Let’s Go To Business


Ini merupakan “tagline” atau “motto” ASITA (Association of Indonesia Travel Agents) yg diluncurkannya pada kesempatan terpilihnya pengurus baru dengan ketua Dr. N. Rusmiati, MSi., di Jakarta baru-baru ini. Dalam sambutannya pada kesempatan tersebut, Dr. Rusmiati ini menuturkan bahwa sudah saatnya kini ASITA memfokuskan diri pada upaya meraih arus inbound lebih intensif untuk mendukung upaya pemerintah mencapai target 2019 dan selanjutnya, dengan tekad “Let’s Go To Business”.

Bagi saya, ini merupakan isyarat kepada segenap jajaran “Industri Pariwisata” Indonesia untuk “memulai” upaya yg lebih fokus dan intensif pada business untuk meraih target-target yg ditetapkan pemerintah c.q. Kementerian Pariwisata.
Mengapa saya katakan “memulai fokus”? Memangnya selama ini tidak fokus?
Untuk menjawabnya perlu agaknya kita menjenguk ke belakang.
Visitor Arrivals 2011-2018Pada awal pemerintahan Jokowi -JK, Kementerian Pariwisata “diberi tugas” untuk meningkatkan pariwisata dengan target 20 juta wisman di akhir masa pemerintahannya tahun 2019.
Dengan berbagai upaya dan insentif serta beberapa kendala a.l. bencana alam, maupun gangguan terorisme, arus wisman 2017 dan 2018 mencapai jumlah di bawah target.
Terakhir dgn adanya kegiatan Pemilu & Pilpres serentak bahkan berujung pada kerusuhan di Jakarta, bukan mustahil target 2019 sebanyak 20 juta wisman tidak akan tercapai. Bahkan Kemenpar pun harus menurunkan targetnya menjadi 18 juta setelah melalui review atas berbagai kondisi dan situasi tiga tahun terakhir.

Branding & Advertising saja tidak cukup.

Strategi BAS (Branding – Advertising – Selling), – terutama Branding & Advertising, dalam periode 2015 s/d 2018 dinilai cukup berhasil merangsang dan meningkatkan citra (image) Indonesia di dunia. Namun demikian, meningkatnya “citra” itu tidak atau belum diikuti dengan “derasnya arus” wisman sesuai harapan. Hal ini berarti Branding dan Advertising belum berhasil mendongkrak (leverage) pada Selling yang harusnya menghasilkan arus wisman. Continue reading

PARIWISATA KESEHATAN SALAH SATU SUMBER DEVISA


Sebagaimana diutarakan dalam artikel terdahulu, bahwa di antara perjalanan wisata terdapat kelompok wisatawan yang melakukan perjalanan dengan motivasi kepentingan kesehatan.
Adapun perjalanan dengan motivasi kesehatan pada hakekatnya dilakukan berkaitan dengan kesehatan, seperti pemeriksaan kesehatan (medical check-up), pemeliharaan (health care), pengobatan (treatment), pemulihan (recovery) dan sebagainya.
Perlu kiranya dicatat bahwa ada sedikit perbedaan antara health-tourism dengan medical-tourism, di mana health tourism dapat diartikan sebagai pariwisata kesehatan yang berupa perjalanan untuk pemeliharaan dan/atau pemulihan kesehatan (dulu disebut sebagai tetirah) yang pada hakekatnya dilakukan oleh orang yang sehat, – tidak menderita suatu penyakit atau orang yang baru sembuh dari perawatan. Sedangkan medical-tourism lebih cenderung menyangkut tindakan medik pengobatan (cure), operasi dan/atau tindakan medik lainnya, yang dilakukan terhadap penderita suatu penyakit atau kelainan kondisi kesehatannya, termasuk di antaranya adalah operasi kecantikan (cosmetic surgery), fisio terapi, pijat reflexi, tusuk jarum (akupunktur), dll.
Pariwisata kesehatan atau perjalanan untuk maksud kesehatan sebetulnya bukanlah hal yang baru. Paling sedikit, bagi para insan lanjut usia kelahiran Continue reading