Kepariwisataan Kota


Di antara sekian banyak jenis pariwisata, kepariwisataan kota (urban tourism) merupakan salah satunya yang justru merupakan awal mula daripada perkembangan kepariwisataan di awal abad ke-20.
Seiring dengan perjalanan waktu, di mana sektor perhubungan berkembang seperti perhubungan laut, kereta api dan mobil, kepariwisataan semakin berkembang meluas ke wilayah di luar perkotaan dan membuahkan jenis pariwisata luar kota atau pedesaan (rural tourism) di mana daya tarik wisata – terutama pariwisata pesiar (leisure tourism) pada umumnya berada, di mana kemudian berkembanglah berbagai kawasan-kawasan (resorts) seperti Kawasan Pantai (Beach Resort), Kawasan Pulau (Island Resort), Kawasan Pegunungan (Mountain Resort), Kawasan Liburan/rekreasi (Holiday Resort) di samping Taman-taman Thematik (Theme Park), sampai pada Kawasan Permukiman (Residential Resort) pun dilengkapi dengan daya tarik dan atraksi wisata.

Bdg City Tour

Bandung City Tour

Sebetulnya, jika kita telaah secara cermat, kepariwisataan kota tidak kurang menariknya daripada Pariwisata Pedesaan, namun satu dengan lainnya berbeda karakternya. Untuk menjadikan suatu kota sebuah Tujuan Wisata, Perencanaan Pariwisata Kota (Urban tourism planning) merupakan faktor yang sangat penting dalam upaya untuk menarik wisatawan – baik wisman maupun wisnus. Kota-kota seyogyanya berupaya dengan sungguh-sungguh menerapkan strateginya agar menampilkan daya tariknya serta memberikan layanan yang beragam sebagai bagian tak terpisahkan daripada perencanaan kota secara umum. Hal itu perlu diingat karena bagaimana pun keberadaan kepariwisataan di suatu kota akan menghasilkan dana untuk kelanjutan kehidupan kota itu sendiri serta kehidupan masyarakatnya (masyarakat industri, perdagangan – barang dan jasa, moneter – perbankan, assuransi, dan sebagainya).
Sebelum proses perencanaan dilakukan, tentu saja kita perlu mengenal terlebih dahulu mengenai karakteristik kepariwisataan Kota itu sendiri.

Karakteristik Kepariwisataan Kota

Kepariwisataan Kota pada umumnya menawarkan Liburan Dalam Kota dengan mengunjunginya dan melakukan berbagai kegiatan seperti Kunjungan Keluarga, Menemui Teman, Menyaksikan Pertunjukan-pertunjukan – seperti konser musik, opera, pameran atau berbelanja. Sejalan dengan perjalanan waktu, kepariwisataan kota juga diramaikan dengan kegiatan konferensi, pertemuan-pertemuan berkaitan dengan kegiatan usaha seperti menemui partner usaha, promosi produk maupun promosi perusahaan, partisipasi pameran dan pekan raya, dsb.
Namun demikian, kepariwisataan kota pun tidak lepas dari daya tarik lainnya jika perencanaannya dilakukan dengan penuh kecermatan dan kecerdikan, seperti misalnya acara-acara festival, karnaval, olah raga yang diselenggarakan secara teratur tiap tahun dengan tujuan menarik pengunjung – baik wisman maupun wisnus.

Pariwisata Budaya

Sebagaimana difahami secara umum, kepariwisataan terdiri dari berbagai jenis dan yang paling banyak dikenal adalah pariwisata budaya. Dalam hubungan dengan kepariwisataan kota, wisata budaya ini pun merupakan salah satu jenis yang menjadi motivasi kunjungan, seperti keingin-tahuan tentang kehidupan masyarakat kota yang bersangkutan, asal-usul penduduknya, sejarahnya, agama yang dianut masyarakatnya dll. Terkadang wisatawan pun ingin terlibat berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari penduduk kota tersebut, seperti bergabung dengan kebiasaan mereka makan di luar rumah, berpetualang dalam mencoba makanan dan minuman khas lokal dan menikmati kegiatan kesenian setempat bersama-sama penduduknya, bahkan tidak jarang mereka pun berupaya untuk belajar tentang kesenian, misalnya belajar menari, menabuh gamelan, memainkan angklung memainkan wayang dan sejenisnya.
Dalam hubungan ini, peran pemerintah kota setempat sangatlah penting dalam hal menyediakan fasilitas serta kesempatan bagi wisatawan agar merasa senang tinggal lebih lama di kota itu.
Kesemuanya itu membutuhkan perhatian, minimal minat pemerintah terhadap kepariwisataan di kotanya. Tentu saja semua hal itu membutuhkan pemikiran serta perencanaan sebaik-baiknya dengan cermat dan cerdik. Sehingga dengan demikian, kepariwisataan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi semua pihak, – pihak pemerintah, masyarakat usaha, masyarakat umum di samping masyarakat industri pariwisata itu sendiri.

Pariwisata Agama

Sebagaimana halnya dengan wisata budaya, wisata agama pun dapat terjadi dalam hubungannya dengan kepariwisataan kota, terutama jika kota tersebut dikunjungi dengan maksud khusus berkaitan dengan kota bersejarah keagamaan yang kita kenal sebagai Wisata Tanah Suci (Holy Land Tour), Seperti Kota Jerusalem, Lourdes (Perancis), Vatican yang berada di Roma, Makkah dan Madinah dalam kunjungan Umrah. Demikian juga halnya acara Waicak di Borobudur.

Pariwisata Bisnis

Jenis wisata ini berkembang terutama menjelang abad ke-20 sejalan dengan perkembangan ekonomi akibat dari berkembangnya industri dan teknologi disusul dengan perkembangan yang pesat dalam bidang komunikasi elektronik, khususnya di negara-negara berkembang seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan Jepang.
Dalam kaiatan dengan wisata bisnis maka dikenal beberapa karakteristik yang menonjol daripada jenis wisata ini, seperti:

  1. Wisata bisnis pada umumnya melibatkan kegiatan belanja wisatawan (tourist expenditure) per orang yang relatif tinggi di banding dengan jenis wisatawan lainnya;
  2. Wisatawan bisnis pada umumnya merupakan pelanggan (customer) daripada maskapai penerbangan maupun hotel;
  3. Wisata bisnis lazimnya terjadi di pusat-pusat perkotaan;
  4. Wisata bisnis seringkali dilayani oleh para pemasok (supplier) dan perantara mereka sendiri dari lingkaran pasarnya, sebagaiman juga terjadi dalam wisata rekreasi;
  5. Wisata bisnis memiliki prasarana fisik yang spesifik seperti prasarana pameran maupun prasarana konferensi;
    Wisatawan bisnis ini dapat dikelompokkan dalam dua golongan, a) Wisata Bisnis Umum (Perdagangan/Trade, Industri/Industrial, Komersial/Commersial dan Kunjungan Resmi/Official Visit, – TICO). Pada hakekatnya wisata bisnis menyangkut perjalanan dalam rangka kepentingan pekerjaan mereka, dan kunjungan mereka lazimnya relatif singkat seperti yang dilakukan oleh para delegasi suatu konferensi atau wartawan peliput konferensi, olah raga, konsert dan sejenisnya. b). Jenis lain yang khas dari wisata bisnis adalah Pameran (Exhibition) dan Pekan raya (Fairs) di mana pada dasarnya mereka bermaksud untuk mengenalkan produk barang maupun jasa yang mereka miliki dengan tujuan menghasilkan penjualan. Jenis wisata ini termasuk kategori MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition). Dalam hubungan ini, para pelaku perjalanan jenis ini menciptakan dua golongan wisatawan:
    Pertama-tama adalah pelaku pameran itu sendiri, yang bisa terdiri dari para pengusaha, konsultan atau pekerja perusahaan yang berpameran (exhibitors);
    Kedua adalah mereka yang datang sebagai pengunjung pameran (visitors).
    Sama halnya dengan peristiwa olah raga, baik tingkat nasional maupun internasional, yang mendatangkan olahragawan dan para penonton. Demikian juga karnaval ataupun festival yang melibatkan peserta nasional maupun internasional.
  6. Jenis wisata bisnis terakhir adalah wisata insentif, yang pada dasarnya jenis wisata yang relatif mewah (luxury) yang dilakukan oleh para karyawan (terkadang dengan keluarganya) sebagai insentif yang diberikan oleh perusahaan tempat ia bekerja, atas prestasi kerjanya.
    Jenis wisata ini seringkali diawali dengan seminar atau lokakarya oleh sekelompok karyawan yang membahas perkembangan ‘pasar’ produknya di negara yang dikunjunginya.

(Bersambung …)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: