Global Tourism Trends 2019 – Bagian-2


Dalam artikel terdahulu, diutarakan bahwa dewasa ini sedang terjadi perubahan dalam fenomena perjalanan wisata intraregional dengan long haul yang mengalami pergeseran dari semula 82:18 (intraregional : longhaul) menjadi 76:24 pada tahun 2020.
Perubahan itu ditengarai oleh Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO, United Nation World Organization) terjadi karena beberapa hal sbb.:

  • Favorable economic environment,
  • Strong outbound demand from major source markets,
  • Consolidation of the recovery in key destinations affected by previous crises,
  • Enhanced connectivity, and
  • Increased visa facilitation.

Sementara itu, UNWTO juga mengindikasikan dalam UNWTO OUTLOOK 2019, bahwa perubahan itu terjadi karena beberapa hal yang positif, meskipun ada juga berbagai unsur negatif yang berpengaruh, di antaranya seperti:

+ Positive drivers:

  • Fuel prices stable (affordable air travel)
  • Better air connectivity
  • Strong outbound from emerging markets

Downside Risks :

  • Economic slowdown
  • Brexit uncertainty
  • Geopolitical and trade tensions
  • “Wait and see” attitude among investors and travellers.

Mari kita lihat lebih lanjut gejalanya secara umum dalam artikel bagian ke-2 di bawah ini, yang ditulis oleh Wuryastuti Sunario, salah satu anggota dan mantan Ketua Care Tourism. Continue reading

Advertisements

Global Tourism Trends 2019 – Bagian-1


UNWTO (United Nation World Tourism Organization) – dalam prognose-nya pada tahun 2007 berjudul TOURISM 2020 VISION, memperkirakan bahwa perjalanan wisata long-haul seluruh dunia akan mengalami pertumbuhan yang lebih pesat, sekitar 5,4% per tahun sepanjang tahun 1995-2020, sementara perjalanan wisata intraregional pada tingkat 3,8%. Dengan demikian akan membawa konsekwensi pada perbandingan antara perjalanan wisata intraragional dengan long-haul akan mengalami pergeseran dari semula 82:18 menjadi 76:24 pada tahun 2020 dan akan mencapai jumlah sebanyak 1,6 milyar wisataawan.
Namun demikian, agaknya bukan hanya dalam hal intraregional dan long-haul saja yang terjadi pergeseran, melainkan dalam hal perilaku dan jenis kelamin serta intensitas perjalanan pun mengalami perubahan, sehingga mau tidak mau – suka tidak suka, para pelaku pengelola dan pemangku kebijakan pariwisata pun harus melakukan penyesuaian-penyesuaian seperrlunya.
Di bawah ini kami sajikan artikel yang ditulis oleh Wuryastuti Sunario, salah satu anggota dan mantan Ketua Care Tourism, yang menggambarkan Global Tourism Trends 2019 secara umum, yang kami bagi menjadi 2 bagian.

Continue reading

Generational Marketing – Bagian 2


Kita mengerti bahwa dalam Era Industri 4.0 segala sesuatu menjurus pada digitalisasi. Dan, selama ini kita dihadapkan pada 5 generasi yang berbeda, sebagaimana diutarakan terdahulu, yaitu: 1. Silent generation; 2. Baby Boomers; 3. Generation X; 4. Generation Y; dan 5. Generation Z.
Dalam hal pemasaran pariwisata, mau tidak mau harus mempertimbangkan generasi-generasi tersebut agar mencapai hasil sebagaimana diharapkan.
Mengingat pola pikir tiap generasi berbeda jauh satu dengan lainnya, antara generasi itu terdapat kesenjangan (gap), – terutama antara generasi Baby Boomers dengan generasi-X dan generasi -Y.
Di satu sisi generasi Baby Boomers masih dipengaruhi oleh pola pikir lama (konvensional), di sisi lain generasi-X dan generasi-Y sangat dipengaruhi oleh pola pikir digital yg serba mudah, serba cepat, bahkan seringkali tidak menghiraukan adanya rintangan.
Nah, dalam hal pengelolaan pemasaran, – termasuk pariwisata -, para pemegang kewenangan sebagian besar terdiri dari Baby Boomers di mana masih ada yg berpola pikir konvensional tadi. Sementara pasar sudah menghendaki penanganan yg serba mudah dan cepat dengan pola pikir digital.
Namun, bagaimana pun di pasar masih terdapat potensi yg cukup besar dari generasi lama (Baby Boomers) yg perlu dilayani, walau dengan proses digital sekali pun. Dan, generasi ini memiliki kemampuan financial yg jauh lebih kuat dan mempunyai cukup waktu untuk berlibur di banding dengan generasi yg lebih muda (generasi X dan Y).
Melanjutkan artikel terdahulu mengenai “Generational Marketing”, di bawah ini disampaikan bagian ke-2 dari artikel tersebut.

Generational Marketing: Mengenal Profil Wisatawan dari berbagai Generasi
Oleh
Wuryastuti Sunario

Bagian 2.
Profil Generation X, the Silent Generation, dan Generation Z

Generation X

Generation X

Peran computer dan digitalisasi di dunia, – tak terkecuali di Indonesia -, sudah tidak terelakkan. Mau tidak mau, suka tidak suka, dunia sudah memasuki Industrial Revolution 4.0 yang dipicu sejak teknologi analog beralih ke teknologi digital, yang telah merobah cara dunia berkomunikasi satu sama lain. Sekarang orang tidak perlu bertatap muka untuk berkomunikasi. Siapa saja bisa mencari informasi tanpa bersusah payah ke perpustakaan, dan dengan mudah dan cepat bisa mendapatkannya di Google; untuk membuat laporan lengkap dengan photo dan video bahkan dengan suara, petugas hanya perlu kirim via laptop ke siapapun; bagi penumpang yang memesan dan membayar tiket pesawat, atau membayar apapun, cukup dari tilpun di genggam.
Segala bisa berlangsung dengan capat dan mudah, dengan satu syarat: asal tau tombol mana yang harus ditekan.
Hal ini dengan sendirinya sangat membingungkan generasi yang lebih tua yang merasa seakan harus mulai belajar teknologi ini dari awal dengan menanggalkan semua kebiasaan yang sudah pernah dipelajarinya. Ini sangat jauh banding waktu mereka nilpun dari rumah dengan tilpun analog, mengetik dengan mesin tik manual, dan ngantre ke bank untuk mengirim uang. Continue reading

Generational Marketing – Bagian 1


Banyak ahli, cendekiawan dan kalangan industri menilai bahwa dewasa ini kita sedang berada dalam transisi menuju Era Industri 4.0. Bahkan di kalangan pemerintah pun mau tidak mau harus mempelajari dan memahaminya serta mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi masa kini yang serba digital dan serba cepat. Jika tidak menyesuaikan diri, maka bersiaplah untuk “tertinggal” dari negara lainnya.
IMG-GenMktg Industri 4.0Baru-baru ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyelenggarakan Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) yang pertama dalam tahun 2019 ini, di mana dibahas juga perihal berbagai strategi menyatukan faham dan langkah semua pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat pariwisata dalam menghadapi perubahan yang terjadi menuju Industri 4.0 tersebut.
Di bawah ini kami sajikan sebuah tulisan tentang Industri 4.0 karya Wuryastuti Sunario, salah seorang anggota dan mantan ketua Care Tourism, berjudul “Generational Marketing”. Selamat membaca, semoga bermanfaat menambah informasi tentang Era Industri 4.0.

Generational Marketing: Mengenal Profil Wisatawan berbagai Generasi
Oleh
Wuryastuti Sunario

Bagian 1.
Melayani Millennials dan Baby Boomer

Di era Revolusi Industri 4.0 saat ini, Konsumen tidak saja menjadi ratu atau raja, tetapi telah menjadi penguasa pasar. Banyak perusahaan, – raksasa sekalipun -, yang mengabaikan perobahan besar ini telah merugi bahkan terpaksa bangkrut. Sebaliknya perusahaan yang memenuhi harapan zaman, justru dicari khalayak ramai dan popularitasnya melambung. Contohnya Go-Jek, Grab, Traveloka, Tokopedia. Mengapa? Sebab mereka telah memenuhi keinginan konsumen yaitu: kecepatan, proses sederhana, nyaman, dan biaya terjangkau, maka startups berkembang menjadi unicorns yang melejit popularitasnya dan menyisihkan dalam sekejap mata saja perusahaan taxi, mall dan travel agents konvensional . Continue reading

Mengenal Profil Wisatawan Millenial Asia – Bagian 2


Sebelum melanjutkan artikel terdahulu mengenai millenial, perlu agaknya disampaikan bahwa seringkali kita dihadapkan pada pertanyaan apa yang istimewa dari kelompok millenial ini. Banyak di luar sana beredar kisah, foto, ulasan, ataupun opini tentang kelompok ini yang acapkali berbenturan satu dengan lainnya, sehingga tidak memberikan kejelasan bagaimana sebetulnya “karakteristik” atau “ciri-ciri” serta “perilaku” mereka itu.  Salah satu artikel yang saya sajikan di blog saya yang lain menulis tentang Generasi Teknologi Informasi. Namun demikian, walau artikel itu belum menyajikan secara implisit tentang adanya “Generasi Millenial”, agaknya sudah memperlihatkan kecenderungan ciri-cirinya.

Dalam artikel yang ditulis Wuryastuti Sunario di bawah ini sedikit diuraikan tentang wisatawan millenial Asia. Sementara Ilustrasi yang tertera di sini sedikit memberikan gambaran tentang mereka.

The Millennials

The Millennials – Foto source: looniepolitics.com

Mengenal Profil Wisatawan Millenial Asia
Oleh : Wuryastuti Sunario

Bagian II.
Di dalam survey PATA (Pacific Asia Travel Association) yang dilaksanakan tahun 2015 berjudul : “Capturing the Asian Millennial Travellers”, PATA meneliti sifat dan perilaku para wisatawan millenial asal Indonesia, China Singapura dan India, meliputi apa saja yang milenials dari masing-masing negara inginkan dan harapkan dari perjalanan wisata mereka dan bagaimana perilaku mereka di destinasi bersangkutan.
Ternyata di dalam era digital sekarang ini, perilaku konsumen millenials Asia menjadi cukup berbeda dengan yang biasanya ditangani oleh industri pariwisata Indonesia sampai saat ini. Juga mengingat bahwa selama ini tour operators Indonesia lebih terbiasa menangani wisatawan asal Eropa dan Amerika dan Jepang di samping Australia. Maka baru akhir-akhir ini sajalah wisatawan ke Indonesia didominasi oleh wisatawan Asia yang bersifat dan berkelakuan sangat beda dengan wisatawan Eropa dan Amerika.
Oleh karenanya survey ini sangat berguna bagi pelaku pariwisata kita untuk bisa memahami apa yang sebenarnya yang dicari dan diinginkan wisatawan Asia dalam mengadakan perjalanan liburan dan wisata mereka.
Adapun hasil penelitian dan survey PATA menjelaskan sebagai berikut.

Continue reading

Mengenal Profil Wisatawan Millenial Asia – Bagian 1


Beberapa tahun terakhir ini perhatian kalangan pemasaran disibukkan dengan mempelajari fenomena yang dialami generasi “jaman now” yang mempunyai banyak perbedaan dari generasi sebelumnya. Tidak luput kalangan pariwisata pun, – termasuk pemerintah Indonesia -, mencoba memahami gejala yang dialami generasi tersebut. Beberapa waktu yang lalu saya menulis artikel tentang “Generasi Teknologi Informasi” yang diterbitkan di laman Lehmann.

img-20181218_2millenialsFakta menunjukkan bahwa kaum millenial ini akan semakin penting bagi kepariwisataan dunia pada umumnya, khususnya bagi Indonesia. Diperkirakan tahun 2019 ini jumlahnya akan meliputi tidak kurang dari 50% dari pergerakan wisatawan dunia yang meliputi kelompok usia 18-34 tahun. Sementara di Asia potensinya tidak kurang dari 57% dalam kelompok usia 15-34 tahun. Adapun pertumbuhan kaum millenial ini sangat pesat. Dewasa ini di Tiongkok saja wisatawan millenial diperkirakan mencapai 333 juta. Di zona ASEAN, wisatawan millenials terbesar berada di Indonesia dengan potensi 82 juta. Potensi Philippina 42 juta, Vietnam 26 juta, Thailand diperkirakan berpotensi sekitar 19 juta. Inilah agaknya yang membuat pemerintah Indonesia juga berupaya untuk membidik pasar wisatawan millenial.

Continue reading

Mengejar Target 10 Juta Wisman di tahun 2015


Menteri (baca: Kementerian) Pariwisata ‘bertekad’ mengejar ketinggalan dari Target 2015 dengan jumlah 10 juta wisman terhitung mulai Oktober ini.
Menurut catatan sampai dengan Agustus 2015, jumlah kedatangan wisman ke Indonesia mencapai 6,322,592 kunjungan.
Dari catatan itu juga, kedatangan wisman per bulan terendah 723,039 dan tertinggi 850,542 kunjungan.
Continue reading