Nilai-nilai Calendar Of Events


Sebuah agenda peristiwa wisata, – yang di kalangan kepariwisataan dikenal sebagai Calendar Of Events (CoE) -, seyogyanya akan mampu menjadi “pemicu” pertumbuhan kepariwisataan di suatu daerah atau destinasi, mengingat CoE merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk:
a. Datang ke tempat tsb.;
b. Memperpanjang masa tinggal di tempat tsb, sehingga pd gilirannya
c. Memperbanyak pengeluaran (belanjanya) di tempat tsb., baik utk makan, minum, penginapan, transportasi dsb.

Event Communications Value

Menjelang tahun 2020 ini, agaknya kita sudah harus memikirkan untuk meluncurkan sebuah agenda peristiwa wisata, – Calendar Of Events (CoE). Agenda ini sejatinya sudah beredar di pasar pariwisata dunia paling lambat 6 bln sebelum tahun berganti.
Calendar of Events (CoE / Kalender Acara) merupakan andalan bagi keberhasilan penyelenggaraan pariwisata di suatu Daerah, – Provinsi, Tujuan/Destinasi Wisata (Tourist Destination). Calendar of Events lazimnya berbentuk Agenda (bergambaar, dalam tatawarna), berisi “Daftar Rangkaian Peristiwa” yang sengaja diselenggarakan atau yang secara alamiah terselenggara sebagai suatu bagian dari kehidupan dan / atau kebiasaan masyarakat setempat secara berkala (mingguan, bulanan, tahunan) yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik pengunjung, baik lokal, regional maupun global. Events yang dirancang untuk memikat pengunjung ini, – baik domestik maupun mencanegara -, lazimnya disebut sebagai “Tourism Events” atau “Agenda Pariwisata”.

Tiga Nilai Utama

Event Creative Value

Agar Events itu mampu menarik banyak pengunjung sedikitnya harus memiliki 3 Nilai (Value), yaitu Creative, Commercial, dan Communications.
Guna mencapai maksud tersebut ini, Kementerian Pariwisata pun pada akhir tahun 2018, membentuk Tim Kurator Calendar of Event 2019 (CoE-2019), yang diberi tugas mengawal Agenda Pariwisata yang diselenggarakan selama th 2019 di berbagai destinasi wisata di 34 Provinsi. Adapun Tim kurator dimaksud terdiri dari orang-orang handal di bidangnya, seperti Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Media dan Komunikasi Don Kardono, Jacky Mussry dari MarkPlus, Taufik Rahzen (budayawan dan sastrawan), Deny Malik (Koreografer, Artis), Dynand Fariz (alm., penggagas Jember Fashion Carnival), Eko ‘Pece’ Supriyanto (mantan koreografer dan penari latar Madonna).

Don Kardono yang juga Ketua Tim Kurator Top 100 CoE 2019 berujar:
Prinsipnya events yang diusulkan oleh masing-masing Kepala Dinas Provinsi, harus memiliki 3C.
Pertama, Creative Value (Nilai Kretif) atau Cultural Value (Nilai Budaya) agar setiap event memiliki selera seni yang berkelas dunia.

Event Commercial Value

Kedua, Commercial Value (Nilai Komersial). Dengan nilai komersial suatu event yang tinggi sudah tentu memiliki potensi devisa yang tinggi.
Ketiga, Communications Value (Nilai Komunikasi) atau Media Value (Nilai Media) yang mampu memikat media dan para calon wisatawan.

Menurut Don Kardono, bila kedua C diatas sudah dilengkapi, nilai di media (C yg ketiga) juga akan menarik, unik, dan penuh pesona.
Lebih lanjut Don Kardono menjelaskan tugas personel timnya.
Untuk urusan Creative Values, Deny Malik, Dynand Fariz, Eko ‘Pece’ Supriyanto ahlinya.
Ketiga orang ini masuk dalam tim creative yang membuat Opening dan Closing Ceremony Asian Games 2018 dipuji dunia. Bahkan hingga menjadi “Trending Topic” Twitter nomer 1 di dunia.
Dalam hal menghitung Commercial Values, atau Financial Values, Jacky Mussry, yang malang melintang di Mark Plus urusannya. Dia ahlinya.
Sedangkan untuk urusan nilai budaya atau kearifan budaya suatu event ada Taufik Rahzen yang menilai Cultural Value“.

Generasi Pesona Indonesia

Disamping Tim Kurator, kehadiran Generasi Pesona Indonesia (GenPI) dinilai bisa melengkapi kesuksesan suatu event, karena GenPI bisa memviralkan destinasi wisata beserta “event”-nya, dan memunculkan “awareness” baru.
Denny Malik pun angkat suara: “34 Provinsi di Indonesia memiliki budaya yang luar biasa. Mereka bersaing satu sama lain agar event di daerahnya masuk dalam Calendar of Event nasional”.
CoE 2019 memang agak membingungkan, akan tetapi itu wajar. Karena secara ide dan kreativitas di 34 Provinsi semuanya bagus. Tetapi memang kita harus mencari ikon utama di suatu daerah, yang unik dan beda dengan daerah lain, sehingga bisa menarik wisatawan datang”.
Pelantun lagu “Jalan-jalan Sore” itu menilai Indonesia memiliki keberagaman seni budaya. Hampir setiap daerah, punya karateristik budaya yang berbeda. Untuk itu setiap daerah harus all out mengeluarkan ide. Seperti menyatukan dengan unsur alam atau olahraga. Semua bersentuhan dengan seni budaya.
“Intinya, festival seni budaya ini harus dikemas berbeda disetiap daerah. Sehingga wisatawan dapat mencari festival mana yang akan didatangi. Itu semua harus dipikirkan agar gelaran seni yang masuk dalam CoE tidak asal-asalan dan memiliki potensi yang sangat kuat”.

Sementara itu, pakar karnaval Dynand Fariz (alm), yang namanya sudah mendunia dengan Jember Fashion Carnaval, menilai “ToP 100 Calender of Events” sangat menarik. Namun, ada beberapa yang harus dikaji dan dievaluasi.
“Banyak hal, mulai dari segi peningkatan event, konten event, dan aktivitas yang muncul disetiap event. Karena, mereka perlu berpikir bila suatu event itu tidak hanya sekedar dibuat, tapi harus direncakan dan punya nilai jual,” ujar Dynand.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut penyusunan Top 10 Events Nasional dan 100 Calendar of Events 2019 memiliki beberapa Indikator.
1. Harus memiliki ketersediaan informasi online diukur dengan keberadaan website, updated content, dan desain websitenya.
2. Konsistensi pelaksanaan, diukur dengan jumlah penyelenggaraan, merupakan jumlah total penyelenggaraan event yang sama sejak tahun pertama dilaksanakan hingga saat ini.
“Dengan demikian, penyelenggaraan event benar-benar berkualitas. Tidak asal-asalan sehingga tidak memberikan efek apapun pada ekonomi masyarakat,” kata Menpar Arief Yahya.

Dampaknya pada Kunjungan Wisman tahun 2019

Gagasan tentang “ToP 100 Calender of Events” ini sebetulnya merupakan gagasan yang brillian dalam misi pencapaian kunjungan wisman tahun 2019.
Dalam kenyataannya terlihat bahwa 100 Events yang digelar di seantero nusantara ini belumlah mencapai hasil yang optimal.
Dari grafik kunjungan wisman selama 7 bulan pertama 2019 menunjukkan pertumbuhan yang kurang menggembirakan, yaitu 6.02% dibanding periode yang sama tahun 2018, dan pertumbuhan perbulan di tahun 2019 ini hanya mencapai rata-rata 1.26%, dengan catatan bulan Januari 2019 mengalami penurunan sebanyak -13.73% dibanding bulan sebelumnya, Desember 2018.

Sebagaimana diutarakan pada awal tulisan ini, Calendar Of Events (CoE) sejatinya mampu menjadi “perangsang” bagi para calon wisatawan, – baik nusantara maupun mancanegara untuk:
a. Datang ke tempat di mana event tsb. diselenggarakan;
b. Memperpanjang masa tinggal di tempat tsb., sehingga pd gilirannya
c. Memperbanyak pengeluaran (belanjanya) di tempat tsb., baik utk makan, minum, penginapan, transportasi dsb.
Dengan demikian penyelenggaraan CoE dapat sekaligus meningkatkan arus kunjungan wisatawan secara nasional khusunya wisman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: