Mengejar Target 10 Juta Wisman di tahun 2015


Menteri (baca: Kementerian) Pariwisata ‘bertekad’ mengejar ketinggalan dari Target 2015 dengan jumlah 10 juta wisman terhitung mulai Oktober ini.
Menurut catatan sampai dengan Agustus 2015, jumlah kedatangan wisman ke Indonesia mencapai 6,322,592 kunjungan.
Dari catatan itu juga, kedatangan wisman per bulan terendah 723,039 dan tertinggi 850,542 kunjungan.
Continue reading

Advertisements

Prakiraan Kunjungan Wisman ke Indonesia 2013


Pada awal bulan November 2013 yang lalu, BPS (Badan Pusat Statistik) mengumumkan bahwa jumlah kunjungan wisman ke Indonesia bulan September 2013 menunjukkan peningkatan sebanyak 12.77% dari September 2012, namun mengalami penurunan (-0.02%) dibandingkan dengan bulan sebelumnya (Agustus 2013). Secara kumulatif dalam periode Jan-Sep 2013 naik dengan 8.80% dibanding periode yang sama tahun 2012.

Kujungan Wisman 2013/2012Beberapa pihak mengeluarkan pernyataan, bahwa penyelenggaraan Miss World 2013 di Bali bulan September 2013 telah meningkatkan arus kedatangan wisman ke Indonesia. Dari data yang dikemukakan di atas, agaknya lebih condong dikatakan bahwa kunjungan wisman dalam bulan September 2013 menunjukkan fenomena ‘biasa-biasa’ saja, bahkan dibandingkan dengan bulan sebelumnya (Agustus 2013) justru mengalami penurunan. Kalau dikatakan bahwa penyelenggaraan Miss World di Bali / Indonesia ‘diharapkan akan’ bisa meningkatkan arus wisman ke Indonesia, khususnya Bali, boleh jadi ‘bisa’ terwujud … jika … diikuti dengan berbagai langkah yang tepat sasaran dan tepat waktu, sehingga paling sedikit 2014 dapat terwujud.

Continue reading

Pertumbuhan Kepariwisataan Indonesia 2012


Pada tahun 2009 kedatangan wisman ke Indonesia baru mencapai 6.323.730 kunjungan (+1,43% dari tahun sebelumnya yaitu 6.234.497 dan hanya merupakan 79% dari target 8 juta).
Tahun 2012, setelah 3 tahun berselang, pencapaian kedatangan wisman tercatat 8.044.462 kunjungan yang menunjukkan kenaikan sebesar 5,16% dari tahun 2011 yang mencapai 7.649.731. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2003-2012), kunjungan wisman menunjukkan pertumbuhan sebesar 80,09%.

Masa Tinggal Rata-rata

Peta Indonesia_3Sejak tahun 2009 hingga 2012 masa tinggal rata-rata wisman menunjukkan kecenderungan yang menurun, sementara pengeluaran (expenditure) mereka per hari/orang menunjukkan trend meningkat walau relatif kecil, hal ini menunjukkan kepada kita bahwasanya biaya tinggal di Indonesia relatif semakin mahal sejak tahun 2009 s/d 2012, di samping biaya perjalanan secara Continue reading

Wisata Nusantara dan Wisata Nasional – Lanjutan


Dalam artikel terdahulu diuraikan tentang pemahaman kepariwisataan yang direkomendasikan oleh WTO untuk digunakan oleh anggotanya, khususnya dalam kaitan dengan penyusunan dan penyajian statistik kepariwisataan negaranya dengan menggunakan kriteria yang seragam tentang berbagai jenis dan bentuk kepariwisataan. Demikian juga bagi Indonesia berlaku hal yang sama.

Forms OfTourism_6.08Sebagai konsekuensi dari adanya pemahaman tersebut, maka agaknya perlu ditegaskan pemakaian istilah yang sesuai dengan pemahaman tersebut, agar tidak berlaru-larut dan menjadi salah kaprah.
Penegasan tersebut dipandang perlu tentang yang dimaksud dengan istilah (berikut pengertiannya), bahwa kegiatan yang terkait dengan Wisatawan Nusantara, – yang melakukan wisata di Tanah Air (wisnus) -, sebagaimana yang kita fahami selama ini merupakan padan kata dari Home Tourism, bukan lagi sebagai padan kata dari Domestic Tourism yang padan katanya adalah Pariwisata Domestik (Wisata domestik, Kepariwisataan domestik) mengingat Continue reading

Wisata Nusantara dan Wisata Nasional


Dalam memahami kepariwisataan, dijumpai berbagai pengertian yang bisa membingungkan atau meragukan, misalnya antara pengertian kepariwisatan nusantara (domestic tourism) dan kepariwisataan nasional (national tourism) atau antara kepariwisataan internasional (international tourism) dan kepariwisataan mancanegara (foreign tourism).
Forms Of Tourism_1Dengan alasan tersebut UNWTO (United Nations World Tourism Organization) merekomendasikan berbagai “dasar pengertian kepariwisataan” yang diharapkan akan dapat “menyeragamkan” pengertian atas semua bentuk kepariwisatan bagi semua negara yang mengembangkan kepariwisataannya dalam rangka penyusunan dan penyajian statistik kepariwisataan masing-masing negara secara seragam.

Pemahaman Umum

Secara umum, kepariwisataan nasional bisa diartikan sebagai kepariwisataan yang dilakukan pengembangannya oleh suatu bangsa, atau negara, sebagai lawan kata dari kepariwisataan internasional yang menyiratkan sebagai kepariwisataan yang berlangsung secara global atau kepariwisataan yang dilakukan berbagai negara di dunia yang ditandai oleh pergerakan lalu lintas orang yang saling berkunjung antar negara. Di sisi lain, kepariwisataan nasional Continue reading

Aspek Permintaan Pariwisata | Lanjutan


Sebagaimana diutarakan dalam artikel terdahulu bahwa besarnya Permintaan Potensial Pariwisata tergantung pada berbagai unsur, antara lain:

  • Jumlah penduduk (population size) suatu negara atau wilayah pasar;
  • Kemampuan rata-rata ekonomi (economic mean), berupa pendapatan rata-rata penduduknya (income per capita);
  • Faktor waktu, utamanya waktu luang (leisure time) yang mereka miliki;
  • Intensitas bepergian (travel intensity) masyarakat negara yang bersangkutan;

Berikut ini informasi potensi permintaan pariwisata yang berhasil dikumpulkan menunjukkan bahwa pasar pariwisata Eropa masih menunjukkan potensi yang sangat besar.

Potensi Permintaan Pariwisata Eropa

Travel Intensity Europe

Table-I

Seperti tertera dalam Tabel-I menunjukkan bahwa:

  1. Jerman merupakan Negara berpenduduk terbesar di Eropa berjumlah 82,1 juta dengan tingkat pendapatan per kapita (GDP/capita) sebesar US$ 40.631 per tahun, dan tiap 1000 penduduk (usia 15 tahun ke atas) melakukan 712 perjalanan ke luar negeri (yang lamanya 4 hari atau lebih) dalam setahun (2010);
  2. Dari informasi lainnya diketahui bahwa penduduk Jerman yang melakukan liburan panjang (4 hari dan lebih) ke luar negeri hanya 26,4% Continue reading

Aspek Permintaan Pariwisata


World Tourism MarketJika kita membicarakan kepariwisataan, cenderung lebih sering dilakukan dari sisi penawaran (supply), sementara aspek permintaan (demand) jarang sekali kita singgung dalam konteks pembahasan tentang pengembangan kepariwisataan.
Padahal, sisi permintaan itu justru akan sangat menentukan keberhasilan pengembangan suatu produk, baik produk barang maupun produk jasa, termasuk pariwisata.
Sebagaimana halnya dengan permintaan (demand) atas produk barang dan jasa pada umumnya, permintaan atas produk pariwisata pun dipengaruhi berbagai faktor, serta terbagi menjadi permintaan potensial (potential demand) dan permintaan aktual (actual demand). Sementara itu permintaan pun besarannya tergantung pada beberapa hal lainnya.

Permintaan Potensial (potential demand)

Sesungguhnya permintaan potensial atas produk pariwisata dapat diperkirakan. Namun demikian, untuk dapat memperkirakan besar kecilnya potensi pasar pariwisata, Continue reading