Generational Marketing – Bagian 2


Kita mengerti bahwa dalam Era Industri 4.0 segala sesuatu menjurus pada digitalisasi. Dan, selama ini kita dihadapkan pada 5 generasi yang berbeda, sebagaimana diutarakan terdahulu, yaitu: 1. Silent generation; 2. Baby Boomers; 3. Generation X; 4. Generation Y; dan 5. Generation Z.
Dalam hal pemasaran pariwisata, mau tidak mau harus mempertimbangkan generasi-generasi tersebut agar mencapai hasil sebagaimana diharapkan.
Mengingat pola pikir tiap generasi berbeda jauh satu dengan lainnya, antara generasi itu terdapat kesenjangan (gap), – terutama antara generasi Baby Boomers dengan generasi-X dan generasi -Y.
Di satu sisi generasi Baby Boomers masih dipengaruhi oleh pola pikir lama (konvensional), di sisi lain generasi-X dan generasi-Y sangat dipengaruhi oleh pola pikir digital yg serba mudah, serba cepat, bahkan seringkali tidak menghiraukan adanya rintangan.
Nah, dalam hal pengelolaan pemasaran, – termasuk pariwisata -, para pemegang kewenangan sebagian besar terdiri dari Baby Boomers di mana masih ada yg berpola pikir konvensional tadi. Sementara pasar sudah menghendaki penanganan yg serba mudah dan cepat dengan pola pikir digital.
Namun, bagaimana pun di pasar masih terdapat potensi yg cukup besar dari generasi lama (Baby Boomers) yg perlu dilayani, walau dengan proses digital sekali pun. Dan, generasi ini memiliki kemampuan financial yg jauh lebih kuat dan mempunyai cukup waktu untuk berlibur di banding dengan generasi yg lebih muda (generasi X dan Y).
Melanjutkan artikel terdahulu mengenai “Generational Marketing”, di bawah ini disampaikan bagian ke-2 dari artikel tersebut.

Generational Marketing: Mengenal Profil Wisatawan dari berbagai Generasi
Oleh
Wuryastuti Sunario

Bagian 2.
Profil Generation X, the Silent Generation, dan Generation Z

Generation X

Generation X

Peran computer dan digitalisasi di dunia, – tak terkecuali di Indonesia -, sudah tidak terelakkan. Mau tidak mau, suka tidak suka, dunia sudah memasuki Industrial Revolution 4.0 yang dipicu sejak teknologi analog beralih ke teknologi digital, yang telah merobah cara dunia berkomunikasi satu sama lain. Sekarang orang tidak perlu bertatap muka untuk berkomunikasi. Siapa saja bisa mencari informasi tanpa bersusah payah ke perpustakaan, dan dengan mudah dan cepat bisa mendapatkannya di Google; untuk membuat laporan lengkap dengan photo dan video bahkan dengan suara, petugas hanya perlu kirim via laptop ke siapapun; bagi penumpang yang memesan dan membayar tiket pesawat, atau membayar apapun, cukup dari tilpun di genggam.
Segala bisa berlangsung dengan capat dan mudah, dengan satu syarat: asal tau tombol mana yang harus ditekan.
Hal ini dengan sendirinya sangat membingungkan generasi yang lebih tua yang merasa seakan harus mulai belajar teknologi ini dari awal dengan menanggalkan semua kebiasaan yang sudah pernah dipelajarinya. Ini sangat jauh banding waktu mereka nilpun dari rumah dengan tilpun analog, mengetik dengan mesin tik manual, dan ngantre ke bank untuk mengirim uang. Continue reading

Advertisements

Generational Marketing – Bagian 1


Banyak ahli, cendekiawan dan kalangan industri menilai bahwa dewasa ini kita sedang berada dalam transisi menuju Era Industri 4.0. Bahkan di kalangan pemerintah pun mau tidak mau harus mempelajari dan memahaminya serta mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi masa kini yang serba digital dan serba cepat. Jika tidak menyesuaikan diri, maka bersiaplah untuk “tertinggal” dari negara lainnya.
IMG-GenMktg Industri 4.0Baru-baru ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyelenggarakan Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) yang pertama dalam tahun 2019 ini, di mana dibahas juga perihal berbagai strategi menyatukan faham dan langkah semua pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat pariwisata dalam menghadapi perubahan yang terjadi menuju Industri 4.0 tersebut.
Di bawah ini kami sajikan sebuah tulisan tentang Industri 4.0 karya Wuryastuti Sunario, salah seorang anggota dan mantan ketua Care Tourism, berjudul “Generational Marketing”. Selamat membaca, semoga bermanfaat menambah informasi tentang Era Industri 4.0.

Generational Marketing: Mengenal Profil Wisatawan berbagai Generasi
Oleh
Wuryastuti Sunario

Bagian 1.
Melayani Millennials dan Baby Boomer

Di era Revolusi Industri 4.0 saat ini, Konsumen tidak saja menjadi ratu atau raja, tetapi telah menjadi penguasa pasar. Banyak perusahaan, – raksasa sekalipun -, yang mengabaikan perobahan besar ini telah merugi bahkan terpaksa bangkrut. Sebaliknya perusahaan yang memenuhi harapan zaman, justru dicari khalayak ramai dan popularitasnya melambung. Contohnya Go-Jek, Grab, Traveloka, Tokopedia. Mengapa? Sebab mereka telah memenuhi keinginan konsumen yaitu: kecepatan, proses sederhana, nyaman, dan biaya terjangkau, maka startups berkembang menjadi unicorns yang melejit popularitasnya dan menyisihkan dalam sekejap mata saja perusahaan taxi, mall dan travel agents konvensional . Continue reading