Apakah Gerangan Storynomics Tourism


Sebelum kita membahas tentang Storynomics, perkenankan saya bercerita tentang pengalaman pribadi ketika saya masih mahasiswa di Bandung dan merangkap sebagai Tourist Guide, – dalam rangka mendapatkan nilai kredit dalam perkuliahan yang saya tempuh (1963-1966) -, dan selepas masa kuliah antara 1966-1969.

Bagi kepariwisataan Bandung dan sekitarnya, Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu Obyek Kunjungan utama yang tidak pernah terlewatkan.
Pada saat guiding wisatawan mancanegara, sebelum melakukan kunjungan ke Tangkuban Perahu, saya selalu mengawali tugas saya dengan kisah tentang “Mengapa Gunung ini dinamakan Tangkuban Perahu”, di samping penjelasan bahwa gunung ini bisa dikunjungi hingga ke bibir kawahnya walaupun gunung ini termasuk masih aktif.

Dikisahkanlah bahwa dulunya Bandung merupakan dataran yang dikelilingi oleh gunung-gunung dan dipenuhi dengan air sehingga merupakan sebuah danau. Alkisah, ada kejadian seorang ibu yang mendapat lamaran dari seorang pemuda (Sangkuriang), dan ditolak, karena kemudian diketahui oleh sang ibu bahwa pemuda tersebut adalah anak kandungnya, namun sang pemuda tidak percaya. Maka sang ibu memberi syarat bahwa lamarannya akan diterima jika sang pemuda barhasil membuatkannya sebuah perahu dalam satu malam, – dari saat matahari terbenam hingga saat ayam mulai berkokok tanda matahari akan terbit -. Pendek cerita, sang pemuda tidak berhasil menyelesaikan perahu tersebut dalam waktu yang ditentukan. Sang pemuda menjadi kesal dan marah dan melampiaskan kemarahannya dengan menendang perahu yang hampir selesai sehingga tertelungkup (Tangkuban Perahu berarti Perahu yang Tertelungkup, bhs Sunda). Continue reading

Membangun Pariwisata Ramah Lingkungan (Sustainable Tourism)


Berbicara tentang kepariwisataan, agaknya kita tidak dapat dilepaskan dari masalah kelestarian lingkungan (environmental sustainability), baik lingkungan alam, lingkungan sosial budaya maupun lingkungan ekonomi masyarakat sekitarnyanya (ekonomi sosial).
Dan, berbicara soal kelestarian lingkungan, khususnya lingkungan alam, kita akan diingatkan pada pelestarian margasatwa beserta lingkungan alamnya (seperti Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon dll.).
Sejak lama kita mengenal adanya “kawasan perlindungan margasatwa”, “kawasan perlindungan alam” dan “kawasan perlindungan budaya” yang disebut juga “Suaka Margasatwa”, “Suaka Alam” serta “Suaka Budaya”.
Dalam hubungan dengan pembangunan kepariwisataan, mengapa “kelestarian” (sutainabality) menjadi sangan penting?
Karena, pengembangan kepariwisataan di suatu tempat bertumpu pada “Alam, Budaya dan Ekonomi masyarakat” tempat yang bersangkutan, sebagai “Modal Utama”-nya.
Continue reading

Destination Management Organisation


Sebanyak 15 destinasi pariwisata di Indonesia akan dikembangkan dengan konsep Destination Management Organisation (DMO) dalam kurun empat tahun ke depan. Selama kurun waktu lima tahun sejak 2010 hingga 2014, kami telah menetapkan 15 destinasi pariwisata yang akan dikembangkan dengan konsep DMO. Demikian bunyi sebuah pernyataan pers yang diutarakan oleh salah satu Pejabat Teras Kemenbudpar sekitar September 2011.

Adapun 15 Destinasi yang dimaksud adalah:

danau-toba

Danau Toba – salah satu destinasi yg dikembangkan dgn konsep DMO

  1. Kawasan Danau Toba – Sumut;
  2. Kota Tua – Jakarta;
  3. Pangandaran – Jabar;
  4. Kawasan Borobudur – Jateng;
  5. Bromo-Tengger-Semeru – Jatim;
  6. Kawasan Danau Batur – Bali;
  7. Komodo-Kalimutu, Flores;
  8. TN Rinjani – NTB;
  9. Toraja – Sulsel;
  10. Wakatobi – Sultra;
  11. Bunaken – Sulut;
  12. Raja Ampat – Papua Barat;
  13. Tanjung Puting – Kalteng;
  14. Derawan – Kaltim;
  15. Sabang – Aceh

Continue reading

Destination Branding – Wonderful Indonesia (2)


Menyambung artikel terdahulu, mari kita bahas tentang Destination Branding lebih lanjut.

Mengenal Brand lebih dekat.

Di Indonesia, Brand pada umumnya difahami sebagai “merek” atau merek dagang (trade-mark). Dalam hubungan destinasi pariwisata, Destination Brand itu agaknya lebih cocok jika disepadankan dengan Citra Destinasi.
Sebelum kita membahas Destination Branding, sebaiknya kita fahami terlebih dulu apa yang dimaksud dengan Brand serta apa dan bagaimana pula kerjanya.

  1. Destination Branding-"Wonderful Indonesia"- di London

    Destination Branding-“Wonderful Indonesia”- di London

    Suatu brand dapat dinyatakan berupa nama, istilah, tanda, simbul, atau disain, atau gabungan daripadanya yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu atau sekelompok penjual guna membedakan barang atau jasa tersebut dari barang atau jasa para pesaingnya (Keller – 1993, dalam Rebecca – 2013).

  2. Brand, bukan hanya sekedar pengenal, melainkan juga mewakili “reputasi” dan “nilai kepedulian” (care value) organisasi yang bersangkutan (Gilmore – 2002, dalam Rebecca – 2013).
  3. Pada dasarnya, suatu brand merupakan representasi visual karakteristik produk yang unik milik suatu organisasi, – fungsional maupun non-fungsional -, yang sangat berarti bagi konsumen (Morgan – 2002, dalam Rebecca – 2013).
  4. Dari sudut pandang konsumen, suatu brand dapat dipandang sebagai segenap informasi, rasa dan pengalaman yang diperolehnya dari suatu produk (Keller – 1993, dalam Rebecca – 2013). Penglihatan dan pendengaran tentang suatu brand membawa ingatan konsumen pada asosiasi tentang suatu produk atau organisasi tertentu, yang dapat juga merupakan pengetahuan / pengalaman baru bagi pengambilan keputusan para konsumen.

Continue reading

Indonesia – Destinasi Wisata Unggulan Kawasan ASEAN


Universitas Pancasila melemparkan gagasan “Menjadikan Indonesia Sebagai Destinasi Unggulan di Kawasan ASEAN” dalam seminar internal civitas akademika Fakultas Pariwisata pada tanggal 10 November 2015, di mana dalam kesempatan itu menampilkan drs. Oka A Yoeti MBA sebagai salah satu pembicara dengan judul makalahnya seperti disebut di atas.
Univ PancasilaOka A Yoeti dikenal sebagai penulis buku-buku pariwisata yang amat produktif dengan karyanya yang mencapai jumlah lebih dari 40 (empatpuluh) judul sejak ia menyelesaikan kuliahnya di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, di pertengahan kedua 1960-an. Di samping itu Oka A Yoeti merupakan salah satu tokoh yang membidani lahirnya Fakultas Pariwisata di lingkungan Universitas Pancasila.
Adapun argumen Oka A Yoeti untuk menggagas “Menjadikan Indonesia Destinasi Wisata Unggulan Kawasan ASEAN” bukannya tanpa alasan, bahkan terlampau banyak alasan yang mendukungnya, terutama berbagai faktor yang kita semua sudah tahu, keragaman alam, seni budaya, bahasa dan adat istiadat dsb. Di antara faktor tersebut adalah Indonesia yang memiliki Bali sebagai salah satu destinasi di Indonesia, beberapa kali mendapat predikat sebagai ‘Pulau Destinasi Wisata Terbaik’ dunia (The World’s Best Island Tourist Destination), dari kalangan pariwisata internasional.
Namun demikian Oka A Yoeti tidak hanya berbicara tentang keunggulan yang kita miliki, melainkan justru berbagai faktor Continue reading

Implikasi Penetapan Sasaran 20 Juta Wisman – 2019 (lanjutan)


Dalam kesempatan yang lalu, diungkapkan tentang target yang dicanangkan dalam visi-misi pemerintahan Jokowi-JK terkait dengan sasaran 20 juta wisman pada tahun 2019. Sasaran tersebut mengandung konsekwensi dibutuhkannya upaya extra peningkatan kapasitas daya dukung tambahan yang harus tersedia guna melayani pertumbuhan wisman yang dinilai cukup “berani”.
Daya dukung tambahan tersebut menyangkut kapasitas kursi penerbangan langsung dari luar negeri serta kapasitas daya tampung akomodasi (hotel dan akomodasi lainnya).

1. Implikasi Atas Daya Dukung Pariwisata

Kebutuhan Kursi 2015-2019

Tabel I

Dari data selama lima tahun terakhir menunjukkan bahwa wisman yang datang ke Indonesia sebanyak rata-rata 71.45% melalui udara. Di samping itu penerbangan ke Indonesia secara rata-rata mengalami load faktor sekitar 68% (67,95%).
Dengan data tersebut di atas serta asumsi tiap Continue reading