Bersiap Menghadapi Lompatan Besar Pariwisata Indonesia


Rasa kegembiraan di kalangan pariwisata agaknya tidak dapat disembunyikan dengan tercapainya jumlah kunjungan wisman tahun 2014 yang mencapai 9.435.411 kunjuungan, yang berarti melebihi target yang ditetapkan, yaitu antara 9.30-9.50 juta.

Target 2015 BigLeap

2019 BigLeap

Pemerintahan Jokowi-JK bertekad melakukan suatu Lompatan Besar Pariwisata (Tourism Big Leap) dalam lima tahun ke depan dengan meraih sebanyak duapuluh juta wisman di tahun 2019, sebagai sasaran dalam Rencana Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, dengan target awal (2015) 10 juta yang boleh disebut sebagai target yang moderat bila dibanding dengan 9,435,411 kunjungan pada 2014 dan untuk tahun 2016 ditargetkan satu juta per bulan, yang berarti 12 juta setahun.
Menurut pandangan Caretourism, untuk mewujudkan sasaran itu bukanlah hal yang mustahil, sebab Indonesia memiliki apa yang dibutuhkannya untuk itu, seperti pasar pariwisata dunia yang “menjanjikan” – bahkan sangat menjanjikan -, keberagaman daya tarik wisata – baik alam, budaya maupun fasilitas dan atraksi ciptaan manusia (man-made) -, guna
menikmati atau menyaksikan berbagai kegiatan wisata mulai dari wisata pesiar, bisnis, edukasi, keagamaan, kesehatan, olahraga (aktif maupun pasif), konferensi dan sebagainya.
Selain itu, dewasa ini Indonesia bukanlah”pemain baru” lagi dalam kancah kepariwisataan dunia, di mana Indonesia sebenarnya telah menyiapkan diri dengan lebih sungguh-sungguh sejak pelaksanaan Repelita-I (1969/70-1973/74) dan secara perlahan dan meyakinkan pariwisata Indonesia berkembang hingga seperti sekarang ini (2014 mencapai 9.435.411 kunjungan wisman).
Dalam hal ini, kemampuan Indonesia sebagai negara destinasi wisata tidak perlu diragukan lagi, seperti yang pernah diutarakan dalam beberapa artikel Caretourism terdahulu.
Namun bagaimana pun, Indonesia masih menghadapi banyak “pekerjaan rumah” yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh untuk menyiapkan “pijakan” agar lompatan besar tersebut mencapai sasaran yang telah ditetapkan serta terwujud sebagaimana diharapkan.

Persebaran Wisman Antar Destinasi

Pengambilan judul artikel yang menyebutkan tekad pemerintah tersebut di atas sebagai suatu lompatan besar bukanlah tanpa alasan, mengingat bahwa selama 10 tahun terakhir (2004 – 2014) pertumbuhan kunjungan wisman hanya mengalami rata-rata 7.27% setahun. Sementara target RPJMN 2015-2019 tersebut mensyaratkan suatu pertumbuhan rata-rata 16.22% per tahun agar dapat mencapai 20 juta wisman pada penghujung kurun waktu 5-tahun ke depan.
Percepatan pertumbuhan kunjungan wisman ke Indonesia mengandung konsekuensi perlunya tambahan penerbangan langsung dari luar negeri ke Indonesia, di samping kesiapan destinasi itu sendiri dalam berbagai hal, antara lain kamar hotel, angkutan lokal, kesiapan pengaturan tour, tenaga trampil pariwisata termasuk kesiapan masyarakatnya selaku tuan rumah, dsb.
Seperti dapat kita lihat, bahwa sampai tahun 2013 kunjungan wisman ke berbagai destinasi di Indonesia, sebagian besar mendarat melalui 3(tiga) bandara utama (Ngurah Rai, Soekarno-Hatta, Hang Nadim). Demikian pula kedatangan wisman tahun 2014 masih menunjukkan hal yang sama, yang meliputi 78.77% dengan rincian Ngurah Rai/Bali 39.55%, Soekarno-Hatta/Banten 23.81% dan Hang Nadim/Batam 15.41%.
Sementara itu, akhir-akhir ini ada indikasi bahwa bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai akan segera mengalami hambatan untuk melayani “tambahan” kedatangan dan keberangkatan penerbangan disebabkan padatnya lalulintas udara di dua bandara tersebut.
Dengan adanya kenyataan halangan tersebut, pandangan kita perlu kita alihkan ke bandara lain untuk mengatasinya, misalnya dengan membuat Hang Nadim sebagai Point of Entry and Distribution ke destinasi/provinsi lain, bukan hanya untuk provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) semata, melainkan juga secara nasional, – minimal untuk bagian barat dan tengah tanah air.

Bandara Internasional Kualanamu

Bandara Internasional Kualanamu

Sebagaimana kita tahu, dewasa ini Indonesia telah memiliki beberapa bandara internasional lainnya yang berkelas dunia seperti halnya Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta, di antaranya yaitu Minangkabau Internasional/Sumbar, Kualanamu/Sumut, Sepinggan/Kaltim, Hasanudin/Makassar dan Bandara Internasional Lombok (BIL). Namun hingga 2014, peran bandara bersangkutan secara bersama menerima kedatangan wisman (yang langsung) hanya meliputi 4.07%, dengan rincian Kualanamu/Sumut 2.49%, Lombok 0.74%, Minangkabau/Sumbar 0.53%, Hasanudin/Makassar 0.17% dan Sepinggan/Kaltim 0.14%.
Jika bandara-bandara tersebut di atas diberdayakan sebagai Point of Entry and Distribution, maka beban Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta tidak menjadi semakin berat, sementara kedatangan dan persebaran wisman ke destinasi lain di tanah air bisa dilakukan melalui bandara-bandara tersebut, bahkan mungkin juga di kemudian hari ditambah dengan Sam Ratulangi/Menado sebagai Point of Entry sekaligus juga sebagai Point of Distribution (untuk destinasi wilayah timur).
Dengan demikian percepatan pertumbuhan kunjungan wisman, yang digadang-gadang untuk tahun 2015 sebanyak 12.0 juta (bukan 10 juta sebagaimana target semula), akan dapat cepat tercapai serta persebarannya diakomodasikan secara lebih merata seraya meringankan beban destinasi yang sudah mulai jenuh.

Kesiapan Sarana Prasarana dan Destinasi Wisata

Ditinjau dari sudut pandang karakteristiknya, produk wisata bersifat kaku/rigid (tidak mudah diubah secara sesaat) terhadap perubahan dari sisi supply maupun demand.
Perubahan di sisi supply membutuhkan waktu cukup lama, minimal 6 – 12 bulan, misalnya kebijaksanaan visa. Demikian pula perubahan disisi demand memerlukan upaya persuasi pasar dan untuk itu membutuhkan waktu pula sedikitnya juga 6 – 12 bulan.
Perubahan dalam hal penambahan kapasitas akomodasi membutuhkan waktu lebih lama lagi, minimal 2 tahun bahkan mungkin sampai lebih dari 3 tahun. Demikian juga upaya perubahan dalam hal prasarana, jalan raya, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik, penjernihan air, yang kesemuanya diperlukan untuk mendukung berkembangnya suatu destinasi.
Persebaran wisman ke destinasi yang dapat dicapai dari Batam, Padang, Kualanamu/Medan, Sepinggan/Balikpapan, Hasanudin/Makassar maupun Lombok membutuhkan keterlibatan instansi lainnya seperti Kementerian Perhubungan (darat, laut dan udara), maskapai penerbangan, Kementerian PU/Instansi PU Daerah (dalam hal jaringan jalanraya), dsb.
Dalam kaitan ini, Pemerintah telah menetapkan pembangunan sarana dan prasarana yang bakal menunjang beberapa Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang digarap mulai tahun 2015 secara sinerjik bersama Kementerian/Lembaga terkait, dalam upaya mempersiapkan peningkatan kunjungan wisatawan (baik wisman maupun wisnus), sebagaimana diberitakan oleh Kementerian Pariwisata baru-baru ini, selain akan sangat berguna bagi kegiatan ekonomi lainnya.
Di samping itu, untuk menunjang tercapainya sasaran 20 juta wisman pada tahun 2019 itu, daerah pun (di mana destinasi itu berada), agaknya perlu bersiap diri dengan kebutuhan lainnya di mana di antaranya adalah sumber daya manusia profesional bersertifikasi (certified) yang dapat diterima antar negara yang bersepakat, di hampir segala bidang yang terkait dengan industri pelayanan (hospitality industry). Apalagi tahun 2015 ini merupakan tahun diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di mana liberalisasi tenaga kerja pariwisata juga termasuk di dalamnya. Siapkah Daerah? Jika Daerah tidak siap, maka bersiaplah untuk “diserbu” tenaga kerja pariwisata dari negara lainnya. Mengapa Daerah yang harus bersiap diri?
Pada hakekatnya lokasi destinasi, kawasan wisata, obyek wisata maupun atraksinya berada di Daerah, maka logikanya, Daerah-lah yang sebenarnya memiliki obyek dan daya tarik wisata. Wahai, Daerah Tujuan Wisata di seantero Nusantara, BERSIAPLAH!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: