Mengenal Digital Nomad (2)


Dengan mengembangkan Nomadic Tourism di Indonesia, minimal dapat diharapkan memperoleh beberapa dampak positif walaupun ada juga segi negatifnya. Dari sisi positif, melalui Nomadic Tourism pertumbuhan kepariwisataan tidak lagi terikat pada “musim libur” sehingga laju pertumbuhannya bisa merata sepanjang tahun, di samping merata ke berbagai daerah di tanah air yang pada gilirannya berdampak pada terbukanya peluang baru kegiatan perekonomian masyarakat setempat. Sementara sisi negatifnya, antara lain adalah kekhawatiran akan terjadinya “alih profesi” dan/atau “alih fungsi” serta perubahan sikap sosial di kalangan masyarakat yang dapat merugikan atau mengganggu laju kehidupan perekonomian setempat. Oleh karena itu, pengembangannya perlu dibarengi dengan upaya pencegahan terjadinya dampak negatif yang mungkin timbul, – paling sedikit dengan senantiasa mengawalnya dari dekat dan secara berkala.

Photo scmp.com

Keputusan pemerintah untuk mengembangkan Nomadic Tourism tidaklah diambil secara sesaat, melainkan merupakan perwujudan kebijakan yang ditetapkan jauh sebelumnya tentang  upaya pembangunan ekonomi dengan kepariwisataan sebagai andalan, maka Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun berupaya untuk membangun Sharing Economy melalui kepariwisataan yang berintikan “Tiga Ujung Tombak” yang terdiri dari:
1. Digital Tourism atau E-Tourism;
2. Homestay atau rumah wisata; dan
3. Konektivitas Udara

Melanjutkan artikel terdahulu, di bawah ini disajikan bagian ke-2 dari dua bagian.

Nomadic Tourism – Apakah Itu? (2), oleh Tuti Sunario

Jadi apa bedanya antara Wisatawan biasa/tradisional dengan Nomadic tourism ini?

Pertama, Wisatawan pada umumnya (sampai sekarang ini) berwisata biasanya dalam waktu luang dan waktu liburan, dalam kurun waktu terbatas, antara beberapa hari, weekends, atau paling lama cuti 3 bulan. Digital Nomads, dalam pada itu, meninggalkan rumah untuk Continue reading

Advertisements

Mengenal Digital Nomad (1)


Sebutan Digital Nomads sering didengar dan dibicarakan di kalangan kepariwisataan dunia dalam beberapa tahun terakhir ini. Bagi Anda yang jauh dari urusan pariwisata mungkin ada yang belum pernah mendengarnya. Ditilik dari sebutannya kita bisa memperkirakan bahwa Digital Nomad sangat erat kaitannya dengan unsur digital yang tidak lain berhubungan dengan internet atau komunikasi di dunia maya. Di samping itu, tidak jauh pula dari hubungan perpindahan atau pergerakan manusia dari suatu tempat ke tempat lainnya sebagaimana kita mengenal bangsa Nomad yang senantiasa berpindah-pindah, tidak menetap di suatu tempat tertentu.
Beberapa tahun belakangan ini timbul gejala di kalangan para wisatawan (dalam arti travellers) yang melakukan perjalanannya dengan dua atau tiga motivasi sekaligus, berlibur tanpa meninggalkan tugas pekerjaannya, serta bekerja dari tempat di mana dia melakukan liburannya. Perlu agaknya difahami bahwa yang dimaksud dengan bekerja dalam hubungan ini sama sekali tidak berarti mengerjakan pekerjaan yang dibayar oleh pihak destinasi di mana dia berlibur, melainkan tetap dibayar dari negara di mana dia berasal atau bertempat tinggal serta melakukan pekerjaannya melalui komunikasi digital. Di kalangan mereka, kelompok ini mereka sebutnya sebagai Digital Nomads.
Pemerintah Indonesia bermaksud memanfaatkan gejala ini dengan cara mengembangkan Nomadic Tourism. Mengenai apa itu dan bagaimana Nomadic Tourim, kami sajikan di bawah ini sebuah artikel karya Tuti Sunario – salah seorang anggota dan mantan ketua Care Tourism. Mengingat artikelnya agak panjang, maka kami sajikan dalam dua bagian. Di Bawah inilah bagian ke-1 dari dua bagian.

digital nomad

Photo: fulltimenomad.com

Nomadic Tourism – Apakah itu? (Oleh: Tuti Sunario)

Dalam Rakornas pertama tahun ini yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata tanggal 23-24 Maret 2018 lalu, tema utama yang dibahas adalah : Digital Destinations dan Digital Nomads.
Bagi mereka yang tidak hadir maupun kebanyakan kita yang kurang mengenal dengan istilah Nomadic Tourism, sedikit penjelasan.
Continue reading