Destination Branding – Wonderful Indonesia (1)


Dalam tahun 2016 ini kepariwisataan kita “diramaikan” dengan berbagai upaya gencar oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar), baik dalam kegiatan yang bernuansa Destination Branding di samping upaya lainnya dalam hal pengembangan dan pembinaan destinasi.

destination-branding-in-france

Destination Branding- “Wonderful Indonesia” di Perancis.

Dalam hubungan dengan Destination Branding Kemenpar pun tidak segan-segan melancarkannya di negara-negara asal wisatawan (tourist origin countries) yang dipandang potensial selama ini seperti Eropa (khususnya Inggris dan Perancis) dengan maksud menanamkan “citra” Indonesia sebagai Negara Destinasi Wisata yang patut dikunjungi di antara negara-negara destinasi wisata yang ada di dunia. Hal itu dilakukan oleh Kemenpar dalam hubungannya dengan upaya mencapai target 20 juta wisman di tahun 2019 yad.

Dalam Konsep Pemasaran (Marketing Concept) maupun Penelitian Akademik (Academic Research), Destination Branding merupakan hal yang relatif masih baru (Rebecca Schaar, 2013).
Di kalangan para cendekiawan Barat pun, beberapa di antaranya ada yang masih mempertanyakan “Betulkah Destination Brand itu diperlukan dewasa ini?”; Apakah para Pemasar Destinasi berupaya “bermain aman”, sementara segala sesuatu telah berubah terutama dalam hal “Bagaimana seharusnya Destinasi memasarkan dirinya? (Martyn Collins, 2014).

Lain pula pendapat Tom Buncle yang menyatakan bahwa agaknya berlebihan jika kita mengatakan telah menciptakan Destination Brand. Menurutnya, distinasi tidak bisa kita produksi (manufactured), melainkan destinasi telah ada selama sekian generasi dan terbentuk karena sejarah, budaya, topografi, cara hidup, lingkungan,- baik alam maupun yang diciptakan, dan unsur manusianya (Tom Buncle, 2015).
Adalah sangat relevan dalam hubungan ini jika Presiden RI, Joko Widodo, juga mengatakan: “Membangun Citra Bangsa bukan sekedar bikin Logo atau Slogan” (PresidenRI.go.id, 27 Sept. 2016)

Apa Itu Destination Branding

Berbicara soal Destination Branding, adalah menyangkut beberapa hal:

  1. Menemu-kenali asset yang tampil terkuat lagipula mampu bersaing (competitive), – dilihat dari kacamata pengunjung prospektif -, yang membangun “citra” tentang semua hal di atas itu (yang dapat diibaratkan sebagi DNA destinasi tsb.), dan
  2. Menempatkan destinasi agar tampil menonjol di atas (stand out above) destinasi “pesaingnya”, serta
  3. Menebarkan “pencitraan” ini secara konsisten sepanjang komunikasi pemasaran dilakukan (Tom Buncle,2015).

Idealnya, hal itu berarti masyarakat di destinasi itu bersikap menencerminkan nilai citra destinasi yang bersangkutan (misalnya, ramah, tidak ortodox, kreatif dsb.), terutama “duta terdepan” yakni mereka yang langsung berhubungan dengan wisatawan, – dari petugas perbatasan (immigrasi, bea cukai, karantina, aparat keamanan perbatasan lainnya), sampai supir taxi, pelayan toko, pramuwisata, staf kantor depan hotel maupun resort. Hal itu sangat perlu untuk ditampilkan tiap saat, di tiap kesempatan komunikasi pemasaran agar efektif mewujudkan identitas yang bersaing sepanjang waktu.

Dalam kaitan ini, Presidan Joko Widodo pun berujar: “Langkah membangun citra dan reputasi positif tidak berhenti di iklan, tapi betul-betul bisa kita jumpai dalam realitas sehari-hari”.
Dengan demikian citra itu akan membentuk landasan komunikasi pemasaran destinasi itu sendiri. Di kalangan destinasi, pemasaran cenderung diartikan sebagai sinonim dengan Promosi.

Dalam hal konsistensi, Joko Widodo menyesalkan adanya perbedaan penggunaan “Brand” Indonesia di mana sebagian menyebutkan “Remarkable Indonesia” sementara sebagian lainnya menggunakan “Wonderful Indonesia” meskipun yang telah dinyatakan secara resmi adalah “Wonderful Indonesia” sebagaimana diutarakan dalam artikel terdahulu.

Singkat kata:

  1. Destination Brand menunjukkan “Siapa Anda”, sedangkan
  2. Destination Marketing adalah “Bagaimana Anda mengkomunikasikan tentang Siapa Anda sebenarnya”, sementara
  3. Destination Promotion merupakan bentuk-bentuk komunikasinya. Kesemuanya itu dalam upaya yang terpadu mengetengahkan destinasi yang bersangkutan.

Banyak pendapat yang sepakat bahwa destination branding cukup berbeda dari branding suatu produk tunggal (single product). Seperti kita ketahui, destinasi pariwisata menawarkan produk gabungan (composite product) yang ditawarkan berbagai pihak berbeda yang berada di destinasi tersebut.

(BERSAMBUNG)

================================
Sumber:
1. Buncle, Tom : http://placebrandobserver.com/difference-between-destination-branding-and-destination-marketing/
2. Collins, Martyn: http://www.martyncollins.com/2012/06/destination-branding-whats-point.html
3. Schaar, Rebecca (2013) – https://www.uwlax.edu/urc/JUR-online/PDF/2013/Schaar.Rebecca.Marketing.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: