Generational Marketing – Bagian 1


Banyak ahli, cendekiawan dan kalangan industri menilai bahwa dewasa ini kita sedang berada dalam transisi menuju Era Industri 4.0. Bahkan di kalangan pemerintah pun mau tidak mau harus mempelajari dan memahaminya serta mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi masa kini yang serba digital dan serba cepat. Jika tidak menyesuaikan diri, maka bersiaplah untuk “tertinggal” dari negara lainnya.
IMG-GenMktg Industri 4.0Baru-baru ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyelenggarakan Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) yang pertama dalam tahun 2019 ini, di mana dibahas juga perihal berbagai strategi menyatukan faham dan langkah semua pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat pariwisata dalam menghadapi perubahan yang terjadi menuju Industri 4.0 tersebut.
Di bawah ini kami sajikan sebuah tulisan tentang Industri 4.0 karya Wuryastuti Sunario, salah seorang anggota dan mantan ketua Care Tourism, berjudul “Generational Marketing”. Selamat membaca, semoga bermanfaat menambah informasi tentang Era Industri 4.0.

Generational Marketing: Mengenal Profil Wisatawan berbagai Generasi
Oleh
Wuryastuti Sunario

Bagian 1.
Melayani Millennials dan Baby Boomer

Di era Revolusi Industri 4.0 saat ini, Konsumen tidak saja menjadi ratu atau raja, tetapi telah menjadi penguasa pasar. Banyak perusahaan, – raksasa sekalipun -, yang mengabaikan perobahan besar ini telah merugi bahkan terpaksa bangkrut. Sebaliknya perusahaan yang memenuhi harapan zaman, justru dicari khalayak ramai dan popularitasnya melambung. Contohnya Go-Jek, Grab, Traveloka, Tokopedia. Mengapa? Sebab mereka telah memenuhi keinginan konsumen yaitu: kecepatan, proses sederhana, nyaman, dan biaya terjangkau, maka startups berkembang menjadi unicorns yang melejit popularitasnya dan menyisihkan dalam sekejap mata saja perusahaan taxi, mall dan travel agents konvensional .

Akan tetapi bukan Millennials saja yang mampu menggunakan teknologi modern. Generasi-generasi sebelumnyapun telah juga beralih ke Internet, walau dengan keinginan dan cara yang agak berbeda, akan tetapi, jangan lupa, mereka memiliki kemampuan finansial yang lebih besar dibanding millennials dan mencari pelayanan yang lebih berkelas. Perbedaan dalam melayani berbagai keinginan generasi ini sangat penting difahami juga oleh industri Pariwisata.

Digitalisasi yang mendorong Revolusi Industri 4.0 telah semakin membedakan perilaku satu generasi dengan yang lain dari akhir abad ke-20 ke awal abad ke-21 ini, terutama dalam penggunaan teknologi internet.

Adalah Generation NOW yang dengan sangat cepat telah merobah cara orang mencari informasi dan membeli barang, memanggil taxi atau membeli tiket pesawat. Kalau dulu informasi dicari di media tradisional, seperti tv, koran, iklan atau travel agent atau ke mall untuk mencari apa yang menarik yang mau dibeli dengan harga yang pantas, sekarang ini konsumen langsung beralih ke media online di website, blog atau social media seperti Facebook, Instagram, Youtube dan aplikasi Go-jek, Grab, Traveloka, Tokopedia dll, dan langsung membeli dan membayar online. Akan tetapi para ahli pemasaran dan komunikasi meneliti bahwa bagaimanapun juga, masih tetap ada perbedaan nyata bagaimana konsumen yang berbeda umur dan generasi akan menentukan apa yang akan dibeli, dan apa yang diinginkan, mengikuti proses yang berbeda juga.

Maka lahirlah istilah Generational Marketing, yaitu segmentasi pasar, dimana pasar dibagi tidak saja menurut motivasi dan kegiatan, tetapi juga menurut umur dan generasi. Satu generasi adalah mereka yang lahir dalam kurun waktu bersamaan sekitar 15 tahunan. Segmentasi ini didasarkan pada kenyataan bahwa mereka yang lahir dalam satu generasi tertentu cenderung mengalami kejadian dunia yang sama pula, mengikuti pendidikan yang hampir sama di rumah dan di sekolah, bersama menganut nilai-nilai zaman serta perkembangan teknologi yang digunakan pada periode yang sama pula. Maka terbentuklah suatu generasi yang cenderung berperilaku dan mempunyai cara hidup yang serupa. Tidak terkecuali cara bagaimana mereka ingin berwisata.

Maka dengan semakin gencarnya orang meggunakan Internet untuk mencari berbagai macam informasi perjalanan sebelum berwisata, – termasuk untuk penerbangan, destinasi, hotel dan lainnya -, maka hotel, tour operators maupun management destinasi kiranya perlu faham dan memaklumi apa dan bagaimana orang mencari destinasi yang ingin dikunjungi wisatawan, cara pembelian tiket penerbangan atau memilih hotel sebelum ia berangkat untuk perjalanan bisnis atau liburan, agar mereka bisa dilayani dengan tepat, dan akhirnya juga bisa mendatangkan pendapatan bagi usaha Anda.

Pembagian Generasi

Generasi-generasi dibagi sebagai berikut (berbagai survey menghitung tahun agak berbeda satu sama lainnya), yaitu :

  1. The Silent Generation, yaitu mereka yang lahir sebelum dan selama Perang Dunia II, antara tahun 1930 – 1945 (sekarang berumur 71 tahun keatas);
  2. Baby Boomers Generation, adalah mereka yang lahir antara 1946 – 1964 (umur sekitar 55 – 70 tahun) ;
  3. Generation X atau sering disebut The Forgotten Generation, yang lahir antara 1965 -1980 (Umur 39 – 54 tahun);
  4. Generation Y, yang lebih dikenal sebagai Millennials, yang lahir antara tahun 1981 – 1999, yaitu mereka yang berumur antara 20 – 38 tahun ; dan
  5. Generation Z, adalah mereka yang lahir tahun 2000 dan sesudahnya.

Di antara ke-5 generasi di atas, dua generasi yang jumlahnya terbesar adalah Millenials dan Baby Boomers. Tetapi para Millennials lah yang terutama menjadi sasaran bagi industri dan produsen karena generasi inilah yang paling aktif menggunakan internet, dan membuka tilpun genggam dimana saja, setiap waktu. Generasi inilah yang terbiasa memakai computer dan handphone (hp) sejak kecil dan disekolah. Dengan jumlah yang cukup besar dan semakin membesar pula, maka generasi ini yang menjadi harapan masa depan industri, termasuk oleh Industri Pariwisata.
Menurut Menteri Pariwisata, Arief Yahya, Millennials Indonesia merupakan 60% dari penduduk Indonesia, yang dibidik Kepariwisataan Indonesia dewasa ini

Pada tahun 2016, survey yang dilaksanakan oleh Vice Media mengenai Millennials Indonesia, ternyata bahwa separo penduduk Indonesia yang saat itu berjumlah 249 juta, merupakan millennials yang berumur antara 18-34 tahun. Para millennials ini menghabiskan 5 jam setiap harinya di Internet. Maka ternyata, Indonesia termasuk salah satu negara dunia yang paling aktif berkomunikasi dan tersambung di media sosial (medsos). Bahkan dalam survey CNBC terkini, Indonesia merupakan negara yang paling top berkomunikasi lewat smartphone, bahkan melebihi Thailand dan China.

Tetapi ternyata pula, – menurut berbagai survey juga -, walaupun sekarang ini 65% konsumen adalah para millennials, yang juga merupakan wisatawan dunia yang paling banyak mengadakan perjalanan dan dalam jumlah paling banyak, tapi Generasi Y ini bukanlah yang membelanjakan uangnya yang paling royal. Sebaliknya para millennials bahkan sangat irit, termasuk bagaimana mereka membelanjakan uang mereka waktu berwisata.

Apa yang dicari Millennials?

Generasi Y ini pada umumnya sangat mandiri. Untuk berwisata mereka mencari pengalaman dan bukan sekedar sightseeing – seperti generasi sebelumnya -, mereka senang meresapi cara hidup dan budaya beda, dan mereka juga mencari destinasi yang mendukung upaya pelestarian lingkungan, pendidikan masyarakat, dan usaha-usaha sustainability. Dan karena pengaruh internet yang menjangkau seantero bumi, mereka juga lebih terbuka dan berfikir global. Pengalaman hidup dan mengenal dunia bagi generasi ini adalah lebih penting dibanding memiliki rumah atau barang bermerek. Kebanggaan mereka ada dalam pengalaman menjelajahi pelosok-pelosok dunia yang jarang dikunjungi orang, dimana mereka bisa berbagi selfie, video dan vlog lewat Instagram dan sosmed yang dikirim langsung ke rekan-rekan dan seantero dunia.
Sepanjang perjalanan, mereka lebih senang mencari dan membayar sendiri langsung di lewat smartphone untuk hotel, penerbangan, dan destinasi, dan menjauhi paket wisata yang biasa diikuti rombongan besar dengan waktu yang sudah ditetapkan. Waktu perjalanan mereka juga ditentukan sendiri, dan mereka cenderung menetap lebih lama di destinasi yang dianggap paling nyaman. Walaupun demikian, dalam perjalanan keliling dunia ini mereka masih ingin menjadi Nomadic Tourist, yaitu bekerja secara jarak jauh lewat computer, sambil memanjakan diri berada di destinasi yang indah dengan harga yang terjangkau yang mempu memberi peluang bekerja sekaligus tempat berlibur di pantai seperti di Bali, misalnya.

Melayani Baby Boomers

Sementara itu, Baby Boomers, yang sudah memasuki usia pensiun dan yang sudah menabung untuk masa pensiun, adalah justru mereka yang mempunyai cukup banyak tabungan dan cukup waktu luang untuk berwisata, setelah anak-anak dewasa dan mandiri, dan mereka sudah menunaikan kerja bersusah payah mencari nafkah. Banyak studi juga sudah dilaksanakan mengenai Baby Boomers (umur 55-69) ini, mengingat mereka itu lahir dan dibesarkan setelah Perang Dunia II. Pada umumnya mereka lebih berpikir lebih tradisional (menurut ukuran digital), akan tetapi pada usia ini mereka masih cukup bugar dan mempunyai banyak waktu untuk berwisata untuk memenuhi keinginan, harapan dan mimpi mereka yang sudah lama terpendam . Ternyata juga bahwa menurut Leisure Studies Association, generasi ini mengeluarkan biaya yang paling banyak untuk shopping , hotel dan penerbangan, bahkan mencapai 1/3 dari seluruh pembelanjaan wisatawan dunia setiap tahunnya. Bagi generasi ini, mempunyai rumah, barang – barang bermerek dan menikmati perjalanan dengan fasilitas yang memberi pelayanan yang lumayan mahal merupakan bukti dari keberhasilan mereka yang menyatakan bahwa mereka telah mencapai jenjang sosial yang lumayan tinggi.
Menurut AARP (American Association of Retired Persons), generasi ini sekarang rerata mengadakan 5 kali perjalanan wisata setiap tahunnya; membelanjakan US$ 6,500/trip dan 85% diantara mereka mengadakan booking online.

Sedangkan di Australia dan New Zealand, generasi ini lebih suka mengikuti rombongan yang itinerary-nya sudah lebih dulu dipaket menurut selera mereka dan mereka lebih suka berwisata dalam paket dimana semua urusan sudah diatur terlebih dahulu. Walau mereka mencari informasi lewat internet, tetapi waktu membeli, mereka masih lebih nyaman menemui dulu travel operatornya sendiri secara tatap muka.
Mereka terutama mencari destinasi yang bersejarah, destinasi baru yang mampu memberi pengalaman yang khas, yang bisa menambah pengetahuan, dan juga bisa menyajikan soft-adventure, serta memberi kesempatan mengikuti volunteer tourism disamping destinasi yang mampu menyajikan kenyamanan, keamanan dan relaxasi.

Pelaku pariwisata yang telah lebih terbiasa melayani Baby Boomers Generation, tidak perlu berputus asa, melihat bagaimana cepatnya Millennials menguasai pasar, karena penduduk dunia juga menjadi semakin tua, antara lain di Eropa, Amerika, dan Jepang, sehingga generasi ini semakin bertambah juga. Hanya saja mereka sudah perlu juga dilayani lewat Internet secara digital, walaupun mereka masih tetap mengharapkan adanya pertemuan tatap muka. Mereka tetap masih mengharapkan dilayani oleh manusia, dan bukannya mesin saja yang dianggap masih kurang meyakinkan dan kurang sreg.

(Bersambung ke Bagian 2 : Melayani Generation X dan the Silent Generation)

Advertisements

2 Responses

  1. […] atau lebih yakin bila bisa bertemu muka dengan yang menangani tour atau hotel setempat. (lihat: Generational Marketing Bagian 1 dan Bagian […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: