Angin Segar Itu Diwarnai Topan


Pada awal tahun 2014 yang lalu, CareTourism menampilkan tulisan yang berjudul Angin Segar Pariwisata Indonesia  yang mengutarakan dua berita yang menggembirakan bagi kepariwisataan Indonesia, yaitu:
1. Berita tentang Peningkatan Daya Saing Pariwisata Indonesia (menurut World Economic Forum – WEF), dari 2011 di urutan ke-74 di antara 139 Negara Tujuan Wisata (NTW) Dunia menjadi urutan ke-70 di antara 140 NTW pada tahun 2013;
2. Berita tentang Prioritas pemerintah yang akan mengembangkan konektivitas penerbangan langsung dari negara sumber wisman ke destinasi unggulan di Indonesia.
Namun tidak lama kemudian, terbetik berita-berita yang menimbulkan rasa khawatir kita menghadapi perkembangan kepariwisataan tanah air selanjutnya, terutama terkait dengan “angin segar” ke-2 di atas.
Topan yang mewarnai Angin Segar tersebut datang dari kalangan Maskapai Penerbangan yang menutup, mengurangi atau mengalihkan beberapa rute penerbangannya.
Beberapa Maskapai penerbangan yang mengubah operasinya pada rute-rute tertentu antara lain Tigerair Mandala, Sky Aviation, AirAsia Indonesia, Sriwijaya Air, yang dimulai antara bulan Februari s/d Juni 2014 atas berbagai pertimbangan mulai dari efisiensi keuangan, pasar yang melemah (rendahnya jumlah penumpang),

Distribusi Wisman 2013

Distribusi Wisman 2013

nilai rupiah yang melemah terhadap dollar AS yang akhirnya mengakibatkan harga bahan bakar pesawat (avtur) melonjak, serta rute (khususnya) Pakanbaru acapkali terganggu asap.
Adapun rute-rute yang penerbangannya dihentikan, dikurangi atau dialihkan antara lain Jakarta, Surabaya, Banyuwangi, Denpasar, Maumere, Labuan Bajo, Lampung, Batam, dan Pontianak yang dilayani Sky Aviation, 9 rute Tigerair Mandala ditutup sementara, 2 rute dikurangi frekuensi penerbangannya, Sriwijaya Air menghentikan beberapa penerbangan antara Pekanbaru – Medan, Batam, dan Jakarta, AirAsia menutup sejumlah rute penerbangannya mulai 1 Juni 2014 di antaranya rute Denpasar-Makassar-Denpasar, Surabaya-Bangkok-Surabaya, dan Bandung-Johor Baru-Bandung, sementara sebelumnya, maskapai penerbangan milik Malaysia ini telah menutup rute Makassar-Manado, Makassar-Jakarta, dan Makassar-Balikpapan, dengan pertimbangan akan membuka rute-rute baru lainnya yang dianggap lebih menguntungkan secara bisnis.

Pandangan INACA

Berkenaan dengan hal itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Sipil Nasional Indonesia (INACA) Tengku Burhanuddin, menyatakan bahwa pendapatan maskapai memang telah bertambah dengan adanya biaya tambahan (surcharge) Rp 60.000 per jam terbang, yang diperbolehkan Pemerintah. Namun, pemulihan dari efek melemahnya rupiah terhadap dollar AS , mengakibatkan beban maskapai penerbangan hingga saat ini masih terasa berat.
Continue reading

Advertisements

Angin Segar Pariwisata Indonesia


  • Di Awal 2014 telah bertiup angin segar pertama. Data World Economic Forum (WEF) menunjukkan daya saing pariwisata Indonesia pada 2013 naik dari semula (2011) di urutan ke-74 di antara 139 negara ke ranking 70 di antara 140 negara di dunia. Seperti tahun lalu, 10-negara terbaik daya saing pariwisatanya masih didominasi negara-negara Eropa. Di tempat teratas masih diduduki Swiss, sementara Jerman, Austria, Spanyol, Inggris berturut-turut masing-masing menempati urutan lima terbaik dalam daya saing kepariwisataannya. Di antara 10-terbaik daya saingnya tersebut, tiga negara berada di luar Eropa yaitu Amerika Serikat (ke-6), Kanada (ke-8) dan Singapura (ke-10). Semantara di urutan ke-7 dan ke-9 diraih oleh negara Eropa juga, yaitu Perancis dan Swedia. Dengan posisi ke-10 dunia, Singapura menempati urutan pertama di antara negaran-negara Asia-Pasifik dan dengan sendirinya menempati urutan pertama juga di antara negara-negara ASEAN. Sementara Indonesia di urutan ke-12 antara negara-negara Asia-Pasifik dan ke-4 di ASEAN.
  • Sedangkan angin segar kedua adalah berita tentang prioritas pemerintah yang akan mengembangkan konektivitas penerbangan langsung dari negara sumber wisman ke destinasi unggulan di Indonesia yang dinilai masih perlu digenjot. Continue reading