Membangun Pariwisata Ramah Lingkungan (Sustainable Tourism)


Berbicara tentang kepariwisataan, agaknya kita tidak dapat dilepaskan dari masalah kelestarian lingkungan (environmental sustainability), baik lingkungan alam, lingkungan sosial budaya maupun lingkungan ekonomi masyarakat sekitarnyanya (ekonomi sosial).
Dan, berbicara soal kelestarian lingkungan, khususnya lingkungan alam, kita akan diingatkan pada pelestarian margasatwa beserta lingkungan alamnya (seperti Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon dll.).
Sejak lama kita mengenal adanya “kawasan perlindungan margasatwa”, “kawasan perlindungan alam” dan “kawasan perlindungan budaya” yang disebut juga “Suaka Margasatwa”, “Suaka Alam” serta “Suaka Budaya”.
Dalam hubungan dengan pembangunan kepariwisataan, mengapa “kelestarian” (sutainabality) menjadi sangan penting?
Karena, pengembangan kepariwisataan di suatu tempat bertumpu pada “Alam, Budaya dan Ekonomi masyarakat” tempat yang bersangkutan, sebagai “Modal Utama”-nya.
Continue reading

Let’s Go To Business


Ini merupakan “tagline” atau “motto” ASITA (Association of Indonesia Travel Agents) yg diluncurkannya pada kesempatan terpilihnya pengurus baru dengan ketua Dr. N. Rusmiati, MSi., di Jakarta baru-baru ini. Dalam sambutannya pada kesempatan tersebut, Dr. Rusmiati ini menuturkan bahwa sudah saatnya kini ASITA memfokuskan diri pada upaya meraih arus inbound lebih intensif untuk mendukung upaya pemerintah mencapai target 2019 dan selanjutnya, dengan tekad “Let’s Go To Business”.

Bagi saya, ini merupakan isyarat kepada segenap jajaran “Industri Pariwisata” Indonesia untuk “memulai” upaya yg lebih fokus dan intensif pada business untuk meraih target-target yg ditetapkan pemerintah c.q. Kementerian Pariwisata.
Mengapa saya katakan “memulai fokus”? Memangnya selama ini tidak fokus?
Untuk menjawabnya perlu agaknya kita menjenguk ke belakang.
Visitor Arrivals 2011-2018Pada awal pemerintahan Jokowi -JK, Kementerian Pariwisata “diberi tugas” untuk meningkatkan pariwisata dengan target 20 juta wisman di akhir masa pemerintahannya tahun 2019.
Dengan berbagai upaya dan insentif serta beberapa kendala a.l. bencana alam, maupun gangguan terorisme, arus wisman 2017 dan 2018 mencapai jumlah di bawah target.
Terakhir dgn adanya kegiatan Pemilu & Pilpres serentak bahkan berujung pada kerusuhan di Jakarta, bukan mustahil target 2019 sebanyak 20 juta wisman tidak akan tercapai. Bahkan Kemenpar pun harus menurunkan targetnya menjadi 18 juta setelah melalui review atas berbagai kondisi dan situasi tiga tahun terakhir.

Branding & Advertising saja tidak cukup.

Strategi BAS (Branding – Advertising – Selling), – terutama Branding & Advertising, dalam periode 2015 s/d 2018 dinilai cukup berhasil merangsang dan meningkatkan citra (image) Indonesia di dunia. Namun demikian, meningkatnya “citra” itu tidak atau belum diikuti dengan “derasnya arus” wisman sesuai harapan. Hal ini berarti Branding dan Advertising belum berhasil mendongkrak (leverage) pada Selling yang harusnya menghasilkan arus wisman. Continue reading

Derap Langkah Pariwisata Menggapai Sasaran 2019


Dalam upaya menggapai Sasaran 20 juta wisman di tahun 2019, pemerintah melakukan berbagai upaya mulai dari :

  • Kebijakan bebas visa bagi wisman asal beberapa negara pasar potensial;
  • Penataan Destinasi pilihan yg diprioritaskan pengembangannya, baik dengan sistem dan perangkat Destination Management Organization (DMO) maupun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta Badan Otoritas Pariwisata (BOP);
  • Pemberian dukungan kepada Destinasi yg menyelenggarakan acara wisata (tourist events);
  • Peningkatan aksesibilitas (khususnya udara) langsung ke Destinasi dari pasar wisata yg potensial;
  • Kegiatan pemasaran di berbagai lokasi pasar pariwisata potensial, tidak hanya dlm format pencitraan (image promotion atau disebut juga branding promotion), melainkan juga dlm  format penjualan (dlm bentuk “table top” meets, di mana penjual langsung bertemu para pembeli);
  • indonesia-travel-xchange

    Indonesia Tourism e-Xchange

    Di atas semua itu, yg tidak luput dilakukan Kementerian Pariwisata adalah “Pengadaan Sarana Pasar Wisata Digital (Online Market Place) dengan sebutan ITX (Indonesia Tourism eXchange) yg disediakan bagi para “Penjual Produk Wisata” maupun para “Pembeli”;

  • Pembangunan dan pembenahan sarana dan prasarana pariwisata pun tidak pula dilupakan, mengingat sarana dan prasarana merupakan unsur utama produk wisata yang kita kenal dengan singkatan 3A (Atraksi, Akses dan Amenitas).

Continue reading

Halal Tourism Awards – Pelipur Lara Bagi Aceh


Di tengah suasana duka yang sedang di derita Aceh akibat gempa beberapa hari yang lalu, kita dikejutkan dengan kabar gembira sebagai pelipur lara bagi Aceh. Pasalnya, Bandara Internasional Aceh, Sutan Iskandar Muda, mendapat kemenangan sebagai “World Best Halal Airport for Halal Travellers” di samping Aceh sebagai “World’s Best Halal Cultural Destination” dalam World Halal Tourism Awards yang diselenggarakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (United Arab Emirates) 24-25 Oktober 2016.

awards-categories-trophy

World Halal Tourism Trophy

Dalam kesempatan itu, Indonesia memenangi 12 kategori di antara 16 kategori yang di pertandingkan di mana 4 kategori sisanya Indonesia tidak mengajukan unggulannya. Praktis 12 kategori yang diikuti Indonesia disapu bersih buat kemenangan Indonesia. Sebagaimana pernah dikemukakan dalam artikel terdahulu, Malaysia dan Turki telah lebih dulu merupakan Negara Destinasi Unggulan dalam kancah Kepariwisataan Muslim di Dunia.

Kategori  World Halal Tourism Awards

Adapun 12 dari 16 kategori yang dimenangi Indonesia selengkapnya adalah sbb.:

  1. World’s Best Airline for Halal Travellers: Garuda Indonesia;
  2. World’s Best Airport for Halal Travellers: Sultan Iskandar Muda International Airport
  3. World’s Best Family Friendly Hotel: The Rhadana Kuta, Bali
  4. World’s Most Luxurious Family Friendly Hotel: The Trans Luxury Hotel Bandung
  5. World’s Best Halal Beach Resort: Novotel Lombok Resort & Villas
  6. World’s Best Halal Tour Operator: ERO Tour, West Sumatera
  7. World’s Best Halal Travel Website: http://www.wonderfullomboksumbawa.com
  8. World’s Best Halal Honeymoon Destination: Sembalun Valley Region, West Nusa Tenggara
  9. World’s Best Hajj & Umrah Operator: ESQ Tours and Travel
  10. World’s Best Halal Destination: West Sumatera
  11. World’s Best Halal Culinary Destination: West Sumatera
  12. World’s Best Halal Cultural Destination: Aceh

Continue reading

Optimalisasi Taman Nasional


Dalam rangka pengembangan produk pariwisata, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) melalui optimalisasi Taman Nasional sebagai destinasi wisata yang memikat.
Sementara itu, Menpar Arief Yahya mengatakan bahwa upaya optimalisasi taman nasional itu berdasarkan pemikiran bahwa taman nasional dinilainya memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage) dan keunggulan komparatif (comparative advantage) yang sangat kuat. Di samping itu juga, akan diterapkan prinsip-prinsip Pembangunan Pariwisata Berkesinambungan (STD, Sustainable Tourism Development) berdasarkan model serta aturan UNWTO (United Nations World Tourism Organization).
Taman NasionalDalam kaitannya dengan hal itu, ada tujuh Taman Nasional yang dalam waktu dekat akan dibenahi melalui pembentukan 3-Klaster dengan menggunakan 4-strategi seperti disampaikan oleh Tachrir Fathoni, Dirjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem Kementerian LHK.

4 Strategi

  1. Membentuk konsep klaster untuk menciptakan “Kemewahan” dgn tetap mengedepankan Konservasi dan Konektivitas Antar Klaster agar menjadi satu kesatuan destinasi;
  2. Menciptakan destinasi wisata alam baru utk mengembangkan konektivitas antar lokasi alam di dalam klaster;
  3. Mendesain keunggulan komparatif destinasi wisata alam melalui berbagai upaya taktis dan strategis;
  4. Mewujudkan 3P (Public Private Partnership), yaitu Kerjasama Pemerintah-Swasta, dalam pengembangan wisata alam;

Dalam upaya optimalisasi taman nasional itu, Tachrir Fathoni menyatakan bahwa keunikan taman nasional akan Continue reading

Indonesia – Destinasi Wisata Unggulan Kawasan ASEAN


Universitas Pancasila melemparkan gagasan “Menjadikan Indonesia Sebagai Destinasi Unggulan di Kawasan ASEAN” dalam seminar internal civitas akademika Fakultas Pariwisata pada tanggal 10 November 2015, di mana dalam kesempatan itu menampilkan drs. Oka A Yoeti MBA sebagai salah satu pembicara dengan judul makalahnya seperti disebut di atas.
Univ PancasilaOka A Yoeti dikenal sebagai penulis buku-buku pariwisata yang amat produktif dengan karyanya yang mencapai jumlah lebih dari 40 (empatpuluh) judul sejak ia menyelesaikan kuliahnya di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, di pertengahan kedua 1960-an. Di samping itu Oka A Yoeti merupakan salah satu tokoh yang membidani lahirnya Fakultas Pariwisata di lingkungan Universitas Pancasila.
Adapun argumen Oka A Yoeti untuk menggagas “Menjadikan Indonesia Destinasi Wisata Unggulan Kawasan ASEAN” bukannya tanpa alasan, bahkan terlampau banyak alasan yang mendukungnya, terutama berbagai faktor yang kita semua sudah tahu, keragaman alam, seni budaya, bahasa dan adat istiadat dsb. Di antara faktor tersebut adalah Indonesia yang memiliki Bali sebagai salah satu destinasi di Indonesia, beberapa kali mendapat predikat sebagai ‘Pulau Destinasi Wisata Terbaik’ dunia (The World’s Best Island Tourist Destination), dari kalangan pariwisata internasional.
Namun demikian Oka A Yoeti tidak hanya berbicara tentang keunggulan yang kita miliki, melainkan justru berbagai faktor Continue reading

Kepariwisataan Muslim


Baru-baru ini bertempat di Universitas Pancasila, Jakarta diselenggarakan seminar oleh Fakultas Pariwisata, yang membahas perkembangan Kepariwisataan Muslim atau Moslem Friendly Tourism (MFT) di dunia. Beberapa negara seperti Malaysia dan Turki sejak lama telah memperkenalkan halal food dalam pengembangan kepariwisataannya, dan kedua negara itu dewasa ini menempati urutan pertama dan kedua dalam Index Top Halal Friendly Holiday Destination 2014. Dewasa ini Thailand, Jepang dan Korea pun telah menyediakan halal food yang disajikan hotel dan restoran di negaranya.
Demikian juga di Indonesia, gelombang tumbuhnya MFT ditandai dengan timbulnya gejala usaha masakan halal di banyak kota yang berhasil menarik perhatian masyarakat wisatawan muslim terutama wisatawan nusantara ataupun wisatawan mancanegara asal negara muslim. Hal itu ditengarai, terutama sekali karena pemerintah dewasa ini tengah mengincar pasar pariwisata negara-negara muslim yang dewasa ini sedang berkembang pesat, salah satunya dari kawasan Timur Tengah.
Dalam seminar di atas, Dr. Sapta Nirwandar – mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, selaku salah satu pembicara mengungkapkan bahwa Thailand yang penduduk muslimnya hanya meliputi 5%, telah mampu memproduksi makanan halal bukan saja untuk kebutuhan pariwisata di dalam negerinya, melainkan juga mampu menyediakan 25% dari seluruh ekspor makanan halal di dunia.
Pembicara kedua, Prof. Ikuro Yamamoto mengungkapkan berkembangnya MFT di Jepang juga sedang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, walaupun hasilnya belum dapat disebut sebagai memuaskan. Namun demikian, profesor yang juga merupakan anggota Dewan Mesjid di salah satu kota di Jepang itu mengatakan bahwa perkembangan MFT dirasakan semakin deras.

Layanan MuslimTravel

Petunjuk Fasilitas Sholat di Bandara

Salah satu upaya yang dilakukan di Jepang adalah memberikan pelayanan informasi tentang kehadiran restoran halal. Pernyataan itu didukung oleh adanya upaya yang dilakukan oleh seorang asal Indonesia, Agung Pambudi yang menetap di Fukuoka, awal tahun 2014 yang lalu menciptakan aplikasi smartphone yang disebutnya “Halalminds” untuk menemukan restoran dan produk halal lainnya dengan mudah. Aplikasi tersebut sampai November 2014 sudah berhasil diunduh sebanyak 5,000 kali. Bukan hanya itu, di Jepang juga sudah terdapat petunjuk fasilitas Sholat yang tersedia di tempat-tempat umum seperti bandara, stasiun dll.
Continue reading

Implikasi Penetapan Sasaran 20 Juta Wisman – 2019 (lanjutan)


Dalam kesempatan yang lalu, diungkapkan tentang target yang dicanangkan dalam visi-misi pemerintahan Jokowi-JK terkait dengan sasaran 20 juta wisman pada tahun 2019. Sasaran tersebut mengandung konsekwensi dibutuhkannya upaya extra peningkatan kapasitas daya dukung tambahan yang harus tersedia guna melayani pertumbuhan wisman yang dinilai cukup “berani”.
Daya dukung tambahan tersebut menyangkut kapasitas kursi penerbangan langsung dari luar negeri serta kapasitas daya tampung akomodasi (hotel dan akomodasi lainnya).

1. Implikasi Atas Daya Dukung Pariwisata

Kebutuhan Kursi 2015-2019

Tabel I

Dari data selama lima tahun terakhir menunjukkan bahwa wisman yang datang ke Indonesia sebanyak rata-rata 71.45% melalui udara. Di samping itu penerbangan ke Indonesia secara rata-rata mengalami load faktor sekitar 68% (67,95%).
Dengan data tersebut di atas serta asumsi tiap Continue reading

Tantangan Pembangunan Pariwisata Perdesaan


Menjelang Pemerintahan baru, pada kali ini Caretourism mendapat kesempatan menampilkan karya tulis salah seorang peneliti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif – Roby Ardiwidjaja, tentang Pariwisata Perdesaan yang ditinjaunya dari sudut Geopolitik & Geostrategi-nya. Pariwisata PerdesaanIa mengutarakan, bahwa Indonesia dengan berpenduduk berkisar sekitar 250 juta tinggal bertebaran di sekitar 78-ribuan desa, yang 72-ribuan di antaranya masih dalam kategori desa miskin serta masih bertahan dengan adat istiadat dan budayanya.
Ditinjau dari kacamata pariwisata, Roby Ardiwidjaja menilainya justru pedesaan itu yang memiliki potensi daya tarik wisata yang sejatinya dapat menjadi potensi yang strategis bagi perkembangan kepariwisataan nasional dengan nilai-nilai kearifan lokal yang unik, otentik serta alami. Ia menilai lebih lanjut, pada gilirannya pengembangan kepariwisataan perdesaan diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat desa tersebut melalui stimulasi kegiatan ekonomi pedesaan yang dihasilkan dari terciptanya peluang kerja dan usaha bagi masyarakat desa yang bersangkutan serta menstimulir kegiatan upaya pelestarian lingkungan, baik lingkungan alam maupun budaya.
Memang harus diakui, bahwa kekayaan daya tarik wisata – baik alam maupun budaya, berada di Daerah (dalam kapasitasnya sebagai destinasi) dan terletak di wilayah pedesaan.
Dalam karya tulisnya, ia mengutarakan tentang pengembangan daya tarik wisata yang tidak bersifat buatan/rekayasa (artificial) melainkan unik, otentik dan alami yang menawarkan pengalaman sejati (real experience) yang oleh WTO (World Tourism Organisation) disebut sebagai pengalaman luar biasa (extraordinary experience) bagi wisatawan, baik wisman maupun wisnus.
Pada hakekatnya, dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan ini, mewujudkan gagasan Pariwisata Perdesaan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Di samping permasalahan yang diungkapkan dalam tulisan Roby Ardiwidjaja, pengembangan Pariwisata Perdesaan dihadapkan pada tantangan terbesar yang terletak pertama-tama pada terbatasnya prasarana dalam mencapai dan di desa-desa untuk dikunjungi dengan nyaman, kemudian upaya mengkondisikan masyarakat untuk menggugah pengertian dan memahami arti pengembangan kepariwisataan, sehingga masyarakat ikut terlibat aktif mengembangkan desanya menjadi bagian dari destinasi wisata yang memikat hati dan mendapat manfaat bagi desa dan dirinya.
Tulisan selengkapnya dapat Anda baca di sini. Semoga Bermanfaat.

Artikel terkait:
1. Pariwisata Berkelanjutan dan Masalahnya di Indonesia
2. Idealisme Pengembangan Pariwisata Bertanggung Jawab

Angin Segar Itu Diwarnai Topan


Pada awal tahun 2014 yang lalu, CareTourism menampilkan tulisan yang berjudul Angin Segar Pariwisata Indonesia  yang mengutarakan dua berita yang menggembirakan bagi kepariwisataan Indonesia, yaitu:
1. Berita tentang Peningkatan Daya Saing Pariwisata Indonesia (menurut World Economic Forum – WEF), dari 2011 di urutan ke-74 di antara 139 Negara Tujuan Wisata (NTW) Dunia menjadi urutan ke-70 di antara 140 NTW pada tahun 2013;
2. Berita tentang Prioritas pemerintah yang akan mengembangkan konektivitas penerbangan langsung dari negara sumber wisman ke destinasi unggulan di Indonesia.
Namun tidak lama kemudian, terbetik berita-berita yang menimbulkan rasa khawatir kita menghadapi perkembangan kepariwisataan tanah air selanjutnya, terutama terkait dengan “angin segar” ke-2 di atas.
Topan yang mewarnai Angin Segar tersebut datang dari kalangan Maskapai Penerbangan yang menutup, mengurangi atau mengalihkan beberapa rute penerbangannya.
Beberapa Maskapai penerbangan yang mengubah operasinya pada rute-rute tertentu antara lain Tigerair Mandala, Sky Aviation, AirAsia Indonesia, Sriwijaya Air, yang dimulai antara bulan Februari s/d Juni 2014 atas berbagai pertimbangan mulai dari efisiensi keuangan, pasar yang melemah (rendahnya jumlah penumpang),

Distribusi Wisman 2013

Distribusi Wisman 2013

nilai rupiah yang melemah terhadap dollar AS yang akhirnya mengakibatkan harga bahan bakar pesawat (avtur) melonjak, serta rute (khususnya) Pakanbaru acapkali terganggu asap.
Adapun rute-rute yang penerbangannya dihentikan, dikurangi atau dialihkan antara lain Jakarta, Surabaya, Banyuwangi, Denpasar, Maumere, Labuan Bajo, Lampung, Batam, dan Pontianak yang dilayani Sky Aviation, 9 rute Tigerair Mandala ditutup sementara, 2 rute dikurangi frekuensi penerbangannya, Sriwijaya Air menghentikan beberapa penerbangan antara Pekanbaru – Medan, Batam, dan Jakarta, AirAsia menutup sejumlah rute penerbangannya mulai 1 Juni 2014 di antaranya rute Denpasar-Makassar-Denpasar, Surabaya-Bangkok-Surabaya, dan Bandung-Johor Baru-Bandung, sementara sebelumnya, maskapai penerbangan milik Malaysia ini telah menutup rute Makassar-Manado, Makassar-Jakarta, dan Makassar-Balikpapan, dengan pertimbangan akan membuka rute-rute baru lainnya yang dianggap lebih menguntungkan secara bisnis.

Pandangan INACA

Berkenaan dengan hal itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Sipil Nasional Indonesia (INACA) Tengku Burhanuddin, menyatakan bahwa pendapatan maskapai memang telah bertambah dengan adanya biaya tambahan (surcharge) Rp 60.000 per jam terbang, yang diperbolehkan Pemerintah. Namun, pemulihan dari efek melemahnya rupiah terhadap dollar AS , mengakibatkan beban maskapai penerbangan hingga saat ini masih terasa berat.
Continue reading