Mengejar Target 10 Juta Wisman di tahun 2015


Menteri (baca: Kementerian) Pariwisata ‘bertekad’ mengejar ketinggalan dari Target 2015 dengan jumlah 10 juta wisman terhitung mulai Oktober ini.
Menurut catatan sampai dengan Agustus 2015, jumlah kedatangan wisman ke Indonesia mencapai 6,322,592 kunjungan.
Dari catatan itu juga, kedatangan wisman per bulan terendah 723,039 dan tertinggi 850,542 kunjungan.
Continue reading

Advertisements

Kepariwisataan Muslim


Baru-baru ini bertempat di Universitas Pancasila, Jakarta diselenggarakan seminar oleh Fakultas Pariwisata, yang membahas perkembangan Kepariwisataan Muslim atau Moslem Friendly Tourism (MFT) di dunia. Beberapa negara seperti Malaysia dan Turki sejak lama telah memperkenalkan halal food dalam pengembangan kepariwisataannya, dan kedua negara itu dewasa ini menempati urutan pertama dan kedua dalam Index Top Halal Friendly Holiday Destination 2014. Dewasa ini Thailand, Jepang dan Korea pun telah menyediakan halal food yang disajikan hotel dan restoran di negaranya.
Demikian juga di Indonesia, gelombang tumbuhnya MFT ditandai dengan timbulnya gejala usaha masakan halal di banyak kota yang berhasil menarik perhatian masyarakat wisatawan muslim terutama wisatawan nusantara ataupun wisatawan mancanegara asal negara muslim. Hal itu ditengarai, terutama sekali karena pemerintah dewasa ini tengah mengincar pasar pariwisata negara-negara muslim yang dewasa ini sedang berkembang pesat, salah satunya dari kawasan Timur Tengah.
Dalam seminar di atas, Dr. Sapta Nirwandar – mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, selaku salah satu pembicara mengungkapkan bahwa Thailand yang penduduk muslimnya hanya meliputi 5%, telah mampu memproduksi makanan halal bukan saja untuk kebutuhan pariwisata di dalam negerinya, melainkan juga mampu menyediakan 25% dari seluruh ekspor makanan halal di dunia.
Pembicara kedua, Prof. Ikuro Yamamoto mengungkapkan berkembangnya MFT di Jepang juga sedang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, walaupun hasilnya belum dapat disebut sebagai memuaskan. Namun demikian, profesor yang juga merupakan anggota Dewan Mesjid di salah satu kota di Jepang itu mengatakan bahwa perkembangan MFT dirasakan semakin deras.

Layanan MuslimTravel

Petunjuk Fasilitas Sholat di Bandara

Salah satu upaya yang dilakukan di Jepang adalah memberikan pelayanan informasi tentang kehadiran restoran halal. Pernyataan itu didukung oleh adanya upaya yang dilakukan oleh seorang asal Indonesia, Agung Pambudi yang menetap di Fukuoka, awal tahun 2014 yang lalu menciptakan aplikasi smartphone yang disebutnya “Halalminds” untuk menemukan restoran dan produk halal lainnya dengan mudah. Aplikasi tersebut sampai November 2014 sudah berhasil diunduh sebanyak 5,000 kali. Bukan hanya itu, di Jepang juga sudah terdapat petunjuk fasilitas Sholat yang tersedia di tempat-tempat umum seperti bandara, stasiun dll.
Continue reading

41-TH Pasang Surut Kunjungan Wisman


Tidak terasa masa begitu cepat berlalu. Sejak Akhir Repelita-I (1974) kepariwisataan Indonesia telah menempuh jalan panjang selama 41-tahun. Kinerja yang dicapainya pun mengalami pasang surut yang dipengaruhi berbagai faktor baik yang datang dari luar (external) maupun dari dalam negeri sendiri (internal).
Pada dasarnya faktor external secara umum berada di luar kendali kita sehingga tidak mudah untuk kita upayakan mengubahnya, walaupun dengan cara tersendiri secara logika sebenarnya dapat disiasati agar menjadi “peluang” ketimbang dibiarkan sebagai “kendala” atau “hambatan”.

Siklus Kehidupan Pariwisata Indonesia

Perjalanan panjang 41-tahun kepariwisataan Indonesia yang mengalami pasang surut itu dapat memberikan gambaran bagaimana gerangan Siklus Kehidupan Pariwisata (Tourism Life-Cycle) Indonesia itu berlangsung dengan menggunakan model Siklus Kehidupan Produk (Product Life-Cycle) pada umumnya, sebagai pembanding. Kita lihat gambarannya sebagai berikut:

  • TourismLifeCycleIntroduction Stage. Pada akhir Pelita-I (1974) Arus Kunjungan Wisman ke Indonesia baru mencapai angka 313.452 pengunjung. Sebelas tahun kemudian (1985) mencapai angka 825.035 pengunjung, dengan mencatat tingkat pertumbuhan rata-rata 8.33% per tahun. Dengan pertumbuhan yang moderat seperti itu memberikan gambaran seperti Masa Perkenalan (Introduction Stage) dalam grafik suatu Siklus Kehidupan Produk (Product Life-Cycle) pada umumnya, dengan garis kenaikannya yang “landai”.

Continue reading

Pergeseran Pandangan Masyarakat Atas Kepariwisataan


Upaya pengembangan kepariwisataan suatu negara pada hakekatnya bermaksud dan bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tolok ukurnya bisa terdiri dari berbagai macam kriteria.

Fluktuasi Wisman Jan-Jun 2014

Fluktuasi Wisman Jan-Jun 2014

Tidak melulu dalam bidang kesejahteraan ekonomi semata, melainkan juga dalam segi-segi kehidupan lainnya, seperti kesejahteraan sosial, budaya, jasmani, rohani, dsb. yang akhirnya bermuara pada peningkatan martabat masyarakat dan bangsa yang bersangkutan. Jika kita mengadakan kilas balik ke beberapa puluh tahun yang lalu menelusuri jejak perkembangan kepariwisataan di tanah air, maka akan kita jumpai beberapa pergeseran penilaian dan pandangan yang, pada saat itu, menghadapkan kita pada pilihan yang acapkali bertentangan antara satu pilihan dengan pilihan lainnya.

Penilaian Negatif Masyarakat

Pada awal masa pengembangan kepariwisataan di era 1950-an, banyak kalangan berpandangan yang bernada kurang setuju (negatif) dengan perkembangan yang terjadi di berbagai bidang akibat pengembangan kepariwisataan. Di Bali misalnya, kehidupan masyarakatnya yang terbiasa dengan telanjang dada, baik pria maupun wanita, dinilai – terutama wanitanya – bertentangan dengan norma agama dan ketimuran untuk di-“pamerkan” sebagai atraksi pariwisata. Padahal sejak zaman pendudukan Belanda, Continue reading

Idealisme Pengembangan Pariwisata Bertanggung Jawab


Pada hakekatnya Titik Fokus pengembangan pariwisata bertanggung jawab adalah pada terwujudnya Sustainable Tourism Development (Pengembangan Kepariwisataan Berkelanjutan).

Berbagai pertimbangan sebagai landasan pemikirannya adalah:

  • Manfaat    : Pengembangan Responsible Tourism agar diupayakan bermanfaat bagi masyarakat lokal; pemerintah (pusat/daerah); wisatawan; masyarakat secara umum;
  • Innovasi    : Menciptakan kreativitas mencari cara/methode baru menuju perbaikan produk wisata, kesejahteraan penduduk setempat; meredam dampak negatif pada lingkungan alam dan budaya;
  • Desa WisataPengalaman     : Menghadirkan pengalaman yang unik untuk wisatawan dengan melakukan pengalaman yang realistik;
  • Dana        : Kesinambungan (sustainability) membutuhkan sumber pembiayaan (yang bisa berasal dari Pemerintah – Pusat/Daerah -, Swasta atau gabungan swasta dan pemerintah pusat/daerah);

Wujud Kegiatannya antara lain dapat berupa:

  • Membangun sarana akomodasi dengan sebanyak mungkin melibatkan pemodal dan karyawan lokal;
  • Menciptakan Program wisata dengan pola home-stay;

Dampak positif pengembangan pariwisata bertanggung jawab, antara lain:

Pertumbuhan Kepariwisataan Indonesia 2012


Pada tahun 2009 kedatangan wisman ke Indonesia baru mencapai 6.323.730 kunjungan (+1,43% dari tahun sebelumnya yaitu 6.234.497 dan hanya merupakan 79% dari target 8 juta).
Tahun 2012, setelah 3 tahun berselang, pencapaian kedatangan wisman tercatat 8.044.462 kunjungan yang menunjukkan kenaikan sebesar 5,16% dari tahun 2011 yang mencapai 7.649.731. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2003-2012), kunjungan wisman menunjukkan pertumbuhan sebesar 80,09%.

Masa Tinggal Rata-rata

Peta Indonesia_3Sejak tahun 2009 hingga 2012 masa tinggal rata-rata wisman menunjukkan kecenderungan yang menurun, sementara pengeluaran (expenditure) mereka per hari/orang menunjukkan trend meningkat walau relatif kecil, hal ini menunjukkan kepada kita bahwasanya biaya tinggal di Indonesia relatif semakin mahal sejak tahun 2009 s/d 2012, di samping biaya perjalanan secara Continue reading

Wisata Nusantara dan Wisata Nasional – Lanjutan


Dalam artikel terdahulu diuraikan tentang pemahaman kepariwisataan yang direkomendasikan oleh WTO untuk digunakan oleh anggotanya, khususnya dalam kaitan dengan penyusunan dan penyajian statistik kepariwisataan negaranya dengan menggunakan kriteria yang seragam tentang berbagai jenis dan bentuk kepariwisataan. Demikian juga bagi Indonesia berlaku hal yang sama.

Forms OfTourism_6.08Sebagai konsekuensi dari adanya pemahaman tersebut, maka agaknya perlu ditegaskan pemakaian istilah yang sesuai dengan pemahaman tersebut, agar tidak berlaru-larut dan menjadi salah kaprah.
Penegasan tersebut dipandang perlu tentang yang dimaksud dengan istilah (berikut pengertiannya), bahwa kegiatan yang terkait dengan Wisatawan Nusantara, – yang melakukan wisata di Tanah Air (wisnus) -, sebagaimana yang kita fahami selama ini merupakan padan kata dari Home Tourism, bukan lagi sebagai padan kata dari Domestic Tourism yang padan katanya adalah Pariwisata Domestik (Wisata domestik, Kepariwisataan domestik) mengingat Continue reading