Ketahanan Daya Saing Wonderful Indonesia


Ketika Branding “Wonderful Indonesia” ditetapkan pada tahun 2011, banyak yang bertanya, mengapa Wonderful Indonesia? Menteri Jero Wacik pada waktu itu menjelaskan, bahwa branding tersebut didasarkan pada beberapa kenyataan tentang Daya Tarik Pariwisata , – yang kita semua sudah faham -, yaitu antara lain:

  • Wonderful Nature. Kenyataan menunjukkan bahwa alam Indonesia sangat kaya dengan keindahannya serta berbagai hasil bumi dan lautnya. Dari mulai ketinggian puncak gunung hingga ke dasar laut yang terdalam, dan dari pulau ke pulau yang terhampar dari Barat sampai ke timur, mengandung sumber alam DayaSaingCoverserta keindahan sebagai potensi pariwisata yang luar biasa, tiada tandingan.
  • Wonderful Culture. Demikian pula halnya dengan kebudayaan yang kita miliki menampilkan keaneka ragamannya seiring dengan kebhinekaan bangsa dari Sabang sampai Merauke, dalam hal seni budaya, adat istiadat, bahasa, gaya dan cara hidup, dsb. yang sukar untuk ditandingi oleh negara mana pun di dunia.
  • Wonderful People. Kehidupan bangsa Indonesia yang bertoleransi tinggi, ramah tamah dan senyum yang senantiasa menghias wajahnya, ditambah lagi dengan kehidupan demokratis merupakan salah satu “kekuatan” (strength) bagi kepariwisataan kita dalam kaitannya sebagai suatu Hospitality Industry.
  • Wonderful Food. Tidak kalah pentingnya adalah potensi yang kita miliki dalam hal keragaman makanan dari yang tradisional sampai pada hidangan internasional yang mampu disajikan bagi para wisatawan selaku “tamu” kita. Bukan saja dalam segi keragaman makanannya, melainkan juga dalam tatacara penyajiannya yang beragam dari satu pulau ke pulau lainnya serta dari satu jenis makanan ke jenis makanan lainnya di seluruh tanah air.
  • Wonderful Value for Money. Di atas semua itu, satu hal yang semua orang, – tidak terkecuali juga para wisatawan -, sangat berkepentingan dengan nilai uangnya, terutama yang dibelanjakannya selama kunjungannya di Indonesia.

Kebutuhan Alami Manusia

Pada hakekatnya, setiap orang, – sebagai manusia yang memiliki banyak kebutuhan -, pada kesempatan berwisata pun menghendaki segala sesuatu yang kita alami, kita lihat, kita dengar, kita nikmati itu yang serba baik, seperti suasana nyaman, tertib, aman, lingkungan indah, bersih dan pelayanan ramah dan sebagainya, tidak terkecuali seorang wisatawan sekalipun, selaku ‘tamu’ menginginkan hal yang sama dengan kita, selaku tuan rumahnya.
Tidak salah kiranya, Menteri Susilo Sudarman (alm) di akhir dasawarsa 1980-an (1989-1990) mencanangkan (secara resmi, 1991) dan menggalakkan agar kita, dalam upaya meningkatkan kepariwisataan didasari pada ‘Sapta Pesona’ yang merupakan kebutuhan hakiki manusia pada umumnya, termasuk kita selaku ‘tuan rumah’ maupun wisatawan selaku ‘tamu’ kita. Sampai-sampai Gedung Departemen Kebudayaan & Pariwisata pun ketika itu dinamai, dan hingga sekarang masih disebut, sebagai ‘Gedung Sapta Pesona’.
Terlihat, terbaca dan terdengar, baik dari kejadian sehari-hari, maupun berita-berita, baik tertulis maupun elektronik, mengindikasikan bahwa masyarakat masih banyak memerlukan pemahaman tentang peran pariwisata dalam ‘menyejahterakan’ kita semua, serta pemahaman tentang perlunya ‘Sapta Pesona’ untuk kepariwisataan, (kenyamanan, ketertiban, keamanan, keindahan, kebersihan, keramahan ~ yang memberi kenangan (indah).
Bagi kehidupan kita sendiri sehari-hari, juga perlu ‘sapta pesona’, agar hidup kita (bathiniah) jadi lebih indah dan sejahtera.
Indikasi tersebut dapat kita saksikan dalam kenyataan sehari-hari mulai dari kenyamanan yang terganggu oleh tumpukan sampah, baik di sekitar lingkungan tempat tinggal maupun di lingkungan obyek dan atraksi wisata, kenyamanan yang terganggu oleh kerusuhan akibat berbagai alasan, sampai pada kejadian terorisme dsb. Belum lagi yang menyangkut penataan lingkungan, – baik di sekitar obyek dan atraksi wisata maupun fasilitas dan amenitas pariwisata lainnya -, di samping lingkungan di sekitar permukiman masyarakat setempat dengan fasilitas yang tidak serasi.
Semua itu merupakan unsur-unsur hambatan bagi kepentingan peningkatan dan pemantapan citra Indonesia sebagai Negara Tujuan Wisata Dunia. Dampaknya adalah menurunnya citra dan daya saing kita di antara negara-negara tujuan wisata lainnya. Oleh karena itu, pengembangan kepariwisataan perlu dibarengi dengan penataan lingkungan sebaik dan secermat mungkin, sehingga masyarakat setempat pun “menikmati” manfaat pengembangan kepariwisataan, dan bukan semata-mata “demi pendapatan pariwisata” belaka.

Posisi Dayasaing Pariwisata Indonesia

Data World Economic Forum (WEF) menunjukkan daya saing pariwisata Indonesia pada 2015 naik ke ranking 50 di antara 141 negara, dari th 2013 di ranking 70 di antara 140 negara, yang pada th 2011 di urutan ke-74 di antara 139 negara di dunia.
Dengan informasi tersebut maka timbul pertanyaan, di bidang apakah Indonesia meraih posisi lebih baik atau lebih buruk dari sebelumnya ?
Mari kita lihat hasil pencapaian dayasaing Indonesia 2015 dari waktu ke waktu sejak tahun 2009.
Selain secara global, Indonesia meraih posisi lebih baik juga di antara negara-negara Asia-Pasifik maupun di ASEAN. Di antara negara-negara Asia-Pasifik 2015 menempati posisi 11, th 2013 posisi ke-12 dari semula tahun 2011 pada tempat ke-13, sementara di ASEAN, 2015 menempati posisi ke-4, 2013 urutan ke-4, dan naik satu tingkat pada th 2011 dari tempat ke-5 di tahun 2009.

Wonderful Indonesia

Di antara 5 (lima) unsur yang kita andalkan dalam Wonderful Indonesia, hanya “Wonderful Value of Money” (yaitu Price Competitiveness) yang terbukti di tahun 2009 dan tahun 2015 yl., oleh WEF dinilai sebagai wonderful, karena menempati urutan ke-3 termurah, seperti dapat Anda lihat pada Tabel di bawah ini.

DS_Unsur_WI

Target Daya Saing 2019

Dalam artikel terdahulu menyebutkan beberapa target yang ditetapkan untuk dicapai pada tahun 2019 yang akan datang. Salah satu di antaranya adalah peningkatan peringkat Daya Saing Pariwisata Indonesia dari 50 pada tahun 2015 ke peringkat 30 pada tahun 2019.
Dalam hal ini agaknya kita bisa menilai, selama kepariwisataan diharapkan untuk menjadi PRIMADONA perekonomian Indonesia, mau tidak mau dan suka tidak suka, kita perlu memperbaiki kondisi komponen-komponen yang lemah agar menjadi kekuatan dalam menghadapi persaingan di antara negara destinasi pariwisata dunia. Kelemahan di bidang Daya Saing kiranya perlu ditinjau secara lebih cermat, agar dapat ditingkatkan, satu demi satu dengan menggunakan kriteria yang pada tahun 2015 juga dipergunakan WEF (World Economic Forum) dalam menilai Daya Saing Kepariwisataan 141 negara.

Di antara 14 Pillar (kelompok kategori) yang dinilai WEF (World Economic Forum), ada dua unsur yang senantiasa berada pada posisi jauh di bawah 100 (seratus), yaitu Environmental Sustainability dan Health & Hygiene. Jika kita menghendaki Daya Saing Pariwisata Indonesia semakin baik dan meningkat ke jenjang daya saing ke-30 di tahun 2019, agaknya perhatian kita harus dipusatkan pada dua unsur tersebut, yang merupakan titik lemah daripada Wonderful Indonesia. Untuk itu, kerja keras perlu dilakukan mulai sekarang sebagaimana diminta oleh Presiden. Hal ini bukan hanya berlaku bagi jajaran kabinet dan aparatnya semata, melainkan juga mutlak harus menjadi pusat perhatian jajaran Pemda dan masyarakat pada umumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: