41-TH Pasang Surut Kunjungan Wisman


Tidak terasa masa begitu cepat berlalu. Sejak Akhir Repelita-I (1974) kepariwisataan Indonesia telah menempuh jalan panjang selama 41-tahun. Kinerja yang dicapainya pun mengalami pasang surut yang dipengaruhi berbagai faktor baik yang datang dari luar (external) maupun dari dalam negeri sendiri (internal).
Pada dasarnya faktor external secara umum berada di luar kendali kita sehingga tidak mudah untuk kita upayakan mengubahnya, walaupun dengan cara tersendiri secara logika sebenarnya dapat disiasati agar menjadi “peluang” ketimbang dibiarkan sebagai “kendala” atau “hambatan”.

Siklus Kehidupan Pariwisata Indonesia

Perjalanan panjang 41-tahun kepariwisataan Indonesia yang mengalami pasang surut itu dapat memberikan gambaran bagaimana gerangan Siklus Kehidupan Pariwisata (Tourism Life-Cycle) Indonesia itu berlangsung dengan menggunakan model Siklus Kehidupan Produk (Product Life-Cycle) pada umumnya, sebagai pembanding. Kita lihat gambarannya sebagai berikut:

  • TourismLifeCycleIntroduction Stage. Pada akhir Pelita-I (1974) Arus Kunjungan Wisman ke Indonesia baru mencapai angka 313.452 pengunjung. Sebelas tahun kemudian (1985) mencapai angka 825.035 pengunjung, dengan mencatat tingkat pertumbuhan rata-rata 8.33% per tahun. Dengan pertumbuhan yang moderat seperti itu memberikan gambaran seperti Masa Perkenalan (Introduction Stage) dalam grafik suatu Siklus Kehidupan Produk (Product Life-Cycle) pada umumnya, dengan garis kenaikannya yang “landai”.

  • Growth Stage. Pada masa sebelas tahun berikutnya (1986-1997) Kepariwisataan Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang progresif dengan tingkat kenaikan rata-rata 17,80% per tahun sehingga memberikan gambaran kenaikan yang terjal. Dalam kurun waktu 1986-1997 ini arus kedatangan wisman naik terjal dari 825.035 (th 1986) menjadi 5.185.243 (1997). Gambaran ini mengingatkan kita pada gejala Masa Pertumbuhan (Growth Stage) dalam Siklus Kehidupan Produk (Product Life-Cycle) pada umumnya.
  • Saturation Stage. Selama masa sembilan tahun berikutnya (1998-2006) Gambaran Kepariwisataan menunjukkan gejala Stagnan, di mana pertumbuhannya cenderung nihil, bahkan minus dengan rata-rata penurunan -0.302%. Gejala ini lazim terjadi pada Masa Kejenuhan (Saturation Stage), di mana tingkat pertumbuhannya berada di sekitar nol.
    Selama kurun waktu ini, kunjungan wisman yang sudah dicapai pada tahun 1998 sejumlah 5.185.243 menurun pada tahun 2006 menjadi 4.871.351 pengunjung.
    Sebagaimana kita ketahui tahun 1998 merupakan masa di mana krisis moneter global terjadi di mana Indonesia juga terimbas oleh pengaruhnya. Bahkan bagi Indonesia masa antara 1998 s/d 2006 itu boleh disebut sebagai masa yang suram, termasuk dalam bidang kepariwisataan. Hal tersebut disebabkan karena adanya berbagai peristiwa yang terjadi baik secara global (external) maupun secara nasional (internal).
    Pada tahun 1998 terjadi gejolak sosial-politik (huru-hara Mei 1998) yang diawali dengan terjadinya tuntutan masyarakat atas pergantian pimpinan nasional yang berakhir dengan lengsernya Presiden Soeharto, dan disusul dengan terjadinya gejolak ekonomi yang dipicu oleh peristiwa krisis moneter, yang di Indonesia berkelanjutan menjadi krisis multi-dimensi di tanah air, dan bersambung dengan gejolak politik yang mengiringi peristiwa pemilu 1999 serta pergantian pimpinan nasional di mana presiden Gus Dur juga dilengserkan, sementara kondisi sosial ekonomi tidak mendukung pengembangan kepariwisataan Indonesia berkenaan dengan tidak stabilnya kondisi ekonomi di mana kurs dollar Amerika sempat mencapai tingkat harga Rp. 16.000 dari semula sekitar Rp. 2.100 dan tingkat suku bunga bank mencapai 62%/th.
    Bukan hanya itu, gejala stagnan ini agaknya banyak dipengaruhi juga oleh adanya berbagai kejadian external lainnya, seperti peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat, berjangkitnya penyakit menular yang serious di berbagai negara tetangga, dan negara asal wisman (flu burung dan SARS/Severe Acute Respiratory Syndrome) yang juga berlangsung di tanah air sendiri.
    Tidak kurang pentingnya peristiwa internal yang berpengaruh pada stagnasi kepariwisataan Indonesia adalah bencana alam yang terjadi di tanah air (tsunami, Desember 2004, gempa Padang, dsb.), serta terorisme (Bali 2001, Bali 2002, Marriott 2003), yang pada gilirannya semuanya itu membuahkan Travel Advice ataupun bahkan Travel Bann yang diberlakukan oleh negara asal wisman bagi warganya agar tidak berkunjung ke Indonesia.
    Hambatan internal lainnya adalah konsentrasi pemerintah yang terpecah karena adanya dua pemilu yang berlangsung dalam periode 1998 – 2006 (1999 dan 2004), sebagai kelanjutan dari adanya perubahan politik internal, sehingga perhatian atas pengembangan pariwisata pun menjadi terabaikan, terutama pada upaya pemasaran yang justru memerlukan perhatian penuh berkenaan dengan adanya gejala perubahan pasar pariwisata kala itu.
  • Revitalization/rejuvenation Stage. Dalam kurun waktu delapan tahun terakhir, 2007 – 2014 dari 41-tahun perjalanan Siklus-Kehidupan Pariwisata Indonesia, akhirnya kepariwisataan membuahkan hasil menggembirakan dengan menunjukkan gejala positif yang berada pada tingkat pertumbuhan rata-rata hampir 9% per tahun (8.68%). Bahkan di penghujung periode Siklus-kehidupan 41-tahun itu, kedatangan wisman 2014 mencapai 9.435.411 kunjungan. Dalam periode ini agaknya kepariwisataan Indonesia menunjukkan gejala Tahap Revitalisasi (Revitalization Stage) atau disebut juga Tahap Peremajaan (Rejuvenation Stage) setelah 8-tahun sebelumnya mengalami stagnasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: