DAMPAK EKONOMI APA YANG DIPEROLEH DARI PARIWISATA? (BAGIAN II)


Mungkin, 30% dari satu juta dollar itu akan “mengalir” (bocor) ke luar daerah itu yang diperlukan untuk membayar barang dan jasa yang dibeli wisatawan namun tidak diproduksi di daerah yang bersangkutan (barang dan jasa seperti itu lazimnya diperhitungkan sebagai dampak penjualan langsung).
Karena “kebocoran” tadi, maka sisanya yang $700.000 dalam bentuk penjualan langsung akan menghasilkan $350.000 penghasilan dalam industri pariwisata dan menunjang 20 lapangan kerja pariwisata. Kita tahu bahwa industri pariwisata bersifat padat karya dan padat penghasilan, menciptakan proporsi penjualan yang besar menjadi penghasilan dan lapangan kerja terkait.
Sebaliknya, industri pariwisata membeli barang dan jasa dari industri lainnya di daerah itu dan membayarkan sebagian besar dari $350.000 penghasilannya untuk upah dan gaji karyawannya. Inilah yang menciptakan dampak sekunder ekonomi di daerah tersebut.
Sebuah penelitian misalkan menggunakan faktor pengganda (multiplier factor) 2,0 untuk menunjukkan bahwa tiap dollar dari penjualan langsung menghasilkan satu dollar tambahan dalam penjualan sekunder di daerah Continue reading

PROMOSI CITRA PARIWISATA DARI MASA KE MASA


Dalam kenyataan, hingga saat ini Bali masih memegang peran sangat penting dalam kehidupan pariwisata Indonesia. Bahkan di kalangan pariwisata dunia meng-unggul-kan Bali sebagai Pulau Pesiar Terbaik sedunia. Dalam riwayatnya, sejalan dengan perjalanan waktu, sejak “Jaman Belanda”, Bali memang sudah menjadi buah bibir di kalangan warga Belanda yang berada di Indonesia (ketika itu Hindia Belanda).
Teringat akan masa kecil di “sekolah rakyat” dulu (sekarang SD), kami sering menyanyikan lagu yang berjudul Pulau Bali. Dua kalimat pertama dalam liriknya: Pulau Bali Pulau Kesenian, Tempat Penghiburan Hati … Mungkin sekali yang dimaksud dengan Tempat Penghiburan Hati oleh penciptanya adalah tempat berlibur, “pesiar” (plezier, pleasure).
Bukan hanya itu. Di antara warga Belanda yang bermukim di Indonesia kala itu, sering terdengar “gurauan” yang menganjurkan berkunjung ke Bali sebelum meninggalkan Indonesia, dengan mengatakan : “Jangan pulang ke “negeri” sebelum lihat Bali”. Bagi warga Belanda yang terlanjur pulang ke negerinya mereka saling mengatakan : “Jangan meninggal sebelum lihat Bali”, yang dimaksudkannya adalah “Lihatlah Bali sebelum meninggal”.
Demikian kuatnya daya tarik Bali untuk warga Belanda, sampai-sampai perusahaan penerbangan Belanda KLM (Koninklijke Luchtsvaart Maatschapij) ketika mempromosikan penerbangannya ke Indonesia di awal tahun 1970-an menggunakan slogan : “Fly to Bali with KLM“, padahal ketika itu KLM tidak terbang ke Bali, karena di Bali belum ada bandara internasional, mereka harus melalui Jakarta terlebih dahulu. Bali semakin populer setelah perusahaan-perusahaan penerbangan negara lain pun, seperti Japan Airlines, Cathay Pacific, Pan Am, Qantas dll. “menawarkan” terbang ke Bali, padahal, ya … itulah, mereka harus terbang ke Jakarta dulu, karena Indonesia ketika itu baru memiliki satu bandara internasional, yaitu Jakarta – Kemayoran.
Dengan demikian, secara “tragis” Bali lebih dikenal daripada Indonesia.
Nah, dengan brand image yang sudah melekat pada Bali, promosi Continue reading

MENYONGSONG 8 JUTA WISMAN DI TAHUN 2009 (Bagian-II)


Dalam tulisan terdahulu telah disampaikan bahwa rakor Depbudpar merencanakan target 8 juta wisman di tahun 2009. Namun, dengan pertimbangan kondisi ekonomi global dewasa ini target 8 juta dinilai terlampau optimis, sehingga akhirnya ditetapkan target moderat 6.500.000, yang menurut hemat kami agak “pesimis”, mengingat tahun 2008 telah mencapai angka (sementara) 6.433.509. Target tersebut, menunjukkan “seakan-akan” pemerintah “tidak akan berbuat apa-apa” alias “menyerah” pada kondisi krisis. Menurut hitungan Care Tourism angka Trend (polynomial, 2000-2012) untuk tahun 2009 menunjukkan 6.758.230, dengan assumsi semua kondisi di tahun 2009 adalah sama dengan 2008, termasuk “upaya promosi” baik yang dilakukan pemerintah maupun pihak lainnya. Kalaupun sekiranya pemerintah “merasa pesimis”,  sekurang-kurangnya angka trend itu layak ditetapkan sebagai target, yang minimal masih menunjukkan laju pertumbuhan 5,05%, melalui upaya pemasaran yang akan dilakukannya, seperti diuraikan di bawah ini.

Kecenderungan (trend) Wisman ke Indonesia

Dalam upayanya mencapai target 2009, pemerintah akan menerapkan berbagai strategi lainnya, di samping “Push Strategy” dan “Pull Strategy” yang diutarakan dalam artikel terdahulu, sebagai berikut.

Dalam hubungan antara sisi produk dengan sisi permintaan pasar, Continue reading

Mengenal CARE TOURISM Lebih Dekat


Tidak mustahil ada di antara Anda yang bertanya-tanya: Apa gerangan CARE TOURISM itu? … Jangan kecil hati, hal itu merupakan hal yang wajar, mengingat banyak lainnya juga yang belum mengenalnya. Oleh karena itu, kami sampaikan informasi ini untuk Anda, agar dapat mengenal Care Tourism lebih dekat.

Berlatar belakang pemikiran atas kinerja yang semakin merosot tajam sebagai akibat krisis ekonomi 1997 yang berlanjut dengan gejolak politik, social budaya tahun 1998 dan selanjutnya, pada tahun 1999 telah dibentuk sebuah organisasi Masyarakat Peduli Pariwisata dengan nama Yayasan Bina Pariwisata atas prakarsa beberapa orang para mantan pejabat lembaga Continue reading