula halnya dengan pola kehidupan “asli” di Papua termasuk “koteka”-nya dinilai sebagai keaslian yang menarik hati para wisatawan khususnya dan dunia “luar” pada umumnya. Sementara di sisi lain, Pemerintah dalam program peningkatan kesejahteraan masyarakat berupaya agar tiap orang dapat terpenuhi kebutuhannya termasuk kebutuhan sandang. Selain itu, di era tersebut, masih banyak yang berpandangan bahwa kepariwisataan dinilai sebagai bidang kerja yang “tidak sesuai” bagi para wanita, khususnya gadis, karena kepariwisataan masih dinilai sebagai bidang yang penuh maksiat, sehingga wanita – terutama gadis, yang bekerja di bidang kepariwisataan dianggap “kurang bermartabat” bahkan acapkali dinilai sebagai “wanita tidak baik” (maaf: gadis panggilan – call girl).

Indikasi Perubahan Pandangan Masyarakat

Dari saat ke saat, sedikit demi sedikit, perkembangan kepariwisataan ternyata telah banyak mempengaruhi kehidupan dan pandangan masyarakat Indonesia yang bergeser dari negatif menjadi pandangan yang positif. Dewasa ini, banyak petugas bahkan manager pemasaran, public relations – hampir semua hotel di Indonesia – adalah kaum hawa.
Bali berkembang sebagai destinasi wisata terkemuka di tanah air, bahkan di kalangan kepariwisataan dunia, Bali merupakan destinasi “pilihan” para wisatawan dari berbagai negara asal, tanpa meninggalkan keaslian budayanyanya yang merupakan keunggulan lokal walau di sana-sini dilakukan penyesuaian-penyesuaian seperlunya mengikuti kebutuhan yang timbul dari permintaan pasar, seperti penggunaan teknologi canggih dalam hal komunikasi dan transportasi dsb. termasuk di desa terpencil sekalipun. Para wanitanya pun hampir tidak dijumpai lagi yang tanpa busana di bagian atas pinggang.
Demikian pula halnya di bidang seni budaya, yang semula hampir punah. Dewasa ini banyak daerah yang menumbuh-kembangkan berbagai sumberdaya budayanya demi memenuhi tuntutan perkembangan kepariwisataan di tanah air.
Sebelum tahun 1969, banyak sanggar budaya yang gulung tikar disebabkan terbatasnya perhatian masyarakat atas pertumbuhannya, seperti ondel-ondel, lenong, srimulat dll., yang saat itu tidak mendapat peluang untuk tampil di televisi atau di muka umum, jangankan tampil di muka tamu-tamu terpandang.
Dewasa ini, hampir tidak ada Daerah yang tidak memiliki atraksi budaya yang memesona dan memikat hati wisatawan. Ini merupakan petunjuk (indikasi) atas adanya pengaruh positif kepariwisataan dalam bidang non-ekonomi. Masalah yang dihadapi Daerah dewasa ini adalah, bagaimana keunggulan lokal tersebut bisa dikemas menjadi daya tarik dan daya saing Indonesia di pentas persaingan kepariwisataan dunia.
Pergeseran nilai dan penilaian tersebut memberikan tantangan tersendiri untuk mendapatkan perhatian berbagai pihak agar mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat sebagai dampak positif dari pengembangan kepariwisataan.

Kunjungan Wisman 2014

Sementaa itu kunjungan wisman tumbuh semakin meyakinkan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) selama periode Januari-Juni 2014 menunjukkan peningkatan sebanyak 9.56% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Secara absolut jumlah kedatangan wisman selama periode Januari-Juni 2014 tersebut mencapai 4.551.522 kunjungan atau 48.42% dari target 9.4 juta (antara 9.3~9.5 juta) yang ditetapkan untuk 2014 oleh KemenPar-EK (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif). Sedangkan kedatangan wisman dalam bulan Juni 2014 dilaporkan meningkat meyakinkan dengan 13.17% dibanding dengan bulan Mei 2014. Hal ini agaknya disebabkan karena bulan Juni merupakan awal musim Liburan bagi masyarakat di belahan dunia sebelah utara (Eropa, Rusia, Jepang, AS, Korea, China dll.) yang merupakan Pasar Pariwisata potensial bagi Indonesia khususnya, ASEAN pada umumnya. Namun demikian, bulan Juni 2014  hanya mengalami kenaikan di bawah 10% yaitu sebesar 7.37% dibanding Juni 2013.
Jika dilihat selama periode tersebut, dari bulan ke bulan menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam. Dalam bulan Januari 2014 menunjukkan penurunan cukup tajam sebesar -12.50% dari bulan Desember 2013; dalam bulan Februari 2014 menurun lagi sebesar -6.69% dibanding bulan Januari 2014; bulan Maret 2014 naik cukup tajam sebesar 8.96% dari bulan Februari 2014; April 2014 turun lagi sebesar -5.13% dibanding Maret 2014; kemudian bulan Mei 2014 naik lagi dari April 2014 hanya dengan 3.58%. Seperti diutarakan di atas, kunjungan wisman bulan Juni 2014 mengalami kenaikan sebesar 13.17% dari bulan sebelumnya. (Lihat Grafik).
Dapat diharapkan bulan Juli dan Agustus akan memberikan kenaikan lagi, mengingat musim liburan masih berlangsung. Sebagaimana kecenderungan selama ini, bulan-bulan tersebut merupakan masa puncak (peak season) bagi destinasi pariwisata pada umumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: