Bersama Meraih Indonesia Incorporated


Kementerian Pariwisata dalam kinerjanya selalu mengutarakan pentingnya kebersamaan upaya dalam pengembangan kepariwisataan dengan sebutan Indonesia Incorporated. Demikian pula dalam paparannya pada kesempatan Rapat Koordinasi Pariwisata ke-I (Rakornaspar-1) tahun 2017 ini.

Indo_inc_cover1Dalam paparan ini, pada intinya mengemukakan bahwa pembangunan kepariwisataan tidaklah dapat dilakukan hanya oleh Pemerintah. Di samping itu, paparan Menteri Pariwisata itu pun membuktikan keterlibatan berbagai pihak dari bermacam sektor dan sub-sektor dalam memenuhi kebutuhan pengembangan kepariwisataan Indonesia, khususnya dewasa ini di mana Indonesia sedang berupaya mendongkrak Pariwisata menjadi Leading Sector bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Maka Pemerintah mengajak dan merasa perlu dibantu bersama oleh segenap “Pemangku Kepentingan” – termasuk keterlibatan masyarakat umum yang akan ikut menikmati hasilnya di kemudian hari.

Dalam rangka membantu menciptakan partisipasi segenap Pemangku Kepentingan itulah Care Tourism menampilkan “Paparan Menteri Pariwisata” dalam format e-book dengan judul “Indonesia Incorporated: Synergies For Better Tourism Connectivity” yang disampaikan pada kesempatan RAKORNAS Pariwisata-I Th 2017 yang diselenggarakan 30-31 Maret 2017 di Jakarta.

Semoga dengan upaya ini kalangan pariwisata dapat Bergerak Serentak Bersama demi kemajuan kepariwisataan untuk mencapai kesejahteraan kita semua dalam berbagai bidang.

Pergeseran Pandangan Masyarakat Atas Kepariwisataan


Upaya pengembangan kepariwisataan suatu negara pada hakekatnya bermaksud dan bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tolok ukurnya bisa terdiri dari berbagai macam kriteria.

Fluktuasi Wisman Jan-Jun 2014

Fluktuasi Wisman Jan-Jun 2014

Tidak melulu dalam bidang kesejahteraan ekonomi semata, melainkan juga dalam segi-segi kehidupan lainnya, seperti kesejahteraan sosial, budaya, jasmani, rohani, dsb. yang akhirnya bermuara pada peningkatan martabat masyarakat dan bangsa yang bersangkutan. Jika kita mengadakan kilas balik ke beberapa puluh tahun yang lalu menelusuri jejak perkembangan kepariwisataan di tanah air, maka akan kita jumpai beberapa pergeseran penilaian dan pandangan yang, pada saat itu, menghadapkan kita pada pilihan yang acapkali bertentangan antara satu pilihan dengan pilihan lainnya.

Penilaian Negatif Masyarakat

Pada awal masa pengembangan kepariwisataan di era 1950-an, banyak kalangan berpandangan yang bernada kurang setuju (negatif) dengan perkembangan yang terjadi di berbagai bidang akibat pengembangan kepariwisataan. Di Bali misalnya, kehidupan masyarakatnya yang terbiasa dengan telanjang dada, baik pria maupun wanita, dinilai – terutama wanitanya – bertentangan dengan norma agama dan ketimuran untuk di-“pamerkan” sebagai atraksi pariwisata. Padahal sejak zaman pendudukan Belanda, Continue reading

PARIWISATA – Sumber Devisa, Stimulan Kegiatan Ekonomi, Sumber Dana Pembangunan?


Agaknya semua negara di dunia ini memiliki persepsi yang sama, minimal senada, perihal dampak pembangunan pariwisata pada ekonomi negaranya.

Satu hal yang paling sering dinyatakan tentang pariwisata, di tanah air ini, 8259adalah sebagai sumber devisa, stimulan kegiatan ekonomi dan sebagai sumber dana pembangunan. Sedikitnya hal itu dipahami oleh para cendekiawan ekonomi, insan pariwisata serta tokoh pemerintahan, baik di kalangan eksekutif maupun legislatif, yang mungkin jumlahnya tidak terlampau banyak.

Tidak jarang terdengar di antara masyarakat umum pun berbincang atau menulis tentang manfaat pariwisata bagi kesejahteraan ekonomi. Namun sampai sejauh mana pemahaman dan pernyataan mereka itu mempengaruhi sikap, perilaku dan perbuatan mereka, dalam kegiatan sehari-hari, yang mendukung Continue reading