Destination Management Organisation


Sebanyak 15 destinasi pariwisata di Indonesia akan dikembangkan dengan konsep Destination Management Organisation (DMO) dalam kurun empat tahun ke depan. Selama kurun waktu lima tahun sejak 2010 hingga 2014, kami telah menetapkan 15 destinasi pariwisata yang akan dikembangkan dengan konsep DMO. Demikian bunyi sebuah pernyataan pers yang diutarakan oleh salah satu Pejabat Teras Kemenbudpar sekitar September 2011.

Adapun 15 Destinasi yang dimaksud adalah:

danau-toba

Danau Toba – salah satu destinasi yg dikembangkan dgn konsep DMO

  1. Kawasan Danau Toba – Sumut;
  2. Kota Tua – Jakarta;
  3. Pangandaran – Jabar;
  4. Kawasan Borobudur – Jateng;
  5. Bromo-Tengger-Semeru – Jatim;
  6. Kawasan Danau Batur – Bali;
  7. Komodo-Kalimutu, Flores;
  8. TN Rinjani – NTB;
  9. Toraja – Sulsel;
  10. Wakatobi – Sultra;
  11. Bunaken – Sulut;
  12. Raja Ampat – Papua Barat;
  13. Tanjung Puting – Kalteng;
  14. Derawan – Kaltim;
  15. Sabang – Aceh

Apa Gerangan DMO

Pengertian DMO dapat dilihat dari dua sisi.

  1. Di satu sisi DMO merupakan pembentukan dan pengembangan organisasi tata kelola destinasi pariwisata. Dalam hubungan ini DMO dipandang sebagai suatu “lembaga” yang menyelenggarakan “tata kelola” suatu destinasi pariwisata (Destination Management Organizing Agency).
  2. Di sisi lain DMO dapat pula merupakan “penyelenggaraan tata kelola” suatu destinasi pariwisata, sehinggga dalam kaitan pengertian ini DMO dipandang sebagai suatu “sistem” tata kelola destinasi tersebut.

dmoDengan demikian DMO dapat disebut sebagai suatu “Lembaga yang menyelenggarakan Tata Kelola Destinasi Pariwisata secara berkelanjutan berbasiskan proses, mulai sejak perencanaan hingga operasional serta pemantauannya”.

Sebagaimana kita fahami bahwa keberadaan suatu destinasi wisata terbentuk berkat adanya berbagai unsur dari berbagai sektor dan sub-sektornya yang terdapat di suatu wilayah tertentu yang dapat ditampilkan dan dapat memenuhi kebutuhan wisatawan, – baik wisnus maupun wisman -, sehingga dapat dibayangkan bahwa menyelenggarakan tata kelola suatu destinasi tidaklah sesederhana sebagaimana yang mampu kita bayangkan, mengingat pengelolaan suatu destinasi tidak saja menyangkut koordinasi berbagai sektor dan sub-sektor secara horisontal di wilayah tersebut, melainkan juga terkait berbagai tingkatan kualitas (vertikal) dari tiap jenis pelayanan yang dibutuhkan wisatawan.

Keberhasilan DMO

Keberhasilan menyelenggarakan DMO bergantung pada banyak hal. Sepuluh di antaranya adalah sebagaimana yang diutarakan pakar pariwisata Alastair M. Morrison, Ph.D. yang disebutnya sebagai “10-A penentu Keberhasilan Destinasi Pariwisata” (10 A’s For Successful Tourism Destinations; Morrison, A.M. – 2013). Namun demikian ia pun mengemukakan bahwa “10-A” tersebut bukannya tidak mustahil untuk ditambah, mengingat kebutuhan daerah atau wilayah berbeda satu dengan lainnya, dan “10-A” tersebut hanyalah merupakan unsur utama.

10-A Unsur Keberhasilan DMO

Dari sekian banyak unsur penunjang keberhasilan penyelenggaraan suatu DMO ada 10 yang dipandang sebagai kebutuhan atau syarat utama, yakni:

  1. Kesadaran (Awareness). Unsur ini berkaitan dengan tingkat pengetahuan wisatawan tentang destinasi yang dipengaruhi oleh banyaknya serta jenis informasi yang mereka terima. Apakah tingkat pengetahuan tentang destinasi itu cukup tinggi di antara wisatawan yang potensial?;
  2. Daya pikat (Attractiveness). Beberapa daya pikat destinasi secara geografis yang menonjol merupakan hal yang penting dalam hal ini. Apakah destinasi yang bersangkutan menawarkan daya pikat yang beragam dan menonjol bagi wisatawan?;
  3. Ketersediaan (Availability). Unsur ini ditentukan oleh kemudahan memperolehnya seperti booking atau pemesanannya, – baik cara maupun jumlah jaringannya. Dapatkah booking atau pemesanannya dilakukan melalui jaringan distribusi yang beragam?
  4. Akses (Access). Unsur ini menyangkut kenyamanan untuk mencapai destinasi tersebut, begitu juga untuk bepergian di dalam destinasi itu. Apakah bepergian ke/dari serta di dalam destinasi itu nyaman dilakukan dengan semua jenis angkutan?;
  5. Apresiasi (Appreciation). Tingkat penyambutan yang menyenangkan bagi wisatawan sebagai “tamu” yang dirasakan sebagai keramahan adalah yang dimaksud dalam apresiasi ini. Apakah Wisatawan merasa “disambut” dan mendapat layanan yang baik di dalam destinasi tersebut?;
  6. Jaminan (Assurance). Unsur ini berkaitan dengan keselamatan dan keamanan bagi pribadi wisatawan dan barang bawaannya selama di destinasi yang bersangkutan. Apakah destinasi itu bersih, terjamin keselamatannya (safe) dan keamanannya (secure)?;
  7. Aktivitas (Activities). Luasnya pilihan susunan daftar kegiatan yang tersedia bagi wisatawan merupakan hal yang menentukan daya pikat destinasi. Apakah destinasi menawarkan pilihan kegiatan yang cukup luas bagi wisatawan untuk ikut terlibat?;
  8. Penampilan (Appearance). Unsur penampilan ini terkait dengan kesan yang dirasakan wisatawan dari destinasi yang bersangkutan baik pada saat tiba maupun sepanjang ia tinggal di destinasi itu. Apakah destinasi memberikan kesan pertama yang baik? Apakah destinasi tersebut memberikan kesan baik dan bertahan lama kepada wisatawan?;
  9. Tindakan (Action). Keberadaan Rencana Jangka Panjang Pariwisata dalam hal pembinaan / pengembangan serta pemasarannya merupakan beberapa tindakan yang dibutuhkan. Apakah pengembangan Kepariwisataan dan Pemasarannya direncanakan dengan baik?;
  10. Akuntabilitas (Accountability). Unsur ini menyangkut evaluasi kinerja DMO. Apakah DMO mencatat dan menilai efektivitas kinerjanya?.

Dengan berpedoman pada 10-A di atas diharapkan destinasi dapat memeberikan rasa puas pada wisatawan yang berkunjung. Pakar lainnya, Dr. Chiranjib Kumar, menambahkan 2-A, yaitu:

  1. Antisipasi (Anticipation), yang dinilainya perlu dalam hal mengantisipasi pembangunan citra mengenai pelestarian sumberdaya serta keseimbangan pelaksanaannya oleh Tamu dan tuan rumah;
  2. Perluasan (Amplification) yang menyangkut dampak positive pada lingkungan terdekat minimal dalam radius 5 km di sekitarnya melalui siklus kehidupan dalam bentuk pelestarian (conservation), perbaikan (improvement), kedamaian (peace) dan kebahagiaan (happiness).

Namun dalam hal ini, 2-A tambahan ini dapat tercakup dalam butir 9 (Action) di saat perencanaan DMO dan butir 10 (Accountability) dalam pencatatan dan penilaian serta langkah perbaikan terkait dengan hasil evaluasi setiap saat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: