Pengertian Dasar Kepariwisataan | Obyek & Atraksi


Di kala seseorang merencanakan suatu perjalanan ke suatu tempat, disebabkan karena adanya suatu maksud tertentu, tujuan atau motivasi, entah itu untuk maksud kepentingan bisnis (business purposes),  seperti perdagangan, investasi dll., ataupun motivasi pesiar, atau maksud kunjungan lainnya seperti kunjungan resmi, konferensi, pendidikan dsb.
Motivasi perjalanan itu dirangsang atau ditimbulkan oleh adanya “sesuatu yang menarik”, yang lazim disebut daya tarik wisata (tourism attraction, tourist attraction), yang dimiliki tempat kunjungan tersebut, baik untuk kepentingan bisnisnya maupun sebagai tempat pesiar, misalnya iklim tropis yang hangat, iklim ekonomi yang kondusif buat investasi, dll.
Dalam kaitannya dengan manajemen kepariwisataan, daya tarik atau atraksi Continue reading

PENGERTIAN KEPARIWISATAAN | Ecotourism


Sementara di tanah air, kita masih berjuang untuk arus pengunjung mancanegara yang belum kunjung mencapai 10 juta, dengan terjadiya berbagai gejala alam maupun gejolak ekonomi internasional, kalangan kepariwisataan di luar sana gencar memperbincangkan “Nasib Kepariwisataan Global di Kemudian Hari”. Salah satu yang sedang hangat diperbincangkan adalah “Perubahan Cuaca Global (Global Climate Change) yang langsung akan berpengaruh pada perkembangan kepariwisataan terutama dalam hal pandangan dan perilaku para wisatawan dan calon wisatawan internasional serta paradigma pariwisata secara umum, yang akan mengubah perilaku pasar kepariwisataan secara global. Pada gilirannya penyelenggaraan kepariwisataan pun harus mengalami perubahan pula.
Para ahli, anggota TIES (The International Ecotourism Society), yang tahun 2010 berulang tahun ke-20, menunjukkan kekhawatirannya akan berbagai dampak negatif yang timbul disebabkan oleh perilaku para pemangku kepentingan (stakeholders) di bidang pariwisata dan perjalanan yang kurang bertanggung jawab, dalam arti kurang memberikan perhatian pada dampak negatif terhadap lingkungan alam, sosial, budaya dan ekonomi masyarakat setempat.
Mereka berupaya sangat gencar dengan melakukan berbagai kegiatan untuk menyebarluaskan pemahaman tentang pentingnya penerapan prinsip Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism Development).
Semula, – pada awal perkembangan kepariwisataan -, paradigma kepariwisataan dunia mengusung keyakinan bahwa kepariwisataan tidak menghabiskan sumber Continue reading

MENGENAL MOTIVASI PERJALANAN WISATA | Bagian-2


Di bawah ini kami sajikan kelanjutan artikel terdahulu, bagian ke-2 dari 2 bagian. Selamat mambaca.

2) PARIWISATA PESIAR (Pleasure atau Leisure Tourism)

Dalam artikel Bagian-1 telah diuraikan tentang jenis-jenis Pariwisata Bisnis (Business Tourism) yang terbagi dalam dua kelompok.

Demikian pula Pariwisata Pesiar, terbagi atas dua kelompok lebih lanjut, yaitu:

a) PARIWISATA BUDAYA (Cultural Tourism, yang antara lain meliputi: Historical, Educational, Family, Religious, Sport dll.);

Historical: Pada dasarnya kelompok motivasi ini mengutamakan kunjungan ke situs-situs sejarah atau dengan maksud mendalami sejarah negara yang dikunjunginya;

Educational: Dalam hal ini, maksud kunjungan kelompok ini dengan minat pada pengembangan pengetahuan pribadi secara sistematis pragmatis, baik formal maupun informal. Misalnya dengan cara mengunjungi tempat-tempat dan/atau melakukan kegiatan yang mengandung nilai-nilai edukatif.

Family Visit: Motivasi kunjungan ini paling banyak dilakukan oleh wisatawan nusantara (wisnus) tanpa menutup kemungkinan dilakukan juga Continue reading

MENGENAL MOTIVASI PERJALANAN WISATA | Bagian-1


Dalam pengelolaan kepariwisataan dikenal adanya beberapa motivasi yang mendorong seseorang melakukan perjalanan wisata, yang pada garis besarnya lazim dikelompkkan dalam dua Kelompok Besar, yaitu:

1.  Pariwisata Bisnis (Business Tourism); dan

2.  Pariwisata Pesiar (Pleasure atau Leisure Tourism).

Kita mengenal pada awal pergerakan manusia, perjalanan semula dilakukan untuk maksud-maksud mencari nafkah, – seperti berburu, menangkap/memancing ikan dsb. -, di samping untuk maksud perdagangan, – yaitu dalam rangka menjual atau menukarkan hasil buruan atau tangkapannya serta hasil bercocok tanam.

Kisah perjalanan pada masa-masa Colombus, Marco Polo, Vasco de Gama, Magelan, Amerigo Vespucci, dsb., menunjukkan bahwa perjalanan dilandasi juga atas kepentingan pengetahuan (science), dalam hubungannya dengan upaya membuktikan keyakinan tentang belahan bumi yang lain, selain yang mereka huni, yang kemudian disusul dengan motivasi perdagangan dan kunjungan resmi (official visit) juga. Pada akhirnya, motivasi perjalanan semakin berkembang sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan serta didukung pula oleh kemajuan teknologi, –  sebagai aplikasi dari  pada perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri -. dalam berbagai bidang antara lain bidang industri dan manajemen.

Dalam hal pengelolaan kepariwisataan, pengelompokkan motivasi perjalanan, – baik nusantara maupun mancanegara -, berperan sangat penting dalam hubungannya dengan penentuan kebijakan pengembangan produk pariwisata, – atraksi dan obyek wisata beserta fasilitas dan pelayanan yang diperlukannya -, agar dapat memenuhi kebutuhan, keinginan dan selera pasar pariwisata, seiring dengan kecenderungan pasar (market trend) baik pasar pariwisata nusantara maupun mancanegara, serta untuk kepentingan “penyesuaian” kebijakan pemasarannya terkait dengan perubahan perilaku pasar akibat dari pengaruh berbagai faktor yang terjadi di dunia pada umumnya, khususnya di negara pasar yang bersangkutan, maupun berbagai peristiwa yang terjadi di dalam negeri.

Dalam kenyataan, acapkali perjalanan dilakukan dengan lebih dari satu Continue reading

FENOMENA MUDIK | MASA PANEN WISNUS PARIWISATA INDONESIA


Kita semua maklum bahwa setiap tahun masyarakat Indonesia melakukan perjalanan “mudik” pada kesempatan libur besar seperti Iedul Fitri, Natal / Tahun Baru, Imlek, Ceng Beng dsb. Ditinjau dari kacamata kepariwisataan Indonesia, – sebagaimana diutarakan dalam artikel terdahulu , para pemudik itu tergolong wisatawan nusantara (wisnus).
Apa saja kriteria yang melekat pada para pemudik sehingga mereka dikategorikan sebagai wisnus?
Selain itu, apa kata WTO (World Tourism Organization) tentang definisi “Kepariwisataan Nusantara”, yang mereka sebut sebagai “Home Tourism” atau “Internal Tourism”?
Pada tanggal 24-28 Juni 1991, WTO menyelenggarakan “Konferensi Internasional Tentang Perjalanan dan Kepariwisataan” di Ottawa – Kanada, yang menghasilkan rekomendasi dalam resolusinya tentang Definisi Dasar dan Klasifikasi (Basic Definition and Classifications) untuk kepentingan Statistik Kepariwisataan.
Dalam resolusi tersebut WTO merekomendasikan Konsep Dasar Continue reading

PENGERTIAN DASAR KEPARIWISATAAN


Bagi Anda yang telah mengalami “asam-garam” di bidang kepariwisataan pengertian dasar kepariwisataan bukan lagi merupakan masalah. Namun kami yakin banyak di antara kita yang masih belum faham berbagai istilah kepariwisataan yang acapkali kita jumpai sehari-hari, merupakan hal yang menimbulkan pengertian yang “kisruh”. Lihat saja contoh di bawah ini.

Salah satu istilah yang digunakan secara “resmi” sebagai nama sebuah kementerian, yaitu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang berwenang menangani “kebudayaan” dan “kepariwisataan“, tidak menggunakan istilah “kepariwisataan” melainkan “pariwisata“, berbeda halnya dengan istilah “kebudayaan” yang digunakannya secara berdampingan.
Sementara itu Undang-undang no. 10/Th 2009 (UU no.10/2009) disebutnya sebagai Undang-undang tentang “Kepariwisataan”. Di samping itu, kita sering mendengar dan membaca adanya istilah “obyek wisata” dan “atraksi wisata“. Oleh karena itu tidaklah heran jika banyak pihak yang mempertanyakan akan perbedaan antara wisata, pariwisata dan kepariwisataan. Atas dasar apa pilihan istilah wisata, pariwisata dan kepariwisataan itu digunakan?
Dengan diundangkannya UU no.10/2009 tentang Kepariwisataan, diharapkan penggunaan istilah-istilah itu dilakukan lebih tertib sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa sehingga tidak lagi menimbulkan pengertian yang membingungkan.
Di dalam BAB I Ketentuan Umum UU no.10/2009 ditetapkan berbagai ketentuan yang terkait dengan kepariwisataan, di antaranya sebagai berikut.

  • WISATA        : adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu tertentu;
  • WISATAWAN    : adalah orang yang melakukan wisata;
  • Continue reading