Menyiasati Kecenderungan Pasar Pariwisata


Sejak awal pemerintahan Jokowi, Kementerian Pariwisata telah mencanangkan sasaran jumlah kunjungan wisman ke Indonesia melompat ke jumlah 20 juta di akhir 2019 dengan sasaran antara pada tahun 2015, 10 juta; tahun 2016, 12 juta dan 2017, 15 juta kunjungan wisman. Sasaran2 itu tentu saja menuntut dukungan kinerja pemasaran dan fasilitasi di berbagai bidang. Sebagaimana kita fahami, bahwa keberhasilan pariwisata merupakan kinerja bersama berbagai sektor dan sub-sektor, sehingga dukungannya pun diperlukan dari berbagai kalangan yang berkepentingan dan berkewenangan tersebut.

Pencapaian Sasaran

Dengan sasaran 10 juta di tahun 2015, berhasil dicapai 10,406,759 begitu pula tahun berikutnya 2016 dengan sasaran 12 juta, dicapai sejumlah 12,023,971. Dengan ditetapkannya sasaran tahun 2017 menjadi 15 juta, hal itu berarti suatu kenaikan yang cukup berani yaitu dengan 25%. Ini suatu kenaikan yg progresif di banding kenaikan yang dicapai tahun sebelumnya, yaitu dari 10,4 juta menjadi 12,0 juta atau meningkat mendekati 20%.

Tentu saja, kenaikan yang bersifat progresif ini bukan tidak berlandasan kinerja berbagai upaya pemasaran dan fasilitasi serta dukungan dana yang tidak sedikit, mengingat upaya, dana dan fasilitasi serta kolaborasi dengan berbagai bidang pun telah, sedang dan akan senantiasa dilakukan. Sejak ditetapkannya pariwisata sebagai core-business ekonomi nasional oleh Presiden, dimulailah era akselirisasi kepariwisataan mulai dari pemberian kebijakan bebas visa, penambahan konektivitas, – baik dari luar negeri maupun antar destinasi -, pembenahan dan pengembangan destinasi serta akses perbatasan destinasi dengan negara tetangga maupun pembinaan atraksi event di daerah-daerah destinasi potensial.
Adapun capaian lain terkait dengan pariwisata yang dapat dicatat adalah share pariwisata terhadap GDP (Gross Domestic Product) sebesar 13%; tersedianya 12 juta lapangan kerja serta peningkatan Index Dayasaing Pariwisata, menurut WEF-TTCI (World Economic Forum Travel & Tourism Competitive Index), dari peringkat 50 di antara 144 negara pada tahun 2015, tahun 2017 meningkat manjadi peringkat 42 di antarra 141 negara, sementara pertumbuhan pariwisata global 4.4% dan pertumbuhan ASEAN sebesar 5.1%.

Visitor Arrivals 2017, Jan-OctDari catatan statistik pada awal Desember 2017, jumlah kunjungan Wisman Jan-Okt 2017 menunjukkan angka 11,616,898. Ini berarti untuk menggapai target 15 juta dalam bulan November dan Desember masih harus mencatat 3,383,741 yang artinya harus mencapai rata-rata 1,691,870 wisman sebulan.

Selama 10 bln pertama rata-rata kedatangan wisman adalah sebanyak 1,079,678 kunjungan, angka tertinggi yang telah dicapai adalah 1,433,259 yang terjadi pada bln Agustus. Dengan demikian selama November-Desember kita harus mendapatkan 600 ribu lebih di atas rata2. Sementara itu, bulan November sudah berlalu dan statistik wisman pun sudah dicatat yg kita belum dapat kepastian angkanya. Desember pun sudah berjalan 1/3 pertama dan kedatangan wisman pun bergantung pada hasil upaya masa sebelumnya. Tidak banyak lagi yang dapat disiasati dalam sisa waktu 2017 ini. Semoga optimisme atas upaya2 jajaran pariwisata seantero tanah air untuk mencapai target bisa tercapai.

Kecenderungan Arus Kunjungan Wisman ke Indonesia

Kecenderungan selama ini bulan Januari dan Februari selalu mengalami penurunan dan memberikan kesan sepi (low season). Ini pun agaknya perlu kita siasati. Bagaimana dan mengapa?

Menjawab pertanyaan mengapa adalah: “untuk ‘meringankan beban’ bulan-bulan berikutnya terutama di musim ramai (high season). Upaya ini lazim dilakukan agar kunjungan wisman lebih merata sepanjang tahun.

Adapun jawaban atas pertanyaan ‘Bagaimana’ ialah dengan memperbanyak event  di bulan-bulan sepi seperti Januari dan Februari serta Oktober dan November, misalnya dengan:
1. Perayaan ‘Tahun Baru Masehi’ yg dimulai lebih awal, misalnya dari tanggal belasan diperpanjang s/d pertengahan Januari dengan berbagai event yg memikat;
2. Perayaan ‘imlek’ di bulan Februari di berbagai destinasi a.l. Bangka-Belitung; Batam; Menado; Pontianak dan kota2 perbatasan di Kalimantan.
Mungkin juga di Danau Toba akan bisa membantu ‘mendongkrak’ jumlah kunjungan di bulan itu. Semua itu perlu dilakukan sebagai upaya pemerataan kedatangan wisman sepanjang tahun.

Semoga para pengelola pariwisata di tanah air berkenan dengan gagasan ini. Khususnya rekan-rekan di destinasi wisata dan daerah-daerah.

Sebagaimana berkali-kali diutarakan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, hasil kerja besar hanya bisa dicapai melalui kerja ekstra keras. Oleh karenanya, diperlukan keterlibatan kita semua di dalam yang kita sebut 3-S Budaya Usaha Pariwisata (Solid cooperation and coordination, Speed actions at all levels, and a Spread throughout the archipelago).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: