Pergeseran Pandangan Masyarakat Atas Kepariwisataan


Upaya pengembangan kepariwisataan suatu negara pada hakekatnya bermaksud dan bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tolok ukurnya bisa terdiri dari berbagai macam kriteria.

Fluktuasi Wisman Jan-Jun 2014

Fluktuasi Wisman Jan-Jun 2014

Tidak melulu dalam bidang kesejahteraan ekonomi semata, melainkan juga dalam segi-segi kehidupan lainnya, seperti kesejahteraan sosial, budaya, jasmani, rohani, dsb. yang akhirnya bermuara pada peningkatan martabat masyarakat dan bangsa yang bersangkutan. Jika kita mengadakan kilas balik ke beberapa puluh tahun yang lalu menelusuri jejak perkembangan kepariwisataan di tanah air, maka akan kita jumpai beberapa pergeseran penilaian dan pandangan yang, pada saat itu, menghadapkan kita pada pilihan yang acapkali bertentangan antara satu pilihan dengan pilihan lainnya.

Penilaian Negatif Masyarakat

Pada awal masa pengembangan kepariwisataan di era 1950-an, banyak kalangan berpandangan yang bernada kurang setuju (negatif) dengan perkembangan yang terjadi di berbagai bidang akibat pengembangan kepariwisataan. Di Bali misalnya, kehidupan masyarakatnya yang terbiasa dengan telanjang dada, baik pria maupun wanita, dinilai – terutama wanitanya – bertentangan dengan norma agama dan ketimuran untuk di-“pamerkan” sebagai atraksi pariwisata. Padahal sejak zaman pendudukan Belanda, Continue reading

Kombinasi Destinasi Wisata dan Masa Tinggal Wisman


Seperti kita ketahui, Indonesia memiliki 33 provinsi. Jika seluruh provinsi itu dikembangkan menjadi Destinasi Wisata (DTW, Daerah Tujuan Wisata), maka kita akan memiliki pilihan sebanyak 33 destinasi untuk dimasukkan dalam paket-paket wisata sebagai penawaran produk wisata tanah air.
Dalam situs BPS (Badan Pusat Statistik, bps.go.id) kita jumpai ada daftar yang menampilkan 20 destinasi pilihan dengan disertai data tentang jumlah kamar dan tempat tidur hotel berbintang dan akomodasi lainnya, tingkat hunian rata-rata, jumlah tamu hotel dan rata-rata masa tinggal baik tamu nusantara maupun mancanegara.

Masa Tinggal Wisman

Berbekal data tersebut, khususnya data perihal masa tinggal rata-rata di 20 destinasi pilihan (Lihat Tabel), Care Tourism melakukan simulasi tentang masa tinggal wisman di Length of Stay and Number of BedsIndonesia dihubungkan dengan masa tinggal wisman di destinasi yang menunjukkan rata-rata sekitar kurang dari 3 malam. Di samping itu, dari data statistik (KemenParEKraf dan BPS) menunjukkan bahwa rata-rata masa tinggal wisman di Indonesia selama ini (2001 -2011) adalah sekitar 9 hari. Maka jika kita hubungkan dengan masa tinggal rata-rata di destinasi, diperoleh kombinasi destinasi yang dikunjungi wisman di Indonesia adalah antara 3-4 destinasi.
Pernahkah terfikirkan oleh Anda, berapa kemungkinan kombinasi 3 destinasi, jika kita memilih hanya dari 20 Continue reading

Mengukur Kapasitas Produksi Pariwisata


Tahun 2011 sudah berlalu, kini kita berada di tahun 2012, namun data kunjungan wisman ke Indonesia belum juga mencapai angka 8 juta. Di awal Februari 2012 tercatat jumlah kunjungan wisman 2011 menunjukkan angka 7,649,731 (www.bps.go.id, 2 Feb. 2012), yang berarti mengalami kenaikan 9.24% dibanding periode yang sama tahun 2010. Dalam suatu kesempatan, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (ketika itu, Jero Wacik) mengemukakan optimismenya bahwa kunjungan wisman akan dapat mencapai angka 7,7 juta (Journal Pariwisata Indonesia, edisi Oktober 2011). Angka itu merupakan kenaikan 10% dari angka wisman 2010 yaitu 7.0 juta. Bulan Desember 2011 yang lalu Care Tourism memperkirakan kunjungan dalam 2011 paling tinggi akan mencapai sekitar 7,634,000, mengingat kunjungan dalam bulan November 2011 hanya mencapai angka 654,948, padahal di bulan November 2011 Indonesia adalah penyelenggara SEA-Games XXVI yang nampaknya sama sekali tidak berpengaruh pada pariwisata kita.  Kunjungan wisman 2011 VisitorTrend_2011sejumlah 7,649,731 tersebut menunjukkan pertumbuhan yang tidak jauh daripada kecenderungan yang tergambar pada garis trend tahun 2011, yaitu Continue reading

Liberalisasi Jasa Pariwisata | Tantangan Serius


MRA (Mutual Recogniton Arrangement = Kesepakatan Saling Mengakui) yang disepakati antar anggota ASEAN merupakan ikatan bagi para anggota ASEAN untuk memenuhi standar profesi tenaga kerja pariwisata sesuai ketentuan yang disepakati bersama melalui sertifikasi profesi tenaga kerja yang diakui sesama negara anggota ASEAN. Ditengah-tengah ASEAN Tourism Forum di Manado baru-baru ini, terucap pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (MenParEKraf) bahwa liberalisasi jasa pariwisata ASEAN yang disepakati untuk dicapai pada tahun 2015 merupakan “tantangan serius” bagi Indonesia. Care Tourism - Liberalisasi Jasa PariwisataBetapa tidak? Di satu sisi, unsur utama produk pariwisata adalah jasa, – yang nota bene disajikan oleh tenaga kerja -, sehingga membawa konsekwensi logis memerlukan profesionalsme  di bidang pelayanan atau jasa pariwisata agar mampu bersaing. Di sisi lain, sebagian besar tenaga kerja pariwisata belum memiliki sertifikat profesi jasa pariwisata sebagaimana ditargetkan, sehingga untuk mencapai target 2015 masih memerlukan kerja keras dalam sisa waktu yang semakin mendesak. Berbeda dengan beberapa negara ASEAN lain, terutama Singapura dan Malaysia, demikian pula halnya dengan para mitra ASEAN, seperti India dan China, mereka lebih siap untuk bersaing di kancah pariwisata global, bukan sekedar Continue reading

PARIWISATA KESEHATAN SALAH SATU SUMBER DEVISA


Sebagaimana diutarakan dalam artikel terdahulu, bahwa di antara perjalanan wisata terdapat kelompok wisatawan yang melakukan perjalanan dengan motivasi kepentingan kesehatan.
Adapun perjalanan dengan motivasi kesehatan pada hakekatnya dilakukan berkaitan dengan kesehatan, seperti pemeriksaan kesehatan (medical check-up), pemeliharaan (health care), pengobatan (treatment), pemulihan (recovery) dan sebagainya.
Perlu kiranya dicatat bahwa ada sedikit perbedaan antara health-tourism dengan medical-tourism, di mana health tourism dapat diartikan sebagai pariwisata kesehatan yang berupa perjalanan untuk pemeliharaan dan/atau pemulihan kesehatan (dulu disebut sebagai tetirah) yang pada hakekatnya dilakukan oleh orang yang sehat, – tidak menderita suatu penyakit atau orang yang baru sembuh dari perawatan. Sedangkan medical-tourism lebih cenderung menyangkut tindakan medik pengobatan (cure), operasi dan/atau tindakan medik lainnya, yang dilakukan terhadap penderita suatu penyakit atau kelainan kondisi kesehatannya, termasuk di antaranya adalah operasi kecantikan (cosmetic surgery), fisio terapi, pijat reflexi, tusuk jarum (akupunktur), dll.
Pariwisata kesehatan atau perjalanan untuk maksud kesehatan sebetulnya bukanlah hal yang baru. Paling sedikit, bagi para insan lanjut usia kelahiran Continue reading