Pemasaran Pariwisata Offline atau Online


Dalam era digitalisasi sekarang ini kita dihadapkan pada suasana yang berubah dalam sehari-hari. Kalangan usaha pun, termasuk usaha pariwisata, – khususnya dalam upaya pemasaran, dihadapkan pada pilihan. Di satu sisi upaya yang tradisional secara offline, di sisi lain upaya kontemporer dengan mendayagunakan teknologi digital.
Penggunaan teknologi digital diawali dengan Computerized Reservation System (CRS) oleh kalangan penerbangan sipil pada awal tahun 1970-an. Kemudian diikuti oleh kalangan perotelan dan akhirnya Tour Operator dan Travel Agent pun tidak luput harus menerapkan sistem reservasi secara digital. Bahkan, di akhir dasawarsa 70-an itu juga, tumbuh secara meluas sistem informasi yang dilakukan oleh negara-negara destinasi utama dunia.
Untuk mencari tahu apa dan bagaimana kita, – terutama para Tour Operator dan Travel Agent, harus menyikapinya, di bawah ini kami tampilkan satu artikel yang ditulis oleh Wuryastuti Sunario, salah seorang anggota dan mantan ketua Care Tourism.

Memadukan Pemasaran Tradisional dengan Digital Tourism Marketing
Oleh
Wuryastuti Sunario

Banyak di antara kawan-kawan industri pariwisata, termasuk travel agents dan hotel-hotel kecil-menengah yang sejak awal turut membangun pariwisata Indonesia, sekarang mulai bertanya-tanya: bagaimana kita harus mendadak beralih dari marketing tradisional yang sudah terbukti membuahkan hasil, sedang kini kita harus langsung melompat ke digital marketing yang belum pasti dapat memberi hasil bagi usaha kita?
Ahli Pemasaran Indonesia, Hermawan Kartajaya dalam bukunya berjudul, Citizen 4.0 menyatakan bahwa di era digital ini, dan dalam rangka Pemasaran, kita dihadapkan pada 3 realita Paradoxal (seakan berlawanan tetapi menyatu), yaitu :

    1. Online vs Offline,
    2. Style with Substance, dan
    3. Machine and Human.

Demikian juga Philip Kotler, ahli Pemasaran dunia, mengatakan dalam bukunya Marketing 4.0 bahwa semakin canggih teknologi, maka konsumen semakin cenderung mencari yang memanusiakan manusia, yang dekat di hati dan perasaan.
Oleh karenanya, untuk memasarkan produk ataupun destinasi, maka industri pariwisata termasuk travel agents, ternyata tidak perlu langsung meninggalkan segala yang sudah diketahui dan dialami dalam melaksanakan pemasaran tradisional supaya bisa langsung terjun ke pemasaran digital, akan tetapi para ahli justru menganjurkan agar sebaiknya industri menyatukan pemasaran tradisional yang lebih menggunakan human communication dengan pemasaran digital yang menggunakan komunikasi teknologi, demi untuk mencapai hasil optimal.

Paradox 1 : Online vs Offline

Pemasaran Offline atau traditional marketing yang dikenal pemasaran dan promosi melalui penyebaran brosur, pemasangan iklan di televisi, koran atau di majalah cetak, billboards dan langsung menemui konsumen. Sedangkan yang Online adalah promosi dan penjualan lewat internet, website, blog, sosmed termasuk Facebook, Twitter, Youtube, Instagram dll.

Di zaman digital sekarang ini, memang penggunaan smartphone sudah demikian meluas, sampai- sampai bukan saja generasi milenial saja yang fasih memakai segala macam aplikasi, tapi juga generasi X dan Baby Boomers sebelumnya, apalagi generasi Z dibawah umur 20 tahun juga sudaha terbiasa. Keadaan ini meluas di seluruh dunia, sehingga kalau kita ingin mencapai pembaca dan langganan yang terluas dengan biaya termurah, maka memang internet-lah solusinya. Hanya saja, belum pasti orang yang membaca tulisan atau iklan kita ini adalah konsumen / pembeli yang ingin kita capai. Jadi benar bila kita menginginkan volume, maka Online marketing merupakan solusi terbaik. Akan tetapi untuk berhasil Online pun produsen dan penyaji jasa ternyata masih harus membarengi marketing Online dengan Offline marketing, yaitu mereka masih harus tetap menyediakan brosur, memasang iklan di tv dan koran atau majalah, dan perlu bertatap muka dengan buyers di travel mart dan pameran internasional dll.

image source: kaskus,co,id

Jangan pula kita abaikan bahwa aset paling berharga yang dimiliki travel agents dan hotel yang sudah established adalah Trust (kepercayaan) pasar dan terutama dari langganan lama, hal mana sangat sukar dan mahal diraih. Jadi memenuhi keinginan untuk beralih ke digital, “brand” (nama perusahaan) perlu terus dipajang supaya masyarakat tetap mengenalnya di antara ribuan pesaing di internet.
Jadi mengapa kita perlu berpromosi di internet? Karena dunia konsumen (mereka yang menentukan dibeli tidaknya produk atau tour kita) memang telah beralih ke digital, yaitu mencari info destinasi, sampai mengadakan booking dan membeli perjalan dan penerbangan melalui kemudahan dan kecepatan yang hanya bisa terjadi di dunia online. Merekapun yang akan memperkenalkan dan mempromosi destinasi kita bila mereka puas dengan apa yang dinikmati. Tetapi disinipun kompetisi untuk meraih atensi konsumen sudah semakin ramai dan semakin kuat.

Apa perbedaan utama antara Traditional dan Digital Marketing?

Pemasaran tradisional tertuju kepada segmen pemasaran tertentu yang bagaimanapun luas jangkauannya tetapi jumlahnya terbatas, sedangkan Digital marketing menjangkau pasar seluruh pelosok dunia dengan jumlah yang jauh lebih luas, lagipula produsen dapat berhubungan langsung dengan pembeli secara pribadi lewat tilpun genggam di tangan.

Hubungan lewat online memang hampir instan dibanding yang tradisional yang masih memerlukan waktu. Lagipula pesan online bisa cepat dirobah jika ada kesalahan atau untuk Breaking News. Pertanyaan dan Pemesanan online juga bisa langsung terjadi lewat pembicaraan interaktif baik secara tertulis ataupun audio dan bahkan visual lewat Skype, sedang iklan di koran cetak memerlukan waktu lama sebelum kita menerima jawaban. Dan perlu diakui juga bahwa memasang promosi atau iklan online masih jauh lebih murah banding iklan di media cetak dan tv.
Disampping itu, menurut penilitian ternyata bahwa walaupun mereka yang berusia lebih tua (baby boomers internasional) sudah juga beralih ke pemesanan lewat online, tetapi mereka masih lebih “sreg” atau lebih yakin bila bisa bertemu muka dengan yang menangani tour atau hotel setempat. (lihat: Generational Marketing Bagian 1 dan Bagian 2).

Memang, kata kunci yang perlu dipegang sekarang adalah konektivitas langsung – direct connectivity– dengan pembeli, jadi melalui internet setiap perusahaan berkesempatan langsung bicara dengan pembeli tanpa harus lewat tour operator luar negeri. Lagipula, konsumen sekarang juga tidak mau terima begitu saja tour yang disajikan kepadanya, tapi ia juga ingin menambah atau mengurangi dari paket yang dibuat travel agent (yang dikenal dengan kata co-create). Jangan anggap remeh keinginan satu orang pelanggan, karena pelanggan tersebut bisa saja membuat kelompok dan kalau ia sudah alami destinasi, dan puas dengan jasa perusahaan Anda, maka sangat mungkin ia akan menjadi langganan tetap dan setia serta mengantar lagi groups secara berkala.
Jadi bagaimanapun, sebagaimana dikatakan di atas, maka paling efektif adalah memadukan marketing online dengan pemasaran offline/tradisional, dan sebaliknya apalagi kalau anggaran cukup ketat.

Bersambung … – 2

Sumber:
Tyrone R Wilson : “How Digital Marketing has Changed the Travel and Tourism Industry”;
Ana Kvesic: “Digital vs Traditional marketing in tourism industry”.
https://caretourism.wordpress.com/2019/04/14/generational-marketing-bagian-2/
https://caretourism.wordpress.com/2019/04/02/generational-marketing-bagian-1/
https://caretourism.wordpress.com/2017/08/11/derap-langkah-pariwisata-menggapai-sasaran-2019/
https://caretourism.wordpress.com/2013/06/22/sistem-reservasi-komputer-dan-pariwisata/

One Response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: