Nilai-nilai Calendar Of Events


Sebuah agenda peristiwa wisata, – yang di kalangan kepariwisataan dikenal sebagai Calendar Of Events (CoE) -, seyogyanya akan mampu menjadi “pemicu” pertumbuhan kepariwisataan di suatu daerah atau destinasi, mengingat CoE merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk:
a. Datang ke tempat tsb.;
b. Memperpanjang masa tinggal di tempat tsb, sehingga pd gilirannya
c. Memperbanyak pengeluaran (belanjanya) di tempat tsb., baik utk makan, minum, penginapan, transportasi dsb.

Event Communications Value

Menjelang tahun 2020 ini, agaknya kita sudah harus memikirkan untuk meluncurkan sebuah agenda peristiwa wisata, – Calendar Of Events (CoE). Agenda ini sejatinya sudah beredar di pasar pariwisata dunia paling lambat 6 bln sebelum tahun berganti.
Calendar of Events (CoE / Kalender Acara) merupakan andalan bagi keberhasilan penyelenggaraan pariwisata di suatu Daerah, – Provinsi, Tujuan/Destinasi Wisata (Tourist Destination). Calendar of Events lazimnya berbentuk Agenda (bergambaar, dalam tatawarna), berisi “Daftar Rangkaian Peristiwa” yang sengaja diselenggarakan atau yang secara alamiah terselenggara sebagai suatu bagian dari kehidupan dan / atau kebiasaan masyarakat setempat secara berkala (mingguan, bulanan, tahunan) yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik pengunjung, baik lokal, regional maupun global. Events yang dirancang untuk memikat pengunjung ini, – baik domestik maupun mencanegara -, lazimnya disebut sebagai “Tourism Events” atau “Agenda Pariwisata”. Continue reading

Membangun Pariwisata Ramah Lingkungan (Sustainable Tourism)


Berbicara tentang kepariwisataan, agaknya kita tidak dapat dilepaskan dari masalah kelestarian lingkungan (environmental sustainability), baik lingkungan alam, lingkungan sosial budaya maupun lingkungan ekonomi masyarakat sekitarnyanya (ekonomi sosial).
Dan, berbicara soal kelestarian lingkungan, khususnya lingkungan alam, kita akan diingatkan pada pelestarian margasatwa beserta lingkungan alamnya (seperti Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon dll.).
Sejak lama kita mengenal adanya “kawasan perlindungan margasatwa”, “kawasan perlindungan alam” dan “kawasan perlindungan budaya” yang disebut juga “Suaka Margasatwa”, “Suaka Alam” serta “Suaka Budaya”.
Dalam hubungan dengan pembangunan kepariwisataan, mengapa “kelestarian” (sutainabality) menjadi sangan penting?
Karena, pengembangan kepariwisataan di suatu tempat bertumpu pada “Alam, Budaya dan Ekonomi masyarakat” tempat yang bersangkutan, sebagai “Modal Utama”-nya.
Continue reading